Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Penasaran


__ADS_3

Ting!


Pintu kafe terbuka..


"Selamat siang.." Gadis cantik itu menyambut kedatangan tamunya. Mulutnya berucap tapi tatapannya kosong. Melayang entah pergi kemana.


Tuk.. Tuk.. Seseorang mengetukkan jarinya di atas meja. "Gua pesan capucino satu," katanya.


Namun pesanannya sama sekali gak digubris gadis itu. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Halo.. Silfa.. Silfa yang cantik dan manis.., gua pesen capucino satu ya." Orang itu yang ternyata Wili mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Silfa. Bahkan sampai menjentikkan jarinya beberapa kali.


Gadis itu pun terkesiap. "Hah? Apa? Ah maaf saya melamun. Anda mau pesan apa, Kakak?" Silfa masih belum menyadari siapa yang ada di depannya itu. Badannya membungkuk meminta maaf.


"Ca-pu-ci-no, sayang...," kata Wili dengan dieja. Dia tertawa melihat tingkah gadis itu yang sangat lucu. Dia memang imut. Kalau Bagas di sini tahan gak ya dia melihat tingkah mengemaskan ini anak? Gua aja sampai mau nguwel-nguwel tuh rambutnya, sayang gua gak berani, he..he.., katanya dalam hati.


Akhirnya Silfa mengenali suara dan tawa khas pemuda itu. Dia pun mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang dikenalnanya. "Ah, elu ternyata, Wil. Maaf gua sedikit gak fokus hari ini." Dia mulai menyeduhkan segelas capucino untuk tetangganya itu.


"Kenapa? Kenapa?," tanya pemuda itu antusias. Yah dia memang seperti itu. Selalu antusias dalam segala hal. Tapi dengan begitu Silfa jadi sedikit terhibur dengan kedatangannya.


"Soal Jenny." Mata gadis itu terlihat sedih mengatakan nama itu. Dia menghembuskan nafas berat.


Tapi, lain halnya dengan Wili. Matanya langsung berbinar dan sangat antusias mendengar nama gadis itu disebut, nama Jenny seolah menari-nari dipikiran pemuda itu. "Kenapa dengan Jenny? Gua siap jadi temen ngobrol lu..," katanya sambil tersenyum dengan lebar.


"Nanti deh gua ceritain. Sekarang gua masih kerja." Silfa memberikan segelas capucino kepada pemuda itu. Dia memang butuh seseorang untuk diajak berbicara. Dia mau cerita kepada dua sahabatnya, tapi gak mungkin.. Mereka sedang berada di luar negeri. Susan yang awalnya mau ke Bali, juga gak jadi tapi jadinya pergi liburan ke Korea. Mana tahan dia menghabiskan uangnya hanya untuk curhat.


"Oke.. Oke.. Lu pulang jam berapa? Gua tunggu lu sampai pulang." Lelaki itu benar-benar penasaran dengan obrolan yang akan dibahasnya, apalagi obrolan yang menyangkut Jenny. Hatinya langsung berbunga-bunga.

__ADS_1


"Ya udah bentar lagi kok. Satu jam lagi gua beres." Silfa kembali menyambut tamu yang datang.


"Oke! Gua tungguin ya.. Jangan ngelamun terus," katanya sambil berlalu pergi ke meja yang ada di pojok dekat jendela kaca. Di sana, tampak Wili mengambil smartphone-nya dan berbicara dengan seseorang.


"Gua di kafe.. Iya tempat gebetan lu.. Sini aja. Dia kelihatannya lagi badmood." Lelaki itu mengakhiri telponnya dan mulai menyecap capucino miliknya. Matanya menerawang ke luar jendela kaca di sebelahnya menyaksikan lalu lalang manusia di musim liburan ini.


Ting..


"Selamat siang.. Ah Bagas. Pesan apa?," tanya Silfa yang menangkap sosok pemuda itu ada di depannya. Selalu saja begini? Dia menghembuskan nafas berat. Akhir-akhir ini, bertemu dengan Bagas sedikit menjadi beban buatnya. Jantungnya selalu berdetak tidak normal seperti habis lari maraton. Entah sejak kapan, kadang perasaannya juga gak karuan saat ada di dekatnya. Bahagia, tapi juga..., ah entahlah bagaimana menjabarkannya. Itu terlalu rumit untuk diungkapkan olehnya.


"Seperti biasa saja." Pemuda itu tersenyum dengan lembut.


Deg..deg.. Berhenti lah wahai hati..!, Batinnya saat merasakan denyutan aneh di jantungnya yang kembali muncul saat melihat senyum Bagas yang begitu indah. Silfa memalingkan wajahnya dan mengangguk. Dia pun mulai membuatkannya segelas ekspreso.


Dari tempatnya Bagas bisa memperhatikan gadis itu yang tengah menyeduhkan segelas ekspreso untuknya. "Katanya kau sedang badmood?," tanya Bagas tanpa melepaskan sedikit pun tatapannya dari gadis itu.


