
Perubahan penampilan Khansa sungguh membuatku tidak tenang. Dia terlalu cantik untuk bisa diabaikan semua orang. Aku ingin Khansa tetap seperti yang dulu, agar hanya Aku yang menyadari kecantikannya.
Dino menepati kata-katanya. Tak berselang lama ada nomor baru yang menghubungiku. Nomor itu mulai rajin mengirimiku foto Khansa dan laporan singkat kegiatan hariannya. Aku mencoba menghubungi nomor itu, tapi si pemilik nomor tidak pernah mengangkatnya. Ketika Aku menanyakan hal ini pada Dino, ternyata memang sistem kerja mereka seperti itu. Mereka membatasi diri untuk berkomunikasi dengan klien secara langsung. Mereka hanya mengirim foto yang disertai dengan keterangan mengenai setiap kejadian. Meskipun kurang puas, tapi mau tidak mau Aku harus menerimanya. Aku tidak punya pilihan lain untuk saat ini.
Melihat foto-foto Khansa membuat fantasiku menjadi liar. Seperti layaknya pria pada umumnya, tubuhku juga butuh pelepasan. Ketika hati ini begitu merindukannya, acapkali tubuh ini selalu membayangkan tidur bersamanya. Memeluk, mencium dan mencumbunya.
Awalnya Aku mengutuki pikiran kotorku. Aku merasa bersalah karena menjadikan Khansa sebagai objek fantasiku. Aku mencoba untuk melihat blue film dan mengganti visual Khansa dengan para wanita di film, namun tidak pernah berhasil. Setiap kali Aku melakukannya, wajah Khansa akan selalu hadir. Pada akhirnya Aku menyerah. Aku menjadikan Khansa sebagai objek fantasiku satu-satunya.
Ketika kerinduan dan hasrat terpendam datang secara bersamaan, yang bisa kulakukan hanyalah melampiaskan nafsuku seorang diri sembari menatap fotonya. Aku membayangkan mencium bibirnya yang lembut, mengendus cekung lehernya yang wangi, membuat alur di sepanjang tubuhnya. Puncaknya adalah penyatuan tubuh Kami. Membayangkan hal seperti itu sangat efektif membuatku mencapai pelepasan dengan puas.
Khansaku... Aku merindukanmu...
***
Aku menyelesaikan kuliah doktoral selama dua tahun. Aku ingin kembali ke Indonesia dan menerapkan apa yang kupelajari di negaraku. Namun ternyata pihak kampus menahanku dan memaksaku untuk menjadi Kepala OptoSense Group di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) di Jerman. Aku menjabat jabatan itu selama satu tahun. Pada tahun 2017, Aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Aku berniat untuk menjadi ilmuwan sekaligus enterpreneur. Aku kembali ke kampus lamaku dan menjadi salah satu peneliti di sana. Selain itu Aku membangun perusahaanku sendiri yang bergerak di bidang nano teknologi yang kuberi nama PT. Nanotechno.
Awalnya perusahaan itu berfokus pada pengembangan alat elektronik berbasis nano, namun seiring pertumbuhan gaya hidup masyarakat milineal, perusahaan mulai merambah ke bidang lain. Dalam waktu tiga tahun, perusahaan tumbuh dengan pesat hingga mampu mendirikan tujuh anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang yaitu di bidang IT, pertanian, pangan, energi, mineral, kesehatan, dan pendidikan.
Setiap anak perusahaan di pimpin oleh alumnus kampus yang kupilih sendiri. Aku memilih para alumnus yang tidak hanya cerdas dibidangnya, namun memiliki jiwa enterpreneur di dalam hatinya.
Selama tiga tahun di Indonesia, perusahaan itu mulai berjalan dengan stabil. Aset perusahaan yang awalnya hanya puluhan miliyar berkembang menjadi ratusan milyar. Targetku, di tahun kelima aset perusahaan harus mencapai puluhan triliun.
Semenjak menunjuk para pemimpin anak perusahaan, Aku tidak perlu terjun langsung ke lapangan. Aku hanya bertugas sebagai pengawas keberlangsungan hidup perusahaan. Semua laporan dari ke tujuh anak perusahaan tetap berpusat padaku.
Selama di Jakarta, Diana maupun Aaron sering mengunjungiku. Diana menjadi model sekaligus artis ibukota, sementara Aaron memegang usaha keluarga yang mulai merambah ke ibukota.
Hubungan Diana maupun Aaron tampaknya tidak mengalami perubahan. Mereka tetap bertunangan, namun belum ada kejelasan kapan akan dilanjut ke jenjang pernikahan.
__ADS_1
Diana tetap sama. Selalu mengejar Aaron dan mengharap cintanya. Sementara Aaron tampaknya juga tidak berubah. Dia belum bisa membuka hatinya untuk Diana dan tetap bermain dengan para perempuan seperti biasa.
Diana acapkali datang padaku dalam kondisi menangis. Menceritakan segala hal yang dilakulan Aaron yang membuatnya sakit hati. Melihat Diana seperti itu seperti melihat diriku sendiri. Perasaan Diana yang konsisten terhadap Aaron mengingatkanku pada perasaanku terhadap Khansa. Aku berempati terhadapnya.
***
Di sela-sela kesibukan itu, Aku masih dengan rutinitas lamaku, memantau kehidupan wanitaku. Aku senang karena wanitaku bisa menjaga diri dengan baik. Dia tidak mudah goyah dengan rayuan lelaki br*ngsek yang datang mendekat. Awalnya perasaanku memang sangat tenang, hingga akhirnya Aku melihat foto-foto itu!! Khansaku mulai berani berpacaran!!
