
Pukul 18.38.
Jalan dekat kos macet karna ada pengecoran.
“Gua duluan ya Ndre!?” Nadya turun dari motor Andre dan berlari ke kosan.
“Lah, helm- - -“
“Ada masalah hidup apa sih dia? Sampe helm gue di ajak maraton ke kos” sambung Andre.
...----------------...
Pukul 18.53
DRT DRT DRT : Hp Nadya berdering atau telpon dari Satya.
“Ya mas?”
“Nadya kamu di mana?” Tanya Satya kepada Nadya.
“Mama barusan telepon katanya udah di airport, minta kita jemput”
“Hah!? Kok jadi kita jemput?”
“Oh ya, tadi ibu juga ngabarin aku kalau mama udah mau sampe rumah kita. Makanya sekarang aku lagi packing baju” sambung Nadya.
“Ya udah, begini aja… kamu buruan ke apartemen dari sini kita ke airport, kamu naik ojek aja biar cepet” Satya yang memberikan solusi.
“Iya mas”
“Hati-hati ya”
“I- - -“ Nadya yang baru saja akan bilang ‘iya’ tidak jadi karna telpon nya sudah di matikan oleh Satya.
...----------------...
Pukul 19.00 : ruang nonton rumah kos.
“Lo mau kemana? Bawa koper gitu” tanya Andre kepada Nadya.
“Maaf tadi kebawa” Nadya memberikan helm Andre.
“Gue duluan ya” Nadya yang terburu-buru.
“Eh???” Nadya berhenti berjalan karna Andre menarik lengan Nadya.
“Ndre, sorry gue buru-buru” ucap Nadya.
“Gue anter aja” Andre yang memaksa.
“Gak usah Ndre, gue udah pesen ojek, pergi dulu ya. Bye”
“Hati-hati!” Teriak Andre dari kejauhan.
...----------------...
Pukul 19.39 Nadya sampai di apartemen Satya.
“Maaaaas!!” Nadya yang berteriak Nadya.
“Kok gak ada?”
Nadya mengambil sticky note yang tertempel di pintu kamar Satya.
“ ‘siap-siap’ itu ngapain maksudnya?” Nadya yang ngelag.
“Piguran nikah udah di pasang, rumah juga udah rapi kok”
“Eh…. Oh iya, ini harus di buang sedikit, biar kesan nya di minum” Nadya yang membuang sedikit madu.
“Udah beres, sekarang apa lagi ya? Oh iya, ibu bilang aku harus wangi, mandi deh” Nadya masuk kedalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Nadya selesai mandi dan berdandan.
“Duh laper, makan mie ayam tadi gak ada setengah nya, pesen makanan sekalian buat mama deh” Nadya mulai memesan makanan.
Pukul 22.22 pintu apartemen Satya terbuka, Nadya menghampiri ibu mertua nya.
“Ma…” Nadya mencium tangan mama mertuanya.
“Kok gak salim ke Satya?” Tanya mama kepada Nadya.
“Ha? ….. oh..” Nadya mencium tangan Satya.
“Nadya, kamu masak?” Tanya mama.
“Gak mah, itu delivery” jawab Nadya.
Mama seketika kecewa karna itu bukan di masak oleh Nadya.
“Satya yang suruh mah” ucap Satya.
“Nadya baru pulang kerja” sambung Satya, lalu Satya masuk ke kamarnya.
__ADS_1
“Satya selama ini gimana Nadya?” Tanya mama kepada Nadya.
“Gimana apanya mah?”
“Sikapnya ke kamu gimana?”
“Perhatian kek gini terus? Gak di ijinin masak karna baru pulang kerja?” Tanya mama sekali lagi pada Nadya.
“Jadi kamu yang di puji mas, padahal ini ideku” batin Nadya.
“Iya mah” jawab Nadya.
“Ceritain yang lengkap dong, mama pengen tau”
“Jangan” Satya yang keluar kamar dengan mengenakan sweter abu-abu.
“Urusan rumah tangga kita itu rahasia” Satya mengambil handuk.
“Pengantin baru segitunya sama mama, padahal nolak pas di jodohin. Tapi kalian nikmatin”
Mama melihat madu penyubur di atas meja makan dan mengambil nya.
“Hehehehe… mama liat juga akhirnya” batin Nadya.
“Semoga mama berhenti minta momongan, karna mikir aku sama Satya udah berusaha” batin Nadya.
“Udah abis segini madu nya? Berapa ronde kalian sekali main?” Tanya mama kepada Nadya dan Satya.
“UHUK UHUK UHUK” Satya yang mendengar itu rifleks terbatuk.
“Eh! … pelan-pelan mas” Nadya membantu Satya minum dan mengusap pungung Satya agar bernehti terbatuk.
“Maaf ya mas, gak maksud buat mas Keselek gini” batin Nadya yang Kasian melihat Satya.
“Mama seneng liat kalian mesrah” mama yang dari tadi melihat Nadya dan satya sambil tersenyum bahagia.
“Sat, kamu perlu yang lain gak? Biar makin semangat” tanya mama kepada Satya.
“Ma- -“
“Kita beli sendiri aja ya mah” Nadya yang menjawab mendahului Satya.
Satya terkejut dan melihat Nadya dengan heran.
“Mama gak usah repot-repot, terus juga mas Satya lagi makan, jangan di godain terus mah, kasian” sambung Nadya.
