
Beberapa hari sebelumnya.
"Permisi, Tuan. Ada kabar dari keluarga Nona Jenny. Mereka membatalkan pertemuan hari ini, Nona Jenny mendadak kurang sehat." Asisten pribadi Tuan Aliansyah melapor.
Sang Tuan sedang duduk di kursinya, membaca beberapa file perusahaan yang menumpuk. Tak ada respon yang kentara, dia hanya menjawab singkat, "Baiklah, tak mengapa." Lelaki baya itu memainkan bopoin. Memutar-mutar di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. "Bagaimana dengan gadis itu?" Dia mendongak, sebuah senyum misterius kembali menghiasi bibirnya.
"Akan segera kami urus, Tuan."
....
Kamar yang tepat berada di lantai empat bangun megah itu benar-benar nyaman, fentilasi udara, sinar matahari, keduanya sangat seimbang memasuki ruangan. Tentu saja, karena dirancang khusus oleh seorang arsitek ternama di negeri jiran itu.
"Gimana perasaan lu, Gas?" ucap sepupunya yang tiduran, terlentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang tak fokus. Pikirannya terus berpusat pada Jenny, sang gadis yang ia sukai, yang akan segera bertunangan dengan sepupunya jelang beberapa hari ke depan. Bahkan hari ini, dua keluarga akan saling bertemu untuk membicarakan perihal acara penting tersebut.
"Entahlah. Gua masih gak tahu harus berbuat apa. Bokap gua terlalu sulit diatasi." Otak Bagas benar-benar buntu jika harus berhadapan dengan ayahnya. Terlalu licik dan penuh akal bulus yang membuat siapa saja tak dapat berkutik di hadapan lelaki baya itu, termasuk Bagas anaknya sendiri. Sudah sangat sering dia mencoba memberontak, merajuk, bahkan menjilat, tapi ... tak ada satu pun yang benar-benar berhasil menaklukkan sang ayah.
Akhirnya, pemuda itu jadi tak acuh dengan semua yang akan terjadi. menghibur diri dengan membaca setumpuk buku, mengamati bintang atau seperti yang dia lakukan saat itu, bermain game.
Jika takdir mengharuskannya bertunangan dengan Jenny, ya sudah! Dia pasrah! Bukan berarti menyerah juga, dia ... hanya mempercayakan hidupnya pada takdir yang telah digoreskan dalam catatan yang tertulis sebelum dia lahir. Bukankah jodoh, rezeki, dan kematian itu sudah pasti adanya? Tak akan tertukar sedikit pun dengan milik orang lain. Pemuda itu yakin, jika Tuhan berkata lain, Dia akan memberikan jalan yang terbaik dengan cara yang tak terpikirkan olehnya. Keajaiban? Ya ... itu mungkin saja. Bagi kekuasaan-Nya tak ada yang tak mungkin.
"Ampun daaah ... pasrah amat, lu. Usaha dong! Atau, emang lu suka juga sama cintaku, Jenny." Pemuda asal Indonesia itu benar-benar kesal. Dia menghentak-hentakkan kaki, sambil melempar sembarang bantal yang sedari tadi menopang kepalanya.
"Cinta lu?" Bagas tersenyum mengejek. Mendengus geli mendengar kata aneh itu meluncur dari mulut sodaranya. "Kalau lu memang cinta dia, perjuangin juga dong bro. Cari jalan agar pertunangan gua sama dia gak jadi dilakukan." Bagas menatap Wili tajam. Pikirannya sedikit terhibur dengan tingkah sepupunya yang kekanakan.
"Aaaah, sudahlah." Wili mengacak rambutnya frustasi, membalik badan, memunggungi Bagas. Tapi, beberapa detik kemudian dia kembali menghadap sodaranya itu. "Eh! Lu gak siap-siap? Bukannya lu sekeluarga mau ke rumah Jenny?" Wili menatap sepupunya heran.
Bagas sama sekali tak beranjak dari tempat duduknya, masih asyik bermain game, padahal waktu sudah hampir menunjuk pukul satu siang, waktu pertemuan dua keluarga besar. "Gua ... diajak, kan?" kata Wili melengkungkan bibirnya, lebar. Matanya berbinar, penuh harap.
Bagas hanya mengangkat bahu. Masih tampak tak peduli. Apa yang harus dia persiapkan? Kalau harus berangkat ya tinggal berangkat saja. Toh tak ada yang spesial dalam agenda kunjungan tersebut. Yang berkepentingan hanya dua keluarga yang saling mencari keuntungan dalam bisnis mereka. Termasuk Jenny, hanya gadis itu yang punya agenda khusus, bukan dirinya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk.
