Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
AIRA


__ADS_3

Muhammad Deni Ramadhan, seorang lelaki yang terlahir di luar ibukota 21tahun yang lalu, namun dirinya tumbuh besar di ibukota negara karena memang pada saat itu keluarganya memilih menetap di ibukota karena tuntutan pekerjaan. Bungsu dari 3 bersaudara dari sebuah keluarga sederhana, keluarganya lebih senang memanggilnya dengan nama Rama sesuai dengan nama yang diambil dari nama belakangnya, namun ternyata teman-temannya lebih suka memanggilnya dengan sebutan Deni karena dianggap lebih familiar dikalangan mereka.


Mau tidak mau Deni harus terbiasa menerima dua panggilan sekaligus, Rama dari keluarganya dan Deni dari teman-temannya.


Perlahan tapi pasti Deni tumbuh menjadi laki-laki yang ulet, karena dia menyadari bahwa tidak ada hal yang dapat disombongkan dari dirinya, karena dia sudah sangat paham betul pesan orang tuanya bahwa "kesombongan adalah sebuah bom waktu yang tidak hanya dapat menghancurkan diri sendiri, tetapi juga dapat melukai nama baik keluarga"


Sejak kecil, Deni tidak terlalu menuntut banyak untuk dibelikan mainan atau barang yang di inginkannya, tidak seperti anak lain Deni lebih senang membeli barang dengan hasil tabungannya sendiri dari hasil berjualan mainan, ya Deni kecil memang unik, disaat teman-temannya sibuk menjadi pemburu mainan, dia malah senang menjadi pejuang yang dengan gigih menjajakan dagangannya kepada teman-temannya.


Seperti dua sisi mata uang, bagian dirinya yang lain ingin dapat seperti mereka tapi di sisi lain suara hatinya berusaha keras untuk menekan keinginannya. Dia pun sudah merasa cukup bersyukur dapat mengenyam pendidikan di sekolah unggulan dan dididik dengan edukasi demokrasi yang sangat baik didalam internal keluarganya. Sejak dini dia memang telah diberi kebebasan namun selalu diarahkan agar dapat menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab oleh orang taunya terutama oleh sang ibu. Jadi tidak mengherankan jika saat ini Deni tumbuh kuat menjadi pribadi yang sangat mandiri, supel dan ringan tangan dalam membantu sesama di kehidupan sosial.


Dalam hal pendidikan, Deni pun terbilang cukup apik, meski bukan sosok yang mempunyai prestasi mentereng, tapi dia mampu menjelma menjadi sosok yang dikenal karena selalu mampu mendapat hasil terbaik dalam bidang akademik, dia selalu berada di peringkat 4 besar sejak bangku SD sampai SMA, dan dia bisa dibilang lebih unggul dari teman-temannya karena hanya dirinya yang selalu lolos masuk ke sekolah Negeri yang merupakan unggulan dan hal itu menjadi salah satu amunisi andalan Deni saat bercanda dan membuat teman-temannya cukup kesal atas tingkahnya. Meski dirinya kerap kali dipanggil ke ruang BP karena ulahnya baik itu didalam ataupun diluar sekolah, namun Deni selalu mampu menyelesaikan masalah yang dia perbuat tanpa harus melibatkan orang tuanya.


Di kalangan para guru, Deni memang bisa dibilang langganan, langganan dalam hal prestasi dan langganan dalam hal masalah, meskipun begitu para guru dan wali kelasnya pada saat itu kagum pada sosoknya yang responsible.

__ADS_1


Deni pun terbilang cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, dia memang lebih senang melakukan kegiatan non-profit. Bagi dirinya, selama yang dia lakukan bisa menyenangkan dan membuat orang lain tersenyum itu adalah sebuah keharusan, karena itu memang hak dari orang-orang yang membutuhkan untuk merasakan kebahagiaan yang sama, dan dalam pikirnya kebahagiaan itu dititipkan kepadanya untuk disampaikan kepada mereka. Secara tidak langsung kegiatan kegiatan tersebut telah membentuk dirinya menjadi tipikal orang yang amanah dalam mengemban tugas dan kepercayaan, dia juga termasuk pribadi yang sangat tidak mudah percaya dengan media serta sebuah kabar berita yang datang dari mulut ke mulut. Meskipun kabar itu datang dari sahabatnya sendiri, karna dia paham betul yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri pun belum tentu itu adalah sebuah kejadian yang tulus.