Aku melihat kedekatan Khansa dengan lelaki lain. Menurut keterangan di foto, pria itu adalah teman sekantor Khansa yang jabatannya di atas Khansa satu tingkat. Bisa dikatakan bahwa pria itu adalah orang nomor dua di cabang Surabaya!
Hatiku sangat panas. Perasaan marah dan cemburu menguasaiku. Aku harus segera bertindak, sebelum Khansaku dimiliki oleh orang lain!!
Awalnya Aku bingung harus memulai langkahku dari mana. Aku tidak mungkin langsung datang ke tempat Khansa dan menyuruh wanita itu untuk meninggalkan pacarnya. Khansa pasti akan melihatku sebagai pria aneh dan gila.
Aku memikirkan suatu cara yang membuat kedatanganku dalam hidup Khansa tampak alami dan tidak terkesan mencurigakan. Setelah berpikir cukup lama, ide aneh mulai muncul di kepalaku. Aku akan masuk ke perusahaan Khansa sebagai atasannya. Mencari jabatan di atas Khansa maupun pacarnya, agar Aku bisa berkuasa terhadap keduanya.
***
Aku mulai mendekati direktur itu dan menjalin hubungan baik. Hingga pada suatu kesempatan Aku menyatakan keinginanku.
"Apa Saya tidak salah dengar? Mengapa seorang direktur Nanotechno dengan tujuh anak perusahaan ingin bekerja di tempat Saya? Ini sangat tidak masuk akal Pak Yohan. Bidang usaha Kita sangat bertolak belakang."
"Mungkin memang tidak masuk akal. Namun Saya ingin sekali mencoba bidang itu. Direktur jangan khawatir. Saya akan bekerja sesuai dengan jobdesk perusahaan tanpa meninggalkan kewajiban. Saya profesional. Anda bisa mempercayai Saya." Aku berusaha membujuk direktur itu. Hanya dalam dua kali pertemuan, direktur sudah memberikan suatu posisi yang cukup membuatku puas. Setidaknya posisi itu bisa membuatku berkuasa atas Khansa maupun pacar br*ngseknya.
***
Anugerah otak yang cerdas membuatku belajar dengan cepat. Hanya dalam kurun waktu dua minggu, Aku sudah menguasai jobdeskku. Seperti ucapanku sebelumnya, Aku adalah seorang yang profesional dan total dalam pekerjaan. Aku mulai bekerja sesuai jabatanku, Group Head of Bussiness. Memantau kinerja setiap wilayah yang sudah terbagi-bagi. Aku suka dengan jabatan baruku, karena hal itu memungkinkanku untuk berkunjung ke cabang-cabang yang kuinginkan. Dan cabang yang paling ingin kukunjungi adalah cabang Surabaya.
Jabatan itu membuatku memiliki sekretaris pribadi. Sekretaris itu akan membantuku dalam segala hal seperti misal mengatur jadwal pertemuan, menghandle semua memo dan berkas yang butuh ditandatangani, hingga hal-hal sepele seperti menyiapkan makan, baju dan hal-hal kecil lainnya selama dalan perjalanan. Sekretaris baruku bernama Winda.
__ADS_1
Aku suka dengan tampilan Winda. Setidaknya dia bukan tipe sekretaris penggoda. Winda adalah tipe orang yang kaku dan sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Aku menyukai kepribadiannya. Aku memutuskan untuk percaya pada Winda.
Malam itu Aku masih berkutat dengan data pertumbuhan asset setiap wilayah ketika menerima laporan kegiatan Khansa. Hatiku langsung panas dan terbakar. Ada rasa mendidih yang ingin kuluapkan.
"What the f*ck!! Br*ngsek!! Berani-beraninya!! Sial!!" Luapan amarah menguasaiku begitu melihat foto pria yang sedang melamar Khansa. Tubuhku gemetar antara menahan amarah sekaligus ketakutan. Ya, Aku takut Khansa menerima lamaran itu!!
"Ya Tuhan, semoga dia menolaknya!! Semoga ditolak!! Khansa tidak mungkin menerimanya bukan?!" Aku mulai berbicara sendiri. Amarah dan frustasi menjadi satu. "Berpikir Alex, berpikir," desisku tak berkesudahan. Hingga akhirnya suatu ide muncul di kepalaku. Aku menelepon Dino.
"Hallo Nguk? Tumben telepon?"
"Din, rencanakan reuni untukku!"
"Maksudnya?"
"Aku akan ke Surabaya. Rencanakan reuni di Surabaya. Pastikan Khansa mengikutinya. Aku nggak mau tahu caranya gimana."
"Wah, serius Nguk?! Ya Tuhan, mimpi apa Aku semalam? Apa Aku nggak salah dengar? Akhirnya teman pengecutku mau bergerak juga? Hahaha."
"Din, Aku serius! Ini sangat urgent. Pastikan reuninya diadakan minggu-minggu ini. Atur untukku, oke?!"
"Kenapa buru-buru Nguk? Kenapa kayak kebakaran jenggot gitu? Khansa sudah punya pacar? Khansa mau menikah? Mau merusak pernikahan dia?"
"Berisik!! Pokoknya atur reuni itu untukku. Oke?!"
"Hadeh. Siapa yang bisa menolak Tuan Tukang Perintah? Pokoknya siap aja Booosss,"
"Oke Din, Aku tunggu kabar baiknya. Segera."
"Siaaaaappp."
__ADS_1
***
Happy Reading 😶