Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Dipertemukan


__ADS_3

Devan menghela napasnya panjang, dan melangkah lebih dekat lagi pada Genan.


"Bolehkah aku bicara sesuatu padamu hanya empat mata?" tanya Devan sambil menatap serius pada Genan.


"Tentu saja boleh." Jawab Genan.


"Tinggalkan pistolmu, maka aku akan bicara hal penting padamu." Ucap Devan dengan memberinya syarat.


Genan yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya mengiyakan dan memberikan pistolnya pada salah seorang yang menjadi kaki tangannya.


Sedangkan ibunya merasa lega karena putranya tidak ketergantungan dengan senj_ata apinya, tentunya ada perasaan lega karena tidak harus bermain dengan senja_tanya.


Di dalam ruangan khusus, Genan dan Devan sudah sama-sama duduk berhadapan.


"Apa yang ingin kamu katakan padaku, katakan saja sekarang juga, dan jangan berbelit. Satu lagi, jangan membuang-buang waktuku."


Devan mengangguk.

__ADS_1


"Kedatanganku ke sini tidak lain untuk melihat keadaan mu, dan mengajak mu beroperasi, yang ketiga akau mau menikahi adikmu." Jawab Devan dengan jujur, Genan langsung melotot ketika mendengar kalimat terakhir.


"Aku akan memenuhi permintaan mu, tapi ada syaratnya. Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan merestui mu untuk menikahi adikku." Ucap Genan dengan memberinya syarat.


Devan yang penasaran dengan syarat yang akan diminta Genan, pun langsung bicara kembali.


"Syarat? apa syaratnya?" tanya Devan dengan penasaran.


"Tinggalkan pekerjaan mu, dan aku izinkan kamu untuk menikahi adikku. Karena mulai detik ini juga, aku mengundurkan diri untuk melakukan pekerjaan ilegal yang kamu tawarkan." Jawab Genan penuh penekanan.


"Bagaimana menurutmu, apakah kamu siap? kalau kamu tidak mau, maka aku akan merebut paksa adikku dari tangan mu. Bahkan, aku tidak peduli siapa kamu, meski kamu akan menjadi musuhku." Ucap Genan yang tetap bersikukuh atas syarat yang ia berikan kepada Devan.


Sedangkan Devan sendiri yang mendengarnya pun, benar-benar syarat yang sangat menyulitkan dirinya.


Devan masih diam, terlihat seperti tengah berpikir dan mencari jawaban yang tepat untuk dirinya dan ibunya. Peluang yang menurutnya sangatlah bagus, namun tiba-tiba harus ditinggalkan begitu saja.


"Ok, aku akan memenuhi permintaan mu." Jawab Devan dengan keputusannya, dan tidak peduli jika dirinya akan menjadi pengkhianat sekalipun.

__ADS_1


Bagi Devan permintaan ibunya jauh lebih penting daripada permintaan yang lainnya, apapun ia lakukan.


'Demi Mama, aku tidak peduli akibatnya nanti.' Batin Devan setelah memberi keputusan kepada Genan.


Setelah tidak ada lagi yang akan dibicarakan, Genan dan Devan segera keluar dari ruangan privasi.


Sedangkan di ruang tamu, rupanya Alena sudah datang dan tengah bersama ibunya Genan. Keduanya tengah membicarakan sesuatu, yakni tentang Devan maupun Genan.


Seketika, Alena dikejutkan sosok dua laki-laki yang baru saja keluar dari ruangan privasi. Alena pun tersenyum mengembang melihatnya, bahwa Genan dan Devan terlihat baik-baik saja.


Genan yang melihat kedatangan Alena, pun merasa malu dan juga merasa bersalah, lantaran sudah pernah bersikap kasar dan bisa dikatakan sangatlah kejam.


"Dia adikmu, kenapa kamu menunduk? seharusnya kamu itu senang, karena kamu masih mempunyai saudara." Ucap Devan saat melihat Alena yang tengah berada di rumah Genan.


Alena yang tengah di dorong oleh ibunya Genan, akhirnya berjalan mendekati Genan dan Devan.


Devan yang tidak ingin mengganggu suasana adik kakak, pun memilih untuk menyingkir. Sedangkan Genan sendiri masih menunduk, tak kuasa jika dirinya harus menatap wajah adiknya yang sudah diperlakukan dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2