Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Tak Masuk Akal


__ADS_3

"Haloooo .... Boleh saya tanya sesuatu Tuan-tuan?" kata Silfa di balik pintu, beberapa kali dia memutar tuas yang memang dikunci, berharap para penjaga berjas hitam yang ada di depan sana sadar dengan teriakannya dan bersedia membuka pintu. Dia harus bernegosiasi bagaimana pun caranya.


Sudah belasan kali dia mencoba, suaranya sudah hampir serak, bahkan tenggorokannya terasa sakit. Dia menelan ludah beberapa kali, membasahi tenggorokannya yang mengering. "Ruangan macam apa ini? Masa mereka tak ada yang mendengar teriakkan gua sama sekali? Meski sedikit pun? Apa mungkin ruangan ini memang dirancang kedap suara? Aaah ... sialnya gua. Terus bagaimana nasib gua?" batinnya kesal. "Gua gak boleh terlalu membuang banyak waktu di sini. Fokus Ifa! Cari jalan ke luar!" gumamnya.


Ceklek! Akhirnya pintu terbuka, dari sana masuklah seorang lelaki baya dan seorang wanita, keduanya begitu elegan dan tampak berwibawa. Usia mereka hanya berpaut berapa tahun saja sepertinya. Sang wanita langsung berlari ke arahnya, memeluk gadis itu erat, benar-benar dekapan yang erat. Tentu saja, Silfa bingung. Siapa wanita ini sebenarnya? Apakah dia mengenalnya? Namun ... nihil, dalam memori ingatannya tak satu pun dia temukan kedua orang yang kini ada di di dekatnya. dia sama sekali tak mengenal mereka.


"Akhirnya, Mama temukan juga kamu, Honey. Kenapa pergi tiba-tiba. Mama khawatir sangat sama kamu," ucap wanita itu dengan lembut. Tampak sorot penuh kasih sayang terpancar dari kedua matanya. Silfa tertegun, dia hanya bergeming menatap wajah wanita itu yang terlihat tulus dan keibuan. "Jom, kita balik." Wanita baya itu menatap sang lelaki.


Lelaki baya di hadapan mereka mengembuskan nafas berat namun lega. Dia mengurungkan niatnya untuk memarahi Silfa. Kakinya maju beberapa langkah ke depan, mendekati Silfa dan membelai kepala gadis itu lembut. Silfa terperanjat. Terbayang sosok Abah yang sedang melakukan hal itu padanya, sekujur tubuhnya terasa hangat. Andai.


"Jom, kita balik dulu. Nanti baru kita bicara di rumah," ucap lelaki baya itu.


Bak tersihir dengan kelembutan kedua orang di dekatnya ini, Silfa tanpa sadar mengikuti gerakan mereka yang menuntunnya ke luar ruangan, turun ke lobi, dan masuk ke dalam sebuah mobil yang begitu mewah berwarna merah menyala. Di dalam mobil, sang wanita masih megenggam tangannya erat.


Silfa akhirnya tersadar, dia menoleh ke arah wanita itu dan berkata, "Maaf Tante, apa kita saling mengenal?"


Wanita yang dipanggil Tante itu langsung berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang ia dengar, ke luar dari mulut manis gadis di sampingnya. "Honey ...." Dia kembali memeluk Silfa erat. Silfa tertegun kembali, mencoba mencari benang merah atas kejadian yang menimpanya ini. "Kamu tak kenal Mama? Ini Mama, Honey ...," ucapannya menahan tangis.


"Ma-ma?" Silfa memiringkan kepalanya, menatap lekat wanita itu. Bukan. Dia bukan Ambu. Ibu satu-satunya yang ia miliki hanya Ambu, yang selalu ada di setiap harinya.


"Iya, sayang ... ni Mama. Dan kamu Jenny putri terkasih Mama, kan?"


