
Hari ini adalah hari ketiga dia pergi. Masih belum ada kabar apa-apa. Aku tidak ingin memikirkannya, tapi tetap saja kepikiran. Apa seperti ini perasaan Diana ketika Alex tidak bersamanya?
Aku merasa terbuang. Benar-benar tidak di anggap. Terkadang Aku bisa merasakan bahwa Alex mungkin sedikit menyayangiku, namun ketika dia bersikap seperti ini praduga itu menjadi hilang. Aku kembali menjadi yakin bahwa Alex tidak memiliki perasaan itu.
Pagi itu Aku memilih sarapan di kamar. Seperti biasa, Aku bagaikan burung di dalam sangkar. Winda benar-benar mengawasi gerak-gerikku dengan ketat. Tidak ada kesempatan bagiku untuk lolos dari pengawasannya.
"Adek harus kuat, harus sehat. Makan yang banyak ya Dek..." Aku makan porsi banyak. Meminum semua vitamin yang diberi oleh dokterku. Aku juga tidak melewatkan untuk meminum susu kehamilan.
"Mama nggak sedih ataupun stres, jadi Adek sehat-sehat terus ya Nak..." Aku mengelus perutku dengan lembut. Berusaha menenangkan bayiku dan mensugesti diriku sendiri bahwa Aku baik-baik saja. Aku bahagia.
Ting... Ting... Ting... [Bunyi notif pesan masuk]
Aku melihat ponselku. Berharap mendapat kabar dari Alex. Kabar yang ku tunggu-tunggu selama beberapa hari terakhir ini. Ternyata bukan Alex yang mengirimiku pesan, melainkan Sizil.
Sizil : Bu, Aku tadi nggak sengaja lihat-lihat akun gosip di igeh. Kok Aku familiar dengan sosok ini ya?
Sizil : [mengirim gambar]
Sizil : Tahu Princess D kan bu? Itu lho artis sekaligus model yang sudah beberapa bulan nggak muncul di media. Tiba-tiba muncul bawa berita kalau dia sudah nikah? Tahu kan?
Sizil : Kemarin kan sosok suaminya Princess D dirahasiakan, jadi banyak netizen yang kepo.
Sizil : Itu di akun gosip, katanya ada netizen yang nggak sengaja ngeliat Princess D sama suaminya di RS di Sing*pura. Ada juga yang ngeliat mereka di hotel.
Sizil : Aku lihat sosok suaminya kok jadi familiar ya Bu? Kok Aku ngerasanya mirip Pak Yohan? Apa cuman perasaanku saja ya? Tapi nggak mungkin Pak Yohan juga, beliau kan suami Ibu, haha. Aduh, maaf ni pagi-pagi Aku udah cekokin Ibu dengan gosip, haha...
Aku membaca setiap pesan dari Sizil. Setiap kata-kata yang dituliskannya membuat tubuhku semakin gemetar. Aku takut membuka foto-foto yang dikirim Sizil. Keringat dingin mulai bermunculan dikeningku. Ragu dan galau. Di satu sisi Aku sangat penasaran, namun di sisi lain Aku juga takut melihat kenyataan yang ada.
Pada akhirnya rasa penasaranku menang. Meskipun dengan tangan gemetar, Aku mendowload foto dan video itu.
Tampak ada beberapa foto. Di foto pertama tampak pria dan wanita sedang duduk di taman sebuah RS. Si pria merangkul bahu si wanita, sedangkan si wanita menyandarkan kepalanya di bahu si pria.
__ADS_1
Dalam satu kali pandang, Aku tahu wanita itu adalah Diana. Diana tidak memakai penutup wajah. Dia hanya menyematkan kacamata hitam di hidungnya. Diana memakai baju terusan selutut yang pas di badan, sehingga perut buncitnya nampak jelas terlihat.
Bagaimana dengan si pria? Apakah itu Alex? Jawabannya adalah ya, pria itu adalah Alex. Meskipun pria itu memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya, namun Aku bisa mengenalinya dengan jelas. Dari postur tubuhnya saja Aku sudah mengenalinya. Aku juga mengenali semua baju yang dipakainya, karena Aku yang menyiapkan baju-baju itu untuknya.
Selain foto di taman, ada beberapa foto mereka lainnya seperti misalnya foto ketika mereka sedang menunggu lift di rumah sakit. Foto ketika mereka masuk ke salah satu hotel, maupun foto ketika mereka sedang duduk di restoran hotel.
