Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
AIRA


__ADS_3

Aira pun mulai melangkahkan kakinya ke dalam aula, tapi dirinya tidak langsung menuju tempat duduk yang masih tersedia, dirinya melangkah dengan sopan menghampiri om David dengan menundukkan kepalanya sembari mengulurkan tangannya untuk memberi salam kepada om David.


"Maaf om aku telat, tadi mama minta bantuan aku sebentar" ucap Aira dengan lembut dan dibalas anggukan oleh om David.


Om David dan Aira memang sudah saling mengenal dengan baik, karena jika ditelusuri dari silsilah keluarga, ternyata mereka masih memiliki ikatan famili, jadi sangat wajar apabila bentuk wajah mereka terlihat mirip, obrolan mereka pun santai dan tidak terlihat ada rasa canggung sama sekali saat saling berbicara.


"Iya gpp nduk, lagipula ini juga baru mulai. Loh kamu kesini sendiri toh, kakakmu kemana? Ga ikut?" Om David bertanya kepada Aira sambil menggerakkan kepalanya menengok ke arah pintu aula.


"Iya om aku sendiri aja, kak Nisa ga bisa datang, tadi dia telpon kalau masih ada kegiatan di kampus dan pulangnya agak malam, jadi tadi kak Nisa cuma titip salam sekalian minta maaf ga bisa hadir, dan katanya kalau dia diberi pos yang sesuai kemampuannya dia siap untuk bantu. Lagipula sebenernya tadi aku juga ga mau dateng om, tapi malah dipaksa sama bapak dan diantar sampai depan gerbang aula, katanya disuruh sekalian mewakili kak Nisa" Aira sedikit memberi penjelasan.


Om david pun sedikit tersenyum mendengar ucapan Aira.


"Oh begitu, ya sudah nduk kamu langsung gabung aja ya sama yang lain, silahkan kamu mau duduk dimana, pilih sendiri senyamannya kamu ".


"Iya om terima kasih, sekali lagi maaf ya om aku telat, aku duduk disana aja ya om, permisi" Aira pun mengarahkan ibu jarinya ke salah satu kursi kosong yang berada dekat dinding aula, kemudian membalikan badannya dengan sedikit membungkuk kepada om David. Aira benar-benar menampakkan level kesopanannya yang diatas rata-rata, karena dengan situasi kondisi di jaman ini, sopan santun menjadi sebuah hal yang langka. Perilaku yang sebenarnya wajib namun mendadak pudar seiring perkembangan teknologi yang seakan meracuni nurani.


Malam ini, Deni dan teman-temannya benar-benar dibuat terpesona oleh Aira, karena gestur kesopanan yang telah ia perlihatkan biasanya hanya mereka lihat di sinetron hidayah.


Aira pun beranjak dari sisi om David dan mulai berjalan menuju tempat duduk yang secara kebetulan berhadapan langsung dengan Deni, posisi yang justru membuat mereka dapat langsung saling menatap tanpa ada satupun sekat yang menghalangi. Deni pun seperti mendapat sebuah berkah, karena dia tau malam ini pasti tidak akan membosankan, semangatnya kini bertambah karena kali ini dia dapat melihat Aira dengan puas, setidaknya sampai pertemuan selesai.


"Tuh Den liat, kalau dateng telat tuh begitu, minta maaf, salim dulu sama om David. Ga kaya lu, udah telat malah nyerocos ga jelas"


Suara Desi tiba-tiba melesat seperti busur panah ke arah telinga Deni, tampaknya Desi ingin kembali memulai peperangan dengan Deni.


Namun anehnya kali ini Deni hanya membalasnya dengan tersenyum, tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya untuk sekedar mempertahankan diri.


"Kenapa lu? Kok diem? Lu ga lagi nahan kentut kan? Wah parah sih lu Den kalau bener sampe lu kentut disini, seisi ruangan bakal modar kena bom biologis dari lu.. hahahahaa.."


Kali ini entah mengapa Desi merasa berada diatas angin melihat Deni yang awalnya gencar menjaili dan membalas dengan banyolannya yang membuat kesal, kini hanya mampu tersenyum tanpa berkata apapun kepada dirinya.


"Oi daki buaya, senyam senyum aja lu, perlu gw ambilin obat nyamuk ga?" Desi benar-benar memanfaatkan keadaan, meskipun ia juga bingung kenapa Deni mendadak kalem cenderung terlalu jaim.


