Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 63 - Alkha


__ADS_3

Aku terbangun karena sentuhan hangat di seluruh wajahku.


"Cup... Cup... Cup..." Bunyi kecupan yang tak berkesudahan. Aku membuka mata perlahan dan mendapati Alex tengah mengecupi seluruh permukaan wajahku.


"Stop." Aku menahan bibirnya. Tapi Alex masih memaksa. Tidak mendapat bibirku, dia beralih pada leherku. "Mas..."


"Hem?"


"Berhenti..."


"Baumu enak."


"Aku masih bau. Belum mandi..."


"Tapi Aku suka."


"Isshhh..."


"Bangun sayang. Sarapan dulu." Aku melihat Alex. Pria itu sudah rapi. Memakai kaos berwarna abu-abu dan celana santai berwarna abu-abu muda. Rambutnya tampak basah. Wajahnya terlihat sangat segar.


Tiba-tiba kilasan adegan semalam berkelebat di kepalaku. Mengingat adegan itu membuat rasa maluku kembali. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


Memalukan!! Memalukan!! Memalukan!!


Hanya itu kata-kata yang pantas untukku.


"Kenapa tubuhmu Kamu tutupi sayang? Aku sudah melihat semuanya. Merasakan setiap jengkalnya. Mencicipi manisnya..."


"Hiiihhh!!" Aku melempar bantal. Berharap pria mesum itu menghentikan ocehannya. Bukannya marah, Alex malah tertawa terbahak-bahak. Aku merasa ingin kembali menangis.


Tiba-tiba Aku merasakan pelukan dan ciuman dari luar selimut.


"Yuk mandi. Kalau selimutnya nggak dibuka, Aku gendong ke kamar mandi dengan selimutnya."


Aku tahu ancaman pria itu akan selalu menjadi nyata. Kapan sih Aku bisa memberontak dan membantah kata-katanya? Di depan Alex, Aku seolah-olah menjadi wanita penurut yang kehilangan ketegasannya.


Aku membuka selimut secara perlahan dan di sambut oleh kecupan hangat. Alex mengambil bajuku yang tercecer di lantai dan membantuku memasangkannya. Aku bagaikan anak kecil yang tengah dibantu orangtuanya memasang baju.


"Mandi dulu apa sarapan dulu?"


"Mandi."


"Oke."


Hup. Dalam waktu sedetik Aku sudah berada di gendongannya. Tubuhku sangat lemas. Apa ini efek karena semalam?


Alex mendudukanku di atas dudukan closet. Dia menyiapkan air hangat di bath up. Setelah selesai, dia kembali padaku.


"Aku mandikan ya."


"Nggak mau."


"Kenapa? Malu? Aku kan sudah lihat semuanya sayang..."


"Aku mau mandi sendiri."


"Tapi Kamu lemas gitu..."


"Salah siapa?!"


"Iya salahku. Makanya Aku mau bantu mandiin..."


"Nggak mau. Keluar sana. Aku bisa mandi sendiri."


Kami berdebat cukup lama. Akhirnya Alex mengalah.


"Pintunya tidak ku kunci. Butuh apa-apa langsung panggil Aku. Jangan lama-lama mandinya."


"Iya."

__ADS_1


Setelah pria itu keluar dari kamar mandi, Aku mulai merendam tubuhku di bath up. Hah, segar sekali. Tubuhku yang lemas seolah-olah mendapat kekuatan lagi.


Aku mengingat aktivitas Kami semalam. Apa memang seperti ini efeknya setelah melakukan hal seperti itu? Tubuh menjadi lemas tak berdaya? Kalau benar seperti itu, mengapa Alex tidak mengalaminya? Pria itu terlihat sangat segar. Bahkan wajahnya terlihat lebih cerah dari hari sebelumnya. Apa melakukan hal seperti itu terhadap pria dan wanita memiliki efek yang berbeda? Apa karena Aku sedang hamil?


"Sudah dua puluh menit sayang. Cepat selesaikan mandimu." Aku mendengar teriakan Alex.


"Iya." Aku cepat-cepat menyelesaikan mandiku. Aku tidak mau pria itu menyusulku dan masuk ke dalam kamar mandi.


Aku memakai bathrobe dan keluar dari kamar mandi. Aku melihat Alex sudah menungguku.


"Pakai baju ini ya."


"Aku bisa pakai bajuku sendiri..."


"Kamu sama sekali belum memakai baju yang kubelikan. Pakai yang ini."


"Iya..." Aku menerima baju berwarna putih itu. Baju itu berbentuk gaun dengan bentuk leher tinggi, berlengan panjang, dan cukup berenda. Entah karena selera Alex yang tradisional, atau dia ingin tubuhku tertutup, Aku memakai baju itu dengan senang hati.


