Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Jenny Hilang Part 1


__ADS_3

Tanpa direncanakan sebelumnya Silfa dan Jenny berakhir di tempat itu. Sebuah rumah sakit besar di kota Bandung. Ada perasaan was-was, penuh harap, dan perasaan aneh lainnya yang berkecamuk di hati mereka. Jika Silfa merasa bahagia berbeda dengan Jenny. Gadis itu sangat sedih. Semua bayangan tentang kenangan bersama ayah dan ibunya terus berkelebatan dalam pikirannya. Jika dokumen di tangannya ini benar .... Jika hasil tes DNA nanti menyebutkan dia benar-benar bersaudara dengan Silfa .... Berarti selama ini dia tak sepenuhnya memiliki orang tuanya yang sekarang. Dia terus melamun. Tak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Dia hanya menjawab ketika ditanya. Itu pun dengan jawaban yang singkat dan seperlunya. Selebihnya gadis itu berdiam diri dengan tatapan kosong.


"Nomor antrean 30 silahkan menuju ke ruang dr. Budi." Suara dari microphone bergema di antara ruang tunggu pasien. Segera Silfa menarik tangan Jenny yang masih melamun untuk mengikuti perawat yang menuntun mereka menuju ruang kerja dr. Budi.


"Jen, apa kamu sudah siap? Apa kamu juga sudah yakin?" Silfa memastikan sekali lagi. Jenny mengangguk yakin. Kedua gadis itu pun melangkah menuju ruang dokter yang dimaksud. Setelah dipersilahkan duduk keduanya mulai berkonsultasi dengan tujuan mereka.


Dr. Budi merupakan salah satu dokter yang mumpuni di bidang genetika. Kemampuannya sudah sangat terkenal. Dia juga bekerja di bagian forensik membantu kepolisian. Sebenarnya sangat sulit untuk bertemu langsung dengan beliau. Beruntungnya mereka hari ini bisa langsung ditangani oleh dr. Budi.


"Atas nama saudari Silfa dan saudari Jenny? Kalian mau melakukan tes DNA?" Tanya dokter itu memulai percakapan. Kedua matanya tak lepas dari formulir yang ada ditangannya yang telah diisi oleh kedua gadis itu sebelumnya.


Mereka mengangguk.


"Kenapa kalian mau melakukan tes DNA? Apa kalian sudah tahu apa itu tes DNA dan kegunaannya?" Dia mencoba memastikan.


"Kami hanya ingin tahu hubungan kamu berdua, Dok. Apa kami memang bersaudara atau tidak ...." Silfa mencoba menjelaskan.


Dr. Budi melihat ke arah mereka berdua. Bolak balik dari Silfa ke Jenny atau dari Jenny ke Silfa. Begitu seterusnya sampai beberapa kali. "Kenapa kalian perlu itu? Sudah dapat dipastikan kalian bersaudara. Lihatlah wajah identik kalian. Aneh jika ada yang menganggap kalian bukan saudara." Dr. Budi sedikit tersenyum ketika mengatakannya.


"Begini, Dok. Kami dibesarkan dalam keluarga yang berbeda dan di negara yang berbeda. Dan ... baru beberapa bulan terakhir ini kami bertemu," lanjut Silfa. "Kami hanya ingin memastikan saja. Apa ada kemungkinan kami bersaudara padahal dengan kenyataan seperti yang saya jelaskan sebelumnya."

__ADS_1


Dr. Budi mengangguk-anggukan kepalanya. Dia paham dengan maksud yang dijelaskan Silfa barusan. Dalam persepsinya salah satu di antara mereka ada yang diadopsi oleh keluarga lain tanpa sepengetahuan keluarga utama.


"Baiklah. Saya akan mengambil sampel dari kalian." Dokter itu mulai memakai sarung tangannya dan mengambil alat yang dibutuhkan. Memasukan alat itu ke dalam mulut dua gadis itu dan mengambil sampel cairan dari bagian bawah lidah mereka yang dekat dengan pipi. "Sebenarnya ini sudah cukup. Apa perlu saya ambil rambut kalian juga sebagai sampel?" Dia meletakkan sampel tadi di sebuah piringan khusus. Satu milik Silfa dan satunya lagi milik Jenny.


"Silahkan saja, dok ... jika itu diperlukan." Silfa mencabut beberapa helai rambutnya dan menyerahkannya pada sang dokter. Diikuti oleh Jenny yang juga melakukan hal yang sama.


"Ini atas nama Silfa dan ... ini atas nama Jenny?" Dr. Budi memastikan.


"Tertukar, dok."


Sang dokter tertawa. "Aaaa, maaf-maaf." Dia pun kemudian menukarnya. "Baiklah, hasilnya akan kalian dapatkan dalam waktu satu sampai dua minggu ke depan. Untuk pastinya akan ada pihak dari rumah sakit yang akan menghubungi kalian." Kedua gadis itu mengangguk paham. Mereka pun mengucap terima kasih kepada dr. Budi.


....


Tuk ... tuk ... tuk ...


