
Genan menatap tajam pada asistennya. Kemudian, langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai hingga kedua lututnya harus membentur lantai. Sakit, tentu saja sangat sakit.
"Percuma saja jika Tuan membalaskan dendam, yang ada hanya akan menyakiti diri sendiri. Katakan saja sejujurnya pada Nona Alena, maka Tuan akan menemukan jawabannya. Kalau Tuan hanya percaya pada satu pihak saja, kemungkinan besar Tuan lah mangsanya." Ucap seorang asisten yang menjadi kaki tangannya Genan.
Genan yang tengah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, rasanya benar-benar membuat otaknya begitu sulit untuk berpikir. Bahkan, dirinya sendiri begitu sulit untuk mengendalikan amarahnya yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Cabut kembali Nona Alena, dan mintalah penjelasan darinya. Jangan sampai Tuan Genan menyesal setelah mengetahui kebenarannya." Ucapnya lagi untuk mengingatkan.
Genan menarik napasnya panjang, dan membuangnya dengan kasar sambil memejamkan kedua matanya. Karena tidak ingin semakin penat memikirkan masalah atas meninggalnya kekasihnya yang diketahui teman akrabnya Alena.
.
.
.
Waktu pun telah di lewati, hingga tidak terasa malam pun telah tiba. Selesai makan malam, Genan langsung menyambar jaketnya dan kunci mobilnya.
__ADS_1
"Genan, mau kemana kamu, Nak?" panggil ibunya yang sempat memergoki putranya.
"Biasa lah Ma, malam ini aku lagi ada acara bareng teman-teman ada apa Ma?"
"Tidak apa-apa, Mama hanya takut saja dengan pekerjaan mu."
"Ma, semua pekerjaan itu ada resikonya. Jadi, yang penting Mama ada pemasukan. Aku berangkat dulu, selamat malam."
"Tunggu,"
"Ada apa lagi, Ma?"
"Berhentilah dengan pekerjaan mu itu, lebih baik kamu fokus di kantor Papamu." Ucap Ibunya.
"Untuk apa? Papa sudah berkhianat sama Mama, dan aku tetap tidak akan mau mengurus harta Papa, secuil pun." Jawab Genan sambil menunjukan dengan jari-jarinya.
"Mau bagaimana pun, kamu adalah pewarisnya. Tidak hanya anak dari selingkuhan Papamu, meski sebenarnya mereka menikah secara hukum sekalipun, tetap saja kalian adalah saudara."
__ADS_1
"Carilah saudara mu, mungkin dengan cara seperti itu, hatimu akan damai. Juga, kamu tidak lagi bekerja dengan cara yang salah." Ucap ibunya mengingatkan.
"Ma, aku sendiri mencari kebenaran atas meninggalnya Aleyana saja sulit, terus Mama memintaku untuk mencari kebenaran istri kedua Papa? gak. Aku akan menyelesaikan masalah ku sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, baru aku akan membantu Mama untuk bertemu dengan istri keduanya Papa." Jawab Genan.
"Terserah kamu, Mama hanya mengingatkan kamu saja, agar hidup mu selamat, dan tidak menjadi kejaran polisi." Ucap ibunya berusaha untuk menasehati.
Genan membuang napasnya dengan kasar, dan langsung bergegas pergi dari rumah untuk mencari hiburan. Berharap, rasa penat yang ada dalam pikirannya sedikit mereda.
Sedangkan Alena yang baru selesai menemani ibunya Devan, merasa lega karena tidak menghadapi amarah dari majikannya.
"Akhirnya Ibu Erlina sudah tidur, lega rasanya. Sebenarnya yang membuatnya marah dan emosi itu, apa ya? seperti memendam sesuatu. Tapi, apa itu? rumit sekali ketika harus menerka orang lain. Semoga saja Ibu Erlina segera sembuh, dan bisa menikmati hidupnya dengan bahagia."
"Kamu penasaran dengan ibuku?" tanya Devan yang tiba-tiba sudah berada di belakang Alena.
Tentu saja, Alena dibuatnya kaget saat pertanyaan itu muncul begitu saja.
Devan mendekati Alena, dan ia ikut berdiri di sebelahnya. Dengan spontan, Alena langsung menoleh dan mendongakkan pandangannya lantaran jarak tinggi badan yang lumayan lebih tinggi bosnya.
__ADS_1