
"Tara ... selamat datang di rumahku ...." Silfa merentangkan kedua tangannya memperkenalkan tempat tinggalnya dan Ambu. Jenny memantung, menatap rumah itu tak berkedip. Sebuah rumah yang jauh dari ekspektasinya, jauh dari kata sejahtera menurutnya. Dia menoleh ke arah lain ... Berdiri kokoh sebuah rumah yang lebih besar dan cukup baik kondisinya. Rumah kosong yang ditinggal pemiliknya. Dia menghela nafas dalam, menyadari sesuatu yang selama ini dilewatkannya. Sebuah fakta ... baru saja dia ketahui. Jadi selama ini dia memang tengah berasumsi belaka. Asumsi konyol dan salah total.
"Ah, saya masih ingat tempat ini ...," katanya menghadap ke arah rumah Bagas. "Jadi ... yang kamu ucap waktu itu memang betul. Kamu tak menguntit Bagas sama sekali, tapi pemuda itu yang menguntitmu." Ingatan Jenny terlempar pada saat dia menuduh Silfa menguntit Bagas beberapa waktu yang lalu.
Silfa tersenyum menanggapi. Dia tahu Jenny hanya cemburu waktu itu, hingga membuat mata hati dan logikanya tertutupi. "Gak apa-apa, tak usah dipikirkan, memang itu tak seperti yang kau pikirkan. Dan ... Bagas sama sekali gak bermaksud menguntit, dia hanya menagih janjiku padanya. Maafkan aku Jen, demi tahu informasi dan bisa bertemu denganmu sekali lagi, aku membuat sebuah perjanjian dengan pemuda itu." Dia tertawa sejenak mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuatnya terlibat sebuah hubungan yang rumit, cinta segi tiga. Walau pada akhirnya dia memilih sebagai orang yang kalah. Menyerah. "Ayo, sekarang kita masuk. Ambu pasti akan sangat senang melihatmu ada di sini."
Gadis itu memberi salam, membuka kunci rumahnya, dan masuk diikuti Jenny di belakang. "Ambu ... Ifa pulang. Ifa bawa tamu yang akan menginap di rumah kita malam ini," ucapnya penuh kebahagiaan. Senyum tak lepas sedetik pun dari bibir cantiknya.
Ambu yang sedang beristirahat di kamar segera ke luar menyambut tamunya. Dia langsung memantung, sama sekali tak percaya dengan apa yang dilihatnya kali ini. Putrinya menjadi dua. Wajah yang sama, tinggi yang nyaris sama. Yang membedakan mereka hanya pakaian yang membalut kedua gadis remaja itu.
Silfa masih tersenyum. Dia mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh ibunya. "Ambu, ayo duduk sini!" Putrinya menambai, mengajak ibunya bergabung dengan mereka. Bergeming. Ambu hanya memantung di tempatnya. Terpaksalah Silfa menyambut ibunya untuk bergabung. "Ambu, ini Jenny. Dia akan menginap malam ini di sini." Beralih menatap Jenny. "Jen, kenalin ini Ambu. Dia ibuku."
Ambu sudah bisa menenangkan diri. Tak satu kata pun dia membahas Silfi di hadapan Jenny. Dia hanya berharap anak ini merasa betah menginap di rumahnya, terlepas dia itu Silfi atau bukan.
Ketiganya bercakap dengan gembira. Jenny bahkan bisa makan lahap masakan yang Ambu masak. Padahal dia terkenal pemilih dalam makanan. Entah, apa karena masakan Ambu begitu nikmat atau dia yang terlalu lapar saat itu? Tapi dia merasa sangat bahagia saat mengobrol dengan Ambu, bahkan melupakan sejenak kekhawatirannya soal hasil tes DNA. Ambu seperti orang lama yang telah dikenalnya dan juga dirindukannya. Entahlah terlalu rumit mengabarkannya.
"Wah, sudah larut ternyata." Ambu menengok jam di dinding. Waktu telah menunjuk pukul sebelas malam. Dia pun menyudahi obrolannya dan menyuruh mereka segera beristirahat.
Silfa setuju. Dia membawa Jenny ke kamarnya, sebuah ruangan yang lebih sempit dibandingkan ruang mereka bercakap tadi. Hanya berukuran 3x3 m² saja, tak kurang tak lebih. Untungnya Silfa cukup rapi, ruang sekecil itu masih terlihat nyaman dan cukup untuk ditempati oleh mereka berdua.
"Sorry ya, Jen ... kamarku lebih sempit dari ruang sebelah." Dia tertawa. Jenny ikut tertawa. "Ah iya, aku kenalin sama penghuni lain di kamar ini, jeng ... jeng ... dia Beba, boneka kesayanganku. Dia pengganti Abah buatku." Mata Silfa tiba-tiba berkaca-kaca.
Jenny menatap Silfa. Heran. Kenapa tak ada sosok ayah di rumah Silfa? Abah, siapa itu Abah? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di pikiran polosnya. Semakin rasa ingin tahu itu menghiasi pikirannya, semakin dia merasa dekat dengan gadis yang berwajah sama dengannya itu.
__ADS_1
"Kau ingin tahu di mana ayahku?" Silfa terdiam sejenak. Jenny mengangguk, tapi sedetik kemudian menggeleng. Dia yakin itu bukan cerita menyenangkan untuk dibagi. "Tak apa? Semua temanku sudah tahu tentangku dan Abah." Silfa tersenyum. "Sekarang dia sudah pergi jauh. Sebelas tahun yang lalu, Abah mengalami kecelakaan dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Dan ... Beba adalah satu-satunya yang ditinggalkan Abah khusus untukku." Mata gadis itu tak kuasa menahan bulir bening yang memaksa ke luar dari pelupuk matanya.
