Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
AIRA


__ADS_3

H-4 dan malam ini Deni dan teman-temannya berencana membuat bendera gantung menggunakan gelas aqua yang akan di cat dengan warna merah putih, kepastian itu didapat setelah pagi tadi Deni menghubungi om David untuk meminta persetujuan mengganti penggunaan bendera plastik. Dan hal itu sudah sampaikan kepada teman-temannya yang lain bahwa mereka tidak lagi menggunakan bendera plastik. Dan sore ini Deni sudah meminta teman-temannya yang bertugas di bagian perlengkapan untuk berkumpul di depan rumah Dimas.


Selang berapa jam kemudian Deni pun berangkat menuju rumah Dimas, dan ternyata disana dirinya sudah ditunggu.


"Weits udah pada ready, yuk Cus" seru Deni kepada Dimas, Putra, dan mas Satria agar segera beranjak dari duduknya masing-masing.


"Emang mau kemana sih, sampe lu minta kita jam segini ngumpul?" Dimas membalas ajakan Deni dengan sebuah pertanyaan.


"Lu semua mau gw traktir, mumpung matahari juga udah imut" Deni membuai mereka dengan embel-embel ingin mentraktir mereka, saat ini menunjukkan pukul 4 sore dan matahari saat memang kali ini sudah sedikit bersahabat.


"Aduh, dalam rangka apaan nih? Ga salah denger nih gw? Putra meragukan ucapan Deni.


"Kalau kalian cuma diem disitu dan ga mau ikut gw, emang kalian tau kalau gw bohong atau engga?" Deni membalas ucapan Putra.


"Yaudah yuk, kali aja Deni bener mau traktir, pas banget hawanya pas perut laper" ucap mas Satria.


"Gw masih ga yakin mas" Dimas menambahkan keraguan Putra.


"Udah gapapa ayo, bukan Deni namanya kalo ga ngerjaiin kita" sambung mas Satria.


Mas Satria sepertinya sudah paham betul kemana mereka akan pergi, karena ditahun sebelumnya saat H-4 biasanya menjelang sore harinya mereka membeli perlengkapan dan akan mempersiapkan bendera gantung di malam hari. Rutinitas itu sudah dilakukan selama 2tahun terakhir dan mas Satria sudah paham betul.


Mereka berempat pun akhirnya beranjak dari rumah Dimas, mereka memilih menggunakan motor Putra dan Dimas untuk mempersingkat waktu.


"Lu yang bawa aja nih Den, kan lu yang mau traktir, nanti kalo gw belokin ke Pizza Hut lu malah ngomel" seru Dimas.


"Yee jamblang, lidah, kantong sama perut kampung model kita ga cocok ke pizza hut, kenyang kaga mahal iya.. hahaha" Deni membalas ucapan Dimas.


"Yaudah makanya bawa nih motor" Dimas kembali berseru kepada Deni.


"Kuncinya mana jamblaaaaang?? Lu nyuruh gw bawa motor apa gotong motor???" Ucap Deni sambil menepuk punggung Dimas.


"Oia gw lupa, bentar gw ambil dulu di dalem" Dimas pun kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci motornya.


Tidak berapa lama Dimas pun keluar rumah sambil memegang kunci motor di tangan kanannya.


"Den, nih tangkep" Dimas melempar kunci motornya kearah Deni, Deni pun menangkapnya dengan susah payah dan nyaris terjatuh dari motor yang sudah dia naiki, Dimas melempar kunci dengan asal sehingga menyulitkan Deni.


"Gila lu ya, ngapain pake lu lempar, kalo gw sampe jatoh ketiban motor gimana? Ga kasian lu sama motor lu?" Deni berseru kepada Dimas, Dimas, Putra, dan mas Satria yang mendengar ucapan Deni pun mendadak bingung.


"Oi sarap, kalo lu jatoh ketiban motor, yang harusnya dikasianin itu elu, kenapa malah jadi motornya?!" Putra mengatakannya dengan sedikit lantang.


"Hahaha, bagus deh brarti lu semua masih peduli sama gw" Deni membalas ucapan Putra dengan terkekeh.


"Nyesel gw ngomong gitu" Putra sedikit mengerutkan keningnya.


"Hahaha, yaudah yuk gas, nanti lu ikutin gw aja Put" ujar Deni.


"Oke sip, gas" jawab Putra dengan semangat


Mereka berempat pun menyalakan mesin motor dan mulai memacunya ke tujuan. Sepanjang perjalanan Dimas, Putra dan mas Satria pun mencoba menerka-nerka arah tujuan mereka. Dimas merasa mereka akan dibawa Deni ke kedai bakso yang cukup terkenal di daerah mereka, Putra merasa mereka akan ditraktir sop buah oleh Deni, lain lagi dengan mas Satria, dia masih 50:50 apakah Deni akan membawa mereka ke kedai es kelapa muda atau ke arah pengepul plastik, karena arah kedua tempat itu adalah arah yang sama.