"Hehehe, udah diem lu Des, jangan ganggu gw dulu, mending lu cemilin tuh kue bolu, kalau kurang sekalian itu cemilin gelas aqua, gw ga mau kalau selesai darisini lu main kerumah gw cuma buat ngabisin nasi sama lauk dirumah gw. Saat ini gw lagi fokus menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang ada tepat di depan mata gw" Deni akhirnya membalas ucapan Desi dengan kelakar yang seadanya sambil memandang tajam ke arah wajah Aira. Dia seakan sudah tidak perduli akan kata malu saat mengeluarkan kalimat seperti itu didepan teman-temannya.


Dimas, Desi dan seisi aula pun mendadak mencari arah sudut pandang Deni, dan ternyata pandangan tersebut tepat menuju wajah cantik Aira.


"Dasar sableng lu ya, anak baru udah mau lu bikin senewen juga?"


Desi seperti tidak nyaman saat Deni menatap Aira dengan cara seperti itu.


"Kenapa sih mi? Mimi jangan begitu dong sama pipi, Mimi ga perlu cemburu, pipi kan cuma bilang apa adanya, jangan takut mi, mimi tetep bakpao terbaik papi kok" Senyum jahil Deni pun kembali terkembang.


Sepertinya Deni mulai bisa mengendalikan diri atas kehadiran Aira dan kembali mengeluarkan jurus konyolnya untuk mencairkan suasana.


Aira pun sedikit tersentak, Aira hanya sekilas menatap Desi kemudian Deni, dan sedikit tersenyum tipis kepada keduanya tanpa mengeluarkan sepatah kata, sepertinya ia sadar bahwa dirinya bak "anak baru" yang sedang menjadi sorotan. Dirinya juga masih merasa asing dan aneh dengan tingkah laku mereka. Namun tidak disengaja dirinya terpaku pada satu sosok yang amat familiar di ruangan itu.


"Tiwiiiii...!!" Aira langsung menyapa salah seorang perempuan di deret kursi keempat dari tempat dimana dia duduk.


Tiwi yang sejak tadi sebenarnya juga sudah memperhatikan Aira pun membalas sapaan Aira.


"Hei Aira, nice to see you here dear" Sahut Tiwi.


"Love to see you too Tiwi" Aira membalas sapaan Tiwi.


Tiwi pun sedikit bingung kenapa Aira bisa hadir disini.


"Ra, memangnya kamu sudah ga di asrama?"


"Udah engga Wi, aku sudah lulus dan rencananya aku mau ikut test masuk perguruan tinggi negri di Jakarta" Timpal Aira.


"Wow that's great, jadi kita bisa punya banyak waktu untuk kumpul kaya dulu lagi ya" Tiwi pun sumringah, merasa amat senang bisa kembali berkumpul dengan Aira, sejatinya Aira adalah sahabat kecilnya dulu, sejak kecil mereka sudah sering bermain bersama, dan selama 6tahun mereka adalah teman satu kelas di sekolah dasar, semenjak kelas 1 pun mereka selalu duduk berdampingan, 1 sekolah, 1 kelas, dan jarak rumah mereka pun hanya terpisah 2 rumah saja. Jadi sangat wajar jika mereka begitu akrab. Namun setelah lulus dari sekolah dasar, orang tua Aira memasukkan Aira ke pondok pendidikan Islam mengikuti jejak kakaknya yang telah masuk lebih dahulu. Karena memang background keluarganya yang kental dengan nuansa Islami, mau tidak mau mengharuskan Aira untuk tinggal di asrama, sehingga intensitas pertemuan Tiwi dan Aira pun hanya terjadi ketika Aira bisa mendapat ijin untuk pulang, namun hal tersebut tidak mengurangi kadar persahabatan mereka.


"Aku geser kesana deh Ra, Rian geser dong, kan aku mau deket sahabat aku" ujar Tiwi sambil meminta salah satu temannya bernama Rian untuk beranjak dan bertukar posisi tempat duduk dengannya.


"Siap bu bos, hamba akan segera menyingkir dari kursi ini sesuai permintaan ibu bos" Rian mengiyakan permintaan Tiwi.


"Hahaha, apaan sih lu Yan, lebay lu ah" Tiwi terkekeh mendengar jawaban Rian sambil beranjak dari kursinya menuju sisi sahabatnya.


