Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Bebas


__ADS_3

Alena yang mendapat pertanyaan yang begitu susah untuk menjawabnya, pun kembali menatap Devan. Yakni, dirinya meminta pendapatnya.


Lagi-lagi Devan kembali mengangguk, tentunya ia memikirkan kesehatan ibunya yang paling utama. Soal pernikahan, dirinya dapat dipikirkan kembali, pikir Devan.


"Alena terserah Tuan Devan, Bu. Jika Tuan bersedia, maka Alena juga bersedia. Asal Ibu bahagia, Alena tidak mengapa. Yang penting kesehatan Ibu akan terus membaik, itu sudah lebih dari cukup bagi kami berdua, Bu." Ucap Alena yang akhirnya mengiyakan atas kemauan ibunya Devan.


"Nah, begini kan adem didengar. Pokoknya persiapan pernikahan kalian diwaktu dekat ini, tidak boleh menolak." Kata ibunya Devan yang terlihat bahagia.


Devan langsung memeluk ibunya.


"Devan tidak mempunyai siapa-siapa selain Mama, kebahagiaan Mama adalah kebahagiaan Devan juga. Jika memang yang Mama inginkan untuk menikah dengan perempuan pilihan Mama, dengan hati yang terbuka, Devan akan menuruti semua keinginan Mama. Apa artinya menikah jika tidak ada restu dari Mama. Pilihan Mama pasti yang terbaik untuk Devan." Ucap Devan yang tengah memeluk ibunya.


Alena yang mendengarnya, pun memilih menunduk. Takut, apa yang diucapkan oleh Devan hanyalah sandiwara di hadapan ibunya.


Setelah merasa sudah cukup, Devan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Sekarang sudah waktunya untuk sarapan, sedangkan Devan memilih untuk menyuapi Ibunya.


"Kamu gak sarapan? sarapan dulu, Mama bisa makan sendiri. Satu suapan darimu itu sudah cukup."


"Ini Tuan, buburnya." Ucap Alena yang lupa jika posisi duduknya berada di tempat duduknya Devan.


"Aku sudah sarapan tadi, sama nasi goreng. Jadi, itu bubur buat kamu. Lain kali kalau membuat sarapan yang sama." Jawab Devan tanpa meras bersalah, bahkan dirinya juga lupa kalau dirinya sudah lama menghindari nasi goreng.


Ibunya Devan yang mendengar ucapan dari putranya yang mengatakan sudah sarapan dengan nasi goreng, pun langsung berhenti makan buburnya. Sungguh seperti tidak percaya jika putranya sarapan pagi dengan nasi goreng.


"Jadi, kamu sudah sarapan dengan nasi goreng? bukannya kamu tidak menyukai?"


Ibunya yang penasaran, pun langsung bertanya.


"Itu kan dulu, Ma. Devan sekarang sudah gak lagi jijik sama nasi goreng, Mama juga boleh makan di dekatnya Devan. Mulai sekarang Devan tidak lagi melarang siapapun untuk membuat nasi goreng." Jawab Devan dengan santai.

__ADS_1


Ibunya Devan pun tersenyum.


"Akhirnya anak Mama mau makan nasi goreng, bagus lah."


"Hem. sini, biar Devan yang menyuapi Mama makan, soalnya Devan udah kenyang. Habisnya nasi goreng menggoda, Devan langsung habisin tuh nasi gorengnya.' Jawab Devan dan meraih mangkuk yang ada di atas meja. Kemudian, Devan menyuapi ibunya hingga tidak lagi tersisa buburnya.


Begitu juga dengan Gea yang akhirnya menghabiskan bubur majikannya. Meski tidak begitu menyukai bubur, mau tidak mau si Alena harus mengisi perutnya untuk menggantikan energinya.


Sedangkan di tempat lain, Genan sedang dalam proses pembebasan atas kasus yang hendak mengh_abisi korban.


"Nyonya, bersabarlah. Sebentar lagi Tuan Genan juga bakal keluar, kita menunggunya di sini saja." Ucap anak buahnya Genan, yakni Arol.


Benar saja, rupanya Genan telah dibebaskan dan dirinya dapat bernapas lega. Begitu juga dengan ibunya yang benar-benar lega saat putranya dibebaskan.


Pelukan dan tangisan haru tengah dirasakan Genan bersama ibunya. Saat itu juga, Genan teringat Alena yang kebenarannya adalah adik kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2