Setelah 20menit berkendara mereka pun sedikit lagi sampai tujuan, tinggal melewati 1 tikungan lagi dan mereka akan sampai.


"Den, kita sebenernya mau kemana sih? Emang disini ada rumah makan baru yang lagi promo?" Dimas bertanya kepada Deni.


"Udah lu anteng aja, dikit lagi sampe, yang penting lu kenyang" ucap Deni agar Dimas tidak lagi bertanya yang macam-macam.


"Oke booossssss siaaaaaap" Dimas berseru.


Mereka kini mengendarai sepeda motor menyusuri sebuah gang yang hanya cukup untuk dilewati 1 buah motor.


"Astaga opaaaak, gw tau ini kita mau kemana" seru Dimas


"Baguslah kalau lu udah tau, jadi gw ga repot repot ngasih tau hahaha.." balas Deni


Setelah ±25 menit mereka mengendarai motor dengan santai, akhirnya mereka tiba di depan pintu gerbang bertulang kayu yang dipadu dengan beberapa lembar seng yang disatukan.


"Dodol lu Den, gw kira beneran mau makan-makan" gerutu Putra.


"Hahaha, abis ini kita makan tenang aja" sahut Deni.


Mas Satria yang sejak tadi sudah mengira bahwa mereka akan pergi ke pengepul pun terlihat santai, reaksinya tidak terlalu kaget seperti Dimas dan Putra.


"Lu kok senyam-senyum aja mas?" Putra bertanya kepada mas Satria.


"Gw dari awal udah feeling kita mau kesini" mas Satria menjawab sambil terseyum.


"Lu kenapa ga bilang mas? Biar si duo DD aja tuh yang kesini" Putra memasang raut wajah kecewa kepada mas Satria yang ternyata sejak awal sudah menduga kemana tujuan mereka sebenarnya.

__ADS_1


"Hahaha, tenang aja budget makannya bener ada, cuma ya kalau mau dapet makan ya kita mesti kerja dulu" mas Satria mencoba memberi perngertian kepada Putra.


"Tau darimana lu mas?" Putra bertanya dengan intonasi suara seakan tidak percaya.


"Tiap tahun juga begini Put, emang lu ga merhatiin? H-4 itu biasanya kita prepare buat bendera, siang atau sore beli bahan, bada Isya kita langsung garap sambil nyemil-nyemil, selesai baru ada makan berat bareng-bareng, ya minimal kita ke warung mang Asep makan mie sama gorengan" Jelas mas Satria.


"Lah iya ya mas, gw baru engeh. Brarti kita makannya tengah malem, jam perut orang istirahat kita malah makan, gimana perut gw mau sixpack,, huft" Putra kembali menggerutu.


Mas Satria pun hanya tersenyum melihat raut wajah Putra yang menekuk. Di lain pihak, Deni dan Dimas yang sudah berada di dalam ternyata sudah membeli bahan yang mereka butuhkan, 3 karung besar yang berisi gelas aqua yang telas dibersihkan oleh pengepul di estimasi cukup untuk membuat bendera gantung. Deni dan Dimas pun kembali menuju ke arah mereka memarkir motor dimana Putra dan mas Satria menunggu, mereka keluar bersama dua orang karyawan yang bekerja di tempat pengepul plastik tersebut, mereka membantu untuk membawakan karung tersebut.


"Put lu puterin dulu motor lu biar nanti ga susah muternya" Seru Dimas.


"Itu kita yang bawa sendiri? Ga dianterin?" Putra berseru sambil menunjuk karung yang menuju ke arahnya.


"Iya bawa sendiri aja, ini enteng karungnya aja yang gede" Timpal Deni.


"Oke siap" Putra pun segera memutar posisi motornya.


"Bentar ya bang kita naik ke motor dulu, nanti yang 2 kasih ke motor depan aja" ujar Dimas kepada kedua karyawan yang membawakan karung.


"Oh iya bang, bener nih bang ga mau dianter aja?" Ujar salah satu karyawan.


"Gausah bang, masih bisa dibawa sendiri, kalau berat mah baru gw minta anterin.. hahaha" Deni menimpali dengan santai.


Putra, mas Satria, Dimas dan Deni sudah naik ke motor masing-masing, Dimas memegang 1 buah karung yang ditaruh di sisi kanannya, dia sedikit terlihat kesulitan karena dia baru pertama kali membawa karung berisi, akhirnya mas Satria memberi sedikit trik kepadanya agar dia menaruh bagian bawah karung diatas punggung kakinya sebagai penyangga agar lebih mudah membawanya. Sementara mas Satria terlihat membawa dua buah karung dengan santai tanpa kesulitan berarti.


