
Alex benar-benar membawaku ke museum angkut. Sebenarnya Aku pernah ke tempat itu. Aku hanya berusaha memperpanjang waktuku agar tidak kembali ke hotel.
Aku sedikit takut kembali ke hotel. Aku takut Alex meminta haknya. Mengingat dari cuplikan percakapan, sepertinya pria itu memang mengharap ke arah sana.
Apakah memang mereka akan melakukannya? Aku hamil. Perutku buncit. Tidak ada yang bagus untuk dilihat. Dan lagi, apa ini tidak terlalu cepat? Aku bahkan belum mengetahui perasaannya...
Ahh, tidak perlu menanyakannya. Perasaannya dari dulu sudah pasti milik Diana. Untuk apa Aku menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu?
Kalau pun Alex ingin melakukannya, pasti tanpa alasan apa-apa. Itu hanya panggilan alam. Semua pria merasakannya. Butuh untuk melepaskannya. Semua pria bisa melakukan hal seperti itu tanpa menggunakan perasaan. Jadi jangan pernah tanyakan perasaan Alex bila tidak ingin mendengar jawaban yang membuat hati sakit.
Aku merasakan sebuah kain hangat menutupi tubuh bagian atasku. Kemudian dua tangan kekar melingkari perutku yang membuncit. Aku merasa sangat hangat.
"Dingin?" tanyanya. Napas hangat Alex berhembus di leherku. Membuatku merinding.
"Le-lepas... Ba-banyak orang..."
"Memang kenapa? Aku sedang memeluk istriku. Bukan istri orang." Alex menjawab santai. Pengen rasanya Aku nampol (eh mencakar maksudnya) wajahnya.
Kami sedang berada di depan miniatur sebuah kapal. Banyak orang berlalu lalang di sekitar Kami. Namun tanpa memikirkan pikiran orang lain, Alex memelukku dengan ketat.
"Ini-ini memalukan..."
"Aku tidak peduli."
"A-aku ingin pindah. Aku mau kesana." Aku bergerak ke arah miniatur pesawat. Mau tidak mau Alex menyusulku. Dia langsung menggenggam tanganku dan memasukkannya ke dalam saku.
"Jangan lama-lama. Udara di sini sangat dingin. Tidak baik untuk tubuhmu."
"Hu'um." Sebenarnya Aku ingin berlama-lama. Aku ingin menghindari malam ini.
Alex dengan sabar mengikuti berkeliling. Dia menawarkan diri untuk memfotoku. Namun karena kurang suka berfoto, Aku menolaknya.
Berkali-kali dia mengecupi tanganku. Aku merasa benar-benar di sayang. Mungkin Aku salah menanggapi perasaannya, tapi Aku ingin menikmati perhatiannya.
Kami berjalan kesana-kemari sembari bergandengan tangan. Dadaku semakin berdebar tak karuan. Aku merasa sedang berpacaran. Beberapa kali Aku melirik wajahnya. Alex tampak senang. Aku menatap tangan Kami yang bertautan. Rasanya masih tidak menyangka dia akan menggenggam tanganku seperti ini.
Mungkin Aku sudah gila. Tadi pagi Aku masih sangat membencinya. Ingin mencakar wajahnya. Namun sekarang jantungku berdebar bahagia. Mungkin benar cinta membuat orang gila. Seperti Aku saat ini.
Menjelang pukul delapan malam, Alex mengajakku pulang. Mau tidak mau Aku menurutinya. Di sepanjang perjalanan, Aku memikirkan apa yang akan terjadi malam ini.
Apa Kami benar-benar akan melakukannya? Bolehkah Aku menolaknya? Aku benar-benar tidak siap.
__ADS_1
Pukul setengah sembilan, mobil memasuki area hotel. Alex menggandengku menuju kamar. Jantungku semakin berdebar dengan kencang.
Malam itu Kami melakukannya karena terbawa suasana. Rasa rindu dan cinta yang begitu besar membuatku rela melakukannya. Lalu bagaimana dengan malam ini? Akankah hal itu akan kembali terjadi?
Alex membuka pintu kamar. Entah kapan dia mengaturnya, tapi dia sudah berpindah kamar. Aku terkejut mendapati dekorasi kamar itu.
Di dalam kamar terdapat satu ranjang berukuran king size dimana di atasnya ditaburi bunga-bunga mawar yang membentuk lambang hati.
Dari pintu masuk menuju ranjang ditaburi oleh kelopak mawar dimana terdapat lilin di sisi-sisinya. Sementara di meja terdapat makanan mewah lengkap dengan lilinnya.
"Ap-apaan ini?" Aku bertanya dengan terkejut. Alex tampak geli melihatku.
"Kusiapkan untuk memakanmu malam ini."
"Hah?!"
"Pppffftttt... Cepat mandi. Kalau tidak, akan Aku makan sekarang." Alex mengedipkan mata genit, mata seorang buaya darat!! Aku bergidik melihatnya.
