Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Permulaan


__ADS_3

"Wil, tolong jaga Ambu! Sampaikan padanya aku baik-baik saja. Dan satu lagi, tolong kirimkan boneka beruang dan data diriku. Mungkin suatu saat akan memerlukan itu. Juga dokumen hasil tes DNA." Silfa mengetuk kata send, mengirim pesan.


"Nona, sebentar lagi pesawat akan lepas landas, mohon matikan HP anda." Seorang pramugari mengingatkan. Silfa mematikan HP yang memang sudah hampir lowbat itu. Pikirannya melayang entah kemana, sedangkan mata menatap ke luar, melalui jendela pesawat yang dia naiki. Mengembuskan nafas berat, tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.


Ini kala pertama dia menggunakan pesawat VVIP. Sepanjang mata memandang, interior di dalam pesawat, tak ubahnya seperti hotel bintang lima. Kursi penumpang didesain layaknya sofa mahal dengan busa super empuk, tempat makan khusus, ruang istirahat, media menonton, dan yang paling istimewa, makanan yang disajikan dimasak khusus oleh seorang chef. Para penumpang diperlakukan layaknya raja, hingga sandal dan baju tidur sengaja disediakan oleh pramugari.


Gadis itu kembali menyadari, perbedaan yang sangat mencolok antara dirinya dan Jenny. Terbersit dalam hati, mampukah dia berperan sebagai kembarannya itu? Seorang anak yang hanya dibesarkan di rumah ukuran 6x9 m², tak mendapatkan kasih sayang cukup dari seorang ayah, dirinya yang setiap hari bergelut dengan jualan makanan, kerja, dan motor butut. Ah, terlalu jauh perbedaan mereka itu. Dia mengembuskan nafas berat untuk yang kesekian kalinya.


"Honey, jom kita makan?" Suara ibunda Jenny mengagetkannya. Silfa menoleh, tersenyum sebaik mungkin, mengangguk dan mengikuti wanita yang kini harus dia anggap sebagai ibu. "Kamu pasti bisa, Ifa!" tekadnya dalam hati.


Di meja makan yang khusus disediakan untuk mereka, telah terhidang beraneka makanan yang begitu asing baginya, tiap piring hanya berisi seperempat bagian, tak lebih dari tiga sendok, takarnya. Yang membuat takjub, varian yang sungguh banyak, beraneka jenis, dan semua nampak menggiurkan. Apalagi bagi gadis itu, yang tak sempat menyantap makan siang. Ingin dia melompat, memakan hingga puas seluruh hidangan itu. Bahkan, pikiran liarnya telah terlebih dahulu duduk di kursi itu, salah satu kaki terangkat ke atas, dan makan dengan rakus melahap ini dan itu, tak peduli dengan orang-orang yang tengah menatapnya, heran. Namun sayang, akal sehat kembali menyadarkan, dia gelengkan kepala beberapa kali, mencoba menahan nafsu yang kian memburu, sampai dia harus beberapa kali menelan ludah, lapar. Perutnya yang melilit, lidah itu ingin segera menghabiskan satu-persatu makanan itu. Hanya saja, kakinya masih tertahan di tempat, sebelum kedua orang tua Jenny melangkah, dan duduk di kursi mereka.


Setelah keduanya duduk, gadis itu pun ikut duduk, mencoba bersikap profesional. Memakan sedikit, demi sedikit walau sebenarnya dia begitu kelaparan. "Tahan!" batin gadis itu terus mengingatkan.


"Kenapa kamu, pergi tak beri kabar Mama dan Papa? Penting sangat kah kau punya pasal?" Ayah Jenny bertanya di sela menyantap makanannya.


Kaget. Gadis itu bingung harus menjawab apa? Dia harus mencari alasan yang tepat, jangan sampai kedua orang dewasa di hadapannya menjadi curiga. "Entahlah, Pah ... saya tak ingat." Dia meletakkan garpu yang tengah dipegang, dan menyudahi acara makannya. "Saya rasa ... saya dah kenyang," katanya sambil berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Mencoba bersikap seperti Jenny.


Terlihat sang ayah, ingin memanggil putrinya itu kembali, namun ditahan oleh sang istri. Wanita itu menyuruh suaminya untuk sedikit bersabar dan bersikap lembut pada putri mereka. Dia tahu, pasti ada yang tengah disembunyikan oleh Jenny, tapi takkan baik jika memaksa.


Setelah sekian lama dia menatap ke luar, menyaksikan sederet awan cirrus yang terbentang di langit biru. Sedang di sampingnya, wanita yang akan dia anggap sebagai ibu, kini tengah tertidur dengan tautan jemari tangan yang tak lepas darinya.

__ADS_1


....


Pagi itu Silfa terbangun dalam sebuah ruangan yang begitu besar. Di atas kasur yang super empuk, tatapannya menyisir ruang itu. Ada peralatan elektronik lengkap, meja rias, lemari pakaian, semuanya tampak barang-barang bermerk dengan kualitas super. Gadis itu menghela nafas berat, tersadar akan tempat dimana dia tengah berada.


Masih teringat dalam kepala gadis itu, betapa terkejutnya ia melihat rumah Jenny yang akan dia tempati untuk sementara. Hati kecilnya berkata, rumah itu bukanlah rumah, melainkan istana yang disebut sebagai rumah. Bangunan megah, tiga lantai, berwarna silver yang elegan, berpadu dengan taman bunga yang indah warna-warni, air mancur, semuanya seperti istana yang sering dia bayangkan manakala Ambu bercerita tentang negeri dongeng kesukaanya. Bedanya ini nyata, berada tepat di hadapan.


