
Kami berpelukan. Tubuh Alex bergetar. Sepertinya dia sedang menahan tangis. Aku benar-benar terharu. Kemudian Alex menarik tubuhku hingga Aku duduk di pangkuannya.
Matanya memerah. Dia menatapku dalam-dalam. Alex membelai pipiku sembari merapikan helai rambutku.
"Terima kasih karena sudah mau mempertahankannya. Maafkan Aku..."
"Iya, Aku sudah memaafkanmu. Maafkan Aku juga ya..." Alex mengecup keningku dan memelukku dengan hangat. Aku merasa sangat bahagia.
Pagi itu Alex memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaan. Dia mengatakan bahwa permasalahan perusahaan sudah selesai. Dia ingin beristirahat selama beberapa hari, padahal dia juga baru masuk sehari. Enak sekali menjadi seorang GH, bisa mengambil cuti sesuka hati.
Hari itu Alex sangat memanjakanku. Setelah pagi yang indah, Kita menghabiskan sarapan Kami di kamar. Alex lebih banyak memelukku. Mungkin itu ungkapan rasa bersalah karena selama beberapa bulan sempat menelantarkan anaknya? Entahlah, Aku tidak tahu.
Sikapnya sangat manis padaku. Aku sangat senang. Aku tahu Alex bersikap seperti itu karena Aku sedang mengandung anaknya. Tapi setidaknya dia sudah memperlakukanku dengan baik. Aku harap, setelah anak ini lahir pun dia masih memperlakukanku seperti ini.
Alex, Aku mencintaimu. Terima kasih sudah memperlakukanku dengan baik. Aku merasa benar-benar disayang.
***
Alex memang tidak pergi ke kantor, tapi dia tetap memantau kondisi perusahaan dari rumah. Dia memantau fluktuasi saham sembari melakukan meeting via zo*m. Sikapnya ketika bekerja sangat berbeda dibanding ketika menghadapiku. Aku baru tahu kalau Alex cukup temperamen kalau menyangkut masalah pekerjaan.
"Surat tanggapan sudah beredar. Dan pihak penyebar berita juga sudah minta maaf. Tuduhan ini sangat tidak berdasar. Kuasa hukum Kita sedang menyiapkan tuntutan. Kalian cukup menjelaskan pada nasabah mengenai hal ini! Apa masih ada penjelasanku yang kurang kalian mengerti?!! Kalian orang-orang cerdas dan pilihan, tapi tidak sedikitpun mengerti ucapanku!! Otak kalian dimana??!!"
Aku membuka pintu kerja sedikit dan mendengar suara Alex marah-marah. Aku mengintip sekilas ke dalam ruang kerja. Pria itu tengah duduk di kursi kerja sembari menatap laptop. Sesekali dia menggebrak meja, membuat jantungku ikut berdetak kencang juga, seolah-olah Aku yang sedang dimarahinya.
Pantas saja Sizil mengatakan kalau GH yang baru sangat galak. Ternyata penampakan Alex ketika bekerja seperti ini. Andaikan Aku menjadi anak buahnya, Aku pasti akan gemetar ketakutan.
Tanpa sengaja mata Kami bertemu. Alex melambai-lambaikan tangannya. Menyuruhku untuk masuk. Aku ragu-ragu, antara mau masuk atau tidak. Aku takut terkena dampak kemarahannya juga.
Alex tersenyum kecil. Tangannya tidak berhenti membuat gerakan agar Aku masuk. Akhirnya Aku memberanikan diri untuk masuk. Aku membawa kopi dan camilan untuknya dan meletakannya di atas meja.
Alex segera menonaktifkan tampilan video dan suara untuk sementara waktu. Itu dilakukannya agar para bawahan tidak melihat dan mendengar percakapan Kita.
"Duduk di sini." Alex menepuk-nepuk pahanya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan tegas.
Gila saja!! Dia sedang meeting zo*m dengan bawahannya, dan dia menyuruhku untuk duduk di pangkuannya?! Benar-benar gila bukan?!
__ADS_1
"Sini." Alex menarik tanganku hingga Aku terjatuh di pangkuannya. "Sudah kubilang duduk di sini." Alex melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, membuatku tidak bisa kemana-mana.
"Tapi Kamu masih kerja..."
"Sudah ku non aktifkan video dan suaranya. Duduk yang tenang, jangan bersuara, oke... Cup..." Dia mengecup bibirku sekilas sebelum kembali mengaktifkan pengaturan suara, sementara pengaturan video tetap di non aktifkan.
"Aku ingin mendengar tanggapan per cabang. Apa kendala kalian mengatasi hal ini? Aku tidak ingin mendengar alasan klasik, nasabah sulit untuk di persuasi. Beri alasan lebih spesifik." Nada suara Alex kali ini lebih tenang. Dia berbicara sembari sesekali menciumi pipiku. Aku bersemu merah.
