Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Akhir Cerita


__ADS_3

Alena mencoba untuk mengatur napasnya, berharap semua akan baik-baik saja, pikirnya.


"Kak Genan, syukurlah Kakak sudah bebas. Maafkan aku yang sudah menjadi bahan masalah." Ucap Alena dihadapan kakaknya.


Genan langsung mendongak dan menatap wajah adiknya yang dulunya sering ia siksa. Genan yang tidak kuasa untuk menatapnya, pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai hingga kedua lututnya harus terbentur dengan lantai, Genan pun menunduk penuh penyesalan, dan juga merasa bersalah atas perbuatannya.


Alena yang melihatnya, pun langsung berjongkok dan memegangi kedua lengan kakaknya.


"Kak Genan, bangun, Kak." Pinta Alena sambil mencoba untuk meminta kakaknya berdiri.


Tetap saja, Genan yang dipenuhi dengan rasa bersalah, pun tak kuasa dirinya untuk menatap wajah adiknya. Alena sendiri tetap memaksa kakaknya untuk menatap dirinya.


Bukannya menuruti, Genan menangis penuh dengan penyesalan. Alena langsung memeluk kakaknya.


"Kakak kenapa menangis? maafkan aku jika sudah membuat Kak Genan seperti ini." Ucap Alena yang tengah memeluk kakaknya sambil berjongkok.


Genan langsung melepaskan pelukan dari adiknya dan menatap Alena dengan rasa bersalah.


"Untuk apa kamu memanggilku Kakak, aku tidak pantas untuk menjadi seorang Kakak untukmu. Pergilah sejauh mungkin, agar kamu bisa menikmati kebebasan kamu. Aku akan memenuhi permintaan kamu jika kamu tidak ingin menikah dengan Devan, aku akan melakukan apapun asalkan itu keinginan kamu."


Alena menggelengkan kepalanya sambil menangis, dan disaksikan langsung oleh Devan maupun ibunya Genan sendiri.


"Kak Genan akan tetap menjadi Kakakku untuk selamanya. Da_rah yang dialirkan oleh ayah, tetaplah menyambungkan persaudaraan kita, tidak akan pernah putus meski kita berbeda ibu. Kak Genan tetap Kakaknya Alena, apapun alasannya. Kalau bukan berkat perbuatan Kakak, mana mungkin aku bisa mengetahui kebenaran semua ini. Aku sayang Kakak, selamanya." Jawab Alena dan kembali memeluknya.


Ibunya Genan segera mendekati ketika semua sudah jelas dan tidak ada perdebatan atau pembicaraan yang lainnya.


"Kalian sudah dipertemukan, semoga tidak ada lagi kata perpisahan." Ucap ibunya Genan sambil mengajak Alena maupun putranya sendiri untuk bangkit berdiri, dan dibantu Devan.


Setelah tidak ada sesuatu yang perlu dibicarakan, Alena bersama Devan segera berpamitan untuk pulang ketika restu telah didapatkan.


Sampainya di rumah, Alena maupun Devan langsung menemui ibunya Devan yang tengah duduk santai di taman belakang. Kondisi ibunya kini semakin membaik, dan tidak seperti sebelumnya. Tetap saja, tiap minggunya harus kontrol dan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui perkembangannya.


.


.


.


Waktu telah dilewati beberapa hari, dan permintaan ibunya Devan telah dikabulkan, yakni untuk menikahi Alena.


Acara yang diselenggarakan di sebuah gedung, pun terlihat begitu mewah dan terkesan sangat elegan.


Semua para tamu undangan tengah menghadiri acara pernikahan, juga sudah memadati isi ruangan dalam gedung.


Alena yang sudah siap, pun hatinya bercampur aduk rasanya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika kehidupannya penuh liku dan penderitaan.


Sedangkan Devan yang juga sudah siap untuk mengucapkan kalimat sakral, perasaannya bercampur aduk ketika dirinya akan menikahi gadis yang tidak ia kenal, juga tidak ia cintai. Pernikahannya hanya semata untuk membahagiakan ibunya sesuai permintaan.