Wili langsung merubah posisi dan berbisik, "tuh, kan ... akhirnya lu dijemput juga. Ayo siap-siap!"
Bagas memutar matanya, tak peduli.
"Permisi, Tuan Muda," ucap seorang asisten rumah tangganya dengan lantang, masih dalam posisi berada di luar kamar pemuda itu. "Maaf, Tuan Muda ... anda beserta keluarga tidak jadi pergi ke rumah Nona Jenny siang ini. Nona Jenny agak kurang sihat. Pertemuan akan tetap diadakan beberapa hari ke depan." Lanjutnya. Beberapa saat setelah itu, hening. Asisten itu nampaknya sudah pergi dari depan pintu kamar Bagas.
__ADS_1
Lelaki itu langsung sumringah, menatap Wili sang sepupu dengan tatapan yang penuh kemenangan. Dia benar-benar bahagia. "Semoga Tuhan selalu menolongku seperti ini," batinnya bersorak.
Wili terdiam. Dia menatap perubahan raut muka sepupunya yang sangat kentara. Muka ditekuk yang tadi di lihatnya benar-benar raib entah kemana. Menampilkan sosok dirinya yang indah. Dia benar-benar berubah! Kembali bersinar seperti sebelumnya.
Dia terkekeh melihat tingkah Bagas yang begitu cepat berubah. "Senengnya, lu ...," ejek Wili. "Eh, tapi ... gadis itu sakit apaan, ya? Rasa-rasanya itu bukan gaya dia, deh." Pemuda itu tahu betul bagaimana perilaku gadis yang disukainya. Tak mungkin Jenny akan membatalkan begitu saja sesuatu yang telah diharapkannya sejak dulu. Bahkan sampai rela menguntit Bagas ke mana pun pemuda itu pergi. Seperti ada sesuatu yang aneh yang tengah terjadi pada gadis itu.
"Biarkan saja. Gua gak peduli. Itu gayanya atau bukan, gua benar-benar gak peduli." Bagas kembali memainkan game-nya dengan penuh semangat.
Wili kembali terdiam, dia mencoba berpikir, penasaran dengan apa yang tengah dihadapi Jenny. Dia sungguh tak percaya jika karena sakit sedikit saja, membuat gadis itu mengurungkan niatnya bertemu dengan Bagas. Impossible.
....
"Lu jadi balik ke Indonesia?"
Wili mengangguk mantap. Dia yakin ada yang tidak beres dengan Jenny. Apalagi dia mendengar desas-desus kalau sebenarnya gadis itu tidak sakit, melainkan menghilang pada hari itu.
"Tadi malam, gua udah cek daftar nama penumpang penerbangan ke Indonesia kemarin, dan ternyata benar, ada nama Jenny terdaftar di sana," katanya sambil fokus memasukkan barangnya ke dalam ransel kecil yang ia bawa. Raut muka pemuda itu berubah serius membuat dia terlihat bukan seperti Wili yang biasa. Nampak berbeda. "Ini jelas ada yang tidak beres. Gua harus pastikan sendiri, apa yang tak beres itu." Dia memandang saudaranya. "Gua paham. Lu gak usah temani gua. Posisi lu sekarang lebih baik ada di sini. Gak usah membuat semua jadi makin kacau. Gua akan segera hubungi lu kalau ada perkembangan apa pun. Gua yakin Jenny menemui Silfa."
"Kenapa mereka bertemu?"
Wili angkat bahu. "Gua juga gak tahu alasannya. Tapi ... ada kepentingan apa dia ke Indonesia dengan terburu-buru? Jelas ada yang tidak beres," kata pemuda itu begitu yakin.
Wili tersenyum. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan kamar sepupunya, rumah, dan negeri jiran Malaysia, kembali ke tanah kelahirannya Indonesia.
....
"Nak Wili, sudah lama di sini?" Ambu dan kedua teman Silfa kembali dengan raut muka yang penuh kekhawatiran. Wili yang tengah duduk di teras rumah wanita baya itu, nampak melamun, memperhatikan kebun sayuran.
Wili tersenyum seperti biasa. Senyuman khasnya yang jenaka. Menyambut kedatangan Ambu dengan memburu tangannya, mencium tangan wanita baya itu, memberi salam hormat. "Nggak juga, Ambu ... baru sampai. Silfa ada?" Basah. Tangan Ambu berkeringat dan terasa sangat dingin.
