
Alena yang sudah ditugaskan untuk merawat ibunya Devan, pun tidak merasa keberatan. Lebih lagi ibu tirinya yang sudah pergi untuk selamanya, tentu saja si Alena merasa sangat kehilangan.
Meski sering memarahi, membentak, dan melakukan perlakuan buruk padanya, Alena tetap tidak bisa untuk membencinya. Alena sendiri sudah menganggapnya ibu kandungnya sendiri.
Alena yang begitu telaten merawat ibunya Devan, kini tidak lagi kambuh atas kemarahan yang sering diluapkan kepada siapa saja maupun kapan saja. Bahkan, kehadiran Alena membawa perubahan yang positif.
"Kamu begitu sabar merawat Ibu, terbuat dari apa hatimu, Nak? bahkan kamu tidak merasa keberatan, juga kamu tetap ramah dan bersikap baik pada Ibu. Tutur bicara mu pun bisa Ibu tangkap, kalau kamu adalah perempuan yang sangat baik." Ucap ibunya Devan memuji Alena.
"Ibu tidak perlu berlebihan, ini sudah menjadi tugas saya untuk merawat Ibu." Jawab Alena sambil menyisir rambutnya.
Saat itu juga, rupanya Alena dikagetkan atas kedatangan majikan laki-lakinya.
"Kamu, keluar. Siapkan sarapan pagi untuk ibuku, bawa sarapannya kemari." Perintah Devan pada Alena.
"Tidak perlu, Mama ingin sarapan pagi bareng kalian. Ada sesuatu yang ingin Mama sampaikan pada kalian berdua, ayo kita keluar." Ucap ibunya Devan yang langsung menjawabnya.
Devan pun heran atas apa yang diucapkan ibunya.
"Mama tidak lagi marah, 'kan?"
__ADS_1
Ibunya Devan menggelengkan kepalanya, dan tersenyum.
"Mama sudah sembuh kok, Mama sebenarnya juga setengah sadar atas yang sering Mama lakukan di luar kendali, mungkin karena kebencian Mama yang mendalam, hingga membuat Mama terlalu banyak pikiran dan ingin meluapkan segala emosi Mama. Sejak hadirnya Alena, hidup Mama terasa berubah, dia seperti memberi warna dalam hidup Mama." Jawab ibunya dan tersenyum pada kalimat terakhirnya.
"Syukur lah kalau Mama sudah ada perubahan, Devan sangat bahagia mendengarnya jika itu memang benar. Ya udah kalau Mama ingin sarapan pagi di ruang makan, Devan akan temani Mama." Ucap Devan.
"Juga, sama Alena." Sambung ibunya.
Devan yang tidak ingin mengecewakan ibunya, pun menuruti keinginannya. Alena sendiri tidak bisa melakukan penolakan. Mau tidak mau, Alena pun hanya bisa nurut. Tentu saja ia takut jika terjadi sesuatu pada majikannya jika dirinya menolak.
Saat sudah duduk di meja makan, Devan duduk disebelah ibunya. Sedangkan Alena duduk di hadapannya.
Alena langsung menatap Devan, tentu saja memberi kode untuk menjawab ajakan majikan perempuannya.
Devan sendiri tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya mengangguk tanda mengiyakan demi ibunya tidak kambuh emosinya.
Dengan pelan, Alena bangkit dari posisi duduknya dan berpindah tempat duduknya di sebelah ibunya Devan.
Ibunya Devan langsung meraih tangan keduanya lewat tangan kanan dan kirinya. Kemudian, tangan Alena dan tangan Devan disatukan.
__ADS_1
"Menikahlah kalian berdua, Ibu merestui kalian." Ucap ibunya Devan atas permintaannya.
Seketika, Devan maupun Alena sama-sama melotot dengan menatap satu sama lain seperti mendapat sengatan listrik.
Bahkan, tangan keduanya tidak bisa dilepaskan karena ibunya Devan menahannya.
"Kalian berdua ini pasangan yang serasi, maka menikahlah untuk kebahagiaan Mama dan juga kalian. Kalian mempunyai kekurangan masing-masing, maka menikahlah untuk menjadi pelengkap hidup kalian." Ucap ibunya Devan dengan keputusannya.
Devan yang ingin mengatakannya tidak, pun tak kuasa. Begitu juga dengan Alena, sama seperti yang dirasakan oleh Devan.
"Ma, apa itu gak terlalu buru-buru?" tanya Devan penuh dengan hati-hati.
Ibunya pun langsung menoleh dengan memasang wajah kecewa saat mendengar ucapan dari putranya.
"Ok ok ok, ya ya ya, Devan akan menikahi Alena untuk kebahagiaan Mama." Ucap yang akhirnya menerima permintaan ibunya.
"Bukan kebahagiaan Mama, tapi kebahagiaan kamu dan Alena."
"Ya, itu, ya, kebahagiaan Alena dan Devan, juga Mama." Ucap Devan yang tidak ingin membuat ibunya kecewa dan emosinya kambuh.
__ADS_1
Kemudian, ibunya Devan langsung menoleh pada Alena untuk mendengar jawaban darinya.