Seketika Tiwi pun sudah duduk tepat di sebelah Aira, Aira pun menyambut Tiwi dengan senyum disertai sun pipi dan kanan.


"Andai aja gw yang disitu" Deni tiba-tiba berceloteh.


"Jangan harap orang sableng kaya lu bisa deket sama sahabat gw, jaga jarak aman!" Seru Tiwi sambil menjulurkan lidahnya ke arah Deni.


Deni hanya tersenyum melihat tingkah Tiwi, entah mengapa malam ini Deni jadi terlalu banyak tersenyum dibanding membalas candaan teman-temannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 20:45wib, namun agenda rapat masih belum memasuki pembahasan pokok.


"Sudah, sudah, mari kita lanjutkan.


Tiwi, tolong ambilkan kertas rancangan acara ini untuk Aira" om David menyela karena waktu sudah mulai larut.

__ADS_1


"Udah ga usah Wi, biar aku aja yang ambil, kamu duduk manis aja disitu" Aira dengan sigap berdiri dan mengambil kertas itu dari tangan om David.


Sejak dulu Aira memang tidak suka merepotkan orang lain, selama dia mampu untuk melakukannya, maka dia akan lebih senang hati melakukannya sendiri.


Aira telah kembali ke tempat duduknya sambil memegang secarik kertas folio berisi draft acara pelaksanaan HUT RI di tangan kanannya. Dia mulai membacanya secara perlahan, sampai ia terhenti di sebuah point tentang malam seni.


"Sst.. Wi, Ini maksudnya malam seni gimana Wi? Kok ga ada detailnya?" Aira mendekatkan kepalanya kearah Tiwi sambil menunjuk point ke 6 di draft agenda acara.


"Aira sayang, malam seni itu acara sebelum hari H, jadi pelaksanaannya malam hari pada H-1 sebelum HUT RI, diisi oleh penampilan dari adik-adik usia 5-10th, mulai dari Tari Daerah, MD, Theater, Tarik Suara dan Pembacaan Puisi dengan tema kemerdekaan. Nanti dibuatkan mini stage untuk mereka" Tiwi menerangkan kepada sahabatnya itu.


"Oh iya, sebelum acara nanti juga akan ada pawai obornya loh Ra, ga jauh-jauh kok, kita keliling sekitar sini aja sama adik-adik sambil nyanyi-nyanyi lagu kebangsaan biar tambah meriah, biasanya sih start setelah ba'da Isya" Tambah Tiwi.


"Hah, pawai obor? Are you serious dear?" Aira terlihat antusias sekaligus kebingungan.


"Yuph, i'm so serious" Tiwi menegaskan ucapannya.


"That's great!! Aku udah lama banget ga ikut pawai obor, terakhir kali aku ikut dan pegang obor ya diacara persami waktu kita SD dulu, and it's years ago. I really can't wait for it" Aira terlihat sangat bersemangat dan tidak sabar untuk menunggu malam seni tersebut.


"Oke Ra, nanti pas malam seni aku jemput kamu deh, sekalian mau bantu acak-acak kamar kamu" Tiwi menggoda Aira.


Ya, walaupun Aira adalah gadis yang terlihat sangat perfect secara persona, ternyata dibalik itu semua dirinya bukanlah tipe gadis yang rajin untuk membereskan kamarnya. Hal itupun baru diketahui Tiwi saat dirinya berkunjung ke rumah Aira, kebetulan saat itu Aira sedang mendapatkan libur dari asrama dan Aira menghubungi Tiwi untuk datang kerumahnya. Saat itu Tiwi cukup kaget melihat kamar Aira, segala bayangan dirinya akan kamar sahabatnya itu ternyata meleset, Tiwi membayangkan kamar Aira pasti se-sempurna paras sahabatnya itu. Seketika semua mendadak luntur saat dia melewati pintu kamar Aira, saat itu Aira melihat kertas, buku dan lain-lain tercecer ditempat yang tidak seharusnya.


Aira yang melihat ekspresi wajah Tiwi pada saat itu malah tertawa lepas sambil berkata "hahaha, now you see, that nobody's perfect, including me". Tiwi pun akhirnya tersenyum dan ikut tertawa mendengar ucapan Aira.


