
Tugas mencicipi kue bolu telah selesai dilakukan oleh Aira dan Tiwi, ternyata kue itu memang sengaja dibuat bu Rumana untuk mereka berdua agar mereka dapat sedikit santai sambil menikmati secangkir teh di ruang tamu.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11:30, tanpa terasa waktu sangat cepat berlalu. Berarti sudah ± 3 jam Tiwi berada di kediaman Aira, sebenarnya mereka masih ingin melanjutkan percakapan mereka, sayangnya tiba-tiba Tiwi ditelpon oleh Bundanya karena sang adik meminta Tiwi untuk membantu mengerjakan PR Matematika yang harus dikumpulkan hari ini. Dan dengan terpaksa mereka pun harus menyudahi pertemuan mereka hari ini.
"Maaf ya Ra, kalau bukan Bunda yang minta pulang aku masih mau nemenin kamu ngobrol. Lagipula adikku itu udah dibilangin dari semalam untuk ngerjain PR malah ditunda-tunda, giliran mau berangkat sekolah PR baru dikerjaiin" ucap Tiwi sedikit kesal, karena adiknya memang tergolong anak yang bandel dan susah untuk diberitahu.
"Loh adikmu masuk siang Wi? Memang dia sekolah dimana?" Tanya Aira.
"Iya Ra, dia masuk siang, dia sekolah di salah satu SMP swasta disini karena NEMnya ga cukup untuk masuk sekolah negri" ucap Tiwi.
"Oh begitu, ya gapapa lah Wi kan udah seharusnya kamu sebagai kakak bantu adik kamu ngerjaiin PRnya, aku dulu juga kalau ga ngerti pasti minta tolong sama kak Nisa. Kalau kak Nisanya ga mau bantuin, aku tinggal bilang ke Mama.. hihihihi" Aira seperti membenarkan alasan sang Tante menelpon Tiwi.
"Ih kayanya enak ya jadi anak bungsu, apa-apa dituruti" Tiwi berkata sambil memasang gimik cemberut.
"Hahaha ya ga gitu juga lah Wi, tetep aja kalau ada salah ya aku kena omelan juga" Aira tertawa melihat wajah Tiwi yang masih cemberut.
"Gini aja deh Ra, gimana kalau kamu sekarang ikut kerumah aku, kamu juga lagi ga ada kegiatan kan? Test kamu SMPTN kamu masih 2 minggu lagi kan?" Tiwi berusaha mengajak sahabatnya untuk ikut bersamanya, dalam pikirannya sudah terlintas niat untuk mengerjai Aira, karena dia sangat tahu bahwa Aira adalah sosok yang cerdas dan sangat ahli dalam mengerjakan soal matematika.
"Oh nooo..i'm so sorry, i can't go with u dear" Aira secara lembut menolak ajakan Tiwi.
"Why? I've a lot of cocholate in my room dear" Tiwi berusaha merayu sahabatnya yang memang penggila coklat.
"Wi, bilang aja kamu mau aku ikut biar nanti disana yang bantu ngerjain soal matematika itu aku, ga usah ngerayu aku pake iming-iming coklat segala, ga akan mempan.." Balas Aira sambil menjulurkan lidahnya meledek sahabatnya.
Tiwi terkejut karena tak disangka sahabatnya itu mengetahui maksud Tiwi yang sesungguhnya.
"Udah ga usah shock gitu, aku kan sahabat kamu jadi aku pahamlah. Kamu kan tahu aku ahli di matematika, dan aku juga paham kalau kamu itu ahlinya di sejarah, jadi kalau ada aku disana yang bantu PR adikmu itu ya udah pasti aku.. hahahahaha.." Aira tertawa bahagia melihat ekspresi sahabatnya yang sekarang terlihat malu.
"Kayanya kamu cocok Ra jadi dukun, hahaha"
"Yaudah gimana? Kamu mau ikut kan kerumahku? Biar kita bisa lanjut ngobrol juga." Tiwi kembali bertanya kepada Aira.
"Ga bisa Wi, aku kan lagi nunggu mas Dodi" Jawab Aira.
__ADS_1
"Loh emang mas Dodi? Memang dia ada perlu apa sama kamu?" Tiwi terlihat sedikit bingung.
"Itu komputer aku, emang bener ada virusnya Wi, aku mau install ulang sekalian update windowsnya aja." Aira menjelaskan.
