Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Kejutan Spesial


__ADS_3

Kalau dengan cara lembut dah tak bisa. Biarlah saya sedikit memaksa.


_Jenny_


...


Bagas sedikit termenung di kamarnya. Sore tadi dia dapat telpon dari Papanya. Sedikit aneh memang. Dari seumur hidupnya, baru kali ini Papanya seorang diri menelepon padanya. Bahkan tanpa perantara asisten pribadinya. Malah, dengan sebuah kabar yang membuat pemuda itu tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Ah, Mungkin dia akan mengalami insomnia malam ini.


Flashback


"Halo Papa. Tak biasa Papa telpon aku macam ni. Apa ada masalah penting sangat di sana?" Bagas berbicara dengan Papanya di telpon.


"Bagas. Kamu musti balik minggu ini!," lelaki di seberang telpon itu memberi perintah.


"Tapi, Papa. Kita sudah buat kesepakatan. Saya akan lanjutkan studi di sini bersama Wili." Bagas mengingatkan Papanya tentang kesepakatan yang mereka buat sebelum Bagas pergi ke Indonesia.


"Papa akan batalkan kesepakatan itu kalau kau tak balik minggu ni." Dia mengancam anaknya.


Bagas menarik nafas kesal. Papanya pasti selalu seperti itu. Hanya peduli dengan keputusannya, tanpa sedikit pun memperhatikan keinginan anaknya. "Lebih baik Papa jelaskan dulu pokok masalahnya! Kenapa saya musti balik minggu ni?" Kali ini dia mencoba menentang.


"Sudah berani kamu sama Papa." Ucapan Papanya terdengar meninggi. "Sabar Pa! Biar Mama yang bicara." Sebuah suara lain terdengar. Iya itu suara Mamanya Bagas. "Bagas, ini Mama. Kamu suka tinggal di Indonesia?," tanya Mamanya basa basi.


"Iya mah di sini ada Wili. Sebenarnya ada apa? Kenapa saya musti balik minggu ni?" Pemuda itu tak mau berbasa-basi.


"Nak! Sekarang, kamu sudah cukup besar sayang. Sudah waktunya mewarisi usaha Papa. Dia nak kenalkan kamu dengan seseorang yang cocok untuk jadi pendamping hidupmu. Dia anak yang sangat cantik, baik, dan juga anak dari seorang relasi bisnis Papa." Jelas ibunya.


"Apa maksud Mama, ni?" Dia sudah tahu maksudnya. Tapi menurutnya ini sesuatu hal yang tidak pantas. Sama saja menjual dirinya hanya untuk kepentingan bisnis Papanya.


"Pulanglah! Bertunanganlah dengan dia! Menurut kabar, dia juga teman sekolah kamu. Dan dia sangat menyukai kamu," ibunya menjelaskan. "Nanti Mama kirim Fotonya. Pasti kamu kenal dia," lanjutnya.


"Huuuh.." Dia menghembuskan nafas berat. Dia tahu dirinya tak akan menang dalam perdebatan ini. "Cukup Ma! Beri saya beberapa hari untuk berpikir." Bagas pun menutup telponnya. Kesal.


Tring!


Sebuah pesan, masuk ke smartphone-nya. Meski malas, dia tetap meraih dan melihatnya. Pesan dari Mama. Dibukanya dan tampak foto seorang gadis yang tak asing baginya. "Jenny." Dengan kesal dia membanting smartphone-nya cukup keras. Bruk. Smartphone-nya itu kini telah hancur berkeping-keping.


"SI*LAN" Dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya dengan kasar.


...


Tuk.. Tuk.. Tuk..


Bagas melirik malas ke arah pintu kamarnya yang diketuk.

__ADS_1


"Gas, lu gak makan malam? Nih ada kiriman makanan lagi dari Silfa." Wili mengingatkan sepupunya untuk makan malam.


Mendengar nama Silfa membuatnya sedikit bersemangat. Dia pun bangkit, dan menuju ke arah pintu kamarnya. "Apa Silfanya lu ajak masuk?"


"Sudah. Tapi dia menolak. Katanya harus membantu ibunya membuat bahan jualan buat besok." Wili tahu pasti, kini sepupunya sedang kecewa. "Yuk makan!" Wili mengangkat sebuah kantong yang berisi beberapa box makanan dari Silfa.


"Gak deh. Gua lagi gak lapar," katanya sambil menutup pintu kamarnya kembali.


"Kenapa lagi tuh bocah?" Wili tak habis pikir dengan tingkah Bagas kali ini.