Dia pun bisa berubah menjadi sosok pembangkang sejati, pribadi yang tidak mau terpaku oleh aturan dalam pengertian yang positif, karna menurutnya aturan itu dibuat oleh manusia sebatas untuk mencegah agar manusia bisa hidup teratur dan saling menjaga kedamaian, aturan bukanlah suatu senjata untuk mengekang sebuah golongan, dia pasti akan sangat kesal pada aturan-aturan yang cenderung menekan dan mengekang. Deni bak ujung tombak perlawanan bagi orang-orang yang tak mampu melawan orang yang "berkuasa".


Apabila ada peraturan yang dianggapnya jelas dan benar-benar merugikan orang banyak, Deni adalah orang pertama yang akan mendobrak peraturan tersebut, dia tidak segan menjatuhkan muka lawan didepan orang banyak apabila orang tersebut jelas terbukti mengambil kuntungan diatas derita orang lain.


Sampai dia mendapat julukan "trouble maker" oleh sebagian orang yang terusik karna tidak mampu mendapat keuntungan atas usahanya menekan orang lain.


Terlihat naif, tapi itulah Deni, seorang lelaki yang kini memiliki tinggi badan 175cm dan berat 80kg, berparas lugu, bertingkah konyol, namun dapat menjadi sosok yang sangat dibutuhkan untuk mendobrak situasi.


Deni memang memiliki prinsip yang cukup unik, mampu menempatkan diri dengan baik, mampu menjadi orang yang sangat menyenangkan dan juga cukup lihai dalam urusan membuat kesal teman-temannya karna keusilannya, disisi lain dia adalah sosok yang mau berkorban tenaga, untuk orang yang membutuhkan meski dirinya pun kadang menyimpan getir dalam diri. Sadar atau tidak, Deni telah menjadi generator hidup untuk orang-orang disekitarnya.


Seperti tidak pernah habis cerita tentang Deni, karena memang dirinya termasuk pribadi yang cukup sulit ditemui di era ini.

__ADS_1


Teman-temannya pun kerap merasa seperti kehilangan gairah bila Deni absen ditengah-tengah mereka, pernah di suatu ketika Deni memilih untuk tidak berkumpul dengan teman-temannya, bukan hal yang disengaja, Deni sedang mempersiapkan diri untuk seleksi masuk perguruan tinggi negri, seperti yang dicita-citakan dirinya. Karena baginya, perguruan tinggi negri adalah batu loncatan nyata untuk memperluas relasi, dan mempermudah jalannya di masa depan.


Namun sayang, kala itu takdir belum berpihak pada Deni, dia gagal untuk lulus dari test yang telah dirinya persiapkan dengan matang.


Hari pun terus malangkah maju dan waktu pun berlalu seperti biasa, masih tak tampak ada yang aneh pada Deni.


Walau dirinya masih terpikir tentang bagaimana pribadi Aira yang sebenarnya.


Di kesehariannya bersama teman-temannya, Deni malah lebih memilih acuh soal Aira saat teman-temannya mulai sering menggodanya perihal Aira, mungkin Dimas si mulut rombeng itu sudah menceritakan obrolan mereka tempo hari kepada teman-temannya yang lain. Dan entah mengapa Deni mulai merasa kikuk, tidak seperti biasanya kini Deni hanya mampu menambah 1% kadar kekonyolannya di depan mereka apabila topik yang diangkat teman-temannya menyangkut tentang Aira, dia yang sejatinya tak pernah berhenti berlaku usil, kini malah terlalu sering menanggapi segala sesuatu yang dikatakan teman-temannya dengan senyuman, Benar-benar Deni mendadak akan seperti beku, seperti ucapan Dimas tempo hari agar dirinya mengurangi menonton FTV.


Ada apa dengan Deni? Apakah bayang-bayang Aira si pemilik dua bola mata paling indah itu benar-benar sudah merasuk ke dalam otaknya. Akankah dia akan selalu terdiam tanpa meladeni ejekan dari teman-temannya yang seakan menemukan sebuah momentum langka untuk berbalik mengerjai Deni habis-habisan.


Tentu Deni sadar, melihat keadaan dirinya yang seakan tidak mempunyai tameng apapun untuk menangkal segala sesuatu tentang Aira, teman-temannya pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas keusilan yang pernah dirinya lakukan kepada mereka. Dan Deni kini hanya bisa pasrah kepada waktu, karena dia sendiri pun bingung atas apa yang terjadi dengan dirinya, hanya sebatas mengagumi atau perlahan tapi pasti benih perasaan lebih terhadap Aira telah tumbuh dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2