Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Terus memohon


__ADS_3

Alena yang melihat tatapan kakak tirinya, bergidik ngeri.


"Kamu bilang apa tadi? memintaku untuk membatalkan?" tanya Genan sambil mengunyah rotinya.


Sambil menatap kakak tirinya dengan perasaan takut, Alena menganggukkan kepalanya.


"I-i-iya, Kak. Aku sangat memohon sama Kakak, tolong cabut keputusan Kakak. Aku siap melakukan apa saja, kerja kek, apa kek, aku siap, tapi jangan jual aku pada orang lain. Aku mohon Kak, aku mohon cabut keputusan Kakak." Jawab Alena dengan raut wajahnya yang memelas.


"Memangnya kamu bisa mengembalikan pacarku hidup lagi? gak, 'kan? asal kamu tahu, kamu bukan saudara tiriku. Karena aku ini bukanlah siapa-siapanya ibu tiri kamu, dan aku hanya ingin membalaskan dendam ku padamu atas kematian pacarku lewat ibu tirimu, paham."


DEG!


Alena benar-benar terkejut mendengarnya, sungguh di luar dugaannya.


"Kenapa? terkejut? seharusnya kamu itu curiga denganku, karena aku hadir di rumah mu ini setelah kematian ayah mu bersama kematian kekasihku."


"Bukan, bukan aku yang menyebabkan kematiannya Anlyan, bukan aku, bukan."


Genan langsung meraih dagu miliknya Alena, dan menekannya dengan sangat kuat.


"Omong kosong apa lagi kamu? ha! pemb_unuh mana mau mengakuinya, persetan dengan mu, Alena. Andai saja aku tidak menjaga perasaan ku terhadap Anlyan, kau sudah ku jadikan bu_dak ku." Ucap Genan sambil menatap tajam pada Alena.


"Kak Genan salah besar jika menuduhku seorang pembunuh."


"Terus, kalau bukan kamu, lantas siapa? apa perlu aku menjadikan mu bu_dak ku? setelah itu baru kamu mau jujur padaku. Tapi percuma saja, karena aku tidak akan mudah untuk mempercayai mu."

__ADS_1


Alena yang gemetaran, sungguh tidak mempunyai nyali untuk berterus terang pada Genan, lantaran dirinya pun takut untuk menanggung resikonya.


"Kalian berdua ini bukannya menghabiskan sarapan paginya, masih saja berdebat. Kamu Alena, jaga omongan kamu itu, tidak usah mengelabuhi Genan dengan cara kotor mu." Ucap Ibu tirinya yang tiba-tiba sudah berada di ruang makan.


Alena yang malas untuk menjawab, dirinya lebih memilih untuk diam dan segera menghabiskan sarapan paginya. Begitu juga dengan Genan, dirinya segera menghabiskan sarapan paginya dan bersiap-siap untuk pergi.


Setelah selesai, Alena segera mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam kamarnya.


"Hanya bukti ini satu-satunya yang aku miliki, semoga ini bisa menyelamatkan aku dari orang jahat." Gumam Alena sambil memasukkan barang bukti ke dalam tasnya.


Tidak ingin mendengar suara teriakan yang memanggil namanya, Alena segera keluar dari kamarnya. Kemudian ia menghampiri ibu tirinya dan Genan yang ternyata bukanlah saudara tirinya, melainkan orang asing yang sengaja masuk dalam rumah orang tuanya yang berniat untuk membalaskan dendam atas kematian kekasihnya, yang tidak tahunya teman dekatnya Alena sendiri.


"Lama banget sih! kamunya ini, ayo cepetan keluar." Bentak ibu tirinya.


Alena yang tidak ingin melakukan perdebatan dengan ibu tirinya, dirinya segera keluar dari rumah.


"Awas saja ya kamu, kalau sampai membuat masalah, kamu harus siap menanggung segala konsekuensinya." Ucap Ibu tirinya yang tengah memberi ancaman kepada Alena.


Alena memilih diam ketimbang harus menjawab ucapan dari ibu tirinya itu. Tentunya tidak ingin harus berdebat dan terus berdebat.


Cukup lama dalam menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sampai juga di mension milik seseorang yang akan membayar mahal kepada Genan.


"Kita sudah sampai, ayo! cepetan turun." Ucap Ibu tirinya menyuruh Alena untuk segera turun dari mobil.


"Aku gak mau, Bu." Jawab Alena menolak.

__ADS_1


"Jangan sampai aku melakukan kekerasan kepadamu, apa susahnya untuk turun. Ingat, kamu masih berhutang nyawa padaku, tepatnya kamu akan tinggal bersama lelaki yang akan membeli mu." Ucap Genan yang semakin menggebu untuk membuat hidupnya Alena menjadi hancur dan berantakan.


Awalnya Alena tetap diam dan tidak turun dari mobil.


"Alena!" teriak Alena dengan suara yang melengking.


Alena langsung menutup kedua telinganya.


"Cepat kau keluar, gadis bodoh!" bentak ibu tirinya.


Alena menggelengkan kepalanya. Takut, itu sudah pasti.


"Alena gak mau turun, Bu. Alena akan tetap bersama Ibu, juga Kak Genan." Jawab Alena sambil menunduk, juga rasa takut.


Genan yang sudah hilang kesabarannya, benar-benar tidak bisa menunggu lama. Saat itu juga, Genan langsung turun dan diikuti oleh ibu tirinya.


Kemudian, Genan membuka pintu mobil dan dengan paksa harus menarik tangan Alena sangat kuat, yakni agar keluar dari mobil.


"Tolong Kak, jangan jual aku. Kak, aku mohon. Aku siap melakukan apapun yang Kakak inginkan, tapi jangan lakukan jual beli padaku Kak." Ucap Alena sambil bersimpuh di kaki Genan, yang ia anggap kakak tirinya, sekalipun mengatakan bukan.


Genan yang merasa risi, langsung menyingkirkan kedua tangan miliknya Alena. Kemudian, ia kembali menarik paksa tangan Alena hingga seperti orang yang terseret.


Sedangkan ibu tirinya tersenyum penuh kemenangan, lantaran berhasil menyingkirkan anak tirinya dan bisa menguasai hartanya.


"Begini saja mah mudah untuk membohongi Alena, dan aku yakin bahwa Alena tidak akan bisa berkutik." Gumam ibu tirinya Alena sambil menyusul Genan yang tengah membawa Alena masuk.

__ADS_1


"Kak, aku mohon jangan." Rengek Alena yang terus memohon.


Genan sendiri tidak mempedulikannya, tetap menarik paksa Alena. Juga tidak peduli dengan nasib akan diterima Alena.


__ADS_2