
Setelah anak buahnya datang dengan membawa bukti, langsung menyerahkannya pada polisi.
"Ini buktinya Pak, semoga dengan bukti ini bisa mengungkapkan kasus Tuan Genan yang sebenarnya. Juga, saya berharap untuk mengusut tuntas tentang kasus yang sedang menimpa Tuan Genan bersama ibunya." Ucapnya.
"Baik, saya akan melihat buktinya terlebih dahulu. Jika memang buktinya dapat kita dijadikan alat bukti, maka kami akan memproses kasusnya. Tapi, jika buktinya hanya sebuah rekayasa, jangan harap kalian akan kami percaya." Jawab Pak polisi.
"Ya Pak, kami siap menerima keputusan dari Pak Polisi." Ucapnya.
Setelah itu, bukti yang sudah ada ditangan Pak polisi, pun segera dilihatnya.
Sedangkan ibunya tengah menyimpan rasa penasaran, juga sudah tidak sabar untuk melihat dan mendengarkannya.
"Mama tenang saja, dan tidak perlu khawatir. Karena bukti yang akan Mama lihat, akan terdengar jelas, juga bakal terlihat begitu sangat jelas." Ucap Genan mencoba untuk meyakinkan ibunya.
"Mama percaya sama kamu, dan akan mendengarkan rekaman video dengan jelas tanpa ada suara yang mengganggu." Jawab ibunya.
Karena semua tidak ada yang sabar untuk melihat serta mendengar barang bukti yang dimiliki Genan, segera memutar durasi video tersebut lewat sebuah laptop.
__ADS_1
Semua mengarahkan pandangannya pada laptop yang sedang dioperasikan oleh polisi. Dengan seksama dan juga fokus, semuanya benar-benar tidak ada yang mengabaikannya.
Dari durasi pertama hingga berlanjut dalam rekaman video di tempat dimana Genan melakukan niatnya untuk mencelakai ibu tirinya Alena, semua benar benar sangat terkejut ketika mendengar pembicaraan antara ibu tirinya Alena dengan teman-temannya.
Sungguh benar-benar tidak menyangkalnya jika sosok yang bernama Maya begitu jelas saat berucap. Meski terganggu dengan suara musik yang begitu memekikkan gendang telinga, tetap didengar dengan seksama dan juga sangat teliti pada setiap kalimatnya yang terucap.
Lebih lagi dengan ibunya Genan, benar-benar sangat terkejut mendengar pengakuan ibu tirinya Alena secara terang-terangan.
Karena wajah dan juga nama yang sama sekali tidak dikenalinya, ibunya Devan benar-benar sulit untuk menebaknya.
"Ya Ma, dan aku sudah--"
"Sudah apa, Nak?" tanya ibunya yang langsung menyambar ucapan dari putranya.
Genan menarik napasnya panjang, dan membuangnya lewat hidungnya.
"Katakan sama Mama, jangan bilang kalau kamu berpacaran dengannya."
__ADS_1
Genan menggelengkan kepalanya, karena tidak mungkin juga jika dirinya mengaku telah menjualnya, tentu saja kasusnya akan terus merambat dan mencari pelakunya, yakni Devan.
"Tidak Ma, tapi Genan sudah kenal." Jawab Genan dengan jujur, meski ada kesalahan besar pada dirinya yang sudah menjual adik kandungnya sendiri.
"Cukup, kami akan memproses bukti ini dan kita akan dijadikan bukti untuk kedepannya." Ucap seorang polisi.
"Baik, Pak." Jawab Genan dan ibunya.
Setelah dirasa tidak ada yang perlu untuk diinterogasi, ibunya bersama Genan akhirnya harus terpisah lagi ketika tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan.
Di lain sisi, Alena tengah ditemani Devan di rumah sakit untuk menjenguk dan melihat kondisinya.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Ucap Devan sambil melepaskan sabuk pengaman.
Alena yang benar-benar sudah tidak sabar, pun segera keluar dan masuk ke dalam rumah sakit bersama Devan dengan langkah kakinya yang begitu gesit.
Rasa yang sudah tidak sabar untuk melihatnya, pun segera menuju ruang rawat ibu tirinya.
__ADS_1