Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Memberanikan diri


__ADS_3

Selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ibu tiri dan kakak tirinya, Alena segera memanggilnya.


Dengan hati-hati, Alena mengetuk pintunya.


"Kak Genan, Kak, sarapannya sudah siap di meja makan." Panggil Alena kepada kakak tirinya.


Saat itu juga, pintunya pun dibuka dari dalam kamar.


"Bisa pelan gak, ketuk pintunya."


"Maaf Kak, tadi udah pelan kok."


"Pelan kata mu, berisik tau. Sekarang juga, kamu buruan mandi, cepat."


"I-i-iya Kak, aku akan segera mandi. Tapi, aku mau manggil Ibu dulu."


"Serah kamu, bukan urusanku." Kata Genan dengan ketus, dan langsung menutup kembali pintu kamarnya dengan kuat.


Alena yang dikagetkan dengan ulah kakak tirinya, langsung pergi dan memanggil ibu tirinya untuk sarapan pagi.

__ADS_1


"Bu, Ibu, Alena sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Ibu dan juga Kak Genan. Sarapannya sudah Alena siapkan di meja makan, Bu." Ucap Alena pada ibu tirinya.


"Ya, nanti. Sekarang lebih baik kamu buruan mandi, pagi ini juga si Genan akan mengantarkan kamu kepada orang yang mau menukar uangnya denganmu." Jawab ibu tirinya tanpa ada belas kasih sedikitpun.


"Bu, Alena mohon jangan lakukan itu. Alena siap kerja untuk Ibu dan Kak Genan, tapi tidak untuk ditukar dengan uang Bu." Ucap Alena memohon.


"Bilang sendiri saja sama Genan, Ibu tahunya ada uang dan uang, paham." Jawab ibu tiri tetap pada tujuannya untuk menukar anak tirinya kepada seseorang yang sudah siap untuk membelinya.


Alena yang tidak mendapat belas kasih dari ibu tirinya, merasa sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk melarikan diri, Alena hanya bisa pasrah dengan kondisinya yang sekarang tanpa adanya seorang ayah dan ibu.


'Andai saja Mama dan Papa masih hidup, mungkin aku tidak akan merasakan sedih yang larut seperti ini.' Batin Alena sambil berjalan menuju kamarnya.


Saat sudah berada dalam kamar, Alena duduk di tepi tempat tidurnya. Ingatannya kembali dimasa remajanya, dan tiba-tiba dirinya teringat dengan masa masa indahnya itu.


"Semua sudah berlalu, tidak mungkin juga jika aku akan dipertemukannya lagi dengannya." Gumamnya sambil melamun sesuatu.


Tidak ingin mendapat omelan dan ocehan dari ibu tiri dan kakak tirinya, Alena segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ikut sarapan pagi bersama.


Setelah mandi dan juga dengan penampilannya, Alena bergegas keluar dari kamarnya dengan pakaian yang dibelikan oleh kakak tirinya.

__ADS_1


Kedua mata Genan menatap Alena dengan penampilannya yang sangat berbeda, bahkan terlihat sangat cantik dan tidak diragukan lagi hasilnya.


Genan dengan sigap, ia langsung menarikkan kursi untuk Alena.


"Duduk lah, dan habiskan sarapan mu." Perintah Genan pada Alena yang tengah berdiri di sebelahnya.


Dengan hati-hati, Alena duduk didekat kakak tirinya.


Sedangkan ibu tirinya yang sudah selesai sarapan, langsung pergi meninggalkan Alena bersama Genan ke kamar.


Alena yang baru saja minum susu, sejenak mengatur napasnya.


"Kak, Kak Genan." Panggil Alena dengan lirih.


Saat itu juga, Genan langsung menoleh ke sampingnya.


"Ada apa lagi? ha."


"Em-- apa Kak Genan gak bisa mencabut keputusan Kakak yang mau menukarkan aku dengan orang yang mau membayar Kakak?"

__ADS_1


Genan yang mendengarnya, pun menyeringai dan juga dengan tatapan yang cukup sinis.


__ADS_2