"Udah aman semua kan mas?" Tanya Deni kepada Satria.


"Aman Den, yuk cabut" ujar mas Satria.


"Lu gimana Dim? Aman?" Tanya Deni kepada Dimas yang duduk dibelakangnya.


"Pelan-pelan aja Den, masih kaku ini gw bonceng posisi begini" jawab Dimas.


"Hahah, oke oke aman. Yuk cus.." Deni membalas ucapan Dimas.


Mereka pun perlahan tapi pasti mulai memacu motor yang mereka kendarai keluar dari tempat pengepul, mereka pun kembali menyusuri gang yang telah mereka lewati di awal. Deni dan Putra hanya memacu motor mereka sekitar 20kpj, biar pelan asal selamat itu yang dikatakan Deni diawal sebelum mereka kembali.


Perjalanan kembali lebih lambat 15menit dari keberangkatan mereka diawal, tapi itu bukan masalah bagi mereka, yang terpenting mereka sudah kembali dengan selamat.


"Akhirnya touchdown juga, tangan gw pegeeeeeell." Seru Dimas.


"Ah gw aja bawa 2 biasa aja" ujar mas Satria.


"Kl gw yang bawa semuanya, berarti nanti lu ga dapat jatah konsumsi ya" ucap mas Satria sambil terkekeh.


"Hahaha sial lu mas" jawab Dimas.


Tiba-tiba ada suara yang tidak asing terdengar dari arah belakang.


"Eh ada abang-abang yang ketampananya terpancar kalau diliat dari ujung sedotan yang dibakar"


Deni, Dimas, Putra dan mas Satria pun menoleh ke arah suara itu berasal.


"Oi nenek lampir, sekate-kate aje lu ye kalo ngemeng" mas Satria pun sekejap berseru dengan logat betawinya yang kental.


"Aiiih mas, emang ada yang salah sama omongan gw?" Ternyata suara itu berasal dari mulut Desi.


"Desiii.. yang cakepnya terpancar merekah kalau diliat pake mikroskop, kalau orang liat kita pake ujung sedotan yang dibakar, itu sama aja dong kita itu gelaaaaaap..." Mas Satria menimpali ocehan Desi.


"Mas Satriaaaaaaaaa... Jahaaaaaat banget sih lu mas sama gw, emang gw mikroba diliat pake mikroskop" Desi terlihat merengut mendengar candaan mas Satria.


"Hahaha, gimana ceritanya liat bakpao harus pake mikroskop, ditaro di ujung emas monas kita liat darisini juga keliatan" Deni pun ikut menimpali.


"Yailah ini lagi demit pohon kueni, ga usah ikut-ikutam deh, lu mau gw bikin daging cincang buat umpan lele?" Desi membalas ucapan Deni dengan pasti.


"Gila juga tuh ikan lele, elit juga makanannya daging cincang, gw aja cuma makan tahu tempe, gw jadi lele aja deh kalo gitu.. hahahaha" Deni tertawa lepas melihat Desi yang terlihat tidak puas akan balasan candaan Deni.


"Ah sarap lu, gw malah berasa ngomong sama tembok" Desi malah terlihat kesal.


"Hahaha, lagi lu dateng dateng main ngecengin orang aja. Mending lu kerumah, bikinin kita sirup apa teh manis gitu, sekalian jangan lupa cemilannya" ucap Deni enteng.


"Gw sih niatnya tadi begitu, tapi berhubung lu yang minta ga jadi, lu udah bikin gw kesel" Desi berujar sekaligus cemberut kepada Deni.


"Yailah Des, percuma juga lu cemberut, gw juga ga percaya lu kesini mau bawaiin makanan.. hahahahaa.." Deni kembali menjawabnya dengan enteng.


"Bener-bener lu ya, udah ah gw cape ngomong sama mahkluk astral" Desi pun berlalu meninggalkan Deni dan kawan-kawannya.


"Eh bakpao, mau kemana lu?" Tanya Deni kepada Desi yang berjalan menjauhi mereka.

__ADS_1


"Gw mau kerumah Tiwi, trus mau kumpuk dirumah Aira.. daaaaahh" Desi menjawab sambil melambaikan tangan.


"Lu ga ikut Den?" Dimas seketika bertanya kepada Deni.


"Mau ngapain? Yang ada disana gw malah cengo" jawab Deni.


"Yaudah yuk lanjut, beresin ini dulu biar ga buang waktu, nanti ini tolong titip dirumah lu dulu ya Dim, jam 9 malam kita start garap" ujar Deni.


"Siph, yang penting naruhnya yang rapi" sahut Dimas.


