Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Merasa ada yang aneh


__ADS_3

Alena yang ditinggal bos laki-lakinya, kini hanya berdua dengan ibunya si Bos saja.


"Jadi, kamu bukan orang jahat?" tanya ibunya Devan sambil menatap Alena yang hendak duduk disebelahnya.


Alena mengangguk pelan, tentunya dengan penuh kehati-hatian.


"Ya, Nyonya. Saya pekerja baru yang ditugaskan untuk merawat Nyonya. Dengan sepenuh hati saya, bahwa saya siap untuk merawat Nyonya seperti ibu saya sendiri." Jawab Alena dengan suara yang lirih dan selembut mungkin.


"Jangan panggil Nyonya, tetapi panggil saja Ibu ya." Ucap ibunya Devan sambil meraih tangannya Alena.


Sedangkan Alena sendiri yang mana tangannya di pegang oleh ibunya si Bos, pun ada rasa takut jika sewaktu-waktu kambuh lagi.


"Bab-baik, Nyonya, maksud saya Ibu. Maaf, jika saya sudah lancang." Jawab Alena penuh dengan hati-hati ketika berbicara dengan ibunya si Bos.


"Nama kamu siapa?" tanyanya, meski Alena sudah memperkenalkan diri pada ibunya si Bos.


"Nama saya Alenata, Bu." Jawab Alena dengan lembut.


"Nama yang bagus, juga cocok sama kamu yang cantik. Ibu jadi ingat jamannya masih muda, suami ibu sangat sayang dan selalu memberi perawatan untuk Ibu. Kamu sudah menikah?" Ucap ibunya Devan memuji, dan juga bertanya.


"Makasih atas pujiannya, Bu. Saya belum menikah, saya mau fokus kerja dulu Bu." Jawab Alena masih hati-hati ketika menjawab pertanyaan dari ibunya Devan.


Saat itu juga, Devan kembali masuk ke kamar ibunya, tentunya mengagetkan Alena maupun ibunya sendiri.


"Dev-Devan, ada apa?" tanya ibunya saat melihat putranya masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Devan hari ini mau ke kantor sebentar ya, Ma. Di rumah ada Alena yang menjaga Mama, juga yang lainnya. Sekarang ini Mama mandi saja dulu, setelah itu sarapan pagi. Nanti Devan segera pulang, dan malamnya Devan akan ajak Mama keluar." Jawab Devan yang juga dengan penuh hati-hati ketika bicara dengan ibunya.


"Iya, gak apa-apa. Mama ditemani Alena yang cantik seperti Mamanya Devan. Kamu perginya jangan malam-malam ya, Mama takut nanti ada orang jahat sama kamu." Ucap ibunya yang terkadang seperti orang normal lainnya. Namun, terkadang juga sulit untuk dikendalikan dan bisa membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.


Setelah berpamitan, kini Alena tengah membantu ibunya si Bos untuk membersihkan diri. Juga, membantu hal lainnya seperti mengganti pakaian.


Karena merasa suntuk ketika terus menerus berada di dalam kamar, ibunya Devan meminta untuk keluar dari kamarnya. Namun sebelumnya si Alena meminta izin kepada asisten lainnya terlebih dahulu.


"Maaf Pak, boleh kah saya bertanya sesuatu?" tanya Alena.


"Boleh Nona, silakan jika Nona ingin menanyakan sesuatu." Jawab seorang asisten rumah.


"Bolehkah saya mengajak Nyonya keluar dari kamar?" tanya Alena dengan hati-hati atas ucapannya.


"Baik, Pak. kalau begitu saya akan menemani Nyonya untuk keluar dari kamar. Kalau boleh tahu, tempat mana saja yang dilarang oleh Tuan Devan ya, Pak? takutnya saya melakukan kesalahan. Jadi sebelumnya saya meminta izin terlebih dahulu sama Bapak."


"Hanya ke depan rumah yang dilarang oleh Tuan Devan, Nona. Selain itu diperbolehkan, Oh ya satu lagi, tidak boleh didekat kolam renang." Jawabnya dan memberi penjelasan kepada Alena.


"Ya Pak, terimakasih banyak sudah memberitahu ke saya. Kalau begitu saya permisi." Ucap Alena dan bergegas pergi kembali ke kamar ibunya Devan, alias bosnya.


"Ibu, Bu." Panggil Alena sambil celingukan.


Alena yang melihatnya, pun sangat terkejut.


"Syukur lah, aku kira kemana. Ternyata lagi dandan, hampir saja." Gumam Alena saat baru saja membuka pintu sambil celingukan.

__ADS_1


Pelan-pelan Alena mendekatinya.


"Ibu lagi dandan ya?" tanya Alena yang terus berhati-hati ketika berucap.


"Ya, Ibu lagi dandan. Tau gak, suami Ibu itu tidak suka melihat penampilan Ibu yang kucel, apalagi muka yang kusam, tidak mau melihat penampilan Ibu jelek." Jawab ibunya Devan.


Alena yang yang sering mendengar dan juga melihatnya, pun semakin dibuatnya penasaran.


"Berarti suami Ibu sangat perhatian dengan penampilannya Ibu, agar Ibu akan selalu terlihat cantik." Ucap Alena yang terus berpikir untuk mengeluarkan kalimat yang benar.


Ibunya Devan langsung duduk dan tertunduk sedih, Alena langsung terasa shock ketika melihat ibunya Devan dengan ekspresi yang hendak marah.


"I-i-Ibu kenapa? maaf, saya tidak bermaksud membuat Ibu marah."


Dengan panik, Alena bingung untuk mengatasinya.


"Suami Ibu ternyata jahat, dia juga kejam. Suami Ibu pembohong, juga pengkhianat." Ucapnya yang kini berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan sebelumnya.


Alena semakin was-was dibuatnya, lebih lagi dengan suasana hatinya yang tidak lagi senang.


"Bu, Ibu kenapa? kenapa Ibu tidak memuji Tuan? maksud saya suaminya Ibu."


"Suami Ibu kejam, Ibu selalu mendapat siksaan karena sebenarnya suami Ibu tidak cinta. Saat Ibu mulai jatuh cinta, ternyata direbut sama perempuan lain."


Seketika, ibunya Devan menangis histeris. Kali ini tidak memberontak, justru memeluk Alena dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2