"Aaa-aku mandi!!" Aku langsung masuk ke kamar mandi dan bersembunyi di sana. Jantungku berdetak sangat kencang. Kami benar-benar akan melakukannya?!!
Ba-bagaimana cara untuk menolaknya? Aku benar-benar tidak siap!
Karena terlalu terburu-buru ke kamar mandi, Aku lupa mengambil baju gantiku. Sudah terlalu malu untuk kembali keluar. Aku memutuskan untuk memakai baju kotorku nantinya.
Tok... Tok... Tok...
Aku tersentak begitu mendengar pintu kamar mandi diketuk.
"Khan... Khansa... Jangan lama-lama mandinya. Lima menit tidak keluar, Aku buka pintunya."
"Eh, ehm... A-aku masih belum selesai..."
"Sudah setengah jam Kamu mandi. Jangan lama-lama. Nanti kulitmu keriput. Kasian bayinya."
Hah, kalau seperti ini dia menyebut-nyebut bayi? Dia pikir Aku tidak tahu kalau dia menginginkan hal lain? Dasar lelaki, banyak sekali modusnya.
"Aku tunggu. Lima menit tidak keluar, Aku buka pintunya. Oh ya, baju gantimu Aku taruh di depan pintu."
Hah, kenapa selain menyebalkan dia juga tukang perintah? Baru tadi dia bersikap manis, sekarang kembali menyebalkan. Benar-benar bikin orang ingin mencakarnya.
Aku perlahan-lahan memakai bathrobe dan mengambil baju gantiku. Rupanya Alex sudah membongkar koperku dan mengambil daster yang biasa kupakai ketika akan tidur.
__ADS_1
Membayangkan Alex membongkar koperku membuatku malu. Pria itu pasti sudah melihat segala bentuk baju dalamku. Dasar tidak sopan!
Akhirnya Aku keluar dari kamar mandi dengan berat hati. Aku melihat Alex duduk di depan meja yang dipenuhi dengan makanan.
"Ayo makan dulu. Kamu pasti lapar."
"Huum." Mungkin karena terlalu bahagia karena bisa bersama papanya, seharian ini bayiku tidak memberontak untuk meminta makan. Namun begitu melihat banyaknya makanan, rasa lapar menerjangku. Aku hampir meneteskan air liur melihat hidangan di depanku. Alex tertawa geli.
Dia berdiri dan menarik tanganku agar duduk dikursi. Aku membiarkannya. Kemudian dia melayaniku makan. Mengambilkanku ini-itu. Aku sudah menolaknya, tapi dia tetap memaksa. Pada akhirnya Aku pasrah dan memakan apapun yang ada di depan mata.
Setelah kenyang, Alex menyuruh pelayan hotel untuk membereskan sisa-sisa makanan Kami.
Kekenyangan membuatku sedikit mengantuk. Aku sedang duduk di sofa sembari menonton TV. Mataku mulai berat. Aku hampir tertidur ketika merasakan seseorang menyentuh kakiku.
Aku terjaga dan melihat Alex sedang berjongkok di depanku.
"Se-sedang apa?" tanyaku gugup.
"Di sini dingin. Jangan sampai masuk angin." Aku menatap Alex. Ternyata dia sedang memasangkan kaos kaki padaku. Hatiku serta merta jatuh. Aku merasa tersentuh dengan sikapnya.
"Aku bisa memasangnya sendiri..."
"Tidak perlu. Kamu sudah punya suami yang bersedia melakukannya." Alex tersenyum tipis. Dia berdiri dan menghadapku. Aku harus mendongak untuk melihat wajahnya.
"Ngantuk?" tanyanya. Tanpa sadar Aku menganggukan kepalaku. Alex tersenyum kecil. "Dasar kerbau. Habis makan langsung ngantuk."
Kemudian tubuhnya mendekatiku dan menunduk. Dia menyisipkan lengan-lengannya di bawah paha dan punggungku. Dengan sekali gerakan, Aku sudah berada digendongannya.
Aku memejamkan mata. Ah, sepertinya sudah saatnya ya?
Alex membaringkanku di ranjang dengan lembut. Matanya menatapku lekat-lekat. Aku tidak berani memandangnya. Wajahku bersemu merah.
Alex mengecup keningku dengan lembut dan dalam. Aku menikmati kecupannya. Merasa benar-benar sangat di sayang.
Kemudian dia menyelimuti tubuhku. Membungkus tubuhku rapat-rapat sebelum bergabung di sisiku.
Aku menatapnya dengan keheranan. Bukankah dia menginginkannya? Mengapa malah menyelimutiku?
Alex menarikku ke dalam pelukannya. Menyisipkan kepalaku di atas dadanya. Dia mengecup keningku berkali-kali dan berbisik...
"Tidurlah sayang..." Dadaku berdesir mendengar kata-kata itu.
__ADS_1
***
Happy Reading 😚