
Devan terus mencoba untuk merayu ibunya.
"Benarkah dia perempuan baik? tapi kenapa dia memuji papamu? Mama tidak ingin perempuan itu merebut suami Mama. Nanti kamu gak punya Papa, bagaimana? Mama takut sendirian."
Devan langsung memeluk ibunya, sedih itu sudah pasti ketika melihat ibunya yang terus dihantui rasa takut.
"Ya Ma, dia perempuan baik. Kalau dia jahat, Devan akan memberi hukuman padanya yang setimpal. Dia memuji papa, karena agar Mama senang, dan tidak seperti dihina. Memangnya Mama mau, jika Papa di hina?"
Ibunya Devan menggelengkan kepalanya, Devan sendiri tidak lagi harus menggunakan egonya ketika menghadapi ibunya ketika sedang kambuh.
Alena yang lumayan sedikit mereda rasa ketakutannya, ia berjalan mendekati.
"Maafkan saya, Tuan. Tadi saya tidak sengaja telah membuat kesalahan, karena saya tidak tahu jika Nyonya membenci kata pujian." Ucap Alena meminta maaf sambil menunduk.
Devan langsung berdiri dan menatap serius pada Alena.
"Asal kamu tidak melakukan kesalahan yang fatal, maka aku masih memaafkan kamu. Aku sudah memberimu lembaran kertas, lalu kenapa tidak kamu baca? ha!"
"Maaf Tuan, saya tadi bangunnya kesiangan dan lupa membaca jadwalnya."
"Ingat, kamu akan bertanggung jawab sepenuhnya tentang ibuku, apapun itu. Kalau sampai saja ibuku mengalami hal yang tidak diinginkan, jangan salahkan aku yang akan memberimu hukuman, paham."
__ADS_1
"Bab-baik, Tuan."
"Sekarang kamu temani ibuku, lakukan apa saja yang harus kamu kerjakan. Ingat, jangan sampai kamu itu melakukan kesalahan yang kesekian kalinya, aku akan selalu mengawasi kamu." Ucap Devan dengan ancaman.
Alena yang hanya bisa pasrah dengan keadaannya sendiri yang sudah dijual oleh lelaki yang diketahui kakak tirinya, berusaha untuk menerima takdirnya.
Lain lagi dengan Genan, kini tengah bersandar pada tempat tidur berusaha untuk menyempurnakan kesadarannya.
"Kamu kenapa, Bro? perasaan dari semalam kamu kek orang hilang semangat. Mana manggil manggil nama Alena lagi, siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa, memangnya semalam aku itu kenapa?"
Genan menggelengkan kepalanya.
"Bukan, dia bukan siapa-siapa aku. Dia perempuan pembawa sial, juga yang sudah menghilangkan nyawa pacarku." Jawab Genan sambil menundukkan kepalanya.
"Apa! perempuan yang kamu panggil namanya itu, sudah menghilangkan nyawa pacarmu? kenapa bisa begitu? terus, dimana sekarang?"
"Sudah aku jual kepada Devan, karena hanya dia lelaki yang mau membayar dengan harga yang lebih mahal." Ucap Genan tanpa ada yang ia tutup tutupi.
"Kamu seriusan, Gen? maksudnya aku menjual Alena?"
__ADS_1
Genan mengangguk.
"Aku ingin membalaskan dendam ku padanya, karena aku merasa kehilangan kekasihku untuk selama-lamanya."
"Memangnya kamu sudah yakin kalau yang menghilangkan nyawa kekasihmu itu adalah Alena?"
"Aku melihatnya saat pacarku jatuh ke jurang, dan Alena berada ditempat itu." Jawab Genan.
"Lalu, ada berapa saksi saat itu?"
"Aku tidak begitu mengamatinya, karena aku sendiri sibuk untuk menyelamatkan kekasihku sendiri. Bahkan, ibu tirinya saja hendak didorong, tapi aku segera mendekatinya."
"Sepertinya kamu harus menyelidikinya lagi, takutnya ada seseorang yang sengaja berniat untuk membuat celaka."
"Tidak ada yang perlu aku selidiki, karena sudah jelas jelas Alena lah yang sudah menghilangkan nyawa pacarku." Kata Genan yang tetap bersikukuh pada pendiriannya.
Bahkan, nasehat dari temannya sendiri tidaklah diterima.
"Terserah kamu saja, yang jelas aku sudah mengingatkan kamu." Ucapnya.
Genan dengan tubuhnya yang terasa sempoyongan, tetap memaksakan diri untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1