Aku menatap layar laptop. Ada ratusan akun yang bergabung. Aku menatap satu persatu video yang ada di layar. Tatapanku terpaku ketika melihat ada orang yang kukenali. Ya, Aku melihat wajah Andre dan BM lamaku, Pak Arif. Mereka tampak tegang.
Melihat Andre, membuat kenangan lama bermunculan. Bagaimana kabar pria itu saat ini? Apa dia baik-baik saja? Apa dia membenciku? Aku ingat, cincin pemberian Andre masih ada di koperku. Seharusnya Aku segera mengembalikan cincin itu...
"Dari cabang mana dulu yang mau bersuara? Kenapa kalian diam semua? Apa kalian tidak punya mulut?! Bisu semua?!"
Ya ampun Alex, mulutnya jahat sekali. Aku mencubit lengan Alex, mengingatkannya agar tidak berkata-kata jahat. Alex menoleh padaku, senyum kecilnya terlihat. Dia mencium pipiku sekilas sebelum melanjutkan meeting online itu.
Setelah itu beberapa cabang mulai mengemukakan kendalanya masing-masing. Aku ingin turun dari pangkuan Alex, namun pria itu menahanku dengan semakin mempererat pelukannya di pinggangku.
Meeting itu lebih lama dari yang kubayangkan. Aku mulai mengantuk. Tanpa tersadar Aku tertidur di pangkuan Alex.
***
"Sudah bangun?" Alex membelai rambutku.
"Hem..." Aku menyembunyikan wajahku dibalik selimut. Rasanya memalukan Alex memperhatikanku ketika sedang tidur.
"Lapar?"
"Iya, lumayan..."
"Mau makan di sini apa di bawah?"
"Di bawah saja."
"Mandi dulu sana. Baru makan."
__ADS_1
"Hem..." Alex mengecup keningku dan beranjak dari ranjang. Dia kembali mengambil ponsel dan menelepon sana-sini.
Aku bangun dan langsung ke kamar mandi. Aku senang Alex seharian bersamaku. Aku sangat egois. Hatiku mulai serakah. Aku ingin menguasainya. Ya ampun, kenapa hatiku menjadi jahat seperti ini?
"Khansa, jangan lama-lama mandinya."
"Ehm iya..."
Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut terbungkus handuk. Mataku langsung bertatapan dengan mata Alex. Rupanya pria itu menungguku tepat di depan pintu kamar mandi.
"Sudah kubilang, kalau mandi jangan lama-lama." Alex mengambil handuk di rambutku dan mulai membantuku mengeringkannya.
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Sini duduk." Alex menarik tanganku, membuatku terduduk di depan meja rias. Kemudian dia mulai mengeringkan rambutku dengan lembut.
Aku terkadang heran dengan perlakuan Alex padaku. Seolah-olah pria itu menyayangiku. Timbul perasaan bertanya-tanya dalam hatiku, sebenarnya bagaimana perasaan Alex padaku?
Tapi kemudian Aku ingat. Sedari SMA Alex memang sudah baik. Dia orang yang paling baik padaku. Kebaikannya membuatku menjadi halu. Membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, namun tetap saja Alex memilih Diana. Perasaan Alex yang sekarang pasti seperti itu. Dia menganggapku sebagai sahabat yang di sayanginya, sementara hatinya tetap untuk Diana.
"Nah, sudah mulai kering. Kita makan dulu. Setelah itu, Aku akan mengajarimu pelajaran penting."
"Pelajaran apa?" Otakku berpikir. Mungkinkah pelajaran tentang produk bank atau asuransi?
"Pelajaran cara memuaskan suami di ranjang."
"Uhuk!! Uhuk!!"
***
Happy Reading 🤩
NB : Yang penasaran dengan hubungan Alex dan Diana, kenapa Alex tidak segera mencari Khansa, dll akan dijelaskan di POV Alex 😂😂 Jadi jangan mengharap apa-apa dulu ya. Dinikmati saja alurnya ya.
Kalau terasa membosankan, tidak ada kemajuan, alur lambat, alur merangkak atau apalah, boleh di SKIP ya novel ini. 😁😁
__ADS_1
Oh ya, mungkin sudah ada yang tahu ya. Kemarin saya mengalami kendala proses review yang lama. Mungkin untuk selanjutnya, bila ada chapter yang mengalami proses review yang lama, akan saya posting di igeh saya agar readers bisa segera membacanya. (igeh : erka3162) 😉
Terima kasih buat yang selalu sabar menunggu update dan merelakan point/koinnya untuk vote karya amatir ini. Terima kasih kezheyengankoeh semuaaah 😙😚🤗🥰