
Tidak bisa berkata-kata lagi, akhirnya Alena menerima ajakan ibunya Genan untuk pulang.
"Maaf sebelumnya, Alena harus pulang bersama saya. Besok saya yang akan mengatur waktu untuk pertemuan Alena dan Genan. Untuk saat ini saya tidak bisa mengizinkan Alena pulang bersama Nyonya, sekali lagi saya meminta maaf." Ucap Devan yang akhirnya angkat bicara.
"Baiklah, terserah kamu saja. Apapun yang menjadi keputusan, saya juga tidak akan menentangnya." Jawab ibunya Genan, sedangkan Alena sendiri memilih untuk pasrah.
"Baiklah kalau begitu, Nyonya. Saya pulang duluan." Ucap Devan, ia langsung meraih dan menarik tangannya Alena.
"Ayo kita pulang." Ajak Devan yang langsung mengajaknya pulang.
Alena yang tidak mungkin untuk menolak, pun tidak bisa memaksakan kehendaknya. Lebih lagi dirinya sudah dijual, tentu saja sulit untuk berlepas diri dari seseorang yang sudah membelinya.
Selama dalam perjalanan pulang, Alena bersandar di jendela kaca mobil sambil melamun.
"Kamu tidak perlu memikirkan ibu tirimu, dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Sekarang yang harus kamu pikirkan, yaitu merawat ibuku." Ucap Devan masih kedengaran kaku dan juga dingin, meski terkadang ada perhatiannya sedikit.
Alena masih diam, dirinya sama sekali tidak menanggapinya.
Cukup lama dalam perjalanan pulang, tidak terasa waktunya sudah hampir sore. Saat itu juga, Devan baru saja ingat jika dirinya belum mengajak Alena untuk makan siang.
__ADS_1
"Kita akan ke restoran dulu, setelah itu kita baru bisa pulang." Ucap Devan sambil menyetir mobilnya.
Alena hanya mengangguk tanpa menjawab ataupun menoleh. Kali ini pandangannya lurus ke depan.
Dengan jarak yang tidak jauh, akhirnya sampai juga di restoran.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Ucap Devan sambil melepaskan sabuk pengamanannya.
"Aku masih kenyang, kamu masuk duluan aja." Jawab Alena yang juga masih tidak menoleh.
"Jangan membuatku marah, tolong turuti ajakan aku ini. Aku tidak mau kamu sakit gara-gara aku yang tidak bisa memperkerjakan kamu. Jadi, ayo turun." Ucap Devan yang kini mulai sedikit emosi.
"Sudah aku bilang, aku belum lapar. Kalau kamu ingin makan, masuk saja. Aku akan menunggumu di dalam mobil saja." Jawab Alena yang kini langsung menoleh setelah menjawab.
"Jangan membuatku untuk melakukan sesuatu yang bukan keinginan mu, ayo turun. Sekali lagi kamu menolak, aku bisa melakukan hal kasar padamu." Ucap Devan yang kini tengah memberi ancaman pada Alena.
Alena yang malas berdebat dengan Devan, mau tidak mau dirinya terpaksa bergegas turun dari mobil.
Kemudian, disusul oleh Devan yang segera turun.
__ADS_1
Sambil berjalan beriringan, keduanya masuk ke dalam restoran.
"Alena, kamu ada di sini?"
"I-iya Hen, aku Alena."
"Siapa lelaki ini, Alen? pacar kamu?" tanya Ferdi dengan sekilas melirik pada Devan.
"Aku suaminya Alena, Devan, kenapa?"
Sahut Devan yang langsung menyambar pertanyaan dari Hendi.
Alena yang mendengar jawaban dari Devan, pun langsung terkejut.
"Oh, suaminya Alena. Kok gak ada undangan untukku, kenapa dengan mu Alen?"
"Resepsinya nanti belakangan. Tenang saja, kamu bakal aku undang." Sahut Devan yang langsung menjawabnya.
Alena sendiri hanya bisa diam dan tidak tahu harus berkata apa, yang ia takutkan ucapannya salah.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu undangan dari kalian." Ucapnya.
"Ditunggu saja nanti undangannya. Kalau gitu sampai bertemu dilain waktu lagi, permisi." Jawab Devan yang langsung menarik tangan Alena dan mengajaknya masuk ke restoran.