"Astaga,, padahal tadi aku ngomong begitu ke Tante.." Aira menyela sebelum Tiwi menyelesaikan ucapannya.
"Biar kamu ga bantuin mamaku buat kue kan?" Aira benar-benar mengetahui arah pikiran Tiwi.
"Bener-bener cocok jadi dukun kamu Wi" ujar Tiwi.
Aira dan Tiwi pun saling memandang kemudian tertawa lepas. Aira pun mengantar Tiwi sampai ke teras depan, ternyata bu Rumana sedang menyiram tanaman di beberapa pot. Tiwi pun segera pamit untuk pulang kepada Tante Rumana dan sahabatnya karena dia melihat banyak sekali miscall dari Bundanya, karena setelah telpon tadi Tiwi langsung mengaktifkan mode senyap.
"Tante jangan bosen-bosen ya buatin aku kue yang enak kaya tadi" Tiwi berujar sambil mencium tangan bu Rumana yang dibalas dengan senyuman hangatnya.
Tiwi segera beranjak menuju pagar, dirinya pun melewati pagar depan dan bergegas pulang, dia sampai lupa memberi salam karena terburu-buru. Kini kembali tinggal Aira sendiri, akhirnya Aira mendapat tugas dari sang mama untuk mencuci dan membersihkan semua perabot yang tadi digunakan untuk membuat kue, tapi dia tidak sendirian dia tetap dibantu oleh sang mama.
"Ma.. Mama tau yang namanya Deni ga?" Aira mencoba membuka obrolan dengan mamanya sambil mencuci cangkir dan piring bekas teh dan kue.
"Itu loh ma, Deni yang katanya rumahnya di gang sebelah" jawab Aira polos.
"Deni Ramadhan?" Bu Rumana mencoba menebak sosok yang ditanyakan putrinya.
"Waktu itu sih dia ngenalin dirinya pake nama Muhammad Deni Ramadhan ma, orangnya sama atau beda ya sama yang mama tebak?" Kini Aira yang malah terlihat bingung.
"Iya nak orangnya sama, disini cuma ada 1 Deni, Deni yang suka ngusilin dan jailin temennya" Bu Rumana memberi jawaban lebih pasti.
"Hahaha, nah iya yang itu ma. Mama kok bisa tahu kalau dia usil, memang mama tahu anaknya seperti apa?" Aira tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya meskipun itu di depan mamanya.
"Memangnya ada apa sayang? Dia gangguin kamu?" Bu Rumana seperti memancing keingintahuan putrinya itu.
"Engga ma, dia ga gangguin, usilin atau jailin aku, dia cuma bilang ke aku hari Minggu besok dia mau datang kesini, katanya mau main catur sama Bapak" Aira tampak begitu polos mengutarakan kejadian malam itu kepada mamanya, padahal sebenarnya dirinyalah yang membuat Deni mengeluarkan janji abstrak yang sangat konyol kepadanya didepan teman-temannya.
"Hihihi, ada-ada aja kamu nak, ga mungkin ada anak laki-laki yang berani datang kesini, mayoritas pada segan sama bapakmu, bapakmu kan terkenalnya orang yang galak" Bu Rumana berusaha mengalihkan pembicaraan, karena dia paham putrinya itu sedang sangat mencari tau tentang sosok Deni.
__ADS_1
"Kalau kira-kira dia bener datang kesini gimana ma?" Aira kembali bertanya dengan gestur sedikit menyenderkan tubuhnya ke tembok mendengar ucapan mamanya sebelumnya.
"Ya gapapa, masa ada tamu datang baik-baik malah di usir, kan ga sopan" Bu Rumana tersenyum kepada putrinya itu.
"Deni itu ga seperti kebanyakan temannya yang punya riwayat kurang baik, Deni justru kebalikannya, dia termasuk anak yang tidak punya reputasi buruk, anaknya yang supel dan mudah berbaur sama siapa aja bikin dia cukup dikenal, selain ya memang bisa dibilang anaknya itu juga dikenal karena cukup jahil dan usil, dan hal itu bukan rahasia umum lagi, karena setiap ada dia ya pasti suasana jadi riuh. Dulu sewaktu baru pindah kesini dia juga pernah di kucilin sama temen-temennya" Bu Rumana mencoba mendeskripsikan sosok Deni sesuai dengan yang ia tahu.
"Iya ma, anaknya unik keliatan begajulan tapi ternyata tanggung jawabnya itu bagus banget ma, tapi kok kenapa dulu dia sampe bisa dikucilin ya?" Terpancar kebingungan dari raut wajahnya.