Karena waktu sudah hampir siang, acara pengucapan kalimat sakral, pun akan segera dimulai.


Kalimat demi kalimat akhirnya lolos begitu saja saat pengucapan kalimat sakral. Kini, Alena dan Devan benar-benar menjadi pasangan suami-istri yang sah.


Ucapan demi ucapan selamat dari keluarga, teman, dan kerabat lainnya secara bergantian, tidak terasa waktu pun telah selesai.


Sesuai kado dari ibunya Devan dan ibunya Genan, Alena dan Devan diminta untuk menikmati malam pertamanya di sebuah hotel yang sudah dipesankan oleh Genan. Bahkan, Genan yang akan mengantarkan sepasang pengantin sampai di hotel.


"Sekarang Kakak akan antar kalian berdua langsung ke hotel, jadi persiapkan diri kalian berdua. Ingat, jangan aku tonjok, sangat berbahaya." Ucap Genan sambil meledek.


"Hem. Diamlah, karena kamu belum berpengalaman. Alangkah baiknya jika kamu segera mencari calon istri, paham kan?"


"Hem. Gitu ya, lets go. Ayo kita berangkat." Ucap Genan dan langsung menarik tangan Devan dan Alena untuk masuk kedalam mobil.


Dalam perjalanan menuju hotel, Alena maupun Devan sama-sama diamnya. Namun, tiba-tiba Genan merasakan sesuatu yang aneh dalam perjalanannya.


Bahkan, ia seperti mendengar suara mobil patroli. Suara yang terdengar jauh, tiba-tiba suara itu menjadi dekat sedekat pendengarannya.


Begitu juga dengan Devan, tiba-tiba pendengarannya terganggu saat mendengar suara mobil patroli.


"Devan, coba kamu lihat ke belakang." Perintah Genan sambil menyetir mobilnya.


Tanpa disadari oleh Genan, jika suara mobil patroli juga terdengar dari arah depan.


Devan maupun Alena yang tengah menoleh ke belakang, pun sangat terkejut ketika melihat mobil polisi dan motor polisi yang seperti tengah mengawal dirinya.


Namun tidak untuk Devan dan Genan, benar-benar cemas memikirkannya. Nyawanya sendiri terasa dikepung, bahkan siap-siap untuk menerima resiko besar.


Devan yang takut tertangkap oleh banyaknya anggota polisi, langsung duduk ke depan untuk tukar posisi dengan Genan, yakni Devan yang akan menyetir mobilnya.


Tetap saja, Genan tidak mau dan tetap dirinya yang menyetir mobilnya.

__ADS_1


DOR!


DOR!


DOR!


Suara peluru yang dihempaskan oleh banyaknya anggota polisi, membuat Devan maupun Genan dan Alena kalang kabut paniknya.


"Sial! siapa yang sudah melaporkan kita, brengs_ek!" Umpat Genan sambil menyetir dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Sedangkan Alena terasa senam jantung ketika mobil yang ia tumpangi menjadi kejaran polisi.


Sssttt!


Genan langsung mengerem mendadak saat mobil dari arah berlawanan tengah menghalanginya..


"Kamu bawa pis_tolnya?" tanya Devan.


Genan menggelengkan kepalanya. Dirinya berpikir tidak akan terjadi apa-apa meski sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya.


"Apa! kamu tidak membawa pis_tol? seharusnya di dalam mobil kamu ini harus diisi penuh dengan pis_tol. Benar-benar bod_oh kau ini."


"Mana aku tahu, kalau kita akan di kepung seperti ini." Jawab Genan sambil memukul setir mobilnya.


Alena masih gemetaran, lantaran perasaan takut yang menguasai pikirannya.


Devan yang melihat istrinya ketakutan, ia segera kembali ke belakang untuk menenangkan istrinya.


"Kita menyerah saja, agar kita selamat." Ucap Alena yang takut nyawanya akan melayang.


"Jangan, mereka akan tetap menembak kita. Aku yakin, diantara mereka ada yang menyamar menjadi polisi dan sengaja akan melenyapkan kita." Jawab Genan menolak ajakan dari adiknya.


