Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Datang ke rumah sakit


__ADS_3

Dengan langkah kaki yang gesit, akhirnya sampai juga di depan ruang rawat ibu tirinya.


"Masuklah, aku akan menunggumu di luar." Ucap Devan.


"Tuan tidak ikut masuk?" tanya Alena.


Devan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku akan menunggumu di luar saja. Waktu kita tidak banyak, cepatlah masuk. Jangan sampai waktumu hanya sia-sia di rumah sakit ini." Jawab Devan yang tidak menyukai waktu yang hanya terbuang sia-sia.


"Bab-baik, Tuan." Ucap Alena dan bergegas masuk ke dalam ruang rawat pasien.


Saat pintu terbuka, Alena mendapati ibunya yang tengah berbaring lemas.


Meski sikapnya yang kasar dan selalu memperlakukan dirinya dengan tidak baik, Alena hanya memiliki ibu tiri semasa kecil hingga tumbuh dewasa.

__ADS_1


"I-i-ibu," panggil Alena yang sudah berdiri didekat ibu tirinya.


Kemudian, Alena menarik kursi yang tidak jauh darinya untuk duduk disebelah ibu tirinya. Dengan lembut Alena mengusap punggung tangannya yang tidak dipasang selang infus.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mama dan Kak Genan, Ma? ada masalah apa dengan kalian berdua? kenapa Kak Raka harus dipenjara?" ucap Alena bertanya-tanya karena rasa tidak tahu tentang apa yang sudah terjadi pada ibu tirinya, dan juga Genan yang diakui kakak tirinya.


Entah karena kebetulan, apa karena seperti diminta untuk sadarkan diri ketika Alena datang. Dengan pelan-pelan ibu tirinya Alena menggerakkan jari jemarinya, dan beralih pada kedua matanya yang berusaha membuka matanya dengan sempurna.


Alena pun terkejut saat melihat ibu tirinya mendapat respon dari ibu tirinya. Alena yang mengetahui jika ibu tirinya belum juga sadarkan diri, langsung menekan tombol yang ada didekatnya untuk memanggilkan dokter agar segera datang dan memeriksa ibu tirinya.


"A-a-aku ada dimana?"


Belum sempat bicara, sang dokter pun datang untuk segera memeriksa kondisi pasiennya. Sedangkan Alena sendiri penuh kekhawatiran terhadap ibu tirinya itu.


Devan yang tidak ingin berurusan dengan ibu tirinya memilih untuk tidak masuk ke dalam dan memilih menunggunya di luar.

__ADS_1


Setelah diperiksa kondisi pasien, dokter pun segera keluar. Kini tinggallah Alena menemani ibu tirinya di dalam ruangan tersebut.


Ibu tirinya langsung memalingkan wajahnya, dirinya benar-benar malu atas perbuatannya. Lebih lagi Alena yang sempat ia benci dari kecil hingga tumbuh besar.


"Bu, maafkan Alena yang baru bisa menjenguk Ibu. Sekarang jadwal Alena sangat padat, dan Alena tidak bisa kemana mana dengan bebas." Ucap Alena berharap ibu tirinya dapat merespon.


"Kamu ngapain datang kesini, Ibu sudah sangat jahat sama kamu. Ibu tidak pantas untuk dijenguk, pergilah dari sini." Jawab ibu tirinya.


"Enggak Bu, enggak. Ibu tidak jahat, kalau Ibu jahat, pasti dari kecil tidak rawat oleh Ibu sampai besar seperti sekarang ini." Ucap Alena.


"Kamu itu benar-benar sangat bodoh, tidak bisa membedakan mana yang baik dan jahat."


"Ibu tidak jahat, Ibu baik. Buktinya Ibu mau membesarkan Alena." Ucap Alena.


Tidak lama kemudian, datang lah seorang polisi dan masuk ke ruangan pasien yang dimana telah ditempati ibu tirinya Alena.

__ADS_1


"Permisi, kami ingin mengambil sidik jari Ibu Maya." Ucap Pak Polisi.


Ibu tirinya Alena pun langsung terkejut ketika sidik jarinya hendak diminta, tentu saja segala identitasnya akan diketahui semuanya.


__ADS_2