"Mama juga kurang tau, yang mama tau ya anaknya ga suka macem-macem. Mungkin waktu itu dia dikucilin karena dia anak pindahan dan ga bisa mengikuti pergaulan disini. Dulu juga dia sering di ledek teman-temannya karena sering memakai celana panjang diatas mata kaki, diledek pake celana kurang bahan, pangeran cingkrang dll. Tapi ya memang Deninya mentalnya kuat, dia lebih milih bergaul dengan yang lain yang bisa nerima dia, makanya ga heran kalau temannya ada dimana-mana, dulu itu dia udah kaya bolang main kemana aja yang dia suka. Padahal sebenarnya dia itu asli lahir disini cuma memang tumbuh besar di ibukota karena kedua orang tuanya kerja disana. Tapi tata kramanya justru lebih bagus, beda sama teman-temannya yang kalau lihat mama malah cuma nunduk padahal mama udah senyum ke mereka. Tapi Deni kalau ketemu mama pasti dia yang langsung nyapa duluan dengan sopan. Kurang lebihnya seperti itulah nak, memang kamu ketemu Deni dimana?" Tanya Bu Rumana.
"Di pertemuan karang taruna kemarin itu loh ma, padahal dari draft yang dikasih om David keliatannya acaranya bakal seru, tapi pas denger cerita mama begitu malah buat aku jadi males ikut lagi, padahal aku ga sabar nunggu malam seni, soalnya kata Tiwi ada pawai obornya, aku mau ikutan megant obor ma" Aira terlihat antusias menanti malam seni, tapi dirinya jadi merasa ragu untuk berkumpul dengan yang lain karena tahu mereka pernah mengucilkan Deni hanya karena dia "anak baru", Aira pun takut kejadian yang menimpa Deni juga menimpa dirinya, sambil mengelap bekas tempat adonan kue yang telah ia bersihkan.
Bu Rumana melihat ada gestur yang aneh pada putrinya
"Loh kamu kenapa nak? Kok jadi keliatan ragu gitu? Gapapa nak datang aja, kamu ga usah khawatir ngalamin apa yang dialami sama Deni, setau mama kejadian Deni itu yang pertama dan terakhir kok disni, setelah ada Deni ga ada lagi yang berani kasih perlakuan aneh setiap ada anak baru pindah ke daerah kesini" Bu Rumana mencoba memberi semangat kepada putrinya yang terlihat takut, mungkin Aira menjadi sedikit gentar karena mendengar cerita mamanya tentang Deni yang sempat dikucilkan. Tapi rasa penasarannya ternyata lebih kuat sehingga mengalahkan rasa takutnya. Ternyata apa yang dibilang mamanya tentang Deni telah terjadi kepada dirinya, masih teringat dengan jelas di malam itu Deni telah meminta dia untuk berlaku sewajarnya, jangan pernah merasa dirinya seperti anak baru.
"Iya ma aku pasti datang" semangat Aira kembali muncul, Aira pun tersenyum kepada sang mama.
"Coba aja daridulu aku tau, pasti setiap acara HUT RI aku milih ijin pulang aja ma, mama sih ga kasih tau aku" Aira mendekat manja ke arah bu Rumana.
"Tau apa nak? Tau kalau disini ada laki-laki unik bernama Deni?" Bu Rumana mencoba menggoda putrinya.
Aira seperti tersipu malu namun berusaha menutupinya.
"Engga lah ma bukan soal Deninya, aku kan baru tau kalau kegiatan disini itu dari draftnya saja sudah keliatan menyenangkan, kalau di asrama kan kegiatannya itu-itu aja, bosen tau ma"
"Ah yang bener nih?" Kembali Bu Rumana menggoda putrinya yang semakin terlihat salah tingkah.
"Mamaaaaaa... jangan buat aku malu dong.. kalau mama godain aku terus mending aku balik ke kamar lagi aja deh"
Aira memasang gimik wajah cemberut untuk menyembunyikan rasa malunya, bu Rumana pun terkekeh melihat kelakuan putrinya itu sambil memeluknya.
Meski sebenarnya, memang bukan sekedar pawai obornya saja yang dinantikan oleh Aira, tapi ia juga sudah tak sabar menantikan saat dimana dirinya akan dapat kembali bertemu dengan sosok Deni yang penuh kejutannya.
__ADS_1