"Kalau kamu mau bantu beresin aku ijinin masuk kamarku, tapi kalau cuma mau bantu buat kamarku keliatan semakin seperti kapal pecah, ga perlu repot-repot deh Wi, aku sudah sangat expert, hahaha" Bisik Aira ke telinga Tiwi, dan Tiwi pun hanya terkekeh mendengar bisikan sahabatnya itu.


Deni yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua pun penasaran, kenapa mereka terlihat sibuk sendiri dengan obrolan mereka, sebenarnya apa yang mereka perbincangkan sampai harus saling berbisik.


"Wi, kalau ada yang ga jelas tanya di depan forum jangan cuma bisik-bisik, dan kalau mau ngerumpi ditahan dulu sampe ini selesai" Suara Deni terdengar dari arah depan tepat menegur Tiwi.


"Apaan sih lu Den, ga usah kepo deh sama urusan perempuan" Balas Tiwi singkat.


Aira pun merasa tidak enak hati karena sejak tadi dirinyalah yang mengajak Tiwi untuk berbicara.


"Maaf, bukan salah Tiwi kok, aku nanya malam seni itu apa" Aira menyela, memberi pembelaan untuk Tiwi.


"Yailah Ra, Deni ga usah di dengerin, nanti kalau kamu udah tau dia kaya gimana juga nyesel, dia itu cowo paling nyebelin sejagad. Ini aja sebenernya dia kurang kerjaan aja pake negur aku" Tiwi seakan menyesalkan pembelaan yang diberikan Aira.


"Tapi kan Wi.." Tiwi segera memegang tangan Aira sambil tersenyum, memberi tanda bahwa everything is gonna be alright.


"Eh Den, caper amat sih lu, biasanya juga lu bodo amat kalau ada yang ngobrol, kenapa sekarang ada Aira lu belagak aware. Aira ini sahabat gw, jangan macem-macem lu sama dia, kalau engga nanti gw aduin ke nyokap lu mau?" Ancam Tiwi sambil meninggikan suaranya.


Tapi ternyata itu adalah sebuah awal petaka bagi Tiwi, Deni menarik napas panjang kemudian melepaskannya kemudian mengubah sikap duduknya menjadi lebih serius...


Raut wajah Deni pun benar-benar serius.


"Oke gw ulang ya, terutama buat lu Hartiwi Sastra Wijaya, siapa tau lu emang bener kena amnesia dadakan.


Gw, susah payah minta ijin ke ortu kalian, sampe gw siap kehilangan nama baik gw cuma buat kalian para perempuan yang cantiknya merasa setara Luna Maya agar bisa ikut pertemuan ini, dengan catatan kalian para perempuan harus sampai dirumah jam 22:00 teng, kalau kalian sampe pulang lewat dari jam itu gw harus terima resiko dicaci maki sama ortu kalian karena dianggap ingkar janji dan lu pasti tau kan kalau orang udah dapat stigma negatif dari para orang tua itu akibatnya bagaimana!


Dan gw itu berjanji didepan kalian yang didampingi ortu kalian untuk menyanggupi syarat itu, masa lu ga tau sih kalau janji itu sama aja hutang.


Gw sampe memberanikan diri datang ke rumah kalian memohon ijin langsung ke ortu kalian itu bukan mau ngajak kalian nongkrong ga jelas. Niat gw simpel, gw mau forum ini menjadi ajang silaturahmi, diskusi, dan bisa jadi wadah yang bermanfaat untuk lingkungan. Contoh sederhananya kaya lu sekarang, udah lama ga ketemu sama Aira sekarang bisa ketemu Aira, gw dan yang lain yang belum kenal Aira bisa kenal Aira, dan mungkin bisa jadi bonus buat yang jomblo bisa dapat jodoh disini.


That simple!! Gw ga berharap lebih, gw juga ga mau jadi dikenal sama banyak orang karena berhasil ngumpulin kalian semua disini, gw cuma mau kita semua bisa saling jaga silaturahmi. Jadi gw memohon dengan sangat, dan ini berlaku ga cuma buat lu, tapi buat semua, dan tentunya berlaku juga buat gw pribadi.


