Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
AIRA


__ADS_3

" Mungkin aku..


Bukan pujangga..


Yang pandai merangkai kata..


Ku tak slalu..


Kirimkan bunga..


Tuk ungkapkan hatiku.. "


Terdengar lantunan suara fals membelah suara-suara yang berkumpul.


"Oi karet ban dalem, lagi kasmaran lu?" Suara yang cukup lantang menghentikan senandung yang sedang terlantun, ternyata Putra yang menyela.


"Tau nih emang si walang sangit lagi gajelas" Satu lagi suara ikut menambahkan, suara yang berasal dari mulut Dimas.


"Kalau obat lu abis bilang, biar gw beliin obat nyamuk bakar diwarung" Terdengar lagi celoteh menyambar, kali ini dari mas Satria.


"Hei kalian para fans fanatik, sesi foto dan tanda tangan nanti ya selesai gw konser" balas si pelantun lagu dengan santai, yang tak lain adalah Deni.


"Kita bertiga lawan dia sendiri mah ga cukup, 1 Indonesia lawan dia juga belum tentu menang" keluh Dimas.


"Gw rasa lu lebih cocok release buku 1001 alasan! Ngeles lu juaraaaaaa..!!" Teriak Putra.


"Hahaha, oke karena kalian udah mendzolimi gw, malam ini kita ngerjain bendera ga pake konsumsi, air juga ambil dari rumah masing-masing" Deni merubah raut wajahnya menjadi sedikit lebih serius.


"Yailah baper amat lu plastik kresek" Suara seorang wanita tiba-tiba menembus suasana.


"Eh bakpao belum mateng, dateng-dateng nyamber aja lu kek belut dikasih pelet" Sahut Deni.


"Eh celemek mang Asep, lu ngeledekin gw mulu lama-lama lu suka sama gw baru tau rasa lu, lu deketin gw bakal gw tolak mentah-mentah.. hahahaha" Desi membalas ucapan Deni dengan pernyataan yang masuk akal.


"Hmm, kalau dipikir omongan lu ada benernya juga ya. Tapi sayang dalem mimpi pun kayanya ga akan pernah kejadian gw suka sama lu.. hahahaha" Deni tertawa dengan lepasnya.


"Gerbang mimpi gw juga udah gw blokir buat lu lidi cilok" Seru Desi sambil terkekeh.


"Kita bertiga serasa lagi nonton adegan lenong ya" Seru mas Satria sambil menatap Putra dan Dimas.


"Hihihi sial lu mas" Desi pun terkekeh mendengar ucapan mas Satria.


"Lagian lu Den tega bener ga mau nyediain konsumsi, budget konsumsi perlengkapan kan udah ada" lanjut Desi.


"Hahaha.. elu tuh yang terlalu serius, noh lu liat di meja udah ada apaan aja" Deni menunjuk sebuah meja yang disenderkan di satu sudut tembok, ternyata konsumsi sudah tersedia disana.

__ADS_1


"Sial lu bikin gw malu aja" Desi kemudian berlalu meninggalkan mereka.


"Eh ganjelan ban metro, mau kemana lu? Buru-buru amat" seru Deni kepada Desi yang melangkah menjauh.


"Pulang lah, mau mandi, tadi gw abis dari rumah Aira" jawab Desi.


Deni sedikit tertegun mendengar jawaban Desi.


"Wei Des, sini dulu lah, cerita-cerita dikit dong, abis ini kita mau ke warung mang Asep loh.." Deni mencoba membujuk Desi untuk kembali berkumpul dengan mereka, namun ternyata usahanya sia-sia, karena Desi terus berlalu sambil melambaikan punggung tangan kanannya.


Ternyata jurus bujukan warung mang Asep tidak mampu menahan langkah Desi, dia pun tetap berlalu meninggalkan Deni dan kawan-kawannya. Namun jarak ± 20 meter dari posisi Deni, Desi kemudian menghentikan langkahnya.


"Gw tau lu pasti kepo kan gw ngapain aja dirumah Aira, Hari minggu lu ditunggu sama nyokapnya Aira tuh.. byee.." teriakan Desi tentunya tidak hanya didengar oleh Deni, namun juga didengar oleh Dimas, Putra, dan mas Satria. Desi pun kembali melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan reaksi Deni.


Dimas, Putra, dan mas Satria pun agak kaget mendengar teriakan Desi, karena mereka tau bahwa hal itu bisa menjadi gosip paling hits di lingkungan mereka.


"Gokil sih, baru kenal kemarin udah dapet lampu ijo dari nyokapnya" celetuk Dimas dengan cepat.


"Salut gw sama lu, ga nyangka gw lu brani buat dateng kerumahnya" Putra menambahkan.


"Yee, apaan sih lu pada. Gw itu kemarin ga sengaja ketemu sama nyokapnya Aira di jalan, trus nyokapnya minta gw nyobaiin kue buatannya. Karena gw udah habis akal buat nolak, yaudah gw bilang aja minggu besok gw dateng kerumahnya, gw kesana murni diajak sama Tante Rumana ya gaes ga ada hubungannya sama Aira" Deni mencoba menjelaskan.


"Biasanya, kalau orang tuanya udah welcome, brarti anaknya udah cerita-cerita sama orang tuanya. Walaupun lu bilang ga ada hubungannya sama Aira, mau ga mau dengan lu dateng kesana ya pasti jadi ada hubungannya sama Aira.. hehe" mas Satria menyela dengan persepsi yang membuat Deni sedikit tertegun.


