
Minggu ini adalah hajat bagi para remaja dilingkungan tempat tinggal Deni, akan ada pertemuan karang taruna dalam rangka persiapan menyambut HUT RI, pertemuan rutin para remaja setempat untuk menjadi fasilitator pelaksanaan acara HUT RI ke-64. Memang di setiap tahunnya Deni dan teman-temannya sangat aktif di forum tersebut dan ini adalah untuk kesekian kalinya mereka turut ambil bagian dalam pertemuan itu.
Bukan hanya fokus membahas konsep dan pelaksanaan acara yang akan digelar, tapi di forum tersebut mendadak seperti menjadi ajang "cari pacar" untuk beberapa remaja. Curi-curi pandang akan dimulai dan akan selalu menghiasi suasana disaat pertemuan. Terkesan aneh, namun itu sudah menjadi rahasia umum diantara mereka, memang kenyataannya seperti itu, tak jarang setelah acara terlaksana, sesama panitia ada yang terpergok jalan berdua padahal agenda karang taruna telah benar-benar usai, entah itu terpergok di cinema saat sedang membeli tiket ataupun di kasir saat membayar bill order Solaria. Tentunya itu adalah sebuah cara yang tak biasa saat dipergoki, namun begitulah adanya.
..Back to the story..
Kebetulan tahun ini Deni kembali ditunjuk sebagai bendahara, hal yang tak lazim untuk seorang remaja laki-laki, karena di forum tersebut juga terdapat banyak remaja putri yang mempunyai kemampuan dalam membuat laporan keuangan dengan baik. Awalnya posisi tersebut didapat Deni melalui proses voting, namun karena kinerjanya yang sangat baik dan ternyata Deni adalah seorang yang amanah, posisi tersebut seakan menjadi "jatah" untuk Deni, sebab dalam 3 tahun terakhir posisi tersebut diberikan kepada Deni tanpa melalui vote/pertimbangan, seperti memang 100% dipercayakan kepada Deni. Dia dianggap telah berhasil memperbaiki neraca keuangan organisasi yang sebelumnya selalu morat marit setiap ada kegiatan, karena dimasa sebelum demi menampuk jabatan itu, laporan yang dibuat terkesan amburadul dan cenderung tidak jelas oleh pemangku jabatan sebelumnya. Dan anehnya kas mereka pun selalu minus, padahal kumulasi dana dari para donatur tidak sedikit dan pengeluaran selama kegiatan berlangsung dari awal sampai akhir pun tidak pernah melebihi anggaran, namun setiap ditanyakan, selalu saja jawaban klasik yang terlontar "nanti coba saya cari dulu notanya". Dan ternyata orang sebelumnya memang tidak membuat draft laporan keuangan, tidak ada rincian keterangan berapa total uang yang masuk, tidak ada rincian dan keterangan detail setiap uang yang keluar digunakan untuk apa saja. Dan ajaibnya, pada masa itu seisi anggota karang taruna seakan enggan mempermasalahkan hal tersebut, dan akhirnya menguap tanpa kejelasan. Om David lah yang selalu menjadi penyelamat muka mereka disaat harus membuat laporan pertanggung jawaban, karena om David selalu mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup selisih uang yang sebenarnya om David sendiri pun tidak tahu berapa dan larinya kemana. Semua hanya berdasar estimasi A, B, C alias kira-kira saja, yang penting kas tidak minus.
Saat ini sudah ada sekitar 30an remaja putra dan putri yang sudah berkumpul di dalam aula, diantaranya adalah Dimas, tapi Dimas seperti kebingungan karena belum melihat sosok Deni. Padahal mereka telah sepakat untuk datang lebih awal.
Bagi mereka yang sudah berkumpul terlihat sangat santai sambil sesekali ada tangan-tangan yang mencomot potongan kue atau sekedar mengambil air mineral yang memang disajikan untuk mereka.
"Assalamualaikum, selamat malam, bagaimana kalau rapat ini kita mulai" Suara berat tiba -tiba terlontar dari mulut om David karena ternyata waktu juga sudah menunjukkan pukul 20:00wib.