Kalau memang ga tau dan ada yang mau ditanya jangan cuma diem, tanya aja, nanya itu gratis, jangan cuma bisik-bisik, kalau malam ini terlalu banyak anggota yang diam dan sibuk dengan dunianya sendiri, dan terjadi pengulangan penjelasan atau pertanyaan, limit durasi yang cuma available selama 2 jam ga akan cukup. Mungkin lu berpikir kalau lu pulang lewat dari jam 22:00 kemarahan ortu lu ke elu itu ga ada urusannya sama gw, lu salah!!


Gw pasti bakal kena juga, udah di dunia gw kena damprat ortu lu, di catatan akhirat gw juga kena karena ingkar janji, lu mikir sampe kesitu ga Wi?


Satu lagi nih, ini yang paling penting dan harus lu tanem di otak lu, segala sesuatu yang gw lakukan itu tanggung jawab gw pribadi, ga ada hubungannya sama orang tua gw, jadi ga usah ngancem-ngancem gw ala anak SD abis rebutan permen" Seketika itu Deni berubah menjadi sangat serius dengan setiap perkataannya, apalagi kali ini dia memberi penekanan kata yang dalam di setiap kalimat yang ia ucapkan. Deni memang sedikit sensitif apabila ada yang menyangkut pautkan orang tuanya pada hal yang tidak mereka ketahui, apalagi saat ini yang berkumpul di aula tersebut sudah terbilang masuk kategori dewasa yang menurutnya sudah sangat tidak pantas melakukan counter dengan cara anak kecil.


"Udah Den, kalem.." Dimas berusaha menurunkan ketegangan yang terjadi, karena dia paham betul reaksi sahabatnya itu, apabila ada hal yang disangkut pautkan dengan orang tuanya, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Karena dulu Dimas pun sempat terlibat adu fisik dengan Deni karena dirinya pada saat itu belum mengetahui jika Deni adalah orang yang sangat sensitif jika ada hal pribadinya dikaitkan dengan keluarganya.


"Gpp Dim, lu tau gw gimana kan, gw paling ga suka orang sangkut-pautin apalagi sok ngancem-ngancem gw pake orang tua atas apa yang gw lakuin, jangan bersikap kaya anak umur 6-10th, kita semua disini mayoritas sudah 21th. Walaupun tanpa kalian bilang, gw sadar mayoritas dari kalian anggap gw begajulan, tapi satu hal.. Pernah ga kalian yang ada disini denger gw ngebanyolin kalian bawa-bawa orang tua kalian? Gw masih sangat paham koridor tata krama!! Kalau kalian mau counter, counter secara personal bukan malah bawa-bawa keluarga, it's very cheap!!" Deni menatap Tiwi dengan tajam, raut wajahnya yang biasa terlihat bersahabat kini berubah menjadi sangat dingin, dia benar-benar memberi penekanan kepada Tiwi.


"Den udah Den, ga enak ah.. Liat tuh si Aira sedih sohibnya lu cecer terus, lu ga mau kan list haters lu bertambah" Dimas mencoba kembali menenangkan Deni.


"Santai Dim, anggap aja ini pendalaman materi dari gw, ambil baiknya buang buruknya. Selama gw dibenci karena gw menyampaikan hal baik itu lebih baik buat gw, brarti selama ini "kegilaan" gw adalah kewarasan yang terkepung otak-otak kosong.


Daripada gw belagak sok suci tapi ngomongin orang dibelakang ya mending gw omongin sekalian di depan mukanya, temen itu ga cuma siap nerima kesenangan tapi harus siap nerima rasa sakit. Silahkan pakai otak kalian dengan bijak, maaf gw ngomong panjang lebar, tapi gw punya prinsip yang namanya orang tua itu sakral, orang tua itu yang melahirkan dan merawat kalian itu seharusnya dibahagiain dan dilindungi.


Bukan jadi bahan banyolan apalagi dijadiin tameng atas perilaku kalian yang mereka ga tau, huft.." Deni sedikit menarik napas panjang dan menyenderkan badannya ke kursi untuk menenangkan dirinya.


Bibir Tiwi terkunci, dirinya hanya mampu terdiam tertunduk lesu dibombardir oleh ucapan Deni, dia benar-benar sudah tidak sanggup berkata-kata, kesal, sedih, malu, semua tertahan didadanya namun ia tak mampu meluapkannya. Deni benar-benar membuat dadanya merasa sangat sesak sambil menahan air mata yang seakan tertahan di kelopak matanya.