“Makan lagi mas”
“Yaudah, mama berhenti ganggu deh, mama tidur di kamar. Nadya nanti abis Satya makan, temenin mama di kamar ya”
“Aku gak siap di recokin mamamu semalaman mas!” Batin Nadya.
“Biar Satya aja yang tidur di sofa, kamu sama mama di kamar”
“Tapi aku gak tega sama mas Satya mah”
“Tck, Satya liat tuh istri kamu! Buruan beli rumah dua kamar, kalo kek gini kan Kasian Nadya”
“Anak mama tuh Satya atau Nadya sih?” Tanya Satya kepada mama.
“Kamu tuh di kasih tau malah- - “ belum sempat mama menyelesaikan perkataan nya Nadya memotong nya.
“Udah mau jam 11 mah, mama gak capek dari Malang belum istirahat ?” Tanya Nadya kepada mama.
“Makasih ya sayang, kamu perhatian banget sama mama” mama mengusap rambut Nadya.
“Gak kek mas mu itu, Satya, kalau sampe kamu nyakitin Nadya itu sama aja kamu nyakitin mama, inget itu” mama masuk ke dalam kamar.
“Kamu seneng?” Tanya Satya kepada Nadya.
“Maksudnya?”
“Kenapa kamu gak ngomong dulu soal ini?” Satya mengambil botol madu di atas meja dan menatap Nadya dengan tajam.
“Harus sekarang mas?” Nadya melirik pintu kamar.
Satya menyeret Nadya ke dapur dan bicara sangat pelan.
“Nadya, karna kamu bikin mama pikir kita ‘main’ mama jadi makin berharap sama kita, kalau kamu ngomong dulu, kita bisa cari cara lain biar mama bisa berhenti bahas anak, tapi gak begini caranya”
“Kamu malah bu- - -“
“Kalau mas mau berantem sama aku sekarang sampe mama tau keadaan kita. Silahkan, tapi mas tanggung sendiri akibat nya, karna mas tau kan? Mama bakal bela siapa?”
Hening seketika di ruangan itu.
“Gak jadi ngajak berantem?” Tanya Nadya.
“Ya udah” ucap Nadya lalu tidur di sofa.
...----------------...
Keesokan harinya pukul 04. 50, mama membangunkan Nadya.
“Bangun sayang, kita masak sarapan” mama yang membangunkan Nadya.
__ADS_1
Nadya bangun karna mama membangunkan nya.
“Kamu mandi gih, biar mama siapin bahan nya”
Sepuluh menit kemudian Nadya sudah selesai mandi dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan dengan mama.
“Mau buat apa mah?” Tanya Nadya kepada mama.
“Soto kesukaan Satya” jawab mama.
“Oh, mas Satya suka makan soto”
“Iya, salah satu cara nenangin laki-laki kita bikin seneng perut nya “
“Oh gitu mah? Aku baru tau”
“Jadi, kamu yang masak ya”
“Haaa?! Tapi aku gak pernah masak soto mah”
“Tenang, mama ajarin”
“Tapi kalo gak enak gimana mah?”
“Mas Satya bukan nya seneng, malah ngamuk nanti” ucap Satya.
“Pasti enak Nadya, kita kan masaknya pake cinta” mama yang tersenyum ke Nadya.
“Cinta dari mana coba?” Batin Nadya.
“Aku coba buat deh mah, bikin soto buat mas Satya, tapi mama bantuin aku ya, kalau mas Satya gak suka- -“
“Percaya sama mama”
“Satya pasti suka soto buatan kamu” sambung mama.
Mama dan Nadya pun mulai memasak sarapan.
Pukul 06.05 Satya terbangun dan mandi.
“Satya selalu gitu tiap pagi?” Mama yang melihat Satya buru-buru.
“Iya keknya mah” jawab Nadya.
“Kok kayanya?” Tanya mama kepada Nadya.
“Soalnya mas Satya selalu bangun duluan mah” jawab Nadya.
“Masak apa mah?” Satya yang baru saja keluar kamar.
“Soto” jawab mama.
“Ayo makan mah! “ Nadya yang menawarkan mama makan.
“Kok kamu gak nawarin Nadya makan?”
“Gapapa mah” Nadya yang tersenyum cangung.
Nadya dan mama memperhatikan Satya yang sedang makan dengan lahap.
“Enak sat?” Tanya mama kepada Satya.
“Banget mah!” Jawab Satya bersemangat.
Nadya mengambil makanan.
“Jari kamu kenapa?” Satya yang melihat jari Nadya terluka.
“Oh ini…”
“Kritis pisau waktu masak buat kamu Satya” mama yang menjawab Satya.
Satya terkejut dan memegang jari Nadya.
“… gapapa kok mas..”
“Yakin?”
“Iya yakin” Nadya menganguk.
“Mama ke kamar dulu ya”
“Mama gak makan?” Tanya Satya.
“Belum laper, kalian berdua duluan aja “ masuk kamar.
“Beneran kamu yang masak?” Satya yang melihat ke arah Nadya yang sedang makan.
“Iya, di tuntun mama” jawab Nadya.
“Makasih, saya serius bilang sotonya enak”
“Lain kali, bisa buat lagi?” Satya yang bertanya kepada Nadya.
Nadya melongo melihat Satya berbicara begitu.
__ADS_1
“Lupain aja” Satya melanjutkan makan nya.