
Kadang manusia mencoba menyembunyikan dan memanipulasi kebenaran dengan sangat rapi dan tersembunyi, akan tetapi ketika Tuhan sudah menampakkannya maka kebenaran tetap akan menjadi kebenaran.
_Jenny_
"Apa kamu mau ikut dengan ku?" tanya Bagas seraya melepas pelukannya. Matanya benar-benar sendu. Dia sungguh memiliki sesuatu yang berat yang tengah dihadapinya. Beberapa kali dia mengembuskan nafas beratnya.
Mendengar pertanyaan pemuda itu, tak ada yang terucap dari mulut gadis di hadapannya itu. Dia hanya memantung di tempatnya. Gadis itu membutuhkan cukup banyak waktu untuk mencerna semua kejadian yang sedang dihadapinya ini. Apa Bagas hanya ingin mengetesnya saja? Atau yang pemuda itu ucapkan padanya adalah kata-kata tulus yang keluar dari hatinya? Dia benar-benar tak bisa berpikir jernih.
Selama menjalani hidupnya, dia telah banyak menemukan tipikal orang yang berbeda. Mereka semuanya unik. Kadang ada yang baik tapi pada akhirnya dia malah berkhianat, terkadang juga ada orang yang dia pikir tak baik, tapi nyatanya dia orang yang sangat baik. "Ah, Bagas bukan tipe orang semacam itu? Buat apa dia bercanda masalah itu di saat situasinya yang seperti ini? Lihatlah keadaannya saat ini! Dia benar-benar sedang tertekan," bantah hati nurani gadis itu meyakinkan diri.
"Silfa. Lihat aku baik-baik! Apa kamu menyukaiku?" tanya pemuda itu kemudian. Kedua tangannya memegang lengan Silfa, membuat gadis itu fokus melihat kepada dirinya.
Silfa langsung memalingkan wajahnya. Tak mau menatap ke arah pemuda itu. Sungguh. Sesungguhnya kalau dia hendak jujur, saat ini dia benar-benar bahagia Bagas mengaku menyukai dirinya. Seorang anak yang kadang dipandang sebelah mata oleh orang yang status sosialnya lebih tinggi dari dirinya. Ah, lagi-lagi itu. Status sosial? Dia benar-benar benci dengan perbedaan status sosial. Kenapa orang selalu memandang orang lainnya karena status sosial mereka? Yang dia sangat benci juga, jika keadaannya dihubungkan dengan kepergian ayahnya. Apa menjadi seorang anak yatim itu keinginannya? Pasti semua orang tahu itu bukan keinginannya. Tapi tetap saja. Tak ada yang mempedulikan itu sama sekali, kecuali hanya sebagian kecil orang saja yang kini dekat dengannya.
"Terima kasih atas perasaanmu padaku, Bagas. Tapi aku tak pantas mendapatkannya. Maaf," katanya sambil menundukkan kepalanya. Meski berat, dia tetap harus menolak Bagas secepat mungkin. Dia sangat tahu Bagas adalah pria yang baik. Namun, bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan ayahnya? Bagaimana dengan ibunya? Apa mereka sebaik pemuda yang ada di hadapannya ini? Ah ..., dirinya memang sangat pengecut. Sebenarnya tak mengapa jika hanya dirinya yang merasakan sakit, tapi kalau harus menyeret Ambu juga ke dalam rasa sakit itu nantinya, dia benar-benar tak rela.
"Maaf, aku tak bisa menerima rasa itu, Bagas. Bukan aku tak menyukaimu. Semua orang pasti menyukaimu. Termasuk diriku. Tapi ..., ada hal yang tak bisa diselesaikan hanya dengan rasa suka saja." Gadis itu menghentikan ucapannya. Nafasnya sedikit tersenggal menahan rasa sesak di dadanya. Tanpa terasa sebuah bulir bening pun tak sanggup untuk ditahannya. Menetes ke atas punggung tangannya. "Soal aku ikut dengan mu ..., aku sungguh berterima kasih kamu telah sudi mengajakku pergi bersamamu. Tapi menurutku, kehadiranku di sana bukanlah sebuah solusi. Melainkan sebuah masalah baru yang akan muncul dan akan memperkeruh keadaan yang ada. Maaf, aku sepertinya tidak bisa membantumu menyelesaikan masalah ini," kata gadis itu mengakhiri ucapannya. Kemudian dia beranjak pergi meninggalkan Bagas seorang sendiri di sana.
Bagas sedikit kaget melihat Silfa pergi begitu saja. Dia segera menyusulnya dan menghadang gadis itu tepat di depannya. "Kamu mau kemana? Kenapa tiba-tiba pergi? Kalau kamu mau pulang atau pergi ke suatu tempat, biar aku antar," pemuda itu tak tahu harus bagaimana. Pikirannya benar-benar kacau. Penolakan Silfa terasa semakin menghimpit ruang hatinya.
__ADS_1
Silfa melihat ke arah pemuda itu. Kini dia tampak sudah bisa menguasai dirinya. Dia menunjukan senyum tulusnya. "Tidak usah, terima kasih. Aku akan pulang sendiri," larang gadis itu dengan lembut. "Sepertinya kita butuh waktu untuk saling menenangkan diri," memohon pengertian pemuda di hadapannya.