Om David adalah Ketua Karang Taruna, dia seperti pemangku jabatan abadi karena tidak tergantikan selama kurun waktu ± 7tahun. Selain karena usianya, om David yang memang akrab dengan para remaja dianggap sebagai mediator yang tepat untuk menjembatani pemikiran para remaja dengan para pengurus setempat agar bisa satu tujuan untuk mensukseskan setiap acara yang dibuat, seperti persiapan pelaksanaan HUT RI ke-64 kali ini.
"Oke om, siap" Seru Fajri sambil melakukan gerakan hormat yang di tanggapi dengan tawa yang riuh dari setiap sudut aula yang memang tidak terlalu luas.
"Eh dodol, lu kira upacara pake hormat" Celetuk Desi sambil sedikit tertawa melihat tingkah Fajri.
Namun seisi ruangan mendadak kompak berseru kepada Desi
"Cieeeeeeeeeeee.... Desi"
Desi pun tersipu mendapat reaksi yang tidak ia sangka sama sekali.
"Oke gengs, kalau mau tanda tangan atau sesi foto sama gw nanti aja ya selesai rapat" Sahut Desi merespon balik seluruh penghuni ruangan dengan penuh percaya diri.
"Hei Des, tadi lu ga lupa minum obat kan? Apa obat lu habis?" Suara yang sangat familiar tiba-tiba terdengar dari sudut pintu aula, dan benar saja sosok yang sangat tidak asing lagi muncul. Deni, ya Deni pun melangkah memasuki aula dengan ekspresi tak bersalah karena telah datang terlambat. Bukannya meminta maaf atas keterlambatannya, Deni malah langsung meledek Desi tanpa ragu.
"Aduh, orang terlanjur gagal waras dateng, udah telat bukannya kasih salam malah nyeletuk ga jelas. Buat ngadepin model kaya gini gw hands up deh, ga sanggup gw ngebendung omongan lu" Desi langsung berusaha menyudahi kegaduhan yang memang berawal darinya.
"Aih si eneng pengertian sekali sama akang, btw neng Desi makin tambah imut aja sih. Jadi pingin gigit itu bakpao, kira-kira bakpao isi cinta ada ga ya?" Kelakar Deni sambil menatap Desi yang terlihat pasrah melihat kelakuan manusia paling tidak logis yang sudah duduk disampingnya.
__ADS_1
"Deniiiiiiiiiii...!!! Ini namanya Pipi tau, bukan bakpaooooo!! Lagian ngapain sih tiang listrik duduk samping gw, ngerusak pemandangan gw aja" Desi mencoba memberi sedikit perlawanan meski dia sadar itu adalah hal yang sia-sia.
"Aduh so romantic sekali si eneng, akang sudah dipanggil Pipi, yasudah kalau begitu eneng akang panggil Mimi deh, Mimi Bakpao.. hehehe.." Deni seperti tak kehabisan akal untuk mengusili Desi, dan kejadian itu seakan dibiarkan oleh seisi ruangan karna seakan menjadi hiburan gratis bagi mereka, om David pun hanya tertawa kecil melihat kelakuan mereka berdua.
"Ah sarap lu, udah ah, gw lambaikan tangan ke kamera. Cocok banget lu Den kalau jadi medi, kerjaan lu ngusilin orang mulu" Desi pun menaikkan tangannya sebagai kode ia menyerah. Meski sebenarnya Desi sebenarnya mengagumi sosok Deni yang apa adanya.
"Baru juga start udah nyerah aja lu Des, besok-besok gw males ah kalau ketemu lu.. ga seru... hahaha" Deni pun tertawa dan seakan menyetujui gencatan senjata yang diajukan Desi kepadanya
"Ehem,, Sudah selesai Den?" Tanya om David
"Ups, sorry om, sudah kok om, ini si Desinya juga ga ada perlawanan" Kelakar Deni menjawab pertanyaan om David yang diiringi gelak tawa kecil om David dan remaja lainnya.
"Oke kalau begitu, pertemuan kita kali ini dalam rangka persiapan dan pelaksanaan acara untuk menyambut HUT RI ke-64 dimulai ya. Tolong kalian fokus dulu sebentar untuk membahas segala sesuatu yang diperlukan untuk kelancaran dan kesuksesan acara. Berhubung ini adalah hajat untuk semua tanpa batas usia. Untuk tahun ini motto kita adalah "Dari Hati Kami Untuk Kalian" Bagaimana, kalian setuju?