"Ah." Hanya itu tanggapan Silfa. Dia sudah tahu, pasti sepupunya yang mengadu. "Tidak apa-apa hanya sedikit terpikir sesuatu, ini ekspreso pesannya." Gadis itu memberikan ekspreso yang sudah selesai dibuatnya.


...


Silfa sudah mengganti pakaian baristanya dengan pakaian biasa. Hari ini dia mengenakan kaos hijau dengan motif garis warna hitam, dan celana jeans yang juga berwarna hitam. Dia duduk bersama kedua tetangganya itu.


"Kemarin gua penasaran dan akhirnya bisa melihat kaki Jenny. Tapi ternyata tidak ada. Kakinya benar-benar indah tanpa noda sedikit pun," kata Silfa. Gadis itu nampak sedih saat mengatakannya. Bagas yang sudah tahu arah pembicaraan gadis itu hanya mengangguk sambil memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin itu artinya dia bukan sodara, Gua? Ah.. Benar-benar sangat.." Dia tak sanggup meneruskan kata-katanya. Terlalu kacau. Harapannya seolah sirna begitu saja.


"Kamu jangan terlalu sedih. Harapan itu masih tetap ada." Bagas menyemangati. Dia mengepalkan tangannya. Ingin menggenggam kedua tangan Silfa. Tapi tak jadi, dia hanya menepuk bahu gadis itu lembut.

__ADS_1


Sedangkan Wili yang duduk bersama mereka, dia malah jadi celingukan melihat obrolan antara Silfa dan Bagas. "Wah gak adil," katanya tiba-tiba. "Gua gak faham sama sekali sama yang kalian obrolkan. Gua jadi ngerasa jadi pajangan doang di sini." Dia yang kecewa pun jadi cemberut sendiri.


Silfa yang tadinya sedih jadi tertawa melihat tingkah pemuda itu.


"Kenapa ketawa? Jelasin dong.. Gak ada yang lucu juga." Nampaknya Wili sedikit kesal karena diabaikan.


"Iya.. Iya.." Akhirnya Silfa pun menjelaskan masalah tanda lahir Silfi yang ada di betisnya pada Wili.


"Tenang saja.. Benar kata Bagas. Harapan itu masih ada. Dunia sekarang sudah sangat canggih, cantik.. Bisa saja dia melakukan sedikit operasi untuk menghilangkan tanda lahir itu," kata Wili membuat Silfa sedikit lega.


...


Hotel Bintang Lima


"Ah rasanya sia-sia saja, saya ada di sini. Bagas selalu menghindari saya setiap hari. Dan yang saya benci sangat.. Waktu saya harus lihat sepupunya Bagas tiap kali saya mencoba menemui Bagas. Tak sampai situ saja. Telpon Bagas pun dia yang angkat." Gerutu Jenny kesal.


Masa liburannya sudah hampir selesai. Dia harus segera kembali ke Malaysia menemui orang tuanya. "Cuma sampai masa liburan saja Mama, Papa.., saya akan segera pulang dan seperti kemauan Papa saya akan lanjutkan masa studi saya di Amerika." Ingatannya kembali berputar ke masa dia melobi orang tuanya hendak ke Indonesia. Betul, masa sekolah di Malaysia memang sedikit berbeda dengan di Indonesia. Jika di Indonesia tahun ajaran baru dimulai pada bulan Juli, tapi di Malaysia tahun ajaran baru sudah dimulai sejak Januari. Jadi bulan Desember ini mereka sudah mendapatkan surat ketulusan untuk sekolah menengah mereka.


Dia mengambil smartphone-nya kemudian menghubungi Mamanya. "Mama.. Apa boleh saya punya sebuah permintaan kecil." Dia mulai merujuk pada ibunya.


"Apa sayang. Katakan saja." Selama ini memang ibunya ini tak bisa membantah apa pun yang jadi keinginan anaknya ini.


"Mama kenal keluarga Aliansyah? Keluarga yang punya banyak aset di negeri kita..," kata gadis itu memulai aksinya.


"Keluarga Aliansyah? Ah tentu saja. Dia salah satu kolega bisnis Papa," jawab Mamanya yakin. "Kenapa kau tanyakan pasal itu?"


"Mama tahu kalau anak semata wayangnya itu adalah teman masa sekolah saya? Dan.." Jenny sedikit ragu untuk melanjutkan kata-katanya. "Dan.. Saya punya, rasa suka teramat dalam sama dia. Mama, bukankah bagus sangat ketika saya dan dia menjadi sepasang kekasih." Dia berharap mamanya paham maksud ucapannya. Dari kata-katanya itu, dia ingin agar orang tuanya membantunya membuat sebuah hubungan dengan Bagas.

__ADS_1


Tak mengapa sekarang Bagas selalu tak peduli padanya, tapi suatu saat dia akan menggenggam Bagas dengan erat. Dan membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Dia sudah muak harus selalu bersaing dengan Silfa.


...


__ADS_2