"Jenny?" Akhirnya, benang merah itu terhubung. Wanita dan lelaki baya itu telah salah mengenalinya. Termasuk para lelaki berjas hitam itu, semuanya telah salah mengenali dirinya dan Jenny. "Maaf, Tante ... sepertinya Tante salah mengenali orang. Nama saya Silfa, Silfa Auliya." Gadis itu mencoba menjelaskan dengan hati-hati.


"Kamu bicara apa, Honey. Kamu jelas Jenny. Jangan bercanda lagi sama Mama. Tak comel lagi." Lagi-lagi wanita baya itu memeluknya. Tak memberikan kesempatan gadis itu untuk mengelak lagi. Dalam dirinya dia yakin gadis yang tengah berada dalam pelukannya itu adalah putrinya, Jenny.


Ah ... Silfa benar-benar bingung harus menjelaskan bagaimana, andaikan kartu identitasnya ada, pasti akan lebih mudah dan masuk akal penjelasan.


Drrrt .... Drrrt ....

__ADS_1


Silfa kaget, HP-nya kembali bergetar. Tentu saja, dia sekarang sudah berada di luar ruangan. Pasti tuan sinyal juga tak malu-malu lagi menampakkan dirinya di sini. Dia meminta maaf kepada wanita baya itu untuk mengangkat telpon sebentar. Wanita itu melepaskan pelukannya dan membiarkan Silfa menerima telpon.


"Halo, akhirnya tersambung juga .... Gimana kabar elu, baby. Sekarang lu di mana? Gua sangat khawatir sama lu, Yayu juga, dan Ambu juga," cerocos Susan di seberang sana.


"Gua baik-baik saja, San. Tapi ... ada yang tak beres. Ternyata gua dibawa pergi sama orang tua ... Jenny," kata Silfa berbisik. "Gua disangka anak itu. Dan sekarang ... gua gak bisa buktikan kalau gua bukan dia. KTP gua tertinggal di kafe di dalam loker," jelas Silfa panjang lebar, masih sambil berbisik. Gadis itu terlihat frustasi.


"Apa? Kenapa jadi ribet begini sih .... Tapi memang wajar, secara muka kalian itu kayak pindang dibelah-belah."


"Halo, Fa, ini gua Wili. Lu di mana sekarang?" Wili mengambil alih telpon Susan.


"Ah, Wili. Entahlah gua juga gak tahu ada di mana? Yang jelas, gua sekarang ada di dalam mobil warna merah terang."


"Iya, itu mobil yang biasa dipakai Jenny. O, ya. Lu baca pesan dari gua?"


Ingatan gadis itu langsung terlempar pada isi pesan yang dikirim Wili yang tadi dibacanya, Jenny menghilang. "Iya, sudah. Tunggu! gua harus hubungi anak itu agar semua ini beres. Gua gak akan disangka dirinya terus-terusan kalau anak itu bisa menemui orang tuanya."


"Orang tua angkat maksud lu ...?"


"Gua dan kedua sahabat lu juga Ambu sudah tahu isi map hijau yang di bawa Jenny." Wili menjelaskan.


Cukup lama Silfa bertelpon, wanita baya di sampingnya memperhatikan dengan seksama tingkah gadis itu. Dalam pikiran wanita itu pun menjadi ragu, kalau gadis di sampingnya ini adalah putrinya. Tapi wajah dan segala fisik yang gadis itu miliki benar-benar persis seperti sang putri. Maka dia membuang jauh prasangka itu. Mungkin Jenny memang sedang sedikit sakit. Batin wanita itu.


....


"Bagaimana?" tanya Susan penasaran. Wili mengembalikan smartphone gadis itu.


"Ternyata mereka telah melakukan tes DNA beberapa hari yang lalu. Hasilnya pun sudah ada di rumah sakit. Tinggal diambil saja. Gua akan coba buatan surat kuasa agar bisa mengambil dokumen itu." Jelas Wili.


