Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
AIRA


__ADS_3

Hari ini H-7 sebelum pelaksanaan malam seni dan itu artinya 7 hari menjelang acara perayaan HUT RI ke-64, minggu dimana menjadi hari tersibuk bagi para panitia pelaksana. Setiap sore, beberapa remaja pria yang mempunyai waktu luang terus saling berkordinasi untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Termasuk Deni meski notabene adalah seorang bendahara, dia menjadi salah satu orang yang paling sibuk mencatat seluruh aliran dana yang masuk dan keluar, dia tidak mau sampai ada 1 rupiah pun yang terlewat dari laporan keuangan yang dia buat. Selain tentunya seksi perlengkapan yang mulai bergerilya. Karena sore ini Deni mempunyai waktu yang cukup luang, dia berencana membantu teman-temannya yang sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan.


"Nah gitu dong, kerja yang bener, jangan cuma ngarep konsumsinya doang dari Bu Wiwi" Deni langsung saja meledek Dimas, Putra, dan mas Satria yang sedang sibuk memotong bambu untuk obor. Bu Wiwi adalah salah satu warga yang mempunyai tingkat solidaritas tinggi terhadap anak muda, meski usianya yang sudah cukup berumur bu Wiwi selalu merasa dirinya masih muda. Beliau cukup sering membantu menyediakan konsumsi secara gratis bagi para panitia, meski ala kadarnya, namun itu sangat menjadi berkah bagi Deni dan kawan-kawan.


"Bener-bener ya lu Den, pantes haters lu makin banyak, omongan lu makin ngeselin" ujar Dimas.


"Untungnya lu pada udah kenal gw, jadi no problemo lah yaa.. hahahaha.." Deni pun tertawa.


"Bawel lu, daripada lu ngebuang tenaga buat ngoceh ga jelas, tuh mending lu bantuin mas Satria motongin bambu" Pinta Dimas.


"Oke siap boskuuuu.." Deni pun mendekati mas Satria dan mulai membantu merapikan potongan bambu.


"Lebay lu! Eh Den, tahun ini kita masih mau pake bendera plastik?" Tanya Dimas kepada Deni yang mulai merapikan beberapa potongan bambu yang sudah dipotong mas Satria.


"Gw sih enaknya yang lain aja gimana, kalau ada yang mau sedikit ribet tapi menarik dan awet ya kita buat hal yang baru, bosen juga tiap tahun ngeluarin duit buat bendera plastik, biarpun itu bendera plastik dibeli pake duit anggaran tapi nyesek juga kalau ujung-ujungnya cuma jadi limbah abadi. Lagipula itu bendera umurnya ga ada 2 minggu udah pada luntur, pada cepet-cepet mau naik haji kali itu yang bikin" keluh Deni.


"Nah itu dia Den, mata gw juga sepet kalau liat itu bendera plastik baru 2 minggu udah jadi putih polos, mana kalau kena ujan langsung pada kendor. Emang mesti ganti ide ini" Dimas menambahkan.


"Gimana kalau kita buat lampion atau bendera dari bekas gelas aqua? Nanti kita cat merah putih pake cat minyak" Deni memberi ide.


"Boleh tuh, pasti calon-calon begadang buat ngerjainnya, ga akan mungkin bisa pake metode SKS" celetuk mas Satria menyela obrolan Dimas dan Deni. Mas Satria sebenarnya tidak termasuk dalam bagian kepanitiaan, dilihat dari sisi tempat tinggalnya pun berbeda beberapa gang dari tempat Deni dan Dimas tinggal dan sudaj berbeda area, tapi mas Satria lebih memilih selalu berkumpul dengan Deni dan kawan-kawan.


Awal kedekatan mereka pun cukup unik, mas Satria awalnya adalah penjaga gawang yang biasa ikut bermain bersama Deni dan temannya, dari situ keakraban mereka pun timbul, mas Satria merasa lebih nyaman berada diantara mereka, oleh karena itu dia selalu membantu setiap ada kegiatan dilingkungan Deni, padahal di lingkupnya sendiri sebenarnya sudah ada kegiatannya namun entah mengapa dia enggan ikut bergabung bersama mereka.