"Huuuh ...," menghembuskan nafas berat lagi. "Baiklah, jika itu keinginanmu. Tapi, aku akan menemanimu sampai kamu menemukan kendaraan yang bisa membawamu pulang," kata pemuda itu menyerah.
...
Kuala Lumpur, Malaysia
"Bagaimana ni, Mama? Saya gugup sangat," kata Jenny sambil merapihkan rambutnya.
Ibunya mendekati putrinya itu dan membelai kepalanya lembut. "Tak usah gugup, honey ..., tarik nafasmu dalam!" ibunya mengajak putrinya itu mempraktekan menarik nafas. "Sebentar lagi kamu hendak bertunang dengan Bagas. Mama pun ikut bahagia untukmu," lanjutnya seraya memeluk putrinya.
"Apa maksud kamu, honey? Bukankah selama ni kamu suka sangat sama Bagas?" tanya ibunya tak paham. Memang akhir-akhir ini putrinya itu sering berubah-rubah. Hari ini A besok bisa jadi B atau yang lainnya. Namun, ini menyangkut masa depan putri cantiknya dan masa depan perusahaan keluarganya, dia tidak boleh ragu-ragu.
"Entahlah, Mama ..., perasaanku selalu nampak tak nyaman akhir-akhir ni." Dia menghela nafas berat.
Ibunya menatapnya dalam. "Mama rasa itu wajar. Kamu hanya gugup, honey ..., karena sebentar lagi kamu akan memasuki fase baru dalam hidup kamu," ucapnya.
"Apa itu tidak terlalu cepat, Mama?"
__ADS_1
"Apa maksud kamu, honey ...? Tak apa. Itu hanya sebuah proses bertunang sahaja. Kamu masih bisa melanjutkan hidupmu seperti biasa. Pikirkanlah yang baik-baik! Kenapa kamu meminta ini pada kami. Atau Jangan-jangan kamu sudah tidak menyukainya lagi?" tanya Mamanya penasaran.
"Bukan begitu, Mama ..., hanya saja ...," gadis itu tak melanjutkan Kata-katanya. "Ah, sudahlah ..., saya pikir ucapan Mama memang betul. Saya hanya rasa gugup sahaja." Jenny mengecup pipi Mamanya dan berlalu pergi meninggalkannya.
"Eh, kamu nak pergi ke mana, honey?" ibunya terheran-heran karena ditinggal begitu saja oleh putrinya itu.
"Ah ..., saya mau ke gudang sebentar, Mama ..., sepertinya saya menyimpan buku kenangan saya masa sekolah menengah kemarin itu di sana," jawabnya sambil berlalu pergi.
Gadis cantik itu pun menuju gudang yang letaknya bersebelahan dengan garasi rumahnya. Gudang yang cukup besar. Di dalamnya nampak barang-barang yang sudah tak terpakai lagi. Tumpukan kardus-kardus, meja-meja usang, kursi kayu yang sudah copot bagian kakinya, sofa butut, beberapa alat elektronik, dan masih banyak lagi barang-barang yang sudah tak terpakai lainnya. Semuanya sudah nampak kacau ..., dan ada beberapa sarang laba-laba yang menghiasi ruangan tersebut.
Jenny menarik nafas panjang. Kemudian menghembuskannya cukup berat. Dia benar-benar tidak suka pergi ke tempat ini. Hanya saja dia ingin mencarinya sendiri tanpa melibatkan para asisten rumah tangganya. Entah mengapa keinginan untuk pergi sendiri ke tempat ini begitu kuat dirasakannya.
"Haaaah ..., dimana dia, saya simpan, ya?" ucapnya bermonolog. Dia membongkar-bongkar beberapa kardus yang berisi kertas-kertas. Ruangan gudang yang berantakan itu, kini nampak lebih berantakan. "Ah, ini dia." Dia mengambil barang yang dicarinya. Yah sebuah album kenangan masa sekolah menengahnya. Dia pun berdiri dan hendak pergi meninggalkan ruang kacau itu sebelum ujung matanya tiba-tiba tertarik pada sebuah map berwarna hijau tua. "Eh, apa itu?" Gadis itu pun meraih map tersebut dan mulai mengeluarkan isinya. Beberapa lembar kertas usang. Nampaknya sudah belasan tahun ada di sana. Baunya pun sudah berbau apek.
Dibacanya lembaran demi lembaran tersebut. "Mama pernah membeli bayi?" gumamnya sedikit kaget. "Maksudnya apa?" Dia pun mulai membaca dengan teliti. Hingga sampaikan pada bagian foto anak yang dibeli oleh ibunya itu. "Tidak mungkin," gumamnya tak percaya. Dia terduduk beberapa lama di ruang kotor itu. Gadis itu mulai mengurutkan semua kejadian demi kejadian dan semua hal janggal yang dirasakannya.
"Silfa." Tiba-tiba saja dia teringat dengan gadis yang mirip dengannya itu. "Apa saya sudah melewatkan sesuatu hal selama ini? Apa gadis itu tahu pasal ni? Iya. Saya harus menemuinya." Jenny pun beranjak dan tak lupa membawa sekaligus dokumen yang ditemukannya itu.
Bersambung ...
__ADS_1