"Oh so sweet" Seru Desi.
"Apaan? Es Dawet? Deni kembali berulah mengganggu Desi.
"Lu tuh sama kaya gw Des, masih doyan tahu tempe, jadi ga usah sok Inggrislah hahaha.." Deni masih menimpali sambil terkekeh..
"Bodo amaaaat Deeeeeen!!" Desi seakan sudah malas mendengar cuitan temannya itu.
"Sudah-sudah, jadi bagaimana? Setuju dengan motto itu? Atau ada masukan lain?" Om David mencoba menengahi.
Dan tanpa dikomando, semua menjawab dengan kompak "Setuju Om.."
"Okey kalau begitu sekarang silahkan ambil secarik kertas yang sudah disiapkan di depan kalian. Disitu telah berisi rancangan detail acara yang akan dilaksanakan mulai dari gladi bersih sampai dengan penutupan. Jika ada miss atau kekurangan tolong disampaikan disini, agar bisa kita perbaiki bersama. Dan untuk pembagian tugas nanti kita akan rundingkan kembali setelah pembentukan seksi kepanitiaan." Om David menjelaskan secara detail dan didengarkan dengan seksama oleh semua remaja termasuk Deni yang terlihat fokus.
"Dan kamu Deni, khusus untuk kamu om punya permintaan yang tidak boleh kamu tolak, kamu ngurus keuangan lagi ya" om David terlihat tak ragu melempar ucapannya
"Yah om, jangan saya deh, saya jadi team hore aja boleh ga? Bosen tau, megang duit banyak tapi ga bisa dipake jajan, jangankan buat beli cilok gopean om, buat beliin Desi permen cicak yang seribu dapat 4 aja ga bisa om" Banyolan Deni langsung disambut gelak tawa yang bergemuruh seisi aula, suara kegembiraan yang sangat pecah sampai mungkin terdengar dari luar aula. Kali ini seluruh teman-temannya benar-benar tidak sanggup menahan tawa mendengar kalimat yang terucap dari mulut Deni. Desi spontan ikut tertawa, seakan tak perduli bahwa dirinyalah kali ini yang dijadikan bahan lawakan Deni terus menerus.
Om David pun hanya mampu menggelengkan kepalanya, namun dia selalu merasa nyaman dan terhibur saat Deni mampu menghangatkan suasana.
__ADS_1
"Udah ga apa-apa, kamu tetap ngurus uang aja, biar nanti kita masih bisa buat acara penutupan dan pembubaran panitia dan masih ada pemasukan untuk kas karang taruna kita, emang kamu tega balik seperti 4 tahun lalu?" Om David mencoba membujuk Deni, walaupun dia tau Deni hanya bercanda.
"Hahaha, enggalah om, nanti kasian yang lain, kalau aku sih minum air gelas mineral doang juga gapapa, kalau yang lain mungkin langsung pingsan ditempat om, apalagi Desi tuh, dulu dia nanyain konsumsi dibilang ga ada malah ngeluyur kerumah saya minta makan" Lagi-lagi ucapan Deni meriuhkan suasana.
4 tahun yang lalu memang menjadi hal yang cukup memalukan untuk Deni dan teman-temannya. Deni dengan keras menentang pemberian "Jatah Dana" untuk pelaksanaan acara HUT RI ke-60 pada waktu itu. Alhasil Deni pun memilih keluar dari forum diikuti beberapa temannya. Alasan Deni cukup beralasan, karena dia paham betul berapa estimasi dana yang akan terkumpul dari para donatur, tetapi "jatah dana" yang akan diberikan kepada karang taruna hanya 50% saja, sedangkan anggaran acara mencapai 95%.
