Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Capter 12 : perkara minuman


__ADS_3

Pukul 19.15 di depan lift, terlihat Nadya dan Satya sedang menunggu lift terbuka.


“Kamu ngapain?” Tanya Satya kepada Nadya yang dari tadi fokus ke hp nya.


“Udah dua kali mas nanya gitu” jawab Nadya sambil mengumpati hp nya.


“Kamu instal lagi ya?” Tanya Satya.


“Aku heran deh, kok mas sering banget sih bisa baca pikiran aku?” Nadya yang menjawab Satya.


“Kepalamu tembus pandang” ucap Satya.


“Enak aja!” Nadya yang membantah Satya.


“Mas tau gak sih? Mas itu udah melanggar kontrak kita!” Sambung Nadya.


“Poin berapa? “ jawab Satya dengan datar.


“Eh? Berapa ya?” *batin Nadya.


“Pasti gak kamu baca lagi sebelum tanda tangan”


“Kan mas yang suruh aku buru-buru makan sotonya, kata mas keburu dingin. Yaudah aku tanda tangan aja langsung, aku mulu yang salah” jawab Nadya dengan ketus.


“Ada ucapan saya yang menjurus nyalahin kamu?” Tanya Satya dengan heran.


“Y-ya gak ada sih, tapi tatapan sama nada suara mas itu nyalahin saya” jawab Nadya dengan gugup.


Pintu lift terbuka Nadya masuk mendahului Satya.


“Pokoknya mas udah langgar deh, sebelum ke Jakarta kan kita sepakat buat gak saling ikut campur, ini mas udah maksa nganter pulang. Apps aku di hapus juga!” Nadya yang mengomeli Satya.


“Kalau bukan karna ada janji, saya gak akan begini” jawab Satya.


“Janji??… janji apa? Sama siapa? Hubungan sama apps ojek aku a- - -“ belum sempat Nadya menyelesaikan kalimat nya Satya membekap mulut Nadya.


“Kak Satya?” Tasya yang melihat Satya dengan Nadya segera menghampiri mereka berdua.


“Kok Tasya masih disini?” *batin Nadya yang kaget.


“Kakak ngapain sama….” Tasya yang melihat Nadya dari atas sampai bawah.


Tasya memperhatikan Nadya dengan tatapan bingung.


“Kakak bilang ada kerjaan? Makanya gak bisa makan sama aku, dan aku di pesenan taksi, tapi kakak kenapa malah berduaan sama Nadya?” Tanya Tasya dengan heran.


“Nadya” Tasya yang memanggil Nadya .


“Ya?” Jawab Nadya dengan singkat, padat dan jelas.


“Kamu ngapain malem-malem disini?” Tanya Tasya kepada Nadya.


“Yaampun aku harus jawab apa?! Gak mungkin yang sejujurnya kan?!” *batin Nadya yang panik.


“Nadya abis liat unit yang mau di jual” ucap Satya menjawab pertanyaan Tasya.


“Ohhh!” *batin Nadya.


“Iya bener! Mas Satya rekom tempat disini, terus aku survei deh. Kamu sendiri ngapain disini Sya?” Nadya yang mengalihkan pembicaraan.


“Untung mas Satya bisa cepet jawab” *batin Nadya.


Tasya terdiam sejenak sambil memperhatikan Satya dan Nadya.


“Kerjaan kakak gimana?” Tanya Tasya kepada Satya.


“Aku di cuekin?” *batin Nadya yang sakit hati.


“Kerjaan kakak kan lebih penting” sambung Tasya.


“Kalo mama denger, habis kamu Sya di serang mama” *batin Nadya yang geram.

__ADS_1


“Kamu dari mana sya?” Satya yang menjawab Tasya sambil mengalihkan pembicaraan.


“Kenapa mas gak jawab?!” *batin Nadya.


“Aku dari toilet kak” jawab Tasya.


“Oh yaudah kalo gitu hati-hati, saya duluan ya, ayo Nadya”


Nadya melirik sekilas ke arah Tasya yang terpaku, lalu mengikuti Satya yang berjalan lebih dulu, Nadya dan Satya berjalan ke tempat mobil Satya parkir.


“Kenapa mas tadi gak jawab pertanyaan Tasya?” Tanya Nadya heran.


“Dia tau saya gak suka di interogasi, jadi saya gak perlu jawab” jawab Satya.


“Mereka sedekat apa sih? Sampe Satya ajak Tasya pulang” *batin Nadya.


...----------------...


Di dalam mobil Satya situasinya sangatlah hening sampai Satya yang membuka pembicaraan.


“Kamu lapar” tanya Satya kepada Nadya .


“Gak” jawab Nadya .


Kruyuk kruyuk


“Eh? Pfft “ Nadya terkejut lalu tertawa mendengar perut Satya berbunyi.


“Gak nyesel gak jadi makan sama Tasya?” Nadya yang mengoda Satya.


“Padahal kalo anter Tasya bisa makan enak berdua, sedekat itu ya sampe bawa dia ke rumah? Udah ajak berapa cewek ke apartemen?” Nadya yang mengejek Satya.


Satya hanya diam menahan rasa lapar yang sekarang ia rasa.


