
Alena sama sekali tidak menjawabnya, dan memilih diam. Kemudian, ia segera keluar bersama Devan.
"Ayo kita ke sana, kita urus kepulangan jenazah ibu tiri kamu. Sudahlah, semua sudah terjadi. Kita tidak bisa menghakimi siapapun, semua sudah berakhir." Ucap Devan berusaha untuk meyakinkan Alena agar tidak larut dalam kesedihannya.
"Ini semua salahku, seharusnya aku menemaninya tadi walau hanya beberapa menit lagi, jadi ibu tidak kesepian." Jawab Alena tidak bersemangat.
"Namanya kematian, kita tidak akan pernah tahu itu kapan datangnya. Sebaik-baiknya kita berjaga diri, kalau kematian sudah didepan mata, kita bisa apa? ayo ikut aku untuk mengurus kepulangan jenazah ibu tiri kamu." Ucap Devan, sedikit memberi nasehat kecil padanya.
"Benar Nak, kita tidak bisa menghakimi diri sendiri. Juga, kita tidak akan pernah tahu kapan kematian itu akan datang pada diri kita, lebih baik kita terima dengan hati yang lapang, meski sangat menyakitkan sekalipun. Kamu tidak lagi sendirian, kamu masih punya saudara, dan Ibu yang siap untuk menjadi ibumu. Ada Genan kakak kamu, yang juga akan memberi kasih sayang padamu." Ucap ibunya Genan sambil mengusap punggungnya Alena untuk menguatkan hatinya.
Alena yang benar-benar merasa sedih dan kehilangan, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima takdir yang sudah ada.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Devan segera mengurus kepulangan jenazah ibu tirinya Alena. Sedangkan Alena tengah ditemani ibunya Genan dan asistennya.
Lain lagi dengan Genan, kini dirinya tengah diproses untuk dilakukan penyelidikan kasus yang semalam waktu di diskotik. Setelah mengumpulkan banyak bukti lewat anak buahnya, sedikit demi sedikit ada kelegaan untuk Genan, meski yang dilakukannya itu salah besar.
__ADS_1
Penuh dengan segala pertimbangan, akhirnya Genan dibebaskan, hanya saja dirinya harus membayar denda.
Genan yang dapat bernapas lega, akhirnya tidak diselimuti rasa ketakutan jika harus mendekam di balik jeruji besi.
"Kamu bebas, tapi bukan sekarang. Besok setelah keluargamu membayar dendanya, dan kamu baru bisa bebas. Untuk sekarang, kamu tetap berada disini." Ucap seorang polisi kepada Genan.
"Baik, Pak Polisi. Saya akan bersabar sampai menunggu besok, terimakasih sudah menerima laporan pembuktian yang kami berikan."
"Sama-sama atas kerjasamanya dalam mengusut kasus yang sudah begitu lamanya. Kalaupun tidak ada kejadian yang kamu lakukan, belum tentu kasus silam akan terungkap." Ucapnya.
Setelah selesai diurus, jenazah segera dipulangkan ke rumah duka.
Sampainya di rumah, langsung disambut oleh warga sekitar perumahan. Semua ikut membantu untuk melangsungkan pemakaman. Alena yang benar-benar merasa kehilangan, hanya diam sambil melamun dengan mengingat kenangan yang begitu banyak dengan ibu tirinya.
Waktu pengurusan jenazah pun selesai, dan langsung dibawa ke pemakaman umum. Ketika sudah sampai, Alena masih ditemani Devan hingga pengurusannya selesai.
__ADS_1
Satu persatu di antara orang-orang yang ikut mengantarkan ke pemakaman, pun sudah pulang. Kini, tinggallah Alena bersama ibunya Genan dan ditemani Devan maupun yang lainnya, yakni asisten ibunya Genan dan Arol anaknya buahnya Genan.
"Bu, kenapa ibu pergi secepat ini? padahal Alena ingin membahagiakan Ibu. Tapi, kenyataannya Ibu pergi lebih dulu. Maafkan Alena ya Bu, maafkan Alena yang belum sempat membahagiakan Ibu. Alena janji, Alena akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Terima kasih pada Ibu, karena masalah yang datang akhirnya Alena dipertemukan dengan kakak kandungnya Alena. Juga, Alena tidak sendirian." Ucap Alena saat berada di dekat pusaran ibu tirinya.
Devan yang tidak ingin Alena semakin larut dalam kesedihannya, ia mencoba mengajak Alena untuk pulang.
Dengan hati-hati, Devan memegangi kedua lengan bagian atas, yakni mengajaknya untuk berdiri.
"Ayo kita pulang, masih ada lain waktu untuk datang kemari. Sekarang sudah waktunya pulang, dan jangan dibuat larut dalam kesedihan." Ucap Devan membujuknya.
Alena masih diam, serasa tidak ingin beranjak dari dekat pusaran ibu tirinya.
Devan yang mengerti akan bagaimana rasanya diposisi Alena, pun tidak bisa membayangkan.
Mau bagaimanapun, seburuk dan sejahat apapun, Alena tetap menganggap ibu tirinya sebagai ibu kandungnya, meski sudah berbuat kejam dan jahat sekalipun.
__ADS_1
"Ayo Nak Alena, ayo kita pulang. Tidak baik jika masih di sini. Kamu masih banyak waktu untuk datang ke sini lagi. Kita harus belajar menerimanya, meski itu sangat berat sekalipun. Perpisahan akan tetap menjadi perpisahan, tapi kenangan tidak akan pernah terlupakan. Ayo kita pulang, Nak Alena."