"Hahaha, iya mas ga mungkin juga bisa pake Sistem Kerja Semalam, nunggu catnya kering sempurna aja butuh waktu 20-30menit itu juga cat kita campur tiner 1:3. Tapi kalau yang lain oke nanti gw tinggal bilang om David, biar anggaran bendera plastiknya kita switch buat beli gelas aqua, nanti gelas aquanya beberapa kita bentuk jadi lampion trus kita kasih lampu, sisanya kita buat bendera. Bahannya kita beli aja di pengepul, tempat pengepul plastik kan juga ga jauh darisini jadi kita ga perlu kluar ongkos." Deni mencoba meyakinkan yang lain.


"Boleh tuh Den, asal ada konsumsinya semua pasti beres.. hahaha.." Putra berseru kepada Deni.


"Tenang, nanti gw bawaiin air putih 2 teko dari rumah" Deni menjawabnya dengan santai.


"Gila lu, kita cuma minum doang gitu? Bisa gelinding gw minum sampe 2 teko" Putra mengerutkan wajahnya.


"Oke, nanti gw beliin kuaci 2 bungkus pake duit gw sendiri, nanti setiap orang yang bantu masang gelas aqua gw kasih bekal 5 butir kuaci, deal ya? Hahahaha.." Deni kembali berulah dengan kelakarnya.


"Dasar Saraaaaaaaaaaappppppp.." dengan cepat Dimas berteriak kepada Deni. Dan kemudian disusul gelak tawa dari Putra dan mas Satria.


"Hihihi, why you're so serious guys? It's just a joke" Deni hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Dimas.


"Ngomomg opo toh le, jenengan yo mangane tahu tempe, ra pantes nek takon bahasa planet" Suara dengan logat seadanya keluar dari mulut mas Satria. Meskipun pada dasarnya dia memang berasal dari tanah Jawa, namun karena sejak kecil dia besar dilingkungan Betawi justru tutur katanya lebih condong ke kultur bahasa Betawi. Makanya saat dia mengucapkan bahasa jawa dengan logat seperti memaksa, dia justru menjadi sasaran candaan Deni dan teman-temannya.


"Yailah mas, lu tiap hari makan jengkol mpok Iyah pake gegayaan aja pake ngomong jawa, ntar lidah lu malah keserimpet gw yang repot mas, kalau gigi palsu sih banyak yang bisa buat, kalau lidah palsu? Masa iya lu mau pake lidah kambing" Dimas memulai meledek mas Satria.


"Gw ga nyangka mas, ternyata lu punya bakat buat ngelenong" Putra pun ikut meledek mas Satria.


"Ah elu mas, gw pengen ikutan ngeledek lu tapi lu itu jauh lebih tua dari gw, ntar yang ada gw malah kualat, gw ketawa aja deh.. hahahahaha" Deni seakan membela mas Satria tapi akhirnya justru dia yang tertawa sangat lepas.

__ADS_1


"Oke, kalian semua jahaaaaaat.. akoooh maraaaaaaaaah.." ujar mas Satria meniru gimik wanita yang sedang ngambek.


Dimas, Deni, Putra saling memandang satu sama lain, kemudian mereka serentak berseru.


"Bodoooo amaaaaaat maaaassss.."


"Lu marah aja mas yang jauuuuh, mayan jatah konsumsi berkurang.." Deni menambahkan.


Mas Satria pun justru tertawa mendengar ucapan dan melihat Dimas, Deni dan Putra. Mereka akhirnya semua melanjutkan tugas mereka masing-masing sambil tertawa riang seperti anak-anak yang belum mengenal dosa.


"Gw cabut bentar ya" Seketika Deni pamit kepada Dimas, Putra, dan mas Satria.


