Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 71 - Ngidam Kok Lihat Sawah?


__ADS_3

Kami bangun pagi-pagi sekali. Alex menggunakan jurus modusnya untuk memandikanku. Aku menolak karena merasa sangat malu. Namun bukan Alex namanya yang menerima penolakan begitu saja. Alex menggendongku dan melucuti bajuku. Pada akhirnya Kami kembali melakukan aktivitas itu lagi di kamar mandi.


Setelah selesai, Aku beristirahat sejenak. Sementara Alex turun ke lobby untuk mencari sewa motor.


Menjelang pukul delapan pagi, Kami mulai bersiap-siap untuk beraktivitas. Hari itu Kami menyewa motor yang di sediakan oleh pihak hotel.


"Pakai celana sayang, biar nggak kepanasan. Mana celanamu?"


"Ada di koper Mas." Alex membongkar koperku dan mengambilkan celana legging berwarna hitam.


"Apa tidak terlalu tipis pakai ini? Pakai kaos kaki juga ya."


"Ya ampun, siang-siang pakai kaos kaki Mas..."


"Agar kakimu tidak kepanasan. Kalau tidak nurut, Kita naik mobil nih."


"Padahal cuman mau naik motor lho, kok jadi heboh gini..."


"Kamu yang buat heboh sayang. Padahal naik mobil lebih nyaman."


"Pengen naik motor Mas..."


"Ya sudah nurut, jangan bantah." Bila Alex sudah bersabda, maka Aku hanya bisa patuh.


Aku memakai baju hamil berwarna biru dongker dengan legging hitam lengkap dengan sepatu sandal lengkap kaos kakinya. Entah darimana datangnya, Alex juga memakaikanku sarung tangan dan masker. Sementara dia sendiri hanya pakai kaos, celana pendek dan sandal biasa.


"Sudah siap, ayo Kita berangkat." Alex mengecup keningku dan menggandeng tanganku.


Kami menuju parkiran dimana motor sudah disiapkan oleh petugas hotel.


"Yakin nggak mau mampir ke sekolah?"


"Nggak..." Sebenarnya Aku ingin mampir ke sekolahku untuk bertemu Bu Ekha, namun karena kondisiku yang hamil besar dan berstatus istri siri membuatku malu untuk menemui beliau.


"Langsung ke sawah nih?"


"Iya."


"Pakai helm dulu." Alex memasangkan helm padaku. Kemudian dia mencubit hidungku dengan gemas. "Cantik sekali."


Di puji seperti itu saja sudah membuatku bersemu merah. Meskipun Aku tahu pujiannya hanya basa-basi. Bagaimana mungkin dia mengatakan Aku cantik sementara dia punya istri yang kecantikannya seperti dewi?


"Hati-hati naiknya. Bonceng cewek saja." Alex naik ke atas motor.


"Iya." Seperti perintahnya, Aku bonceng cewek. Padahal Aku ingin bonceng cowok agar bisa memeluknya dengan puas.


"Pegangan ya. Peluk Aku."


"Iya Mas. Kok jadi cerewet ya..." Gumamku. Namun ternyata gumamanku didengar Alex.


"Aku cerewet karena Kamu maksa naik motor. Kalau naik mobil, Aku nggak akan secerewet ini."


"Iya, iya..."


Alex melajukan motor dengan pelan. Seperti kecepatan siput yang berjalan.

__ADS_1


"Mas, lebih cepat."


"Nggak boleh terlalu cepat. Takut ada apa-apa dengan kandunganmu sayang."


"Kalau nggak cepat, anginnya kurang terasa Mas..."


"Siapa yang cerewet sekarang?"


"Isshh..."


Alex menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang tanganku yang memeluk pinggangnya. Menautkan jari-jemari Kami. Aku menyandarkan kepalaku di punggungnya.


"Ingat waktu Kita boncengan dulu? Waktu sepedamu bannya kempes?"


"Iya, ingat Mas."


"Dulu Kita juga boncengan bertiga sama Fian ya."


"Iya. Pengen naik motor itu lagi." Motor Ninja berwarna hitam. Salah satu motor penuh kenangan mereka bersama.


"Motornya sudah Aku gudangin. Lagian mana bisa naik motor itu sayang. Perutmu besar gitu." Alex tertawa geli. Aku mencubit perutnya yang datar, membuatnya mengaduh kesakitan.


Kami berkendara kurang lebih setengah jam sebelum melewati pematang-pematang sawah yang menghijau. Aku senang melihat pemandangan itu. Entah mengapa membuat jiwaku tenang.


