Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Penuh harap


__ADS_3

Tidak ada pilihan lain selain bisa nurut dan pasrah dengan apa yang akan menjadi nasibnya.


Setelah mendapatkan sidik jarinya, polisi tidak menginterogasi apapun karena mengetahui dengan kondisi pasien juga sekaligus tersangka.


Setelah dua anggota polisi pergi dari ruangan tersebut, Alena kembali menutup pintunya. Kemudian, ia mendekati ibunya.


"Ibu mau makan?" tanya Alena menawarkan diri.


"Ibu sudah kenyang. Kamu itu bandel sekali, sudah dibilangin pergi dari sini, masih saja tidak mau." Jawab ibu tirinya.


"Alena juga hanya sebentar kok Bu, soalnya Alena juga ingin menjenguk Kak Genan. Tidak apa-apa kan, Bu?"


"Terserah kamu, Ibu tidak peduli." Jawab ibu tirinya dengan nada ketus.


"Bu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu, juga dengan Kak Genan?"


"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri, pergilah. Ibu ini sangat jahat, tidak pantas kamu temui. Sudah sana pergi, Ibu tidak ingin bertemu kamu." Jawab ibu tirinya sambil mengusir Alena.

__ADS_1


"Baiklah Bu, maafkan Alena yang tidak bisa berlama-lama disini. Alena akan usahakan untuk datang ke sini lagi menemani Ibu meski hanya sebentar." Ucap Alena.


"Tidak perlu kamu datang kemari, Ibu tidak butuh kamu." Jawab ibu tirinya.


"Ya udah ya Bu, Alena pamit. Jaga diri Ibu baik-baik, maafkan Alena yang tidak bisa menjaga Ibu di rumah sakit ini. Alena doakan, semoga Ibu segera sembuh dan kembali ke rumah. Ibu tenang saja, Tuan Devan sangat baik, juga ibunya sangat baik. Jadi, Alena tidak dikelilingi orang jahat, tapi baik semua." Ucap Alena.


Ibu tirinya pun memilih diam dan tidak lagi menjawabnya. Alena yang tahu akan keadaan ibu tirinya, memilih untuk keluar dan meninggalkannya sendiri di ruma sakit.


Meski sudah bersikap jahat dan juga kejam padanya, Alena tidak ada rasa benci apapun pada ibu tirinya. Alena tetap memberi hormat santun padanya, dan tidak peduli jika sudah sering memarahi, membentak, dan mengurangi jatah makan sekalipun.


Dengan berat hati dan juga terpaksa, mau tidak mau Alena keluar.


"Sudah, Tuan. Maaf, sudah membuat Tuan menunggu lama." Jawab Alena dengan menunduk.


"Sekarang kita akan ke kantor polisi, ayo pergi." Ucap Devan dan mengajaknya segera pergi ke kantor polisi.


Selama perjalanan, Alena masih saja terus melamun.

__ADS_1


"Kamu mikirin apa lagi, ha? Genan?"


"Saya kepikiran dengan Ibu, di rumah sakit tidak ada yang menemaninya." Jawab Alena sambil menatap lurus ke depan.


"Untuk apa? bukankah ibu tiri kamu itu sudah jahat sama kamu? dia sudah menjual mu padaku. Apa itu namanya tidak jahat?"


"Ya sih, tapi mau bagaimanapun, Ibu Maya sudah membesarkan aku, juga merawatku dari kecil."


"Kalau ternyata ibu tiri mu ada udang dibalik batu, bagaimana? kita kan gak tahu kejahatan seseorang dari mananya, gimana?"


"Kalau itu aku kurang tahu, semoga saja Ibu hanya benci padaku karena melampiaskan kekesalannya pada ibu kandungku." Jawab Alena.


"Nanti kamu bisa meminta penjelasan pada Genan, kakak tirimu. Maka, kamu akan mengetahui jawabannya." Ucap Devan sambil mengendari mobil.


Alena yang mendengar ucapan dari Devan, pun menjadi memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Semoga saja, ibu Maya dan kak Genan tidak ada masalah apapun kepada mereka berdua." Jawab Alena penuh harap, bahwa semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


Devan yang sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya, pun menambahkan kecepatan laju kendaraannya. Tentu saja untuk mengetahui kasus yang sebenarnya.


__ADS_2