Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 66 - Berteman


__ADS_3

"Lalu kenapa? Apa hubungan Diana dengan keinginanmu? Bukankah bagus Kamu ketemu Diana? Kamu bisa berteman dengannya? Waktu SMA kalian tidak cukup dekat. Sekarang kalian bisa dekat."


Terlalu terkejut mendengar penjelasan Alex membuat airmataku semakin deras mengalir. Jahat Kamu Al, benar-benar jahat!!


"Apa maumu sayang? Jangan membuatku bingung. Hem?" Alex merangkum wajahku. Menghapus airmata yang mengalir di pipiku. Aku masih menangis, tidak mau menjawab pertanyaannya.


Alex merengkuhku dalam pelukannya. Dia menepuk-nepuk punggungku.


"Jangan tinggalkan Aku. Tetap di sisiku ya. Jangan kemana-mana..." Suara Alex tampak bergetar. Rupanya dia juga dipenuhi emosi. Tapi meskipun begitu, Aku tidak terpengaruh. Aku masih kesal dengan keputusan Alex yang membuat Kami berdekatan.


"Ke-kenapa rumahnya harus berdekatan?"


"Rumah Kita dan Diana? Bukankah sudah jelas? Agar Aku bisa menjaga kalian berdua. Diana juga sedang hamil sayang. Kasihan kan kalau tidak ada yang menjaganya."


Kejujuran Alex tidak membuat tangisku makin mereda, malah tangisku semakin keras.


"Tapi kenapa harus berdekatan?! Kamu jahat Al! Kamu benar-benar jahat! Aku benci Kamu!" Aku meronta-ronta, berusaha melepaskan diriku dari pelukannya. Namun Alex semakin mempererat pelukannya.


"Iya Aku tahu Kamu membenciku. Tapi kebencianmu tidak akan membuatku melepasmu. Kamu harus tetap di sisiku Khansa!"


"Dasar pria egois!! Egois Kamu!! Jahat!! Egois!!" Aku memukul-mukul tubuh Alex. Tapi pria itu tetap tidak bergeming.


Pria egois!! Dia ingin memiliki Kami berdua tanpa berani melepas salah satu dari Kami. Malah dia ingin membuat Kami berdua menjadi teman baik. Benar-benar pria egois!! Dia tidak memikirkan perasaan Kami!! Yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri. Aku benci Kamu Al!!


Alex masih merengkuhku sembari menepuk-nepuk punggungku. Dia merelakan dirinya untuk kupukuli tanpa melawan. Aku menangis sembari memukuli tubuhnya. Lama-lama hal itu membuatku lelah. Tangis berubah menjadi isakan. Dan isakan berubah menjadi keheningan. Kelelahan meluapkan emosi membuatku mengantuk. Sebelum Aku terbang ke alam mimpi, Aku mendengar Alex berkata...


"Maafkan Aku sayang... Bersabarlah denganku... Tetaplah berada di sisiku... Jangan tinggalkan Aku..."


***


Aku merasa Alex mengecupiku, tapi Aku tetap berpura-pura tidur. Hatiku masih belum memaafkannya.


"Sayang, bangun. Aku mau berangkat... Cup... Cup... Cup..." Aku tetap berpura-pura tidur.


"Ya sudah, tidur nyenyak ya, cup..." Kecupan terakhir Alex sebelum dia berangkat kerja.


Sepeninggalnya Alex Aku kembali menangis. Aku menelaah kata-katanya. Alasan Alex membuat Kami berdekatan, agar dia bisa menjaga Kami berdua karena Kami sama-sama hamil.


Aku berusaha memahami posisi Alex. Dia ingin bertanggung jawab terhadap Kami. Mungkin juga dia ingin bersikap adil. Tapi tetap saja sikapnya yang seperti itu membuatku sakit hati.


Haruskah Aku menerima kondisi ini? Menerima Diana berada di dekatku? Menerima saran Alex untuk berteman dengan Diana? Memahami posisi Alex saat ini? Kenapa Alex ingin dipahami tapi tidak berusaha untuk memahami posisi Kami?

__ADS_1


Ddddrrtt... Ddddrrttt... Dddrrttt...


Ponselku bergetar sedari tadi. Aku tetap membiarkannya. Mungkin Winda yang menghubungiku. Menanyakan hal yang sama sesuai dengan perintah Alex.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamarku di ketuk seseorang. Tidak mungkin Alex yang melakukannya, karena pria itu tidak pernah mengetuk pintu sebelum masuk.


"Ya, masuk."


Ceklek. Pintu di buka secara perlahan. Aku lihat Mbak Asih masuk ke kamarku.


"Ada apa Mbak?"


"Maaf Nyonya, dibawah ada wanita yang mengaku sebagai teman Nyonya. Apa perlu Kami membukakan pintu?"


"Temanku? Siapa namanya?"


