
Dilain tempat, Genan yang sudah sampai di rumah bersama ibu tirinya, pun bergegas masuk ke dalam rumah. Kemudian, Genan membuka kopernya yang berisi uang.
Betapa terkejutnya saat melihat jumlah uang yang begitu banyak, dan juga dengan selembaran kertas.
"Kau dan aku impas." Ucap Genan saat membaca tulisan yang ada pada selembaran kertas putih.
Saat itu juga, Genan langsung mengepal kuat hingga kertas tersebut berubah menjadi kusut.
"Apa kataku, Genan. Bahwa kita akan berhasil menyingkirkan Alena dengan mudah, bukan?"
Genan melirik ke arah ibu tirinya Alena bernama Maya, dan ia menyeringai.
"Aku tidak butuh uang ini, ambil saja jika anda mau. Tugasku sudah selesai, juga pembalasanku sudah berakhir. Jadi, aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan anda dalam kasusnya Alena." Ucap Genan dan menyerahkan uang satu koper kepada ibu tirinya Alena.
'Dasar! lelaki bodoh, mau saja kamu ku peralat. Sayangnya kamu tidak tahu kelicikan ku selama ini, dan aku pastikan kamu akan menyesalinya setelah menjual Alena.' Batin ibu tirinya Alena dengan senyumnya yang penuh kelicikan.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau uang ini, aku yang akan menerimanya. Oh ya satu lagi, kita tidak ada hubungan apapun lagi soal Alena, dan kita menganggap semuanya sudah clear, ok."
"Dil!" Jawab Genan dan mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
Ibu tirinya Alena, pun menerima uluran tanya dari Genan.
"Dil." Ucapnya dengan senyuman yang penuh kelicikan.
__ADS_1
Karena tidak ada lagi yang perlu diobrolkan, Genan bergegas pergi dari rumah ayahnya Alena yang kini tengah ditempati oleh ibu tirinya.
Sorak sorai di dalam rumah karena merasa berhasil dengan misinya, ibu tirinya Alena benar-benar sangat puas ketika dirinya mendapatkan uang yang begitu banyak.
"Alena Alena, kamu benar-benar sangat bodoh. Juga, kamu mudah aku manfaatin." Ucapnya lirih penuh strategi.
Lain lagi dengan Genan, tengah berkumpul dengan teman-temannya. dan juga tengah menikmati minumannya.
"Tumben Bro, berani minum banyak kamu ini." Ucap salah seorang teman bergadang.
Genan yang sudah hilang kendali, dirinya terus meracau tidak jelas. Bahkan, Genan masih terus memanggil nama Alena di setiap beberapa menit kemudian.
"Genan, sudah dong minumnya, tidak baik untukmu yang masih sehat." Ucap salah seorang temannya yang merasa khawatir, karena takutnya jauh dari luar ekspetasi.
"Bro! sadar Lu."
"Dia uda mabok berat, cepat kamu bawa ke dalam, tambah makin parah nanti dianya." Timpal yang satunya.
Sedangkan Genan masih terus meracau dan memanggil nama Alena.
"Alena, Alena! dimana Alena? ha!" racau Genan terus memanggilnya.
Sedangkan temannya yang tengah membantu Genan, susah payah memapah tubuhnya yang cukup berat.
__ADS_1
Sampainya di dalam kamar, Genan langsung dijatuhkan di atas tempat tidur. Tidak peduli jika Genan terus berteriak atau apa lah, setidaknya tidak membuat ruangan menjadi berantakan.
Lain lagi dengan Alena, malamnya masih diberi kesempatan untuk istirahat. Sedangkan paginya, Alena sudah bertanggung jawab atas tugasnya untuk merawat ibunya Devan yang mengalami depresi.
"Nona tenang saja, tidak perlu takut di rumah ini." Ucap Arumi sambil menyodorkan selimut untuk Alena.
"Semoga saja ya Mbak, saya benar-benar takut." Jawab Alena sambil menerimanya.
"Ya udah, lebih baik sekarang Nona istirahat." Ucap Arumi.
"Ya Mbak, makasih atas semuanya." Jawab Alena dengan senyumnya yang tipis.
Arumi pun membalas dengan senyuman, dan bergegas keluar dari kamar yang ditempati Alena.
Setelah tidak ada lagi Arumi, Alena bergegas mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang yang mengganggu jam istirahatnya.
Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Alena menatap langit-langit sambil melamun.
"Kak Genan benar-benar jahat, tega sekali dia menjual diriku. Aku tidak akan memaafkan dia, sekalipun orang yang membeli ku orang baik." Gumamnya yang teringat akan perbuatan dari Genan, yang diketahui kakak tirinya.
Karena tidak ingin jam istirahatnya terbuang sia-sia, Alena memilih untuk memejamkan kedua matanya. Ia berharap ketika bangun tidur bukanlah mimpi buruk yang ia dapati, pikirnya.
Rasa kantuk yang tidak lagi bisa untuk ditahan, Alena lambat laun tertidur dengan pulas. Sama halnya dengan Genan, dia juga tidur dengan pulas karena minuman yang ia minum terlalu banyak, hingga membuatnya tidak lagi sadarkan diri.
__ADS_1