
Akhirnya Silfa sadar. Dia mendapati dirinya ada di sebuah ruangan yang cukup besar. Dia tertidur di atas kasur yang sangat empuk, jauh berbeda dengan tempat tidurnya yang biasa. Matanya mulai menyisir seisi ruangan besar itu. Meja rias, lemari pakaian, TV, sofa, dan juga kamar mandi lengkap dengan shower-nya. "Di mana ini?" pikirnya.
Gadis itu turun dari tempat tidurnya. Dia masih mengenakan pakaian yang sama, seragam barista berwarna oranye yang belum sempat digantinya. Di saku celananya masih ada HP miliknya. Para lelaki berjas itu ternyata punya etika. Mereka tidak berani mengganti bajunya dan juga mengambil barangnya tanpa izin. Hanya satu yang disayangkan. Semua barang penting yang dia miliki tertinggal di kafe, di dalam tas sekolahnya yang tersimpan di loker. Bagaimana ini? Sekarang dia tak punya kartu identitas sama sekali. Jangankan bisa membela dirinya, KTP saja tidak ada.
Dia mulai membuka HP-nya. Beruntung masih belum mati. Batrenya tersisa separuh lagi. Dia menggeser layar sembarang, membuka kunci di HP-nya, menggeser lagi beberapa kali, memeriksa. Banyak sekali panggilan masuk dari kedua sahabatnya, dan juga beberapa pesan suara yang menanyakan kondisinya. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan dirinya. Kemudian ada hal yang menarik perhatiannya, sebuah pesan dan panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dikenal. Dibukanya pesan dari nomor tersebut, ternyata pesan itu dari pihak rumah sakit. Isinya mengatakan hasil tes DNA dirinya dan Jenny, sudah ada dan bisa diambil. "Cepat juga ternyata," batinnya.
Jenny. Dia jadi teringat gadis itu? Bagaimana keadaannya sekarang? Sejak kemarin dia belum mendapatkan kabar darinya. Sebuah perasaan takut menghantui pikiran. Entah dari mana perasaan itu datang, tiba-tiba muncul begitu saja. "Semoga dia baik-baik saja." Gadis itu memegang dadanya yang terasa aneh.
"Gua harus kasih kabar pada Susan dan Yayu terlebih dahulu, kalau gua baik-baik saja sekarang," gumamnya. Dia mulai mengetik sesuatu dan mengirimkan pesan itu pada nomor mereka. Tak terkirim. Dia coba sekali lagi. Hasilnya masih sama, tak terkirim. "Apa-apaan ini?" rutuknya. "Tempat apa ini? Kenapa tidak ada sinyal di sini?"
Kesal! Dia meletakkan HP-nya dan mulai menyusuri ruangan itu, mencari petunjuk dimana dia sebenarnya berada. Dia mengintip dari lubang kecil yang mengarah ke luar ruangan itu, tepat lurus ke arah depan dia mengintip, tampak sebuah pintu dengan nomor 380B di bagian tengahnya, seperti ... sebuah pintu kamar hotel? beberapa orang terlihat tengah berjaga di depan pintu ruangannya, hilir mudik ke sana ke mari. Ya ... masih orang-orang yang sama yang membawa gadis itu ke tempat itu. Para lelaki berjas hitam.
Merasa frustasi. Dia mengembuskan nafas kesal, tak mungkin bisa lolos begitu saja dari mereka. Apalagi dia sama sekali tak tahu ada di mana? Negeri antah berantah, kah? Konyol. Memangnya ini sebuah novel fantasi? Dia menggelengkan kepalanya, menjernihkan pikiran yang sedari tadi sangat kacau. Dia harus memikirkan sebuah strategi agar bisa lari dari sini. Atau paling tidak dia harus tahu maksud mereka menyekapnya di sini. Itu akan lebih memudahkannya membuat rencana untuk melepaskan diri. Dia mondar-mandir tak karuan di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Buntu. Silfa menjatuhkan kembali tubuhnya di atas kasur super empuk itu. Membenamkan mukanya di tumpukan bantal yang terasa begitu nyaman di kepalanya. Tiba-tiba dia terduduk. Teringat pesan Wili yang belum sempat selesai dibacanya.
