
Kuala Lumpur, Malaysia
"Kamu sudah pulang, sayang?" Ibu Bagas menyapa anaknya yang baru sampai di rumah. "Ah, ternyata kamu juga ikut, Wil," lanjut ibunya saat melihat keponakannya datang bersama anak semata wayangnya itu.
Bagas hanya mengangguk, kemudian pergi menuju kamarnya begitu saja diikuti oleh sepupunya. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Dia hanya fokus menaiki setiap anak tangga di rumahnya menuju ke lantai 4.
"Wil! Wili!" Tantenya tiba-tiba memanggil. Pemuda berkulit coklat itu menoleh. "Sini sebentar!" intruksinya. Meski malas, Wili tetap turun kembali menemui tantenya di lantai pertama.
"Iya, Tan? Ada apa ya?" tanya pemuda itu sedikit malas. Kini dia sudah berdiri tepat di hadapan tantenya itu.
"Duduk sebentar! Tante, mau bicara sama kamu," kata wanita di hadapannya itu masih dengan nada memberi instruksi.
Dengan berat hati dia pun akhirnya duduk meski dengan suasana yang tak nyaman. Dapat terlihat kalau tantenya itu memang sedang berusaha mengintimidasi keponakannya.
Sejujurnya, Wili memang kurang akrab dengan tantenya yang satu ini. Meski dia begitu akrab dengan anaknya tapi tidak dengan om dan tantenya. Menurutnya kedua orang tua Bagas terlalu jauh derajatnya dibandingkan dengan derajat keluarganya yang lain di Indonesia. Apalagi kalau sampai sudah ada yang membandingkan keluarganya dan keluarga Bagas. Heh, ibarat langit dan bumi mungkin. Dia juga sudah sangat malas menanggapinya. "Iya, Tan. Mau bicara apa?" katanya setelah dia duduk dengan tenang.
"Bagaimana Bagas di Indonesia?" tanya Tantenya itu to the point.
"Bagas?" Dia melirik ke atas. Sepupunya itu kini sudah hilang dari pandangannya. "Dia baik-baik saja. Tante bisa lihat sendiri kan dia pulang tanpa kurang satu apa pun," jawab pemuda itu sekenanya. Dalam hatinya dia menggerutu, "cih, ngapain coba nanya ke gue? Lagian dia pasti sudah punya mata-mata khusus buat anaknya itu," katanya mencibir.
Tantenya nampak tidak suka dengan jawaban keponakannya itu. Kedua tangannya dia lipat di dada. "Jangan main-main, kamu. Aku tanya kamu Sungguh sungguh," ucapan Tantenya dengan nada lebih tinggi satu oktaf.
Wili sudah cukup kesal. Dia ingin menyudahi percakapannya dan tantenya itu. "Lah, memang saya becanda apa Tante yang cantik? Tante tanya gimana kabar Bagas, kan? Ya ..., saya jawab sesuai kenyataan." Wili berusaha tampak santai. Dia ingin wanita di hadapannya ini segera mengakhiri obrolan yang tak bermakna ini. Dia mengambil beberapa majalah yang ada di samping tempat duduknya. Membuka halaman demi halaman dan mencoba mengabaikan Tantenya yang mungkin kini sedang kesal.
"Ah sudahlah ...," kata wanita itu nampak jengkel. "Percuma tanya sama kamu." Tantenya pun menyerah, kemudian dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Mata wanita paruh baya itu manatap tajam ke arah keponakannya, Wili. Mengusir pemuda itu agar enyah dari hadapannya.
Tanpa banyak kata-kata, Wili pun bangkit dan menyusul sepupunya ke lantai 4. Dalam hatinya dia bersorak bahagia bisa lepas dari introgasi wanita paruh baya itu.
....
__ADS_1
Kini pemuda berkulit coklat itu sudah sampai di depan pintu kamar sepupunya, dia pun langsung menerobos masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kemudian dia jatuhkan badannya dengan kasar di atas kasur super empuk milik Bagas. "Ah, gua selalu gak terbiasa sama nyokap lu, Gas," katanya sambil merubah posisinya menjadi duduk bersila.
Bagas tak menghiraukan kata-kata sepupunya itu. Dia tak acuh saja sambil membereskan barang-barangnya.
"Yah gua dikacangin ..., kacang ..., kacang ..., ada yang mau kacang ...?" pemuda itu protes.
"Apaan sih, lu? Berisik tahu!" Bagas menatap sepupunya tajam dan melemparkan bantal ke arah sepupunya itu.
