
Tak biasanya pagi itu Silfa tampak tak bersemangat. Ajakan Bagas semalam menyiratkan sebuah perasaan aneh yang menjalari seluruh pikirannya. Menimbulkan sebuah perasaan tak pasti yang tiba-tiba mencuat di dalam hati gadis itu.
Entahlah, dia pun tak tahu perasaan macam apa yang kini tengah menderanya. Bahagia? Sepertinya bukan. Sedih? Ah, entahlah ... yang jelas sebuah perasaan yang membuatnya tak bisa memejamkan matanya seketik pun tadi malam. Jenny. Ada apakah dengan gadis itu?
"Kamu sudah bangun?" tanya Ambu yang sudah mulai sibuk dengan berbagai aktivitasnya meski waktu masih menunjukkan dini hari.
Silfa mengangguk dan tersenyum pada Ambunya. Tak berapa lama, dia pun bangkit dan memeluk ibunya dari belakang. Iya, dia sangat suka bermanja-manja seperti ini pada ibunya.
"Ada apa? Apa ada masalah?" kata Ambu membiarkan anaknya bermanja padanya.
Gadis itu menggeleng, tanpa beranjak dari posisinya. Membiarkan dirinya meregup ketenangan yang dipancarkan dari aura sang ibu.
"Ambu, hari ini Ifa gak bantu Ambu dulu ya? Ada sedikit urusan yang harus Ifa lakukan." Gadis itu meminta izin.
"Iya gak apa-apa. Pergilah!" kata Ambu tanpa meminta penjelasan dari putrinya itu. Begitulah Ambu. Dia sangat percaya putrinya. Dia yakin apa yang putrinya lakukan adalah kegiatan yang positif. Keputusan yang diambil putrinya pun adalah keputusan terbaik yang pasti akan selalu didukungnya.
Silfa melepaskan pelukannya dan duduk di sofa ditemani Ambu. "Ifa akan pergi dengan Bagas." Gadis itu menginformasikan. "Ada sesuatu yang akan kami bicarakan terkait Jenny," lanjutnya.
Ambu mengangguk. Dalam hati dia masih berharap kalau Jenny benar-benar anaknya yang hilang. Meski kata Silfa, Jenny tak punya tanda lahir seperti Silfi di kakinya, setidaknya dia masih berharap lebih ketika Silfa memberi tahu kalau tanda lahir itu bisa saja dihilangkan oleh kecanggihan dunia kecantikan masa kini.
Entah mengapa, meski hanya sekali saja dirinya bertemu dengan gadis itu, dia sungguh merasa gadis cantik yang mirip Silfa itu benar-benar Silfi, anaknya yang hilang.
...
Sinar matahari sudah terasa hangat menyentuh kulit pemuda keturunan Turki-Indonesia itu. Kini dia berdiri di depan rumah Silfa. Menunggunya. Sesekali dia melihat benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Hey, sudah lama?" tanya Silfa yang baru keluar dari rumahnya. Hari ini dia tampak cantik. Ah memang setiap hari dia selalu cantik. Tapi yang membedakannya kali ini apa, ya? Pemuda itu pun penasaran. Mungkin benda kecil yang menempel di rambutnya itu?
"Gak apa-apa. Saya hanya tak bisa tidur saja semalam," kata pemuda itu.
Bagas membukakan pintu mobilnya untuk Silfa. "Ayo!" ajaknya.
"Ah, terima kasih." Silfa melangkah menuju pintu mobil yang sudah terbuka, kemudian dia menghentikan langkahnya, "Eeeem, lain kali kamu gak usah repot-repot bukain pintu buat aku segala. Aku jadi gak enak." Gadis itu tersenyum dan masuk dengan segera.
"Gak apa-apa. Saya senang melakukannya," jawab Bagas santai.
Bagas menutup pintu mobilnya, beranjak masuk dan duduk di depan kemudi mobilnya. Lelaki itu menghadap ke arah gadis di sebelahnya. Dia terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu.
Mobil Bagas kini sudah mulai melaju ke suatu tempat menuju ke arah utara. Membelah suasana kota Bandung yang mulai ramai. Suasana di antara mereka sangat sepi, mereka hanya diam dengan pikirannya masing-masing.
Satu jam setengah dari itu mereka pun sampai di sebuah tempat di kawasan Bandung Utara. Udara dingin juga sejuknya pagi hari masih bisa mereka rasakan. Beberapa derajat lebih rendah dibanding tempat tinggal mereka di kota Bandung.
__ADS_1
Perkebunan Teh, hijau terbentang di hadapan mereka. Sesekali mereka menyaksikan para pemetik teh bekerja dengan giat. Tampak timbul tenggelam di lautan hijau perkebunan teh itu.
Suasana kedua insan itu masih terasa sepi. Tak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif memulai percakapan.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ...
Ada panggilan masuk ke HP Silfa. Gadis itu meraih HP-nya dan menggeser layarnya ke atas. Menerima panggilan tersebut.
"Ya, cantik?" Silfa menyapa orang yang meneleponnya.
"Lu, dimana baby?" tanya seseorang di seberang sana.
"Ah, gua lagi di Lembang," jawabnya singkat.
"Wiiih ... gak ngajak-ngajak yah lu ... Sama siapa ke sananya?"
"Lah elu juga masih di Korsel. Hmmm ... gua sama Bagas," kata Silfa jujur.
"Nani? Kalian pergi berdua? Nge-date gitu?"
"Apaan sih? Gua lagi ada sedikit urusan sama Bagas. Ada yang harus kami bicarakan terkait Jenny." Silfa sedikit menjauh dari Bagas. Dia bisa malu kalau sampai Bagas mendengar ocehan Susan yang mengatai mereka yang pergi nge-date.