"Ga usah ditahan! Lu kalau mau nangis, nangis aja Wi, nanti malah jadi sakit itu mata lu. Dengan sikap lu sekarang artinya lu udah paham apa maksud omongan gw, lu ga perlu malu, justru dengan terbuka begini kedepannya kita bisa lebih solid."


Deni kembali melanjutkan..


"Dan buat lu Aira, di dalam ruangan ini dan di forum ini lu ga perlu malu, gw yakin diluaran sana lu udah sering ikut organisasi, gw bisa liat dari gestur lu yang ga kaku ada ditengah-tengah kita, cuma mungkin lu gugup aja buat buka topik pembicaraan. Gw minta lu berlakulah seperti biasa lu ngikutin kegiatan organisasi di luar sana.

__ADS_1


Ga usah merasa kalau lu itu baru disini, seisi ruangan ini sudah tau tentang lu, so ga usah merasa asing, semua disini punya porsi dan kedudukan yang sama, ga ada yang punya hak istimewa, disini ga ada junior-senior, semua sama. Kalau sampe ada yang nyoba ngebully atau bikin lu down, lu langsung bilang ke gw, biar orangnya gw kasih siraman rohani.


Dan teruntuk kalian yang gw anggap sebagai temen, sahabat dan keluarga ke-2 gw. Kalau kalian merasa risih dengan kata-kata gw ngomong aja, jangan sampe ngomongin gw dibelakang, karena itu sama aja gw ngebiarin kalian mengurangi dosa gw. Dan gw ga mau itu terjadi, biar gw menghapus dosa-dosa gw dengan amal ibadah gw sendiri" Aira seketika tercengang mendengarnya, apa benar laki-laki yang sedang berbicara ini orang yang menyebalkan.


"Inget Ra, kalau ada yang kurang jelas tanya aja, ga perlu pake acara bisik-bisik sama Tiwi.


Kalau lu mau tau, itu si Tiwi setiap ada kegiatan karang taruna kerjaannya cuma selfie-selfie trus di upload di sosmed pake caption "tugas negara" jadi kesannya dia itu kerja, padahal di sesi lomba pagi hari liat matahari jam 9 pagi muncul juga dia langsung kabur ke bawah tenda.


Jadi percuma lu nanya sama orang yang kerjaannya di lapangan itu 0."


Akhirnya, air mata Tiwi pun terjatuh tepat menimpa tangannya.


Ucapan Deni kali ini menusuk sangat tajam ke dada Tiwi yang sejak tadi menahan sesak, dirinya merasa benar-benar dipermalukan, tapi apa yang dikatakan Deni semuanya adalah fakta yang tak sanggup ia bantah.


Tapi tampaknya ucapan Deni kali ini pun menghujam ke dalam telinga seisi ruangan. Mereka semua terdiam, sangat-sangat paham sekali arah ucapan Deni, karena memang beberapa tahun terakhir semenjak perkembangan teknologi yang mewabah sangat pesat, mereka seakan sangat sibuk memegang gadgetnya sambil berselfie ria. Dan Deni satu-satunya orang yang tidak pernah membawa ponselnya setiap ada kegiatan, karena berapa tahun lalu dia pernah melihat seorang anak peserta pawai obor tertimpa sepeda karena terjatuh, padahal pada saat itu ada panitia didekatnya tapi malah sibuk berselfie. Dia pun marah besar, karena setiap peserta wajib dijaga keamanan dan keselamatannya, sejak saat itu dia pun meminta teman-temannya untuk tidak membawa ponsel disetiap kegiatan yang melibatkan peserta anak-anak agar mereka bisa fokus mengawasi mereka, kurun waktu 1-2th ajakan Deni berhasil di ikuti teman-temannya, karena dia orang pertama yang mencontohkan tidak membawa ponsel disetiap kegiatan sosial. Tapi di tahun seterusnya, beberapa remaja perempuan seakan tidak betah dan kerap membawa ponsel untuk mengabadikan moment yang sayangnya dilakukan secara berlebihan.


Dalam benak Aira, dirinya merasa tidak enak kepada Tiwi, karena sahabatnya itu benar-benar di hujani tempaan secara mental oleh Deni.