"Fa ... sepertinya ada yang tidak beres. Ada kabar angin, Jenny menghilang di saat-saat pentingnya. Meski gua gak tahu pasti kabar itu benar atau tidak. Tapi ini terasa ganjil. Jika dia menghubungi lu, segera beri tahu gua, Oke!"
"Menghilang? Bukannya kemarin kita berdua masih sarapan bersama?" Dia terdiam sejenak. "Tapi ... memang setelah itu dia tak ada kabar lagi. Tak dapat dihubungi sama sekali. Gak mungkin dia kenapa-napa, kan?" Silfa mencoba menghubungi Jenny sekali lagi. Si*l. Dia lupa kalau di sini tak ada sinyal sama sekali. Dia menggenggam HP-nya erat, berharap gadis itu baik-baik saja.
....
BUK! terdengar pintu mobil di tutup dari arah depan. Setelahnya terasa udara segar menyentuh hidung gadis yang tengah ditutupi kain hitam di kepalanya itu. Membuatnya bisa merasakan nikmat oksigen, masuk melalui lubang hidungnya yang sedari tadi merasa sesak dan pengap.
Dengan perasaan takut Jenny merangsek ke belakang bermaksud menghindari sentuhan orang yang telah menculiknya. Dia bergeser sedikit demi sedikit hingga badannya mentok, tertahan oleh pintu mobil di belakangnya. Ternyata dengan kaki dan tangan yang terikat seperti itu, membuat badan begitu sulit digerakkan. Tubuh Jenny gemetar.
"Lu, gak usah takut, gadis manis. Gua gak akan menyakitin lu. Apalagi berbuat tidak sopan sama, lu. Kenapa? Lu ingin tahu kenapa? Karena, lu terlalu berharga buat disakiti. Gua dan temen gua bisa kehilangan lima M kita, kalau lu sampai tegores sedikit saja. Hahahaha .... Kau sudah paham? Itulah lu ... gadis yang punya nilai tukar tinggi," kata pemuda itu berbicara sendiri, seperti orang yang sedang meracau.
__ADS_1
"Hei! Sudah basa-basinya! Cepat bawa dia, Bos akan segera datang," instruksi pemuda yang satunya.
Kemudian Jenny pun dipanggul di pundak pemuda yang berbicara padanya tadi. Membawanya kesebuah bangunan yang ... sepertinya itu sebuah villa. Bangunan cukup besar, dua lantai dengan pemandangan yang asri di sekitar bangunan itu. Hamparan perkebunan sayur terbentang sepanjang mata memandang.
Gadis itu didudukkan di sebuah sofa, penutup kepalanya dibuka, kemudian ditinggalkan seorang diri di ruangan itu. Sumpel di mulutnya pun sudah dibuka dan digantikan dengan lakban yang menempel kuat di mulutnya. Sama saja, dia tak bisa mengucapkan apa-apa dengan itu. Tapi ini lebih baik. Rahangnya tak terlalu sakit karena tidak harus terbuka lagi. "Siapa mereka?" batin gadis itu. Dia sama sekali tak dapat melihat wajah mereka karena tertutupi topeng berbentuk binatang.
Di lihatnya ruangan itu. Sebuah ruangan yang unik. Banyak ukiran kayu di sana. Lumayan bersih. Diedarkannya penglihatannya ke sekitar, mencari apa saja yang bisa membuka ikatan tangan dan kakinya. Ada beberapa gelas kaca di sana. Terbersit dalam pikirannya untuk memecahkan gelas-gelas itu dan menggunakan pecahannya untuk memotong tali pengikat tangan dan kakinya. Tapi ... itu terlalu berisiko. Dengan tangan dan kaki terikat seperti itu, cukup sulit melakukannya tanpa membuat kegaduhan. Bagaimana kalau sampai kedua pemuda yang menculiknya itu mendengar keributan akibat gelas-gelas yang pecah? Bukan saja dia tak bisa bebas, malah kemungkinan besar nyawanya ikut menjadi taruhan.
Dia kembali berpikir. Rasa takutnya dia buang jauh-jauh. Bisa kabur dari tempat ini adalah prioritas utamanya sekarang.
....
Kini di waktu yang sama dan ditempat yang berbeda dua gadis muda yang sama-sama terkurung, keduanya tengah berjuang agar bisa meloloskan diri dari tempat mereka tengah terkurung. Meski dengan kondisi yang berbeda.
__ADS_1
Bersambung ....