"Iiiih jangan ngawur deh ..., udah ah ngomongin guanya ... oh iya, lu apa apa telpon gua?" Silfa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hehehe, gua mau pulang nih. Lu mau apa buat oleh-oleh?"
"Bawain Chaneyol aja!" kata gadis itu bercanda.
"Iiiih, gak boleh ... nanti bebeb Chan kecantol sama elu lagi. Gak rela."
"Hehe.. mana bisa? Ya udah terserah lu aja deh... Bawain Dio juga gua seneng."
"Ah lu mah, entar rebutan lagi sama Yayu. Ya udah deh... Terserah gue aja ya kalau begitu. Silahkan lanjutkan ngedate kalian, baby, muah," kata Susan sambil menutup sambungan telpon mereka.
Silfa mendekat ke arah Bagas kembali. "Ah, maaf. Tadi Susan yang menelepon."
Bagas mengangguk dan kembali dalam kebisuannya.
"Hmmm, gimana sih ini? Kok gua jadi ngerasa kakuk begini? Bagas juga gak biasanya jadi sangat diam begini," batin gadis itu.
"O, iya .... Bagaimana dengan kita? Maksudku pembicaraan kita tentang Jenny? Ada apa dengan gadis itu?"
__ADS_1
Bagas masih diam. Dia sangat bingung memulai percakapan dengan gadis di hadapannya ini. Dia menatap Silfa dalam kemudian beralih mengedarkan pandangannya ke tengah perkebunan teh. Nampak sebuah tatap sendu dari sorotan matanya yang menyiratkan kesedihan.
"Ah, maaf. Aku terlalu banyak bertanya," katanya sedikit merasa bersalah. "Hmmm, apa kau sedang ada masalah?" tanya Silfa saat melihat raut muka Bagas yang nampak sedikit tak biasanya.
Huuuh ... pemuda itu menghembuskan nafas berat. "Saya diminta pulang ke Malaysia minggu ini. Apa kau mau ikut?"
Silfa sedikit mengernyitkan alisnya. Mencoba mencerna kata-kata Bagas yang nampak menyiratkan makna lain dalam kalimatnya barusan.
"Ayahku, memintaku untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin kulakukan. Kalau aku tak menurut maka dia tak akan segan melakukan apa pun yang akan membuatku menurut padanya."
Silfa menatapnya, tanpa berani menyela perkataan pemuda itu. Dia berharap Bagas bisa sedikit tenang jika bisa berbagi dengannya.
"Kau tahu permintaan ayah, ku?" Bagas kembali menatap gadis di hadapannya.
Silfa menggeleng. Menanti kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Bagas.
"Jenny. Aku diminta bertunangan dengannya. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"
Mata Silfa tiba-tiba jadi tidak fokus. Pikirannya melayang. Dia seolah mendengar sebuah kabar duka yang menyayat hati. Sebuah perasaan aneh muncul di hatinya. Sedih. Ya, dia benar-benar sedih. Orang yang ada di hadapannya ini sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Menjadi milik orang yang dia harapkan sebagai sodaranya yang hilang.
Gadis itu segera memalingkan wajahnya. Dia merasa ada sesuatu yang memaksa keluar dari sela-sela kelopak matanya. Dia bangkit dan menghirup udara Lembang yang segar cukup dalam.
Setelah dia bisa mengendalikan dirinya dia kembali menghadap Bagas, dan tersenyum manis pada pemuda itu. Mungkin itu sebuah senyum yang dipaksakan tapi setidaknya dia tak boleh terlihat kecewa di depan Bagas. Apa haknya untuk kecewa? Bagas bukan miliknya? Lelaki ini hanya manusia bebas yang berhak menentukan pilihannya sendiri. Dia tak ada hubungan apa pun dengannya yang membuat dia harus merasa kecewa padanya.
"Selamat," kata Silfa memberi selamat. Tangannya dia ulurkan sebagai ucapan bahagia.
Bagas menatap Silfa dalam. Kemudian menyambut uluran tangan gadis itu. Lama. Cukup lama. Hingga akhirnya dia tidak bisa menahannya lagi. Dia menarik lengan gadis itu agar lebih dekat padanya. Kemudian memeluknya.
Silfa sedikit bingung dengan situasi yang dia hadapi saat ini. Dia sedikit meronta mencoba melepaskan diri dari pelukan Bagas. Tapi sayang. Semakin dia meronta, pemuda itu semakin mempererat pelukannya.
"Kamu jangan bergerak. Biarkan saya melakukan ini beberapa menit lagi."
Silfa pun pasrah. Dia tak meronta lagi. Dia membiarkan pemuda itu supaya sedikit lebih tenang. "Apa Bagas tak mau bertunangan dengan Jenny? Bagaimana mungkin?"
Sejenak gadis itu bisa merasakan hangatnya pelukan Bagas dan bau sampo pemuda itu yang benar-benar wangi. Membuatnya sedikit bahagia. "E-eh, bagaimana ini? Kenapa gua begini? Aduh ... Bukan gua tidak suka dia melakukan ini. Apa berarti gua suka? Tidak ... tidak ... tidak. Lu bercanda Ifa. Lu gak boleh suka. Hal ini tak pantas dilakukan oleh dua orang yang bukan pasangan," batinnya mengingatkan.
"Kamu tahu? Yang aku suka buka Jenny tapi kamu, Silfa. Ikutilah dengan ku ke Malaysia."
"A-apa?" Silfa seolah mendengar sesuatu yang indah, sejuk dan penuh ketenangan. "Dia beneran suka sama gua? Apa gua gak salah denger barusan dia bilang suka sama gua?" Namun seketika dia pun sadar situasinya. "Ini tidak benar," pikirnya.
Bersambung ...
__ADS_1