Tapi disisi lain, entah mengapa otaknya merasa sangat dapat menerima setiap ucapan Deni, segala hal dan penjelasan yang diucapkan Deni itu masuk akal. Tentang nama kedua orang tua yang harus dijaga, tentang tanggung jawab atas perbuatan diri sendiri, pola pikir yang harus sesuai dengan keadaan, dan yang paling penting di ruangan itu entah mengapa di tempa agar menjadi sebuah ikatan keluarga yang kuat. Aira pun tersenyum kepada Deni.


"Aku salut sama kamu, terlepas kamu yang katanya orang paling ngeselin, semua ucapan kamu masuk akal buatku. Tapi tolong banget maafin Tiwi ya.. dia ga ada maksud kok untuk nyinggung kamu. Habis tadi aku bingung mau nanya ke siapa, dan aku juga baru pertama ikut disini dan aku belum kenal yang lain karena aku lama di asrama, yang aku kenal cuma Tiwi karena kita memang sahabat, jadi ya kupikir biar ga ganggu yang lain kutanya aja ke Tiwi, kan Tiwi juga disebelah aku" Aira mencoba memberi pengertian kepada Deni dengan kembali menunjukkan rasa bersalahnya.


"Hmm oke, nama gw Deni Muhammad Ramadhan, lu bisa panggil gw sayang eh Deni" Tiba-tiba Deni berdiri dan memperkenalkan dirinya.


"Lu ngapain Den? Kumat lu ya?" Desi kaget melihat Deni tiba-tiba memperkenalkan diri secara konyol, padahal seisi ruangan sedang terdiam.


"Lu ga denger Des tadi dia bilang apa? Dia ga kenal kita, buat apa satu ruangan tapi ga saling kenal, so mending sekarang satu per satu dari kita memperkenalkan diri ke Aira, giliran gw udah, silahkan dilanjutkan" Lagi-lagi Deni seakan memberi komando kepada seluruh temannya, dan itu di amini oleh mereka dengan memperkenalkan diri mereka satu per satu.


"Nah masing-masing dari kita disini sudah memperkenalkan diri, sekarang giliran lu, tanpa gw pandu bisa kan?" Deni pun meminta Aira memperkenalkan diri dengan sedikit tersenyum.


"Namaku Fajar Aira Nabila, kalian bisa memanggilku Aira. Rumahku di gang ujung gang III, aku bungsu dari 2 bersaudara, kalian sudah pasti mengenal kakakku jadi tak perlu lagi kujelasin ya dan pasti kalian juga sudah tahu orang tuaku" Aira memperkenalkan dirinya seperti sebuah perkenalan murid baru di sekolah.


"Nomer HP nya kok ga disebutin?" Jiwa konyol Deni sepertinya telah kembali setelah tadi sempat membuat tegang seisi ruangan.


"Kebetulan aku ga punya hp, tapi bapakku punya, kamu mau nomer hp bapakku?" Aira mengatakan hal tersebut sambil sedikit tersenyum menahan tawa.


"Oke kalau begitu, tandanya gw harus dateng langsung kerumah lu buat nemuin calon mertua" Benar sekali, kekonyolan Deni telah kembali, dia seakan telah melupakan ketegangan yang baru saja terjadi.


"Oh boleh kok, main aja kerumahku, nanti aku sampein ke bapak kalau kamu mau ngobrol sama bapak sambil main catur" Ternyata Aira mampu meladeni kelakar Deni dengan cara yang sangat elegan, sampai Deni pun salah tingkah atas perkataan Aira.


"Nah loh, kena comeback lu Den, enak ga? hahaha" Dimas terlihat senang melihat gelagat Deni yang kehabisan kata.


"Ah sial lu bukannya bantuin gw" Deni mengerutkan keningnya.


"Oke Ra, sampein ke bapak kamu calon mertua aku, hari Minggu ini aku main kerumah kamu, jangan lupa kamu siapin yang enak-enak buat manjain lidah aku" Deni seakan mendapat inspirasi dadakan setelah terdiam beberapa detik.


"Oi belalang sembah, ngapain bahasa lu jadi aku kamu? Beneran ngarep lu sama Aira?" Desi kembali mengalihkan perhatian Deni.


"Iya dong, Aira sendiri yang ngundang gw, masa iya undangan VVIP gw tolak, rugi coy!"


Keadaan seakan berubah menjadi 180°, semua ketegangan mencair begitu cepat. Ucapan-ucapan Deni benar-benar membuat Aira terkesima, namun Aira tidak serta merta melupakan sahabatnya, Aira pun merangkul Tiwi yang sejak tadi hanya tertunduk.