Mama Jenny mengetuk pintu kamar putrinya. Semenjak pagi, dia sama sekali belum bertemu dengan gadis itu. Ini memang weekend. Putrinya kadang memang melewatkan sarapan bersama jika dia sedang malas bangun pagi pada weekend seperti ini. Begitu pun pagi ini Jenny tak ikut sarapan dengan kedua orang tuanya. Meski begitu tak ada satu pun dari asisten rumah tangga mereka yang berani mengganggu nona mudanya. Jika dalam hitungan satu sampai dua panggilan untuk nona mudanya belum menjawab itu artinya dia masih terlelap tidur dan akan ke luar dari kamarnya cukup siang.


Waktu menunjukkan pukul sebelas. Dua jam lagi keluarga Aliansyah akan datang ke rumah mereka guna membicarakan acara besar yang akan mereka adakan. Acara pertunangan Jenny dan Bagas. Maka dari itu Jenny harus segera bersiap menyambut kedatangan calon tunangannya itu. Citra keluarga mereka harus benar-benar sempurna di hadapan calon besannya itu, jika tak ingin usaha mereka gagal begitu saja.

__ADS_1


"Honey ... bangun! Sudah Jam sebelas. Kamu harus cepat bersiap!" Mamanya yang sudah tak sabar akhirnya menerobos masuk ke dalam kamar putrinya itu. Tapi ... betapa terkejutnya dia saat melihat kamar putrinya sudah sangat rapi. Atau memang masih rapi dari semalam. Selimut masih terlipat, tak ada bekas telah digunakan oleh putrinya sama sekali.


"Loh ... pergi kemana dia?" Mamanya mendekati jendela kamar itu dan menyibak gorden yang masih tertutup rapat. Setelah beberapa menit dia menyaksikan pemandangan dari jendela kamar putrinya itu, akhirnya dia turun untuk bertanya pada asisten rumah tangga yang berpapasan dengannya tentang keberadaan Jenny. Barangkali ada dari mereka yang melihat putrinya. Tak lupa dia pun mencoba menghubungi putrinya dengan smartphone-nya. Meneleponnya. Satu kali. Dua kali, sampai hampir sepuluh kali nomor Jenny masih tetap tak bisa dihubungi. "Siti! Apa kamu lihat nona muda?" Asisten rumah tangga yang satu itu mengaku tak melihatnya dari pagi itu. Begitu pun dengan asisten rumah tangga lain yang ditemui wanita paruh baya itu. Semuanya mengaku tak bertemu bahkan melihat nona muda mereka.


Seketika saja terjadi kepanikan di keluarga itu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu. Setengah jam lagi keluarga Aliansyah akan sampai ke rumah mereka. Kepanikan mereka semakin bertambah tambah menjelang detik-detik pukul satu tiba.


"Macam mana ni bisa terjadi, hah?" Ayahnya geram. Dia tak habis pikir dengan kelakuan putrinya kali ini. Bukankah putrinya itu yang meminta bertunangan dengan anak tunggal keluarga Aliansyah? Tapi kenapa pada waktu yang seperti ini dia malah menghilang tanpa kabar sedikit pun. "Coba hubungi lagi nomornya. Semoga sekarang dia sudah bisa angkat." Nihil. Panggilan mereka masih saja dialihkan.


Dengan terpaksa keluarga Jenny menelepon keluarga Aliansyah untuk membatalkan acara pertemuan tersebut. Dengan alasan putrinya tiba-tiba jatuh sakit.


Kini sudah hampir 1X24 jam. Akhirnya Jenny pun dinyatakan sebagai orang hilang meski dengan permintaan agar kasusnya dirahasiakan. Beberapa jam setelahnya, pihak kepolisian Malaysia melaporkan ada sebuah data penerbangan atas nama Jenny ke Indonesia. Maka, tak menunggu lama lagi mereka segera bergerak mencari gadis itu di Indonesia.


....


"Semoga saja hasilnya akan segera keluar ya, Jen." Kedua gadis itu kini telah kembali ke pelataran mesjid agung. Hari sudah gelap. Satu jam yang lalu matahari sudah bersembunyi digantikan oleh cahaya bulan yang temaram. "Terima kasih." Gadis itu sungguh berterima kasih. Dia tak jadi menggunakan tabungannya untuk tes DNA barusan. Karena Jenny telah membayar lunas semuanya.


"Buat apa? Tak usahlah kamu berterima kasih kerana hal kecil macam tu." Matanya masih menerawang alun-alun yang mulai lengang.


"Kamu sekarang tinggal di mana? Apa kamu mau ikut ke rumahku?" Gadis yang diajak bicara merasa ragu. "Tak apa. Di sana hanya ada aku dan ibuku. Dan ... ibuku juga sudah tahu perihal kamu. Dia pasti sangat senang kamu mau mampir ke rumah kami." Silfa berusaha meyakinkan Jenny. "Tenang saja. Kalau hasilnya sudah ke luar dan kau memang bukan sodaraku, ibuku pasti juga akan mengerti. Dia tidak akan memaksakan apa pun padamu."

__ADS_1


Akhirnya kedua gadis itu pun sepakat menghabiskan malam mereka di rumah Silfa.


Bersambung ....


__ADS_2