Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Meminta permohonan


__ADS_3

"Aku mohon, jaga Alena dengan baik. Jangan menyiksa dirinya, kasihani dia." Ucap Genan sambil menunduk, tak kuasa jika dirinya harus mengatakan yang sejujurnya.


"Kamu sedang tidak jatuh cinta dengan perempuan itu, 'kan? sampai-sampai kamu ingin menjadi pahlawan untuknya."


"Tidak, aku tidak mencintainya. Aku sadar diri, apa yang sudah aku lakukan sangatlah salah besar. Kalaupun kamu mengizinkan, aku akan mencabut Alena darimu."


"Apa! mau mencabut Alena dariku? ada denganmu, Genan?"


"Kamu bisa temui Arol, dia mempunyai buktinya. Maka kamu akan tahu jawaban dari segala pertanyaan."


"Yakin kamu? nanti jangan-jangan kamu hanya ingin mengelabuhi ku."


"Untuk apa? tidak ada untungnya aku berbohong padamu, yang ada aku akan merugi." Ucap Genan.


"Baik, aku akan segera pulang dan menemu Arol." Jawab Devan dan berpamitan untuk pulang.


"Waktunya sudah habis, tersangka harus melanjutkan penyelidikan." Ucap seorang anggota polisi.


"Baik, Pak." Jawab keduanya dengan serempak.


Setelah itu, Devan segera keluar dan mencari keberadaan anak buahnya Genan untuk diajak melakukan pertemuan.


Alena yang tengah duduk di depan kantor polisi, pun hanya sendirian. Sedangkan ibunya Genan yang sedari tadi mencarinya, juga tidak menemukan keberadaannya Alena.


"Itu dia anaknya, aku harus menemuinya dan mengajaknya mengobrol." Gumamnya dan bergegas mendekatinya.


"Alena ya?"

__ADS_1


Alena yang dikagetkan, langsung mendongak dan menatap perempuan paruh baya seusia ibunya.


"Ya, saya Alena. Ibu siapa ya? maaf, Nyonya."


"Jangan panggil Nyonya, saya ini ibunya Genan, ibu kandungnya, ibu yang sudah melahirkannya."


Tidak ada yang perlu ditutupi, ibunya Genan bicara apa adanya.


Alena langsung bengong saat mendengarnya. Seketika, Alena kembali teringat saat Genan mengatakan kalau dirinya bukan kakak tirinya, dan hanya ingin membalaskan dendam pada dirinya lewat mengaku anak kandung ibu Maya yang terpisah karena Genan ikut suami pertama ibu Maya.


Namun, kenyatannya itu salah besar. Kini rupanya ada sosok perempuan paruh baya tengah menghampiri dirinya dan mengaku bahwa dirinya itu ibu kandungnya Genan.


"Kenapa kamu bengong, kaget?"


Alena masih diam, ingatannya masih fokus untuk mengingat ucapan dari Genan.


Seketika, Alena langsung memegangi kalung yang ia pakai, yakni dibalik bajunya. Alena teringat saat menemukan sebuah kotak yang berharga di dalam kamar orang tuanya, yakni dibalik lemari saat masih sekolah dasar tanpa sengaja menemukannya dan mendapat isi surat dalam kotak tersebut dan menyimpannya.


Bahkan, didalam kotak tersebut terdapat dua buah kalung liontin yang sengaja dibeli dan ingin diberikan kepada dua wanita yang sama berharganya, meski yang pertama sudah diceraikan.


Namun, yang dipakai Alena justru kalung liontin yang bernama Hemilia. Sedangkan kalung milik ibunya ia simpan dengan rapih. Dengan tujuan, agar dapat dipertemukan dengan mantan istri ayahnya.


"Tidak, ini semua tidak mungkin." Gumam Alena sambil mengingat masa lalunya.


"Apanya yang tidak mungkin, Nak?" tanya ibunya Genan penasaran saat melihat ekspresi Alena yang berubah.


"Ibu, nama ibu mungkin hanya kebetulan."

__ADS_1


"Kebetulan yang bagaimana, Nak Alena?"


"Tidak, tidak apa-apa Bu. Maaf, saya harus segera pulang."


"Nona tidak perlu pulang, kita akan selesaikan semuanya dengan jelas." Ucap Arol yang tiba-tiba datang.


"Benar, ayo kita pergi dari sini. Kita bisa mencari tempat yang lebih aman, ayo." Timpal Devan ikut bicara.


Alena maupun ibunya Genan yang tidak ada pilihan lain, akhirnya nurut saja dan ikut aja kan dari Arol dan Devan.


Alena yang masih terus kepikiran dengan nama Hemilia, pun teringat pada Genan. Yakni, ibu bernama Hemilia sesuai yang ada dalam kalung liontin yang ia pakai.


'Tidak mungkin, ini semua pasti hanya kebetulan. Kalaupun benar ibu ini bernama Hemilia, berarti Kak Genan kakak kandung ku? tidak, ini semua hanya kebetulan saja. Terus, siapa ibu Maya? tidak, tidak, itu tidak akan mungkin.' Batin Alena yang tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan.


"Tidak ...!" teriak Alena yang tidak peduli dengan suasana didalam mobil yang hening tanpa suara yang berisik.


"Kamu kenapa, Nak? kenapa kamu berteriak teriak begitu? kamu baik-baik saja, 'kan?"


"Makanya, kalau malam itu buat tidur, bukan untuk bergadang. Gini nih, hanya akan membuat orang lain terganggu." Ucap Devan ikut menimpali.


"Sudah, sudah. Jangan ada yang mengajaknya berdebat, mungkin saja Nak Alena sedang banyak pikiran." Kata ibunya Genan mencoba untuk melerai nya.


"Maaf, saya tadi benar-benar tidak sengaja." Ucap Alena yang merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan.


"Tidak apa-apa Nak Alena, Ibu bisa memakluminya. Sini, bersandar di bahu Ibu, mungkin saja kamu lelah dan banyak pikiran." Kata ibunya Genan mencoba untuk menenangkan pikirannya.


"Terima kasih Bu, saya tidak ingin merepotkan Ibu." Jawab Alena yang merasa malu.

__ADS_1


__ADS_2