"Are you okay dear? Are you mad?" Aira bertanya kepada Tiwi.


"Nope, i'm fine, i just a little bit upset to my self, i forget that yesterday he is begging to my parents so i can be here right now, damn!" Tiwi berujar sambil terbata.


"It's okay dear, kamu ga salah kok, ini cuma salah paham aja" Aira mencoba menenangkan sahabatnya yang terlihat terpukul.


"Nih pake.." Terlihat sebuah tangan menyodorkan sekotak tissue ke hadapan Tiwi.


"Maafin gw ya, gw udah terlampau keras sama lu. Kalau lu mau nampar atau mukul gw, pukul aja nih" Suara Deni tiba-tiba terdengar begitu dekat, ternyata Deni sudah berada tepat di depan Tiwi dan Aira sambil menyodorkan sekotak tissue agar Tiwi bisa menyeka air matanya, tak lupa Deni medekatkan pipinya untuk ditampar atau dipukul. Tiwi dan Aira pun terkejut, mereka sama sekali tidak menyangka Deni akan melakukan hal tersebut.


"Ga usah Den, i'm okay now" Ujar Tiwi sendu.


"Jangan bilang oke kalau di bathin lu masih ada yang ganjel, luapin semuanya sekarang atau tidak sama sekali" Deni masih mendekatkan pipi kanannya bersiap menerima tamparan atau bahkan pukulan Tiwi.


"Bener kok gw udah gapapa" Tiwi terlihat sudah sedikit tenang.


Tiba-tiba Deni menarik tangan kanan Tiwi, kemudian mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Tiwi.


"Sekali lagi, gw minta maaf, gw gagal menahan diri, tapi gw tetap pada penawaran gw, kalau lu berubah pikiran dan mau mukul gw kabari aja, hal yang manusiawi kalau lu kesal dan marah sama gw, gw siap menerima konsekuensi atas kekesalan lu malam ini so lu ga perlu segan atau takut, atau kalau lu perlu bahu buat lu melepas kesedihannya lu yang selama ini masih menjomblo, kaya slogan klinik di komplek Asri, gw siap 24 jam melayani"


"dasar orang gilaaaaa, udah sana balik ke habitat luuu.. lagipula bisa ga sih lu tuh ga usah so imut depan gueeeeee..." Tiwi pun seketika luluh, dia sedikit tersipu lalu tersenyum, melepaskan kaitan jarinya perlahan sambil memukul pelan tangan Deni. Ia pun berpikir wanita mana yang tidak akan luluh diberi perhatian seperti itu disaat dirinya sedang down.


Malam itu Tiwi benar benar merasa mendapatkan sebuah kehancuran namun sekaligus mendapatkan sebuah kehangatan yang belum pernah dia rasakan.


Di sebelahnya, Aira hanya tertegun, merasa benar-benar aneh atas kejadian yang terjadi tepat di depan matanya. Dia seperti menonton sebuah adegan dramatis sebuah film di cinema, sungguh malam yang sangat di luar ekspektasi baginya.


Deni pun telah kembali ke posisinya, membiarkan Tiwi untuk menenangkan diri.


Dan Aira, meski terlihat masih sedikit kikuk namun seiring detik waktu yang berjalan, sepertinya Aira sudah dapat membaur ke dalam ruang lingkup barunya, sedikit tawa sudah mulai keluar dari dirinya, senyumnya pun berkali-kali terukir dari bibirnya yang tipis, karena kini dia menyadari bahwa dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyenangkan.

__ADS_1


Pertemuan itu berlanjut, waktu tepat menunjukkan pukul 21:40, akhirnya pertemuan pun telah selesai dengan segala pembahasan tentang HUT RI, tidak ada kendala yang berarti meski sempat terjadi sedikit ketegangan antara Deni dan Tiwi namun semua berjalan dengan lancar, pembagian tugas pun sudah terbagi, masing-masing anggota memiliki porsi dan perannya masing-masing dalam pelaksanaannya nanti. Pertemuan itu pun telah ditutup oleh om David, dan satu per satu dari mereka melangkah meninggalkan aula.


Khusus bagi Aira, malam ini merupakan sebuah lembaran baru untuk dirinya, karena tak disangka dia bisa menemui satu sosok yang sangat menarik dalam hidupnya.


__ADS_2