"Mau kemana lu main kabur aja?!" Putra bertanya kepada Deni.


"Mau kerumah camer nemuin ayang" jawab Deni singkat.


"Ayang palalu peang, bilang aja lu mau mau molor" Dimas mencoba mengintervensi Deni.


"Nah itu lu tau, gw mau kerumah camer buat molor deket ayang gw" balas Deni dengan memasang wajah serius.


"Yee jamblang, ga usah so belagak serius depan gw, nanti gw keceplosan nyaho lu" Dimas balik mengancam Deni bahwa ia memegang rahasianya.


"Ampun baginda, aku hanya orang biasa yang tak punya bunga tak punya harta, yang aku punya hanyalah cinta yang setia tulus padanyaaaa..." Deni seperti sudah kebal akan ancaman Dimas.


"Hahaha, sial lu ah pake nebak, mana bener lagi tebakan lu itu lirik lagu, hahaha.." Deni pun berlalu meninggalkan mereka.


"Oi Den, malah beneran cabut, lu mau kemana sih?" Dimas berteriak kearah Deni yang mulai berjalan menjauhi mereka.


"Kerumah om David, mau ngomongin soal bendera plastik yang mau kita ganti pake gelas aqua, nanti gw balik lagi kalian anteng-anteng aja dulu disitu, konsumsi juga masih aman kan" sahut Deni sambil tertawa kecil.


"Oke bossss siaaaap!!" Mas Satria membalas dengan sigap.


"Mantap mas, gw titip dulu ya mas, tolong jagain itu Putra sama Dimas jangan dikasih pulang kalau belum selesai" Deni kemudian melanjutkan langkahnya.


Ditengah perjalanan ke rumah om David, ternyata Deni berpapasan dengan Bu Rumana yang tak lain adalah ibunda Aira.


"Assalamualaikum Tante, Tante mau kemana?" Sapa Deni dengan sopan.


"Walaikumsalam.. eh nak Deni, ini Tante mau beli terigu, mau buat kue" Bu Rumana menjawab dengan lemah lembut.


"Aduh, ga usah repot-repot Tante" Deni mencoba lebih mencairkan obrolan mereka, karena dia tahu orang yang ada dihadapan dia saat ini adalah ibunda Aira, wanita yang belakangan ini membuatnya penasaran.


"Hahaha, nak Deni bisa aja. Yuk nanti kerumah aja kalau mau cicipin kue buatan Tante, kata Tiwi kue buatan Tante itu paling enak loh" Bu Rumana seakan menantang Deni untuk memberanikan diri datang ke kediamannya.


"Aduh Tante aku masih ragu kalau kue buatan tante itu bener enak, soalnya indra perasa Tiwi itu bermasalah Tante, jadi ya memang seharusnya aku dateng kerumah Tante dan mencoba langsung" Deni terlihat percaya diri seakan menyanggupi tantangan Tante Rumana.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kapan kamu mau datang kerumah? Aira pasti senang loh kalau kamu bener datang" ucap Bu Rumana.


Ucapan Bu Rumana barusan seakan menghentikan napas Deni seketika itu juga, Deni terkejut atas apa yang beliau ucapkan, Deni takut Aira telah bercerita banyak hal tentang kejadian malam itu, termasuk saat ia membuat Tiwi menangis. Dirinya sekejap terdiam, pikirannya entah berlari kemana.


"Nak Deni, Nak Deni.." Seruan bu Rumana menyadarkannya kembali.


"Iya Tante, maaf tadi Tante ngomong apa ya, maaf aku lagi ga fokus.. hehe" Deni mencoba memberi alasan.


"Barusan tante tanya, kamu kapan mau kerumah, Aira pasti senang kalau kamu datang" bu Rumana mengulang ucapannya.