"Ya ampun. Lu masih kesel aja nih ...? Gegara mau tunangan? atau gara-gara ditolak Silfa sih?" Wili masih mengungkit masalah itu.
....
Flashback
Ternyata ketika Bagas menyatakan perasaannya pada Silfa dan ditolak hari itu juga oleh gadis itu, Silfa tak jadi pulang sendiri ke rumahnya. Karena setelah hampir satu setengah jam menunggu, entah kenapa tak ada kendaraan umum yang lewat ke sana satu pun. Memang ada beberapa taksi yang lewat, tapi sayangnya sudah ada penumpang di dalamnya. Mau pesan online pun ..., sinyal HP-nya sedang tidak dalam jangkauan. Sedangkan Bagas, pemuda itu tidak membawa HP akibat dibantingnya semalam.
Selama perjalanan mereka tak saling bicara. Silfa sibuk memandang ke luar kaca mobil melihat pemandangan sepanjang jalan antara lembang-kota Bandung. Bagas pun hanya fokus melihat jalanan tanpa berani membuka mulutnya sedikit pun. Begitu seterusnya hingga mobil Bagas memasuki halaman rumah mereka. Kemudian gadis itu pun turun dan berpamitan pada Bagas. "Terima kasih," katanya dan berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya.
Di tempat lain, Bagas menjatuhkan badannya begitu saja di sofa. Dia menutup Kepalanya dengan bantal. Berharap perasaannya semakin membaik.
Dari dapur Wili bisa melihat tingkah sepupunya yang semakin aneh dari tingkahnya semalam. Dia menghampiri sepupunya itu dan duduk di sebelah Bagas berbaring. "Lu kenapa lagi, bro?" tanya Wili penasaran.
"Gue pulang ke Malaysia besok," katanya merubah posisinya ke duduk.
"Wah lu sudah nerima ya mau tunangan sama Jenny? Yah gua patah hati nih ...," ucap pemuda berkulit coklat itu jujur. Pemuda itu jadi kurang bersemangat menghabiskan makan malam yang baru dibuatnya.
"Huuuh ...," Bagas nampak kesal. "Gua harus gimana sekarang, Wil? Gua cuma bingung aja. Lu tahu bokap kayak gimana, kan? Kalau gua tetep kukuh, mungkin dia bakal ngelakuin sesuatu yang bikin gua lebih muak lagi." Pemuda keturunan Turki-Indonesia itu masih terlihat frustasi. "Lagian gua tadi sudah berusaha jujur masalah perasaan gua sama Silfa. Dia bener. Dalam kasus gua ini cinta bukan segalanya. Dia pasti juga sedang memikirkan orang terdekatnya. Ibunya. Gak mungkin gue memaksanya buat terlibat dalam masalah pribadi gua." Dia mengalihkan perhatiannya pada repot TV di atas meja. Memencet asal chanel TV secara random.
"Jadi ..., lu ditolak gitu sama dia?"
__ADS_1
Bagas tak menjawab dia hanya memandang Wili tidak suka. Dia tidak suka dengan Kata-katanya yang terlalu polos. Walau pada kenyataannya itu memang sebuah fakta yang ada. Kata 'ditolak' yang keluar dari mulut sepupunya itu terlalu menyakitkan.
"Cih!"
...
Kuala Lumpur, Malaysia
"Ini tuan," kata asisten pribadi ayah Bagas sambil menyodorkan beberapa foto pada tuannya itu.
Nampak lelaki paruh baya itu mengamati beberapa foto dengan seksama.
"Iya, itu foto dua orang yang berbeda. Yang sering dekat dengan tuan muda. Itu adalah foto tuan muda dengan seorang gadis bernama Silfa, seorang pelajar asal Indonesia. Sedangkan yang ini ..., adalah foto tuan muda dan nona Jenny yang kemarin meminta bertunangan." Asistennya menjelaskan meski tak diminta.
"Hmmm ..., seronok[1]," kata ayah Bagas sambil meletakkan foto-foto yang diamatinya. "Apa mereka kembar seiras?" lanjutnya.
"Entahlah tuan. Saya belum menyelidiki hal itu. Tapi dilihat dari wajahnya, mereka yang serupa bak kembar seiras."
"Periksa itu. Saya butuh info yang banyak tentang keluarga yang akan jadi mertua[2] saya nanti."
"Baik Tuan. Akan saya lakukan secepatnya," katanya kemudian asistennya itu pamit pergi.
Nampak senyum misterius tersungging di bibir ayah bagas. Entah apa yang dipikirkannya. Namun sepertinya bukan sesuatu yang sederhana.
Bersambung ...
Seronok \= menarik (bahasa melayu)
__ADS_1