Sebagai fasilitator, tentu itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terlaksana. Jadi lebih baik mereka mundur. Alhasil acara pun berakhir dengan kesan tidak baik, dan nama karang taruna mereka terkena imbas, padahal mereka sama sekali tidak ambil bagian dari acara tersebut. Dan ternyata kecurigaan mereka selama ini terbukti, tidak butuh waktu lama, sang pelaksana acara tersebut ternyata benar menggelapkan dana, setelah diselidik dan ditemukan bukti valid, orang tersebut dimintai pertanggung jawaban, karena pada saat itu nilai kemanusiaan masih dijunjung tinggi, masalah diselesaikan dengan cara kekeluargaan, dengan catatan dana yang dipakai untuk keperluan pribadi akan dikembalikan, perjanjian dibuat diatas materai untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Tidak berapa lama kemudian orang tersebut pindah karena tak kuat menahan rasa malu, namun dia tetap melunasi janjinya untuk mengganti dana yang terpakai.
"Tenang aja Den, nanti kamu om kasih uang buat beliin Desi permen cicak satu karton" om David sepertinya sudah berada di kubu Deni, isi kepalanya seakan sudah terkontaminasi kelakuan absurd Deni. Malam itu seisi ruangan benar-benar menjadi sangat gaduh, gaduh dalam artian sebuah bentuk kehangatan dan keceriaan antar remaja. Meski pertemuan itu sendiri sudah berjalan 15menit dan belum menghasilkan keputusan apapun.
"Assalamualaikum" kembali suara terdengar dari sudut pintu aula yang sedari tadi memang sengaja dibiarkan terbuka. Suara yang sangat asing, begitu ringan dan lembut, namun entah mengapa terdengar begitu hangat hingga mampu menenangkan gendang telinga yang sejak tadi dihujani suara gelak tawa yang membahanan.
Sekejap suara itu membius seisi ruangan yang awalnya riuh, mendadak mereka membisu. Semua sorot mata kini tertuju kearah pintu aula, seorang gadis dengan senyum yang bersahabat muncul, dengan kerudung biru muda yang membuatnya terlihat anggun, dan sweater hitam yang membuatnya terlihat sedikit sporty, sebuah paduan style yang sangat menyejukkan mata. Gadis itu pun belum beranjak dari pintu aula, dengan sorot-sorot mata yang tertuju padanya. Seketika ia pun menyadari hal tersebut, membuatnya sedikit malu namun tetap berusaha memberanikan diri untuk dapat bergabung di pertemuan itu.
"Walaikumsalam!!" Sebuah suara lantang menyeruak kebisuan aula, Deni adalah orang yang pertama kali menjawab salam tersebut dengan penuh semangat.
"Hellooo guuuyss, kalau ada orang kasih salam itu dijawab bukan malah diliatin, lu semua pada ga diajarin etika sama keluarga lu?" Kali ini ucapan Deni sedikit memukul otak teman-temannya yang kemudian menjawab salam dengan serentak seperti anak sekolah. "Walaikumsalam"
"Nah gitu, masa iya jawab salam aja perlu gw komandoin, besok-besok jangan diulangin ya guuuuys.. hehe" Sambung Deni sambil tertawa ringan.
"Wei kulit kuaci jangan bertingkah lu, itu Desi coba tolong iket Deni biar ga kluar ruangan" Dimas seakan memancing pertanyaan di kepala seisi ruangan setelah sempat hening beberapa menit.
"Apa mau langsung gw gelar nih Den?" Dimas kembali berulah sambil tersenyum, karena dia tau Deni pasti bisa langsung mati kutu.
"Jangan gila lu oncom, orang lagi rapat, eh lu malah mau gelar dagangan.. huffft" Deni berujar sambil berkedip kepada Dimas, dia melakukan hal seperti itu hanya menjauhkan persepsi teman-teman lain tentang keanehan antara Dimas dan Deni.
Dimas pun mengamini kode yang diberikan Deni, agar suasana aula tetap kondusif.
Deni pun sejenak terpaku, tak menyangka bahwa sosok yang selama ini mengganggu pikirannya, kini berada tepat di fokus pandangnya.
"Walaikumsalam, Sini Nak masuk, jangan diam disitu aja" Suara om David mempersilahkan gadis itu untuk memasuki ruangan dan bergabung dengan mereka.
"Oh My God, Aira.. she's really georgeus" Deni pun bergumam dalam hati seakan takjub akan keindahan ciptaan Tuhan yang dilihatnya saat ini. Sebuah moment yang seakan menjadi awal baru bagi kehidupan Deni.
__ADS_1