Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Masih terus kepikiran


__ADS_3

Devan yang tengah menggandeng tangannya Alena, pun langsung melepaskannya.


"Duduk, waktu kita tidak lama, dan kita segera pulang." Ucap Devan sambil menarik kursi untuk Alena.


"I-iya, Tuan." Jawab Alena yang langsung duduk dan memilih untuk tetap tenang, meski pikirannya entah kemana yang sedang ia pikirkan.


Begitu juga dengan Genan yang tidak bisa menelan makanan, ia masih terus kepikiran Alena yang tengah bersama Devan.


"Makan lah, nanti kamu sakit." Ucap salah seorang yang baru saja ditangkap polisi, dan ditempatkan dalam satu ruangan dengan Genan.


"Aku sudah kenyang, kalau kamu mau makan, makan saja tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menawarkan ku, aku akan merasa lapar jika aku sudah dibebaskan." Jawab Genan sambil bersandar pada dinding.


"Tidak boleh begitu, sayangi kesehatan mu. Meski besok kamu dinyatakan bebas, tetap saja kamu butuh energi. Ini, makanlah. Anggap saja ini pertemuan kita yang terakhir, ayo kita makan." Ucapnya.

__ADS_1


Genan langsung menoleh pada seseorang yang duduk di sebelahnya.


"Bagaimana aku bisa menelan makanan ini, sedangkan aku sendiri tidak tahu bagaimana keadaan adik perempuan ku saat ini. Jadi, sebagai penebus kesalahanku, aku tidak akan makan sebelum melihat keadaan adikku dengan kepala mataku sendiri bahwa dia baik-baik saja." Jawab Genan yang tetap bersikukuh untuk menolak.


"Kamu boleh menyalahkan diri kamu sendiri, tapi jangan bersikap bodoh. Memangnya kesalahannya apa yang sudah kamu perbuat? sampai-sampai kamu tidak mau mengisi perutmu yang kosong itu."


Genan yang tak kuasa untuk menatap siapapun, dirinya lebih memilih kembali untuk menunduk.


"Kamu bilang apa tadi? menjual adikmu?" tanyanya yang seperti tidak percaya.


Genan mengangguk tanpa mendongak maupun menoleh sekalipun.


"Ya, aku menjualnya karena kesalahpahaman di antara aku dengan adikku. Kami terpisah dan tidak mengetahui kalau ternyata saudara kandungku sendiri, lantaran atas perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab kepada keluarga kamu. Dengan cara membabi buta, akhirnya aku mencoba untuk menghabisinya. Namun kenyatannya aku harus berurusan dengan hukum, ya ini yang aku dapatkan. Tapi untungnya aku mempunyai bukti yang cukup akurat, dan akhirnya aku dibebaskan." Jawab Genan memberi penjelasan sedetail mungkin.

__ADS_1


"Syukur lah kalau semua sudah terkuak, semoga selamanya keadaanmu akan terus baik-baik saja bersama orang yang benar-benar kamu sayangi, termasuk orang tuamu maupun adikmu." Ucapnya.


Genan sendiri hanya mengangguk, lantaran pikirannya sudah begitu penat untuk berpikir.


"Sudahlah, ini dimakan dulu. Setelah itu, kamu bisa istirahat. Sayangi kesehatan kamu, jangan kamu rusak dengan daya pikiranmu." Ucapnya.


Sedangkan di tempat lain, yakni di restoran, Alena bersama Devan tengah menikmati makanannya. Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya tinggal beberapa suapan lagi Alena dan Devan akan segera menghabiskan makanannya masing-masing.


Setelah selesai makan, Devan langsung mengajak Alena untuk bergegas pulang, lantaran sangat takut jika terjadi sesuatu di rumahnya, yakni ibunya yang kapan saja sakitnya bisa kambuh.


Seperti biasa dalam perjalanan, Alena juga masih saja melamun entah siapa yang sedang dipikirkannya.


'Bagaimana keadaannya kak Genan di sel tahanan, ya? kasihan sekali kak Genan, harus menanggung beban pikirannya yang seharusnya bukanlah dia." Gumamnya sambil melamun karena terus kepikiran.

__ADS_1


__ADS_2