"Lu liat aja nanti Den, apa yang gw bilang barusan itu bener atau salah.. hihihi" mas Satria membalasnya dengan terkekeh.


"Udah ah udah, kapan kelarnya nih, ngapain malah jadi bahas hal yang belum jelas sih.. hahaha. Udah yuk lanjut garap bendera" Deni sesegera mungkin mengalihkan topik pembicaraan.


"Yee combro, bilang aja lu mau ngalihin topik" sahut Putra yang diiringi gelak tawa Dimas dan mas Satria.


"Hahaha nah itu lu tau" Deni membenarkan ucapan Putra.


Beberapa jam sebelumnya, saat Desi belum melintas di hadapan Deni dan ia masih berada di kediaman Aira bersama Tiwi.


"Rumahnya Aira enak ya Wi, hawanya adem banget" ucap Desi kepada Tiwi.


"Wajar adem, lu tau sendiri penghuni rumah ini ibadahnya bagus, mana ada setan yang betah di dalem sini.. hahahaha" balas Tiwi.


"Hihihi bener juga ya, tumben lu pinter Wi" celoteh Desi.


"Hai, ini aku buatin es jeruk, sore-sore gini enak minum yang dingin biar tambah dingin" suara Aira terdengar dari arah tangga, sambil membawakan dua gelas es jeruk diatas nampan untuk Desi dan Tiwi, tak lupa ia juga membawakan cemilan berupa puding diatas sebuah piring sambil mempersilahkan kedua temannya itu untuk duduk di kursi teras balkon.


"Ga usah repot-repot gitu Ra, bisa-bisa gw betah disini" ujar Desi.


"Ya gapapa, aku malah seneng kalau ada temen dirumah, jadi aku ga bosen cuma di depan komputer" jawab Aira sambil tersenyum.

__ADS_1


"Emang lu ga pernah jalan kemana gitu Ra?" Tanya Desi.


"Jalan bagaimana maksudnya?" Aira berbalik bertanya..


"Ya jalan gitu, hangout ke mall, bioskop atau kemana gitu biar ga bosen dirumah" Desi mencoba memperjelas.


"Oh, kalau itu ya paling sama kak Nisa hehe" jawab Aira sambil tersenyum.


"Emang lu mau ngajak Aira jalan kemana Des?" Kini giliran Tiwi yang bertanya kepada Desi.


"Belum ada planing, lagipula tadi gw cuma nanya, intermezzo biar ga kikuk.. hahahaha" Desi menjawab sambil tertawa lepas.


"Yee, gw kira lu bener mau ngajak Aira jalan. Kl iya ajak gw sekalian, tapi traktir ya.. hihihi" seru Tiwi.


"Ujung-ujungnya minta traktir, mau gratisan aja pake ngomong muter-muter lu Wi. Tenang nanti gw traktir, cendol dawet.. hahaha" jawab Desi enteng.


"Udah-udah diminum dulu itu biar tenggorokan kalian ga kering" ucap Aira kepada kedua temannya yang sejak tadi sibuk bercanda.


"Akhirnya ditawarin juga buat minum, padahal daritadi gw emang haus Ra" seru Desi bersemangat.


"Malu-maluin gw aja lu Des" Tiwi berbisik sambil mencubit lengan Desi.


"Aw.. apaan sih lu Wi, sakit tau" Desi spontan menjerit merasakan cubitan Tiwi.


"Hahaha, kalian tuh ya udah kaya tom and jerry bercanda terus" Aira tertawa dan tersenyum melihat kelakuan Tiwi dan Desi.


"Eh ada tamu, pantes daritadi kedengeran ramai" sebuah suara lembut terdengar dari arah belakang.


"Eh mama, aku sampe ga denger mama masuk" ucap Aira yang kemudian menyalami mamanya.


"Gimana mau denger, kamu lagi sibuk sama temen-temen kamu" lanjut bu Rumana.


"Hihihi maaf ya Tante kalau bikin gaduh, maklumlah Tante kalau anak perempuan udah kumpul pasti rame" ujar Tiwi kepada Tante Rumana, kemudian dia pun berdiri dan menyalami Tante Rumana selanjutnya diikuti oleh Desi.


"Gapapa nak Tiwi nak Desi, Tante malah seneng kalau banyak temen Aira datang kerumah" ucap bu Rumana.


"Iya Tante, kalau aku pasti bakal sering-sering kesini. Disini hawanya adem" Desi pun berusaha masuk kedalam pembicaraan.


"Lain kali ajak yang lain gapapa, oh iya, minggu besok nak Deni mau dateng kesini. Kalian dateng juga ya" ucapan Bu Rumana sekejap membuat Tiwi dan Desi saling memandang dengan kebingungan. Pertanyaan yang pertama kali timbul didalam benak mereka adalah untuk apa Deni datang kerumah Aira.


"Deni tante?" Tanya Tiwi.


"Iya nak Deni" jelas bu Rumana.


Tiwi dan Desi kembali saling memandang kebingungan, mencoba menerka apa yang sebenarnya maksud dari ucapan bu Rumana tentang Deni yang akan datang minggu besok. Dan dalam benak Desi, dia hanya beripikir entah ada apa dengan Deni sehingga dia sampai memberanikan diri untuk datang ke rumah Aira. Mungkinkah.. ah sudahlah, Desi berusaha membunuh semua pertanyaan di dalam otaknya.

__ADS_1


__ADS_2