"Itu yang kemarin ketemu di depan rumah. Yang cantik itu Nyonya. Artis yang baru menikah tapi sudah hamil. Kalau tidak salah namanya Princess D..."


DEG


Jantungku serasa mau copot. Untuk apa Diana kemari? Apa Diana sudah tahu hubunganku dan Alex?


"Maksudnya Nya?"


"Apa dia terlihat marah? Atau bagaimana?"


"Tidak Nyonya. Malah dia terlihat gembira. Apa perlu Kami membukakan pintu untuknya?"


"Y-ya..."


Aku segera bangun dan mulai mencuci wajahku. Berganti baju dan berdandan sedikit. Aku tidak tahu tujuan Diana kemari. Namun Aku tetap harus menghadapinya.


Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah ke lantai bawah. Menyiapkan diriku sendiri.


Di ruang tamu Aku melihat Diana duduk sendiri. Melihatku datang dia langsung berdiri. Wajahnya terlihat sumringah.


"Khansa..." Diana memelukku, Aku membalas pelukannya. "Aku benar-benar tidak menyangka Kita akan bertetangga. Alex menyuruhku kemari. Tidak apa-apa kan Aku main-main kemari?"


"Iy-ya tidak apa-apa." Alex benar-benar menginginkan Kami berteman. Buktinya dia sampai menyuruh Diana kemari. Dia ingin istri sah dan istri sirinya berteman.

__ADS_1


Aku menyuruh ART untuk menyiapkan beberapa camilan untuk Kami. Setelah itu Kami mulai berbincang-bincang. Entah mengapa Diana menjadi lebih ramah sekarang. Padahal dulu dia begitu tidak menyukaiku. Mungkin waktu membuatnya menjadi lebih dewasa.


"Sudah berapa minggu usia kehamilanmu Sha?"


"Jalan minggu ke 26..."


"Wah... Hanya selisih 2 minggu denganku Sha. Aku sekarang jalan minggu ke 28. Bagaimana dengan kehamilanmu? Ada keluhan nggak? Kalau Aku sih, mual-mual parah waktu awal kehamilan. Sekarang sih nggak..." Diana bercerita panjang lebar. Pikiranku berkelana kemana-mana.


Usia kehamilan Diana hanya selisih dua minggu dengan kehamilanku. Padahal mereka menikah baru empat bulan. Itu artinya mereka menikah karena Diana hamil lebih dulu. Sama seperti yang kualami.


Alex... Menghamili dua orang wanita di waktu yang hampir bersamaan. Betapa teganya?


Ah ya, untuk kasusku bukan sepenuhnya salah Alex. Malah itu salahku, karena hadir di tengah-tengah mereka.


Ddrrtt... Ddrrttt... Ddrrttt...


Ponselku kembali bergetar. Aku pikir itu pasti Winda. Aku memutuskan untuk mengabaikannya. Namun semakin diabaikan, bukannya berhenti tapi ponselku malah semakin bergetar terus menerus.


"Ponselmu getar tuh Sha. Nggak di angkat?"


"Ah ya..." Aku mengambil ponselku. Ternyata nomor baru. Aku mengangkatnya.


"Halo, assalamu'alaikum..."


"Kenapa Winda telepon tidak di angkat?! Sedang apa Kamu Khansa? Kirim fotomu sekarang. Atau kalau tidak, Aku akan pulang sekarang juga. Jangan membuatku khawatir!" Aku mendengar suara Alex yang terdengar emosi di ujung sana. Rasanya Aku ingin melempar ponselku saat itu juga. Harusnya Aku yang marah, bukan dia.


Aku mematikan panggilan itu. Selain karena kesal pada Alex, Aku takut panggilan itu diketahui Diana yang duduk tak jauh dariku.


"Dari siapa Sha? Suamimu ya?"


"Eh, ehm..."


"Bersyukur lho Kamu Sha punya suami perhatian. Jangan disia-siakan."


"Iya. Oh ya Di, boleh minta foto bareng?? Aku harus laporan padanya..."


"Ya ampun, kalian so sweet banget sih. Ayo sini Kita foto-foto." Kami mulai berfoto-foto. Kemudian Aku mengirim foto itu pada nomor Alex. Dan mengetik pesan, Aku sedang bersama Diana. Bukankah Kamu menyuruhku untuk berteman dengannya? Puas?!


***


Happy Reading 😂

__ADS_1


NB : Hehe, maaf ya buat yang jenuh, kezel, cavek dll karena konfliknya seputaran ini saja? Sudah outlinenya seperti ini ya. Kali ini Saya tidak akan merubah outline hanya untuk memenuhi rasa penasaran readers. Bagi yang suka, TERIMA KASIH BANYAK2. Bagi yang sudah bosan, jenuh, lelah, tidak apa di SKIP saja novel ini. Maaf kalau sudah bikin gregetan gremet-gremet 😂😂


FYI : Tenang saja, POV Alex tidak sampe eps 100an kok, hahaha... Terima kaseeeehh 💃💃💃


__ADS_2