...


Kuala Lumpur, Malaysia


Jenny menatap penuh harap ke arah Mama dan Papanya. "Bagaimana?," tanyanya antusias.


Papa melirik ke arah Mama.


"Tentu saja mereka setuju. Tak ada yang akan menolak gadis cantik macam kamu." Mama terlihat bahagia.


Papanya malah jauh lebih bahagia. Selain bisa mengabulkan keinginan anak gadis yang teramat disayanginya, dia juga bisa mendapatkan keuntungan besar dalam bisnisnya. Satu tepuk dua lalat jatuh. Pikirnya bangga.


"Iya, kah? Terus, terus!" Gadis itu menanti kejutan selanjutnya dari Mama.


"Iya, kah?," katanya setengah berteriak. Kini Jenny benar-benar bahagia dengan kabar yang dibawa ibunya. Dia bersenandung penuh kebahagiaan menuju kamarnya.


...


Bandung, Indonesia


Bagas pergi menemui Wili di ruang keluarga. "Wil, pinjam Hp lu." kata lelaki itu tanpa basa basi.


"Tuh!" Dia menunjuk HP-nya yang tergeletak di atas meja. "Kemana punya lu?"


Bagas melemparkan smartphone-nya ke arah sepupunya. Dengan sigap lelaki itu pun menangkap benda yang dilemparkan oleh Bagas. "Wah wah.. Lu apain sampai kayak begini?," kata Wili sambil membolak-balik smartphone Bagas yang sudah tak berbentuk.


Tak ada komentar. Dia mencari nomor seseorang dalam kontak HP sepupunya itu.


"Lu cari apaan sih?" Tanya Wili tanpa melepaskan pandangannya dari acara TV yang ditontonnya. "Nomor Silfa gua kasih nama 'Ifa caem'," katanya santai.


Bagas melirik kesal ke arah sepupunya itu sambil menimpuknya dengan bantal.


Hehe.. Sepupunya hanya tersenyum puas dengan kelakuan Bagas.

__ADS_1


Bagas yang masih kesal, kemudian mengetik sesuatu di Hp Wili mengirim pesan kepada Silfa.


"Hai, ini gua Bagas. Sorry kalau gua ganggu lu. Apa lu sibuk besok?"


"Gua mau nagih salah satu kesepakatan kita."


"Dan juga gua ingin bicara serius sama lu tentang Jenny."


Bagas berharap pesannya yang ketiga. Membuat gadis itu tak bisa menolak ajakannya.


Tring!


Sebuah pesan masuk dari Silfa.


"Baiklah. Saya besok libur." Isi pesan dari gadis itu.


"Baiklah. Besok kamu ikut saya, ya. Saya tunggu jam 7 pagi di depan." Balas Bagas.


Dia pun melemparkan kembali HP Wili ke atas pangkuan sepupunya itu. Dan ikut duduk di sebelahnya.


"Kenapa, lu?" Wili mulai penasaran dengan kelakuan sodaranya ini. Setahunya Bagas orang yang kalem. Gak mudah terbawa suasana.


"Huuuh." Dia menghembuskan nafas berat. "Gua disuruh balik ke Kuala Lumpur dan disuruh tunangan," katanya cemberut.


"APA?" Wili pun sampai terlonjak kaget. "Lu apa? Tunangan? Wah sama siapa?"


"Nah itu yang bakal bikin lu kecewa."


"Jenny?"


Bagas mengangguk.


"Kok bisa? Wah.. keren juga tuh cewek. Dia bisa mengendalikan keadaan buat maksa lu supaya suka sama dia," kata Wili. Meski nampak kecewa dia tetap memuji Jenny.


"Terus perasaan lu sama Silfa?" Wili tak menyangka hubungan di antara ketiga orang ini akan semakin rumit seperti ini.


"Menurut lu, gua musti gimana?" Bagas balik bertanya.


"Eh, apanya yang gimana? Kalau gua mah kan bebas orangnya. Ya.. gua pasti ikutin kata hati gua lah.. Beda sama lu, yang harus ini lah itu lah.. Banyak tuntutan." sepupunya itu sedikit mencibir.


"Sudahlah. Gua masih pusing." Bagas pun kembali ke kamarnya.


Di sana dia kembali termenung, menyisir setiap sudut di langit-langit kamarnya. Memikirkan tindakan apa yang akan dia ambil selanjutnya. Mengikuti kata hatinya? Atau menyetujui permintaan orang tuanya? Benar-benar keputusan yang dilematis dan sangat berat yang harus diambilnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2