
Selama perjalanan pulang yang terus melamun, tidak terasa jika mobil pun sudah berhenti di depan rumah.
"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Devan setelah mematikan mobilnya.
Sedangkan salah seorang yang menjadi tugasnya untuk menunggu majikannya pulang, pun langsung menghampiri. Devan menyerahkan kunci mobilnya, dan langsung masuk ke rumah sambil menarik tangannya Alena.
"Tut-Tuan tunggu sebentar." Panggil Alena saat merasa tangannya ditarik oleh Devan.
"Kenapa?"
"Aku bisa jalan sendiri." Jawab Alena sambil memperhatikan tangannya yang tengah digandeng bosnya.
Devan yang menyadarinya, pun langsung melepaskan tangannya.
"Malam ini kamu tidur di kamar tamu, jangan mengganggu ibuku tidur." Ucap Devan yang tidak ingin ibunya terganggu saat sedang istirahat.
Alena menganggukkan kepalanya, dan masuk ke ruang tamu yang sudah ditunjuk sama Devan.
Sedangkan tempat lain, Genan terbangun dari tidurnya yang baru saja terpejam kedua matanya, dan kini dirinya terbangun dengan kesadarannya.
"Alena, Alena ...!" panggil Genan cukup lantang pada panggilannya yang terakhir.
"Kamu kenapa lagi?" tanya seseorang yang ikutan terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, entah kenapa aku sangat khawatir dengan adik perempuan ku." Jawab Genan dengan napasnya yang terengah-engah.
"Bersabarlah, besok kamu sudah dibebaskan. Jadi, kamu tidak perlu begitu cemas. Sudahlah, lebih baik kamu istirahat lagi. Jaga kesehatan kamu, semoga besok kamu benar-benar keluar dari tempat terkutuk ini." Ucapnya berusaha untuk menyemangati.
Genan mengangguk sambil membenarkan posisinya untuk istirahat hingga pagi hari menyambutnya dengan sinar mentari yang menerobos cela-cela ventilasi ruangan tersebut, dan membangunkan dirinya dari lelapnya tidur panjangnya.
Berbeda dengan Alena yang berada di rumah Devan, pagi-pagi sekali dirinya sudah bangun dan membantu asisten rumah untuk ikut menyiapkan sarapan pagi selagi ibunya Devan belum bangun.
Devan yang kebetulan bangun pagi-pagi, dan langsung menuju dapur, ia mendapati Alena tengah disibukkan untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Devan sambil menuang air minum kedalam gelas.
Alena langsung menoleh ke arah Devan dengan perasaan takut jika dirinya akan mendapatkan marah.
"Maaf, Tuan. Saya sudah melarang Nona Alena untuk tidak membantu membuat sarapan pagi, tapi Nona memaksakan diri untuk melakukannya." Ucap asisten rumah yang takut mendapat marah.
"Tidak apa-apa, ini peringatan terakhir. Lain kali aku tidak mengizinkan kamu untuk melakukan pekerjaan dapur, paham."
Devan langsung memberi peringatan kepada Alena.
"I-iya, Tuan. Maaf." Jawab Alena sambil menunduk.
"Sekarang kamu pergi ke kamar ibuku, cepat."
__ADS_1
"Bab-baik, Tuan." Jawabnya dengan gugup dan langsung pergi ke kamar ibunya Devan.
Sedangkan Devan langsung membuang napasnya dengan kasar.
"Itu yang ada di mangkok masakan apa, Bi?" tanya Devan sambil menunjuk ke arah mangkok yang ditunjuk.
"Oh, itu bubur, Tuan. Tadinya mau membuatkan nasi goreng untuk Tuan dan Nyonya, tapi saya melarangnya, karena Tuan dan Nyonya tidak menyukainya. Jadi, Nona memasak nasi goreng hanya untuknya saja, Tuan.' Jawabnya berterus terang.
Devan yang penasaran dengan nasi goreng buatan Alena, pun langsung duduk dan mencicipinya.
Satu suapan telah dikunyah sambil merasakan cita rasanya. Entah ada angin apa, tiba-tiba Devan begitu menikmati nasi goreng buatan Alena hingga tak tersisa lagi satu butir nasi pun.
Asisten rumah yang tengah memperhatikan majikannya makan dengan lahapnya, pun sangat terkejut. Selama bekerja di rumah bosnya, selalu mendapat larangan untuk membuat sarapan pagi dengan nasi goreng. Tapi kini justru sangat menikmatinya, sampai lupa jika selalu menolak ketika dibuatkan nasi goreng.
'Katanya tidak menyukai nasi goreng, tapi itu nasi gorengnya Nona Alena kenapa dihabiskan?' batinnya penuh bertanya-tanya.
"Maaf Tuan, katanya tidak menyukai nasi goreng, kenapa bisa habis satu piring, Tuan?".
"Itu kan dulu, sekarang aku suka makan nasi goreng, kenapa?"
"Tidak apa-apa, Tuan. Terus itu buburnya gimana, Tuan?"
"Buat Alena." Jawabnya padat, singkat, dan jelas. Juga, Devan sendiri langsung kembali ke kamarnya.
__ADS_1
'Kayanya gak suka, sekarang suka. Jangan-jangan Tuan juga menyukai Nona Alena, cuma gengsi aja. Mana ada sih lelaki jomblo yang mau bertahan ke jombloannya, itu sangat mustahil jika mengabaikan wanita cantik seperti Nona Alena.' Batinnya dan langsung membereskan piring kotornya.