"Loh Aira itu anak Tante?" Deni mencoba mengalihkan topik, memasang raut wajah bingung dengan harapan Tante tidak tahu bahwa sebenarnya Deni sudah tahu Aira adalah anak dari Tante Rumana. Karena pada awalnya Deni memang sudah tahu bahwa Aira putri dari Pak Haji Dadang yang merupakan suami dari bu Rumana.


"Kamu ga tahu apa cuma pura-pura ga tahu kalau Aira itu anak Tante?" Bu Rumana tersenyum melihat reaksi Deni.


"Bener tante aku ga tahu, kemarin aku baru pertama kali lihat Aira. Tapi setelah aku perhatiin senyuman tante, aku sekarang yakin kalau Aira anak tante, senyum Aira sama Tante mirip banget kaya anak kembar.. hihihi" Deni membuat alasan.


Bu Rumana kembali tersenyum, dan kembali bertanya kepada Deni.


"Jadi bagaimana nak? Kapan kamu kerumah? Kata Aira kamu minggu ini mau datang kerumah loh"


Deni kembali terkejut, ucapan yang sebenarnya hanya sebuah candaan malah dianggap serius oleh Aira dan itu disampaikan ke ibunya? Oh God, Deni menggumam dalam hati kali ini dia tidak mungkin mencari dan memberi alasan lagi. Lagipula bu Rumana adalah sosok yang sangat baik, ramah dan lemah lembut, membuat Deni merasa bersalah apabila menolaknya. Akhirnya Deni mengambil keputusan singkat di tengah kebingungannya.


"Maaf Tante, kalau minggu ini aku ga bisa, karena kita lagi mempersiapkan acara untuk HUT RI. Apalagi minggu kita pasti sudah prepare dan set buat panggung. Kan ga seru juga kalau aku baru 10menit trus baru nyoba 1kue dirumah tante tiba-tiba harus langsung pulang karena ada yang butuh bantuan aku" Deni mencoba menolak ajakan bu Rumana dengan alasan yang masuk akal.


"Gapapa, 10 menit juga cukup, biar Aira juga ada teman laki-lakinya, selama ini dia cuma sama Tiwi terus" Bu Rumana justru seperti mengikhlaskan dan tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Deni benar-benar dibuat tidak berdaya oleh bu Rumana, alasan yang biasanya berkumpul di dalam otaknya seakan sedang menjauh darinya.


"Oke Tante, minggu ini aku dateng, tapi aku ngajak temen boleh ya, hihi.." Deni berusaha menyanggupi undangan bu Rumana dengan syarat.


"Ga bisa begitu dong, kan kamu ga bilang ke Aira kalau mau dateng sama temen kamu, jadi kamu harus dateng sendiri" Bu Rumana benar-benar seperti sedang memberi sebuah test kepada Deni.


"Astaga tante, aku sampe keringetan gini loh ngobrol sama tante, ajakan tante itu bener-bener ga bisa ditolak ya" Deni menjadi salah tingkah sambil menggaruk kepalanya.


"Oke tante, aku dateng sendiri, mungkin agak sore sekitar jam 4 selepas Ashar" Deni kali ini menjawab pasti ajakan tante Rumana.


"Nah begitu dong, tante tunggu ya. Oh iya, ini kamu mau kemana?" Bu Rumana terlihat puas akhirnya Deni bisa menerima ajakannya.


"Mau kerumah om David Tante, ada sedikit urusan soal perlengkapan" jawab Deni.


"Oh begitu, yasudah tante duluan ya, jangan lupa hari minggu tante sama Aira tunggu dirumah, Assalamualaikum" Bu Rumana tersenyum kemudian berlalu ke arah yang berlawanan dengan tujuan Deni.


"Walaikumsalam tante"


Deni melanjutkan langkahnya, namun kemudian ia berhenti, mengurungkan niatnya menuju rumah om David dan memutuskan untuk pulang, karena dirinya merasa seperti baru melewati sebuah test mental yang menghilangkan fokusnya. Ia masih tak habis pikir kenapa ia bisa menerima ajakan bu Rumana yang lebih terkesan seperti tawaran maut dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2