Setelah ±20 menit membereskan dan mengumpulkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Mereka pun membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing, karena waktu pun menjelang maghrib.


"Assalamualaikum.. Assalamualaikum"


Suara seorang wanita terdengar dari depan pagar hitam yang tertutup rapi.


"Walaikumsalam"


Akhirnya ada yang menjawab salam setelah beberapa saat wanita itu menunggu tuan rumah untuk membukakan pagar.


"Eh Des, gw kira siapa" Tiwi menyapa Desi dan membukakan pagar kemudian mempersilahkan Desi untuk masuk.


"Sorry ya Wi kesorean, gw baru balik ngampus, tadi dari flyover pasar udah kena macet" Desi menjelaskan.


"Gapapa Des, yaudah bentar ya gw ijin ke nyokap dulu kl mau kluar" sahut Tiwi.


"Oke" Desi menjawab sambil mengedipkan mata kanannya.


Setelah meminta ijin kepada ibunya, Tiwi pun kembali menemui Desi.


"Yuk Des, gw udah ijin mumpung belum maghrib kita kesana sekarang aja"


"Gw sih terserah lu Wi, kan lu yang ngajak" jawab Desi.


"Yaudah yuk, soalnya tadi gw bilang ke Aira kita kerumahnya jam 5 sore, tapi sekarang udah 1/2 6.. hahaha" ujar Tiwi


"Yaudah yuk jalan sekarang" balas Desi.


Desi dan Tiwi pun beranjak menuju rumah Aira yang hanya berselisih 2 rumah dari rumah Tiwi.


"Airaaaaaaa.." teriak Tiwi.


Kebetulan Aira sedang berada di teras rumahnya, dia sedang duduk sambil memegang katalog produk kecantikan.


"Hei dear, langsung masuk aja itu pagar ga aku kunci kok" ujar Aira.


Tiwi pun bergegas masuk disusul oleh Desi yang mengikutinya tepat dibelakang Tiwi.


"Aku kira kalian ga jadi dateng" ucap Aira.


"Iya sorry Ra, td gw yang lama nyamper Tiwi, tadi baru sampe jam 5 lewat 10, trus mandi dulu baru kerumah Tiwi" jelas Desi.


"Iya gapapa, lagipula aku juga ga kemana-mana kok" balas Aira sambil tersenyum.


"Kita masuk dulu yuk, sebentar mau lagi maghrib" Aira kembali berujar.


"Yuk, ayo Des jangan bengong aja lu" timpal Tiwi.


Mereka bertiga pun masuk kedalam rumah, entah apa yang sebenarnya akan mereka bicarakan atau lakukan.


"Rumah lo adem ya Ra, bisa betah nih gw disini" ujar Desi.


"Ya beginilah, maaf ya kalau berantakan" balas Aira.


"Berantakannya aja rapi kaya gini, kalau ga berantakan gimana Ra?" Desi seakan menjadi bingung, karena Desi mengganggap kondisi ruangan yang dia lihat sudah sangat rapi.


"Lu mau lihat yang lebih rapi lagi Des? Nanti diatas" seru Tiwi.


"Whaaaat, diatas lebih rapi dari ini? Ini rumah ada room servicenya kali ya bisa kinclong gini" Desi terkejut mendengar ucapan Tiwi.


"Yaudah yuk kita naik aja" Ajak Aira kepada Tiwi dan Desi.


"Loh tante kemana Ra? Daritadi ga keliatan, biasanya kalau tante denger suaraku langsung kluar dari dalam" tanya Tiwi.


"Mama lagi keluar sama bapak, katanya ada kajian, yaudah yuk langsung naik aja. Oia kalian mau minum apa? Aku ambil dulu biar ga turun naik" ujar Aira.


"Ga usah Ra, tadi gw abis minum es susu, masih kembung ini" tolak Desi secara halus.


"So jaim lu Des, udah Ra buatin kita sirup aja, kalau udah jadi juga kita minum.. hihihi" Tiwi pun terkekeh.

__ADS_1


"Okey, kamu langsung ajak Desi keatas aja Wi, nanti aku nyusul" sahut Aira.


Tiwi pun mengajak Desi untuk naik ke lantai atas, kesan baik sudah langsung melekat di otak Desi saat kakinya memasuki rumah Aira, hawa rumah yang begitu sejuk, mungkin juga karena efek cat tembok yang berwarna biru langit, serta tatanan bagian dalam rumah pun terlihat rapi sehingga sirkulasi udara juga mengalir dengan baik. Saat jarinya iseng menyentuh sisi lemari pajangan pun tidak terasa sedikit pun debu yang menempel. Bagi Desi yang baru pertama kalinya masuk kedalam rumah Aira, dapat masuk ke dalam rumah itu sebuah hal yang sangat menenangkan.


__ADS_2