"Begitulah, Nak Wili masalahnya. Kata Susan dan Yayu, Silfa dibawa pergi sama orang-orang berjas hitam tadi ketika sedang bekerja di kafe?" Muka Ambu semakin cemas, pucat, begitu khawatir. "Ambu gak sanggup kalau harus kehilangan Silfa juga, Nak." Dia jatuh terduduk. Beruntung ketiga anak muda di sekitar begitu sigap menangkapnya.
"Ambu tenang dulu ...." Wili dengan telaten mendudukkan Ambu di teras, dan menyuruh salah satu dari kedua gadis di dekatnya untuk mengambilkan segelas air minum untuk wanita baya itu.
"Minum dulu! Dan tenangkan diri dulu ya, Ambu. Kita sama-sama berdo'a Silfa baik-baik saja. Biar kita bertiga yang akan mencari Silfa sampai ketemu." Kedua gadis remaja itu mengangguk mengiyakan.
Tak lama kemudian mereka berempat sudah duduk melingkar, menceritakan kronologis Silfa dibawa oleh orang-orang itu.
__ADS_1
"Begitulah, Wil .... Kita sama sekali gak menyangka, dan yang lebih parahnya tak bisa berbuat apa-apa meski kita ada di sana." Susan tampak sedih, matanya berkaca-kaca, pun dengan Yayu.
"Tenanglah! Kejadian ini bukan salah kalian berdua. Meski gua ada di sana sekali pun hal buruk ini belum tentu bisa gua atasi. Melawan sekumpulan orang berjas hitam yang begitu banyak ...." Pemuda itu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Dia begitu frustasi. Ternyata ada dua masalah yang harus dia selesaikan dalam satu waktu ini. Pertama hilangnya Jenny, kedua penculikan Silfa. "Tunggu sebentar ya, gua mau telpon Bagas dulu. Dia juga harus tahu kejadian ini, biar dia ikut berpikir," katanya sambil menepi menelpon sepupunya.
Cukup lama mereka bertelpon, nampak Wili begitu tegang, pasang otot berbicara dengan sodaranya itu.
"Ada apa? Sepertinya ada yang tak beres juga? Jenny? Tadi gua denger lu ngebahas Jenny. Kenapa dengan gadis itu?" Susan penasaran.
"Entahlah. Ada kabar Jenny tiba-tiba kamarin menghilang. Makanya gua kembali dari Malaysia? Ada daftar penerbangan atas namanya ke Indonesia."
"Apa? Jenny juga hilang, Nak Wili? Padahal baru kemarin kami sarapan bareng bersama. Malah dia menginap di sini semalam," sela ibu di tengah suasana yang semakin tegang.
"Jenny benar-benar ke sini, Ambu?" tanya Wili antusias. Dugaannya ternyata benar. Jenny menghilang untuk menemui Silfa. Yang jadi pertanyaannya sekarang, kenapa Jenny ingin menemui Silfa dengan tergesa, sampai mengabaikan obsesinya terhadap Bagas.
Ambu mengangguk pelan. Badannya masih lemas, memikirkan Silfa yang menghilang, apalagi ditambah dengan kabar Jenny yang juga menghilang. "Ambu, tak menyangka Silfa akan membawa Jenny menginap di sini. Sebelumnya ... Silfa izin sama Ambu untuk pergi menemui seseorang dan pulang dengan membawa gadis itu ke sini."
Ketiga remaja itu saling pandang tak paham.
"Oh, iya nak Wili. Kemarin Ambu menemukan map hijau yang dibawa Jenny dan tertinggal di sini. Isinya cukup mengejutkan," ucapnya berderai air mata. Dia tak sanggup melanjutkan ceritanya.
"Map apa, Ambu?" tanya Wili ragu-ragu.
"Mapnya ada di kamar Silfa."
Yayu segera berlari ke kamar temannya dan mengambil map yang dimaksud Ambu, tergeletak di atas tempat tidur. Ambu mengangguk, memerintah ketiga anak itu membuka dan membaca isinya secara seksama.
Ketiganya saling pandang lagi. Kaget, tak menyangka, namun bercampur senang karena jawaban dari pertanyaan sahabat mereka dan Ambu mungkin akan segera ditemukan.
"Mungkinkah?" ucap Yayu.
"Dia Silfi?" lanjut Susan.
"Kemungkinan besar, iya." Wili mengangguk mantap.
Pertanyaannya sekarang? Kenapa kedua gadis itu menghilang? Apa mereka diculik oleh orang yang sama atau bukan? Dan untuk apa? Pertanyaan demi pertanyaan menghiasi pikiran ketiga remaja itu.
__ADS_1
Bersambung ....