
Di lain sisi, Alena yang tengah membersihkan diri di kamarnya, pun terus kepikiran atas permintaan ibunya Devan yang tengah meminta dirinya untuk menikah.
"Andai saja Kak Genan dapat menolongku, tapi itu tidak akan mungkin. Mana bisa aku melukai hati seorang ibu yang menginginkan bahagia ketika melihat putranya menikah, sedangkan anak sendiri entah bisa menerima atau tidaknya." Gumam Alena sambil berdiri di depan cermin ketika dirinya selesai mengenakan baju ganti.
Berbeda dengan Devan, dirinya tidak mempunyai beban apapun mengenai permintaan ibunya. Tetap saja bersikap biasa-biasa saja, dan seolah dirinya tidak mempermasalahkannya.
"Jika memang kebahagiaan Mama adalah memintaku menikah, maka aku tidak akan mengeluh. Tapi, jika permintaan Mama rupanya tidak membuatnya bahagia, maka aku tidak segan segan untuk menyingkirkan perempuan itu." Gumamnya sambil menyibukkan diri dengan laptopnya.
Genan yang tengah sibuk dengan pekerjaan ilegalnya, pun tidak ada rasa takut ataupun kapok sedikitpun.
Saat itu juga, suara dering telpon tengah mengagetkannya.
"Baiklah, nanti malam aku akan datang bersama Genan. Siapkan segalanya, dan jangan sampai ada yang kurang." Ucap Devan dalam sambungan teleponnya.
__ADS_1
Setelah itu, Devan langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Tanpa sepengetahuan ibunya, Devan tidak berpikir panjang jika dirinya akan berakhir dibalik jeruji besi. Tentu saja sangat mengkhawatirkan atas kesehatan ibunya.
"Kamu mau kemana, Dev?" tanya ibunya yang memergoki.
Devan langsung menghampiri ibunya.
"Devan mau menemui teman Devan, Ma. Cuma sebentar kok, nanti juga langsung pulang. Mama tidak perlu khawatir, ada Alena yang akan menemani Mama. Jadi, Devan harus pergi dulu, gak apa-apa kan, Ma?"
"Ya, Ma. Mama tenang saja, Devan akan segera pulang. Besok malam Devan ajak Mama dan Alena makan malam di restoran."
"Ya, terserah kamu. Yang terpenting kamu harus hati-hati ketika keluar rumah. Karena hari apes tidak melihat kalender, ngerti."
__ADS_1
Devan pun tersenyum saat mendapati ibunya bisa bergurau. Kemudian, Devan segera bergegas pergi meninggalkan ibunya di rumah.
Alena yang melihat perubahan ibunya Devan, pun tersenyum bahagia. Entah karena kehadirannya, atau memang keajaiban atas kesembuhannya.
Devan yang tengah dalam perjalanan menuju rumah Genan, pun menambahkan kecepatannya agar segera sampai. Yakni, dirinya ada kesepakatan dengan seseorang mengenai perdagangannya.
"Aku tidak boleh mengabaikan kesempatan ini, mau tidak mau Genan harus ikut." Gumamnya sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli baginya meski banyaknya kendaraan yang lalu lalang dengan arah yang saling berlawanan.
Sedangkan Genan yang baru saja sampai rumah, pun duduk bersandar di ruang keluarga. Kelegaan yang telah puas ia lakukan, namun ada rasa sedihnya ketika harus berakhir dengan kesedihan.
"Semua sudah takdir, kita tidak bisa berbuat apa-apa, semua telah terjadi." Ucap ibunya sambil mengusap punggung putranya.
Genan menoleh dan mengangguk.
__ADS_1
"Kasihan Alena, Ma. Ternyata selama ini dirinya dibesarkan oleh seseorang pemb_unuh kedua orang tuanya sendiri. Hatinya pasti sangat hancur, lebih lagi denganku. Seorang kakak macam apa aku ini, Ma. Aku begitu kejam karena sudah menjualnya." Jawab Genan yang merasa bersalah.
Genan yang memang tidak tahu latar belakang keluarganya Devan, dirinya menganggap bukan laki-laki baik. Bahkan, dirinya pun tak mengetahui jika ibunya Devan mengalami depresi. Dibalik pekerjaan Devan dan kejamnya dia, ada sosok hati yang lembut kepada ibunya.