Aku Dijual Kakak Tiriku

Aku Dijual Kakak Tiriku
Takut tidak ada pertolongan


__ADS_3

"Permisi, Nyonya. Maaf, jika saya sudah mengganggu. Bolehkah saya duduk di sebelah Nyonya? maaf maaf maaf, bukan niat saya untuk lancang." Ucap Alena penuh dengan hati-hati, takutnya akan memancing emosinya.


Saat itu juga, ibunya Devan langsung menoleh pada Alena. Anehnya lagi tatapannya tidak seperti orang yang sedang marah atau benci, justru tatapannya kali ini sangat berbeda dan terlihat teduh, tidak seperti pertamanya bertemu.


Alena yang masih dihantui perasaan cemas dan juga takut, tentunya hati-hati ketika berhadapan dengan ibunya Devan.


Alena masih diam mematung, tentu saja menunggu mendapatkan respon terlebih dahulu sebelum mendekatinya.


"Sini sini sini, ikut duduk bareng ibu. Ayo sini, cepetan. Ibu mau kasih tahu sesuatu sama kamu, ayo sini."


"Saya, Nya." Jawab Alena sambil menunjuk pada diri sendiri dengan jari telunjuknya.


"Iya kamu, ayo sini duduk."


Alena yang semakin takut, tidak tahu harus bagaimana caranya untuk menghadapi orang yang depresi. Ditambah lagi pernah meludahi nya, tentu saja itu bukan hal mudah untuk memahami karakter orang depresi.


Pelan-pelan dan juga penuh hati-hati, Alena berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Ayo sini ikutan duduk, jangan panggil Nyonya, panggil saja ibu. Sini duduk, ibu mau memperkenalkan kamu dengan suami Ibu." Ucapnya dan menarik paksa tangannya Alena.


Sontak saja Alena menjadi takut, juga was-was tentunya.


Dengan gemetaran, Alena duduk disebelahnya. Heran, itu sudah pasti.


'Sebenarnya ibu ini kenapa? sekarang ini terlihat tidak ada tanda-tanda orang depresi, juga ucapannya tidak ada yang salah. Hanya saja, penampilannya yang sudah berantakan.' Batin Alena penuh dengan rasa penasaran.


"Nih lihat, suami ibu cakep ya?"


"Iya Nya, Tuan terlihat masih muda, dan juga terlihat tampan." Ucap Alena memuji.


Susah payah Alena melepaskan kedua tangannya ibu Erlina, sampai-sampai Alena sendiri terasa sulit untuk bernapas.


"Kamu bilang apa tadi? suamiku baik? suamiku tampan? berani beraninya kamu memuji suamiku. Kamu pasti akan merebutnya dariku, ha!"


"Lep-lepaskan sas-sa-sas-saya, Nya."

__ADS_1


"Kamu harus mati, mati, mati!"


Saat itu juga, Devan yang sengaja ingin menemui ibunya, pun masuk ke kamar ibunya dan melihat Alena tengah dice-kik lehernya.


Tenaga ibunya Devan semakin kuat, dan energinya semakin meningkat ketika emosinya kambuh.


"Ma, lepaskan. Dia bisa mati karena Mama, lepaskan tangan Mama." Ucap Devan berusaha untuk melepaskan kedua tangan ibunya yang masih mence-kik lehernya Alena.


"Dia, dia perempuan yang mau merebut papamu dari Mama. Dia pura pura baik dan memuji papamu, agar bisa merebutnya dari Mama. Usir dia, bila perlu kamu bu_nuh perempuan itu." Kata ibunya sambil menunjuk nunjuk Alena dengan tatapan yang tajam, bak mau menerkam musuhnya.


Alena yang baru saja terlepas dari ceki-kan ibunya Devan, pun masih batuk karena terce-kik bagian lehernya dengan kuat.


Meski usianya tidak lagi muda, tetapi tenaganya berlipat ganda dibandingkan dengan Alena.


"Dia bukan orang jahat seperti yang Mama kira, dia orang baik yang akan merawat Mama." Ucap Devan berusaha untuk meyakinkan ibunya.


Sedangkan Alena masih mengatur napasnya, lantaran rasa ketakutannya masih menghantui pikirannya, yakni tentang keselamatan dirinya karena takut jika tidak ketahuan, maka nyawanya lah yang harus menjadi taruhannya.

__ADS_1


'Apa aku sanggup merawatnya, sedangkan aku sendiri teraniaya. Sungguh benar-benar menguji kesabaran ku, ternyata merawat orang depresi itu tidaklah mudah.' Batin Alena sambil memperhatikan ibunya Devan.


__ADS_2