Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Pulang dan berangkat lagi


__ADS_3

Selesai memeriksakan ibunya, Devan segera keluar dari ruang pemeriksaan.


Alena yang masih mondar-mandir karena masih memikirkan keadaan ibu tirinya yang dinyatakan kritis, pun sudah tidak sabar untuk bertemu.


"Tut-Tuan," panggil Alena dengan gugup.


"Nanti, sekarang kita antar ibuku pulang dulu. Tidak baik jika kita mengajak ibuku untuk bertemu dengan ibu tirinya, nanti aku yang akan mengantar mu ke rumah sakit ini lagi." Jawab Devan dengan menatapnya serius, dan tidak bisa untuk ditawar menawar atas ucapannya itu.


Alena yang tidak mempunyai pilihan lain, terpaksa harus menuruti ucapan dari bosnya.


"Kenapa harus mengantarkan Mama pulang, Mama akan menemani Alena." Ucap ibunya Devan ikut menimpali.


"Tapi Ma, kita mau ada kepentingan yang lain. Jadi, nanti Mama di rumah ditemani asisten rumah. Tidak apa-apa kan, Ma?"


"Bener ya, jangan marah-marah sama Alena. Dia ini perempuan baik-baik, jangan kamu marahi." Ucap ibunya berpesan.

__ADS_1


Devan mengangguk, tentu saja tidak ingin mendapati ibunya kambuh dan sulit untuk dikendalikan.


"Ya, Ma. Devan tidak akan marah-marah." Jawabnya, meski sebenarnya yang lebih suka marah-marah itu adalah ibunya sendiri.


Namun, sejak kedatangan Alena, seakan berbanding terbalik antara anak dan ibunya. Kini yang lebih suka emosi Devan sendiri, sedangkan ibunya lebih tenang dari pada putranya.


Selama perjalanan menuju rumah, Alena dan ibunya Devan tengah mengobrol. Bahkan, kini lebih banyak tertawanya dari hari sebelumnya.


Devan yang melihat ibunya ada banyak perubahan, pun merasa lega.


'Sebenarnya apa yang membuat Mama bisa akrab begitu sama itu perempuan. Padahal, bertemu juga baru kemarin. Tapi, entah kenapa bisa membuat Mama bisa berubah dan tidak lagi seperti dulu yang suka marah dan juga mengurung diri dalam kamar. Semoga saja, Mama benar-benar sembuh dan tidak lagi kambuh.' Batin Devan yang tengah duduk di bagian paling belakang.


"Ibu yang sabar ya, semua sudah ada takdirnya masing-masing. Kita yang hanya bisa menjalaninya, juga menerima takdir itu." Jawab Alena sambil mengusap punggung tangan majikannya.


"Mungkin kalau masih hidup, besarnya sama seperti mu. Tapi, kenyataannya suami Ibu sudah meninggal bersama wanita lain yang membawa kabur putri Ibu." Ucap ibunya Devan sambil bercerita.

__ADS_1


Devan yang mendengarnya, pun ingin rasanya menyudahi obrolan ibunya dengan Alena. Takut, jika obrolannya semakin jauh dan sakit ibunya akan kambuh kembali.


"Ma, ngobrolnya nanti lagi ya. Kasihan Pak Arif yang sedang menyetir mobil, takutnya tidak konsentrasi dan bahaya untuk keselamatan kita." Ucap Devan sengaja beralasan, karena memang tidak ingin ibunya akan terhanyut dengan kesedihannya.


"Ya, Mama akan lanjutkan lagi nanti. Maafkan Mama dan Alena yang sudah membuat Pak Arif merasa terganggu." Jawab ibunya.


"Tidak apa-apa, Nyonya." Sahut Pak Arif sambil menyetir mobilnya.


Alena sendiri memilih untuk diam daripada harus ikutan bicara, dan ujungnya hanya akan mendapat protes dari bos laki-lakinya.


Tidak lama kemudian, rupanya sudah sampai di rumah. Dengan hati-hati, Alena membantu majikan perempuan untuk turun dari mobil, dan dibantu juga sama Devan sampai di dalam kamarnya.


Sebelum pergi ke rumah sakit dan ke kantor polisi, Devan memberi pesan kepada asisten rumah untuk menjaga ibunya. Selain itu juga diminta untuk memberinya obat sebelum istirahat.


Setelah tidak ada yang kurang, Devan mengajak Alena untuk pergi ke rumah sakit. Tentu saja untuk menemui ibu tirinya dan melihat kondisinya.

__ADS_1


Selain itu, Alena juga ingin mengetahui masalah yang sebenarnya mengenai ibu tirinya yang mendapat luka yang cukup serius.


Begitu juga dengan Devan, sama halnya menyimpan rasa penasaran dan ingin sekali mengetahui apa motif permasalahan yang sebenarnya. Devan sendiri juga khawatir jika kasus jual beli orang dengan Genan maupun ibu tirinya Alena akan berakhir dibalik jeruji besi. Tentunya membuat Devan gelisah dan juga was-was.


__ADS_2