Dia tersadar dari lamunannya. Matanya menangkap sebuah paket yang dikirimkan, ya itu paket yang dikirim Wili, sekardus penuh barang-barangnya. Gadis itu melangkah dan mulai mebongkar isi paket tersebut, mengeluarkan satu demi satu isinya. Ada dompet yang berisi KTP, Passport, kartu pelajar, foto Ambu bersama Abah, foto Silfa kecil bersama sodara kembarnya Silfi, dan sebuah kartu ATM yang isinya tak seberapa. Kemudian ada Akta kelahiran, dokumen hasil tes DNA, dan yang paling dia rindukan adalah boneka beruang besar kesayangannya, Beba.


Dipeluknya boneka besar itu dengan penuh perasaan. Seolah melepas beban yang selama ini disimpannya sendiri. Kemudian gadis itu, mengambil foto kedua orang tuanya, "Abah, Ambu, Ifa kangen kalian." Di pelupuk matanya ada bulir-bulir yang tak bisa ditahannya, pecah menjadi sebuah tangisan. Dia menumpahkan segala yang ia rasakan, segala beban yang selama ini dia tahan. Entah karena kebodohannya atau takdir yang membawanya ke tempat ini.


Gadis itu pun bangkit dan menghapus airmata di pipi. "Semuanya baik-baik saja, Ifa!" katanya sambil mengepalkan kedua tangan. Memberi motivasi pada diri sendiri.


Dia berjalan ke arah meja rias yang terletak tepat di samping tempat tidur. Membenahi wajahnya yang berantakan, terpantul dari cermin di hadapan. Memoleskan bedak, dan sebuah lipgloss di bibir agar wajahnya tak terlalu terlihat berantakan. Sekilas kini telah nampak sesosok gadis cantik dan anggun.


Dia menghirup udara cukup dalam, memberi energi baru pada diri yang mulai rapuh. Baginya ayah dan ibunya yang menjadi sumber kekuatan. Meski kini mereka tak bersama, namun keduanya akan jadi sosok kebanggaan bagi diri. Merekalah sumber kekuatan untuk bertahan di setiap masalah yang mendera.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan sebuah panggilan hangat terdengar. Sebuah panggilan yang ditujukan untuknya namun juga bukan benar-benar untuknya.


"Jenny! Kamu oke di sana? Mama masuk, ya?" kata seorang wanita di depan pintu kamar.


....

__ADS_1


"Bagaimana pasal kau dan Bagas, apa kalian akan jadi bertunang?" Wanita baya itu, duduk di samping sang putri sambil memegang erat kedua tangannya.


"Bagas? Ah iya ... aku harus segera menghubungi Bagas," pikir gadis itu seperti diingatkan. "Mama, saya masih capek, perlu rehat sejenak. Besok kita bicara lagi pasal ni, janji." Silfa mencoba berbicara menggunakan logat yang biasa Jenny gunakan. Berharap wanita di hadapan, tak menaruh curiga padanya. Dia sudah berlatih sejak kemarin semoga hasilnya dapat berguna.


"Oke, jika itu mau kamu, besok kita bicara lagi pasal itu."


Silfa mengangguk, meyakinkan Mama Jenny agar tak perlu khawatir.


....


Setelah wanita itu pergi, dia meraih HP yang kini sudah terisi penuh. Mengirim pesan kepada Bagas dengan nomor yang diberikan Wili padanya.


"Bagas, ini aku Silfa. Kapan kita bisa bertemu? Kamu sudah dapat kabar dari Wili, kan? Kita harus mencari keberadaan Jenny secepatnya." mengirim pesan pada lelaki keturunan Turki-Indonesia itu.


Di tempat lain, Bagas yang sedang berbaring di tempat tidur, membaca sekumpuk buku astronomi. Pikirannya tak fokus, karena kabar yang disampaikan sepupunya dari Indonesia. "Gas, Jenny beneran hilang. Kabar dari Silfa dia diculik. Kita harus segera menemukan gadis itu, kalau tidak ... gua pasti akan merasa bersalah seumur hidup. Sementara Silfa akan berpura-pura jadi Jenny, dia dibawa sama keluarga Jenny ke Malaysia. Mereka belum tahu kalau anak angkat mereka kembar, dan mengira kalau Silfa itu putri mereka. Atur pertemuan dengan gadis pujaan lu itu, kita harus bergerak cepat," cerocos pemuda itu setengah putus asa.


Tersadar dari lamunannya, pemuda keturunan Turki-Indonesia itu mengembuskan nafas berat. Dia meraih smartphone-nya, bermaksud menghubungi Silfa dengan nomor yang telah diberikan Wili tadi pagi. Namun ternyata, ketika dia membuka HP, nomor atas nama Silfa telah terlebih dahulu menghubungi, melalui sebuah pesan yang ia kirim.


Pemuda itu menarik nafasnya sejenak, mencoba menghentikan degup jantung yang berirama tak menentu, dia sadar rasa itu masih ada, tanpa bisa ia kontrol tiba-tiba senyum mengembang di bibirnya.


Dibaca pesan Silfa dengan seksama, kata demi kata dan memaknainya. Kemudian, dia mengetik pesan balasan untuk gadis itu.

__ADS_1


"Hai, Fa .... Maaf kalau aku lancang, kita memang harus bertemu. Dan perankanlah sosok Jenny sebaik mungkin. Kemarin, orang tuaku telah mengatur pertemuan dua keluarga untuk membicarakan perihal petunangan, kau bisa jadikan alasan itu untuk menemuiku." Pemuda itu mengetuk tombol send, pesan pun terkirim pada nomor Silfa, menunggu centang berubah menjadi warna biru.


Bersambung ....


__ADS_2