"Ngidam kok lihat sawah sih Yank? Ngidam kok simple banget."


"Tapi Kamu masih ngomel gitu Mas..."


"Aku ngomel karena Kamu minta naik motor sayang. Setelah ini mau ngapain? Cuman gini-gini aja? Lihat sawah?"


"Duduk di pinggir situ Mas." Aku menunjuk rerumputan dibawah pohon yang teduh.


Dia segera menghampar alas berupa banner tidak terpakai itu di atas rerumputan.


"Duduk di sini." ucapnya. Aku mengikutinya. Aku duduk dengan nyaman sembari menyelonjorkan kakiku. Alex duduk di sampingku. Dia memeluk tubuhku agar bersandar padanya.


"Terus? Gini aja?"


"Iya. Lihat deh sawah-sawahnya Mas. Hijau kan? Di Jakarta nggak ada yang kayak gini..."


"Kamu suka sawah?"


"Iya, suka."


"Hari ini Kita beli."


"Beli apa?"


"Sawah."


"Kalau ngomong suka ngawur deh..."


"Aku serius. Kamu suka sawah kan? Sekalian saja Kita beli. Hitung-hitung buat investasi kan?"


"Huftt.. Terserah deh Mas, terserah... Kok semua hal dihitung untung rugi..." Alex menceramahiku ini-itu, membuat kepalaku pusing.

__ADS_1


"Nikmati pemandangannya Mas..." Aku memotong pembicaraannya. Akhirnya Alex terdiam dan ikut-ikutan memandang sawah dengan wajah bosan.


"Mas..."


"Hem?"


"Jangan suka marah-marah..."


"Aku tidak akan marah kalau Kamu patuh. Tidak membantahku."


"Aku takut kalau Kamu marah Mas. Di tempat kerja juga, jangan suka ngomong kasar pada bawahan. Bisa bayangin nggak sih gimana perasaan mereka?"


"Mereka kerja nggak becus. Kalau mereka kerjanya bener, Aku juga nggak akan marah-marah. Oh ya ngomongin masalah kerjaan, lusa Kita ke Surabaya naik mobil saja."


"Tumben? Biasanya langsung naik pesawat?"


"Iya, ada beberapa cabang yang mau Aku kunjungi. Cabang Probolinggo, Sidoarjo dan Surabaya."


"Mau mampir ke cabang Surabaya juga?"


"Iya. Senang? Kamu bisa ketemu teman-temanmu. Apa ada bawahanmu yang ingin Kamu bawa ke Jakarta? Agar Kamu tidak kesepian lagi."


"Ada sih... Tapi takutnya anaknya keberatan Mas. Jadi nggak usah deh. Ngomong-ngomong sejak kapan Kamu tahu Aku kerja di sana Mas?"


"Itu... Rahasia." Aku menatap Alex. Pria itu tampak serius. Dia benar-benar tidak ingin membuka mulut. Padahal banyak pertanyaan di kepalaku.


Aku ingin bertanya, mengapa dia baru mencariku setelah beberapa bulan berlalu dari kejadian malam itu? Mengapa dia mencariku setelah menikah dengan Diana di LN? Apa tujuannya?


Tapi pertanyaan itu Aku simpan di hati karena Aku takut dengan jawabannya. Aku bertanya sejak kapan Alex tahu Aku kerja di tempat kerjaku yang dulu saja Alex tidak mau menjawab, apalagi kalau Aku bertanya hal lainnya? Yang ada mungkin nantinya laki-laki itu akan marah.


Kami menghabiskan waktu beberapa jam memandangi sawah. Ketika hari sudah menjelang siang, Kami pergi dari tempat itu dan mencari makan siang.


Aku meminta Alex untuk membawaku ke wilayah kampus karena di sana banyak kuliner bertebaran. Aku makan dan nyemil sesuka hati. Alex hanya makan satu jenis makanan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat nafsu makanku yang besar.


"Sudah puas makannya?"


"Iya."


"Masih ada lagi yang mau dimakan?"


"Nggak ada."


"Balik ke hotel ya."


"Aku mau ke alun-alun dulu..."


"Balik ke hotel dulu. Ke alun-alunnya nanti malam saja. Sekarang Kita tidur siang dulu."


"Tidur siang aja kan? Nggak aneh-aneh?"


"Iya, tidur siang. Mau ya balik ke hotel?"


"Iya."


Aku melihat kilatan gairah di mata Alex. Aku bisa membayangkan adegan apa yang akan terjadi nantinya. Aku merasa menyesal telah menyetujui permintaannya. 🥴

__ADS_1


***


Happy Reading 😗


__ADS_2