Aku tahu mereka pasangan suami istri. Aku juga tahu Alex ke Sing*pura untuk menemui Diana. Aku tahu hal itu semua. Tapi mengapa hatiku masih sakit melihat foto-foto mereka bertebaran seperti ini?
Apa Aku cemburu? Iri hati? Dengki? Kesal? Marah? Sedih? Kecewa? Apa hakku untuk memiliki perasaan-perasaan itu?
Tapi, meskipun Aku tidak berhak, tetap saja hati ini terasa sangat sakit. Ya Tuhan, Aku tidak mau selalu sakit hati seperti ini. Bagaimana caranya agar Aku tidak sakit hati lagi? Aku tahu resikoku menjadi yang kedua akan seperti ini, tapi mengapa hatiku masih belum ikhlas untuk menerima semua takdirmu? Haruskah Aku pergi lagi? Haruskah Aku melepaskannya kembali?
Aku dulu sudah pernah melakukannya, tapi dia berhasil menemukanku. Haruskah Aku mencobanya kembali? Kemana Aku harus pergi Tuhan?
***
Setelah melihat foto-foto itu, Aku memutuskan untuk tidur. Aku ingin melupakan semuanya. Menghapus semua bayangan kemesraan mereka.
Menjelang hari ke empat, perasaanku kembali naik turun. Tidur tidak membuatku melupakan semuanya. Tidur hanya membuatku lari dari masalah sejenak, namun begitu benar-benar terbangun, Aku kembali mengingatnya.
"Winda..."
"Saya Bu?"
"Aku ingin keluar..."
"Mohon maaf Bu, Pak Yohan tidak mengizinkan."
"Aku ingin lihat sawah..."
"Maaf Bu?"
__ADS_1
"Sawah. Aku ingin melihatnya. Kamu bisa mendampingku." Winda tampak ragu.
"Aku tidak mungkin kabur darimu. Perutku sudah sebesar ini. Aku juga tidak memiliki ilmu bela diri sepertimu. Apa yang Kamu khawatirkan?"
Winda tampak memikirkan kata-kataku. Aku tahu isi kepalanya sedang bertempur. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya dia menyetujui permintaanku.
Winda membawaku ke daerah C*l*ncing, Jakarta Utara. Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai daerah itu.
Melihat sawah mengingatkanku pada kota kecilku, membuatku merasa berada di rumah. Melihat hamparan hijau itu selalu membuatku tenang.
Aku duduk di pinggir sawah, sementara Winda berdiri tak jauh dari tempatku berada.
Seperti mengadu pada seorang Ibu, tiba-tiba saja air mataku kembali mengalir.
"Huuuuu... Huuuuu... Huuuuu... Hiks..." Aku menangis sepuas-puasnya. Mengeluarkan semua unek-unek di hatiku. Menangisi kebodohan dan ketidakberdayaanku.
Alex, mengapa Aku bisa mencintaimu sampai seperti ini? Mengapa Aku menjadi wanita bodoh dan lemah di depanmu? Mengapa Kamu selalu berhasil melambungkan sekaligus menyakiti hatiku?
Alex, sepertinya Aku sudah tidak kuat. Cinta ini sangat menyakitiku. Tolong lepaskan Aku. Biarkan Aku bahagia bersama anak ini.
Alex... Tolong jangan sakiti Aku lagi. Aku hanya ingin bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak bersamamu.
Alex, Aku tahu Kamu tidak akan mengizinkanku pergi. Aku tahu Kamu juga ingin memiliki anak ini. Aku tahu Kamu juga butuh Aku sebagai pelampiasan nafsumu, Aku tahu semua alasanmu. Untuk itu, izinkan Aku untuk membentengi diriku sendiri dari rasa sakit hati itu. Izinkan Aku untuk membangun duniaku bersama anak ini. Karena, Aku hanya ingin bahagia.
Hampir dua jam Aku menangis di tempat itu. Puas menangis, membuatku mengambil suatu keputusan. Aku memutuskan untuk mengabaikan Alex. Aku tidak akan peduli lagi dengannya. Aku tidak akan terpengaruh dengan perlakuannya padaku. Hanya dengan cara itu Aku bisa melindungi hatiku. Hanya dengan cara itu Alex tidak akan bisa menyakitiku. Aku hanya akan peduli pada bayiku. Aku berharap, perasaanku ini lambat laun akan mati dengan sendirinya.
***
Happy Reading 🙄
Lanjoodd entaran ya gengs, mata ngantuk berat. Selesai ngetik chapter ini pukul 02.34 WIB. Selamat Idul Adha bagi yang menjalankan 🤗
__ADS_1