"Terus, kita harus bagaimana Kak?" tanya Alena khawatir.


"Kita terobos pakai mobil ini, siapkan diri kalian berdua untuk tidak lepas dari mobil ini. Pastikan dengan sabuk pengaman." Jawab Genan yang merasa sudah mentok dengan idenya.


Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya Devan dan Alena terpaksa harus menyetujuinya. Tidak peduli jika nyawa harus menjadi taruhannya.


Dengan tekadnya yang sudah bulat, akhirnya Genan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli jika harus menabrak kendaraan lainnya, baginya berusaha kabur dan menghindari adalah uji nyalinya.


Sedangkan Alena dan Devan sudah siap untuk mengambil resikonya.


Sedangkan banyaknya anggota polisi tengah mengejar mobil yang dikendarai Genan yang tengah menabrak kendaraan lainnya. Tidak peduli dengan korban yang berjatuhan, yang terpenting dirinya selamat dari kejaran anggota polisi. Bahkan, polisi saja harus menjadi korban dari ulah Genan.


DOR!


DOR!


DOR!


Suara tembakan kembali bersuara dan naas, ban mobil bagian belakang maupun depan telah berhasil dite_mbak dan naas, mobil yang dikendarai Genan hilang kendali.


"Aaaaaaa ...!" mobil pun mengalami kecelakaan hebat.


Semua yang ada didalam mobil langsung tidak sadarkan diri.


Genan, Devan, Alena, tengah dilarikan ke rumah sakit.


Ibunya Devan dan ibunya Genan yang mendapat kabar, pun langsung jatuh pingsan. Mereka langsung ditangani dokter pribadinya masing-masing dan ditemani asisten rumahnya.


Setelah sadar dari pingsannya, ibunya Devan dan ibunya Genan langsung pergi menuju rumah sakit untuk melihat kondisi mereka bertiga.


Sampainya di rumah sakit, keduanya berjalan cepat agar dapat melihat kondisi putranya dan kondisi Alena.


"Keluarga pasien yang bernama Alena, mana?"


"Saya, Dok." Jawab ibunya Devan yang langsung mendekati dokter.


"Mari ikut kami ke dalam." Ucap Dokter.


Ibunya Devan langsung berjalan mengikuti dokter masuk kedalam ruangan penanganan korban kecelakaan.


"Pasien telah meninggal dunia." Ucap dokter yang berada di dekat korban.


Ibunya Devan bagai tersambar petir ketika mendengar kenyataan bahwa Alena meninggal dunia.


Karena penasaran dan ingin melihat kondisi Alena, mencoba untuk membuka kain penutupnya.


"Korban mempunyai luka serius pada bagian kepalanya, dan juga bagian wajahnya. Jadi, kami melarangnya untuk melihat." Ucap dokter.

__ADS_1


Ibunya Genan langsung menangis histeris saat hari pernikahannya Alena harus menjadi Akhir dari cerita hidupnya.


Tubuhnya mendadak tidak sanggup berdiri.


"Nyonya, Nyonya, bangun." Panggil asisten rumah saat mendapati majikannya jatuh pingsan.


Ibunya Devan yang mendengar kabar tersebut, pun mendadak tubuhnya menjadi lemas ketika mengetahui jika menantunya telah meninggal dunia.


"Alena, Alena, Alena!" teriak ibunya Devan memanggil namanya. Kemudian, ibunya Devan sama halnya jatuh pingsan seperti ibunya Genan.


Saat itu juga, keduanya langsung mendapat penanganan agar sadar dari pingsannya.


Sedangkan Genan maupun Devan baru sadarkan diri. Genan terus meracau memanggil nama Alena, begitu juga dengan Devan, dirinya ikut memanggil nama istrinya dalam kondisinya yang terluka.


Arol yang tengah berdiri di tengah tengah antara Genan dan Devan, pun diam menunduk.


"Dimana Alena, dimana dia? keadaannya, kondisinya, baik-baik saja, 'kan?" tanya Genan khawatir.


Arol masih menunduk.


"Arol!" teriak Devan memanggil Arol dengan membentak.