"Syukurlah. Dengan ini kita bisa tahu Jenny beneran Silfi atau bukan. Dan Ambu akan lebih tenang." Mereka melihat ke arah Ambu yang memperhatikan ketiga remaja itu dalam diam.

__ADS_1


....


Berkat surat kuasa yang dibuat Wili dan kedatangan Ambu beserta mereka, akhirnya pihak rumah sakit bersedia memberikan hasil tes DNA itu. Sungguh sesuai dugaan. Kecocokan DNA kedua gadis itu hampir 99%, artinya mereka memang bersaudara.


"Syukurlah Ambu. Jenny benar-benar Silfi." Yayu menepuk-nepuk punggung Ambu yang menangis haru. Didekapnya dokumen penting itu di dada. Meski sesak, tapi wanita baya itu benar-benar lega. Putrinya yang hilang 17 tahun lalu kini ditemukan. Air mata dan senyum menghiasi wajah tenangnya.


....


Drrrt .... Drrrt ....


HP Jenny bergetar. HP yang dia gunakan terakhir kali untuk menghubungi Silfa. Beruntung dia hanya diikat di pergelangan tangannya. Jadi masih bisa mengambil HP yang tersimpan dalam saku rok merah mudanya. Melihatnya. Sebuah panggilan masuk dari Silfa.


Dengan mulut yang terkunci lakban tak mungkin dia berbicara dengan Silfa. Maka dia menolak panggilan itu dan mengetik pesan untuk gadis itu. Walau sulit dia harus melakukannya, ini kesempatan baik untuk memberi tahu keberadaan dirinya. Secepat mungkin sebelum kedua orang yang menculiknya kembali.


"Fa, tolong aku. aku diculik. Aku gak tahu sekarang di mana? Tolong!"


Jenny segera mematikan HP-nya dan menyimpannya kembali di dalam saku. Terdengar beberapa langkah kaki datang mendekati ruangannya. Dia harus bersiap.


....


"Halo, Wili, gua harus gimana? Sekarang gua ada di bandara? Sebentar lagi lepas landasan ke Malaysia." Silfa memberi informasi keberadaannya. "Tadi gua sudah hubungi Jenny, tapi tak diangkat. Dia malah mengirimkan pesan kalau dia sekarang sedang diculik," kata Silfa panik. Gadis itu menggigiti bibir bawahnya. Dia kini sedang dalam toilet. Tak menyangka tempat bau dan kotor seperti itu bisa jadi tempat ternyaman kala ingin bebas dari orang yang terus mengawasinya.


"Ya udah lu tenang saja. Hasil tes DNA sudah kita ambil. Hasilnya cocok. Kalian bersaudara. Dan lu ikut saja dulu mereka. Gua yakin mereka tak akan mencelakai lu. Yang terpenting sekarang kita temukan keberadaan Jenny terlebih dahulu. Pura pura-puralah menjadi Jenny untuk sementara waktu. Oh, ya kalau kau sudah sampai sana atur pertemuan dengan Bagas, kita cari jalan bersama untuk menemukan Jenny." Wili memberi instruksi panjang lebar. Dia tak ingin kabar diculiknya Jenny akan menyakiti orang tua angkat gadis itu, dan menambah kacau keadaan. Dan tentunya juga menyakiti Ambu. Mereka belima akan berusaha sebaik mungkin menemukan Jenny secepatnya. Dan mengembalikan semua pada posisinya semula.


"Fa, lu kirimkan pesan dari Jenny ke sini, buat bukti jika diperlukan suatu saat nanti."


Usai mengakhiri telponnya, gadis itu mengirimkan pesan yang dia terima dari Jenny pada smartphone Susan. Menarik nafas dalam, mengumpulkan energi baru agar dia bisa melewati masalah ini dengan segera. Bau pesing yang menyengat tak dipedulikannya.


Dalam kekacauan ini, akhirnya Silfa akan memulai perannya menjadi Jenny dan berusaha mencari gadis itu bersama Bagas dan ketiga temannya yang lain. Semoga berhasil.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2