Meski dia masih dapat tersenyum tapi Jenny tahu hati gadis di depannya ini sedang menahan rasa sakitnya. Entah, perasaan sakit juga tiba-tiba dirasakannya. Mengaduk-aduk perasaannya. Sangat sakit, sampai dia pun tak kuasa ikut menitipkan air mata.
"Eh, kenapa kamu menangis, Jen? Maaf bukan maksud aku membuatmu ikut sedih," ucap Silfa yang panik melihat Jenny tiba-tiba menangis. Dia segera mengambilkan tisu dan memberikannya pada gadis itu.
"Saya tak apa. Saya hanya sedikit merasa sakit juga di sini." Menunjuk ke arah dada. "Entahlah, saya juga gak paham macam hal yang saya rasa." Gadis itu mengusap air matanya dan kembali tersenyum.
Keduanya sama sekali tak bisa memejamkan mata mereka. Semakin mereka mencoba untuk tidur, semakin sulit untuk terjatuh ke alam mimpi. Akhirnya keduanya kembali dengan obrolan yang mengalir begitu saja. Bercerita tentang masa kecil mereka. Dalam sekejap dua gadis yang tadinya tak akur hanya karena seorang lelaki. Kini menjadi begitu akrab, layaknya saudara yang mengerti satu dengan yang lainnya.
....
Jenny mengerjapkan matanya. Entah kapan dia mulai jatuh tertidur. Seingatnya dia masih mengobrol dengan Silfa semalam. Sejenak dia teringat obrolan mereka semalam. Dia jadi merasa kasihan pada gadis itu. Silfa telah mengalami hidup yang sulit selama ini, berbanding terbalik dengan kehidupannya yang serba mudah.
Pintu kamar di ketuk, terdengar suara Ambu memanggilnya dari luar. "Permisi, Jen .... Apa kamu sudah bangun, Nak? Ayo sarapan bersama kami!"
"Iya, saya segera ke sana, Bu," jawabnya. Dia segera merapikan selimut yang telah digunakannya, kemudian bergabung bersama Silfa dan Ambu di meja makan.
"Bagaimana tidurmu?" Ambu mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Jenny lengkap dengan lauk yang dimasaknya.
"Nyaman," jawabnya singkat. "Terima kasih." Dia menerima nasi yang diambilnya Ambu. Dia jadi teringat sarapan bersama kedua orang tuanya di Malaysia. Sejenak dia jadi merindukan mereka.
"Makanlah! Jangan sungkan. Mungkin makanan ini tak sesuai seleramu, Nak. Maaf ...," ucap Ambu menyesal melihat ekspresi Jenny yang nampak tak bersemangat.
__ADS_1
"Tidak sama sekali, Bu. Masakan Ibu luar biasa lezat. Sungguh." Dia mulai menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke mulutnya. Dan makan dengan penuh kegembiraan. Dia abaikan sejenak pikirannya kepada kedua orang tuanya itu.
Ambu dan Silfa tersenyum bahagia. Apalagi Ambu, perasaannya sungguh luar biasa, bisa mengalami momen seperti ini. Seolah berkumpul lagi dengan kedua putrinya. Meski pun kenyataannya sekarang masih belum pasti.
"Jen, hari ini aku harus sekolah kemudian lanjut kerja paruh waktu, jadi kemungkinan akan pulang ke rumah sore hari. Emm ... bagaimana denganmu?" Silfa sedikit khawatir Jenny akan menghilang, atau kalau tak pergi, dia akan merasa bosan di rumah.
"Tak usah khawatirkan saya. Hari ini saya mau jalan-jalan sejenak saja ke tempat kemarin. Saya suka pandangan di tempat itu. Apalagi saat saya lihat anak-anak main pistol tembak. Itu sangat menyenangkan," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu. Jika kamu masih berkenan, kamu bisa menginap kembali di sini malam nanti." Silfa berharap Jenny akan mengiyakan ajakannya.
"Tak usah, Fa. Terima kasih. Saya dah banyak repotnya kamu dan Ibu, biar saya menginap saja di hotel." Dia tersenyum memandang wajah ibu, mencoba menjelaskan bahwa dia harus pergi.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi ... boleh aku tahu alamat hotel tempatmu nanti menginap?" Jenny mengangguk. "Tentu saja. Nanti saya kirim lewat pesan."
....
Hari sudah semakin sore, matahari juga sudah hampir menghilang di balik gunung, tergantikan oleh cahaya lampu yang menyala di setiap penjuru kota. Dia memantung, masih di tempat itu. Di Alun-alun kota Bandung. "Nampaknya saya harus segera cari hotel." Dia mendongak melihat langit yang semakin gelap, kemudian mulai beranjak meninggalkan tempat itu.
Tanpa dia sadari, ada dua orang pemuda yang sedari tadi memperhatikannya. Birbisik satu sama lainnya seperti merencanakan sesuatu. Mencocokan wajah Jenny dengan foto yang ada di ponsel mereka. "Sepertinya memang dia," ucap salah seorang dari mereka. Yang satunya mengangguk. Kemudian mengikuti Jenny diam-diam. Tepat di belokan yang sepi, salah satu dari pemuda itu membekap mulut Jenny hingga pingsan, kemudian memasukkannya ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh pemuda yang satunya lagi.
Mereka pun melaju dengan mobilnya, entah kemana. Membawa Jenny di malam yang gelap itu.
Bersambung ....
__ADS_1