"Nona Alena, Nona, Nona Alena,"


"Kenapa dengan Alena, Arol? ayo katakan padaku."


"Nona Alena tidak dapat diselamatkan, Tuan." Jawab Arol dengan terpaksa mengatakannya dengan jujur.


Genan maupun Devan yang mendengar jawaban dari Arol, pun bagai tersambar petir tanpa ada angin atau hujan sekalipun.


Tubuhnya bagai tak berdaya, keduanya seolah bibirnya telah bungkam ketika mendengar jawaban dari Arol.


Saat itu juga, Genan maupun Devan langsung melepas selang infusnya dan bergegas keluar untuk mencari Alena.


"Alena! Alena! Alena!" teriak keduanya sambil berlari untuk mencari keberadaan Alena.


Tentu saja, Genan dan Devan berada dalam pengawasan polisi.


Saat itu juga, anak buah Devan langsung mengantarkannya ke ruang jenazah, karena sebentar lagi akan diproses kepulangannya.


Dengan susah payah untuk menahan berat badannya karena sempoyongan, Genan maupun Devan menatap mayat yang terbujur kaku dengan kain yang menutupinya.


Genan maupun Devan langsung menangis histeris. Lebih lagi pada Genan, yang belum lama meminta maaf dan menyesali akan sebuah penyesalan, kini harus di tinggal untuk selama-lamanya oleh adik perempuannya.


Begitu juga dengan Devan, perempuan yang pernah diperlakukan kasar, dan juga sudah memberi aura positif untuk kesembuhan ibunya, kini harus terbujur kaku di hadapannya.


"Alena ...!" teriak Devan begitu nyaring, bahkan rahangnya mengeras.


Dua anggota polisi langsung memaksa Devan dan Genan untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


Dengan isak tangisnya, keduanya saling menyalahkan diri sendiri karena atas perbuatannya, Alena harus kehilangan nyawanya.


Devan dan Genan harus menjalani pengobatan dan juga proses hukuman atas pekerjaannya yang ilegal, juga sudah menghilangkan nyawa seseorang.


Pemakaman jenazah Alena tengah diproses oleh pihak anak buahnya Devan, sedangkan ibunya Devan dan ibunya Genan tengah dalam perawatan karena belum juga sadarkan diri dari pingsannya.


Tanpa ada yang menghadiri pemakaman Alena, rupanya menjadi tangis oleh asisten rumah Devan maupun Genan.


.


.


.


Genan yang sedang dalam proses hukum, hidupnya seolah tidak berarti lagi. Keduanya seolah tak ada semangat hidupnya sama sekali, lebih lagi nasib karirnya harus berakhir di dalam sel tahanan. Lengkap sudah derita dari Devan dan Genan, kebahagiaan yang lenyap begitu saja.


Devan yang terus melamun karena memikirkan istrinya yang sudah pergi untuk selama-lamanya, membuat Devan tak mau bicara.


Begitu juga dengan Genan, penyesalan yang begitu dalam sepanjang hidupnya karena harus kehilangan adik perempuannya.


Waktu telah berlalu, begitu cepat waktu yang telah di lewati. Sebuah permintaan dari Devan dan Genan, yakni meminta untuk mendatangi makam Alena bersama ibunya.


Tangis pilu ketika berada pusaran, sungguh tak kuasa ketika memandangi pusaran milik Alenata. Perempuan yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibu tirinya yang dianggap sebagai ibu kandung, justru harus menikmati kesedihan atas perlakuan Genan yang menyamar sebagai kakak tirinya untuk membalaskan dendamnya.


Tapi kenyataannya si Genan adalah kakak kandungnya dengan ibu yang berbeda. Penyesalan telah dirasakan oleh Genan, lelaki yang sudah menjual adiknya sendiri.


Kini, Genan dan Devan harus mendekam didalam penjara untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya.


Terkadang kisah hidup itu tidak melulu berakhir bahagia, terkadang ada kisah yang menyayat hati di akhir hidupnya. Namun, dibalik kisah pilu, ada hikmah setelahnya.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2