“Apa mas tau kalo mas Satya ajak Tasya ke apartemen?” Tanya Nadya.


“Nadya, saya makin laper denger kamu ngomong” jawab Satya.


“Dia gak marah?! Aneh, katanya dia gak suka diinterogasi, padahal aku sengaja mancing biar aku diturunin, terus makan dulu sebelum balik kos. Gengsi dong kalo aku bilang aku laper, tapi….” *batin Nadya yang mengoceh.


“Kenapa dia gak marah? Jangan-jangan dia…. Mulai suka sama aku? Atau mulai luluh gara-gara aku nangis?” *batin Nadya.


“Gak mungkin”


“Apanya?” Tanya Satya kepada Nadya.


“Eh? Bukan apa-apa” jawab Nadya.


Satya membawa mobil ke drive thru restoran cepat saji.


“Mau pesan apa pak?” Tanya pelayan.


“Paket combo burger satu “ jawab Satya.


“Kok satu?!” Nadya yang syok karna mendengar Satya pesan makanan hanya satu.


“Kamu bilang gak lapar” jawab Satya.


“Dasar kulkas! Harusnya aku gak mikir aneh-aneh, mana mungkin dia suka sama aku!” *batin Nadya yang mengomel .


Kruyuk kruyuk.


Sekali lagi ada suara perut yang berbunyi, namun sekarang yang berbunyi perutnya Nadya.


“Hahaha” Satya yang tertawa karna mendengar nya.


“Dia gak nahan ketawa lagi?!” *batin Nadya yang syok.


“Combo burger nya jadi dua mbak, soda nya di ganti air mineral semua”


“Aku mau pake soda!” Nadya yang membantah Satya karna perkara minuman.

__ADS_1


“Kamu mau bayar sendiri?” Tanya Satya kepada Nadya.


“Perhitungan banget sih mas! Soda sama air beda berapa ribu doang, murahan juga soda daripada air mineral” Nadya yang cemberut.


“Kamu gak pernah baca artikel?”


“Justru yang murah yang harus di jauhin, apalagi ini makanan, yang bakal jadi sumber energi kamu” sambung Satya.


“Mas ngomong apa sih? Aku cuma minta soda, jadi kemana-mana bahas nya” Nadya yang kesal dengan Satya.


“Nadya soda it- - -“ belum sempat Satya menjawab omongan Nadya pelayan bertanya kepada Satya.


“Maaf, jadi pakai soda atau tidak ya pak?” Tanya pelayan.


Satya melirik pelayan sekilas , lalu kembali ke Nadya.


“ ‘soda itu’ apa “ tanya Nadya.


“Kalo bayar sendiri kamu boleh pake soda” jawab Satya dengan datar, dan menatap Nadya lama.


“Haa? Mas aku tuh nanya, tadi mas mau ngomong apa soal soda ? Malah aku disuruh bayar sendiri.


“Jawab mas dulu, kamu mau bayar sendiri pake soda? Nanti mas jawab pertanyaanmu”


“Mau makan kok ribet banget sih, waktu kita nikah aja gak seribet ini deh” Nadya membuka dompetnya.


“Bayar semua juga aku bisa mas!” Nadya dengan nada sombongnya.


“Yang satu pake soda mbak”


“Kok uang nya gak di ambil? Katanya aku harus bayar kalo mau pake soda” Nadya yang heran kepada Satya.


“Simpen aja buat bayar kos” jawab Satya.


“Maksih suami”


Satya terdiam karna mendengar jawaban Nadya.


“Katanya urus-urusan masing-masing, tapi dia masih peduli soal uang kos” *batin Nadya.



Burger jadi dan mobil Satya keluar area drive thru, Nadya mengambil soda miliknya dan bersiap minum, namun, Satya buru-buru merebut nya.


“Itu punyaku mas!” Nadya yang kesal dengan Satya.


“Bagi” jawab Satya singkat.


“Ha? Kenapa tadi mas di tuker sama air?” Tanya Nadya.


“Kok aku di sisain dikit banget sih?!”


“Karna saya yang bayar” Satya yang menjawab pertanyaan Nadya.


“Kamu ini aja kalo gak mau” Satya yang memberikan air mineral nya kepada Nadya.


“Apa rasanya coba kalo minum cuma segini?” Tanya Nadya dengan nada kesal.


“Jangan keseringan minum soda Nadya”


“Gak bagus buat kesehatan, kalo bisa malah jangan minum sama sekali” sambung Satya.


“Kadi itu alasannya? Ya ampun mas, aku gak minum satu liter juga” jawab Nadya.


“Saya ngasih tau karna peduli sama kamu, saya gak mau punya istri penuaan dini. Obesitas, diabetes, gigi rusak”


“Maass, aku cuma minum segelas! Itu juga mas abisin”


“Mas picky ya sama makanan?” Nadya yang baru sadar.


“Selektif bukan picky” jawab Satya.

__ADS_1


“Heh, gak ada bedanya itu!”


Satya membuka botol air dengan satu tangan dan meminumnya, Nadya memperhatikan mulut botol yang Satya minum, lalu mengalihkan tatapannya dari bibir Satya ke bekas gelas soda di tangannya.


__ADS_2