Kemudian Kami turun ke lantai 1 untuk sarapan. Di meja makan Alex sangat memanjakanku. Melayani makan, bahkan menyuapiku. Mataku mulai berkaca-kaca karena terharu.


Selama enam bulan, Aku hamil dalam kesendirian. Selalu timbul perasaan iri bila Aku melihat wanita lain didampingi dan dimanjakan oleh suaminya. Sekarang Aku juga merasakan hal yang sama. Di manjakan oleh suami ketika sedang hamil benar-benar menyenangkan.


"Setelah ini Kita check up ya."


"Check up?"


"Ya. Check up si kecil. Tadi malam Aku tidak memikirkannya. Aku takut terjadi apa-apa." Alex membelai perutku dengan lembut.


Hah, benar saja. Karena terlalu diliputi oleh gairah, Aku benar-benar tidak memikirkan bayiku. Dia akan baik-baik saja bukan?


Satu jam kemudian Kami sudah berada di mobil. Aku memakai baju putih, sementara Alex memakai kemeja biru dongker dan celana hitam.



Kami berdua duduk di belakang. Alex merangkul tubuhku dengan lembut. Kecupan-kecupan hangatnya selalu menghampiri kening dan bibirku.


"Tumben manja?"


Akh, nggak boleh ya? Aku langsung melepas pelukanku dan menjauhkan tubuhku.


"Kenapa menjauh? Sini."


"Katanya nggak boleh?"


"Nggak boleh apa?"


"Ma-manja..."


"Siapa bilang? Aku senang kalau Kamu manja. Sini, mendekat padaku." Aku dengan ragu-ragu kembali mendekat.


Boleh nggak sih Aku manja seperti ini? Aku juga ingin bermanja-manja seperti wanita hamil lainnya. Bolehkah?


"Mana buku pemeriksaannya?"


"Ini." Aku menyerahkan buku pemeriksaan kehamilanku dari dokter kandungan sebelumnya. Alex menerima buku itu. Wajahnya terlihat senang.


"Ada namaku di sini. Ya, Aku memang suamimu, cup..." Di buku itu memang tertulis, nama suami Yohan Alexander. Nama itu selalu ada meskipun Aku beberapa kali berganti dokter kandungan.


"Apakah berat mengandungnya?"


"Tidak."


"Apa dia rewel? Aku dengar seorang wanita hamil akan mengalami muntah, tidak enak makan dan gejala sakit lainnya?"


"Tidak. Aku tidak mengalaminya..."


"Benarkah?"


"Iya... Adek sama sekali tidak rewel. Bahkan nafsu makanku menjadi lebih banyak. Aku menjadi lebih sehat. Dia benar-benar pengertian..." Alex semakin mengetatkan pelukannya.

__ADS_1


"Maaf ya... Maafkan Aku..." Suara Alex tampak bergetar. Aku membalas pelukannya. Menyandarkan kepalaku di dadanya.


"Iya, tidak apa-apa. Sekarang Kamu kan sudah bersama Kita Mas..."


"Aku janji tidak akan meninggalkan kalian lagi."


"Iya, terima kasih Mas..."


"Apa jenis kelaminnya?"


"Laki-laki."


"Serius?"


"Iya." Alex tampak antusias. Dia kembali mengambil buku pemeriksaanku dan melihat foto USG yang tertempel di sana.


"Dia tidak akan membenciku kan?"


"Tidak. Untuk apa dia membencimu Mas?"


"Karena Aku tidak menemani kalian selama beberapa bulan ini..."


"Itu karena Kamu tidak tahu Mas. Bukan salahmu. Adek pasti mengerti." Aku mengambil tangan Alex, berusaha menghiburnya.


Alex membelai perutku dan kembali menciuminya dengan lembut. Ingin rasanya ku foto momen itu. Agar Aku bisa menunjukannya pada anakku kelak, bahwa ayahnya juga sayang sama dia.


"Siapa namanya?"


"Aku belum menyiapkan nama untuknya Mas. Mungkin Kamu mau memberinya nama?"


"Coba Aku pikirkan dulu..." Alex terdiam dengan ekspresi berpikir. Ekspresinya sekarang mengingatkanku pada ekspresinya dulu ketika akan memberi nama untuk anak kucing yang baru Kita temui. "Beri nama Alkhans saja."


"Humpp..." Aku tidak bisa menahan tawaku. Aku terkikik.


"Kenapa tertawa?" Alex tampak bingung.


"Ekspresimu lho sama ketika memberi nama anak kucing. Masak iya nama anak sendiri disamain dengan anak kucing Mas?"


"Eh iya, sama ya. Gimana kabarnya kucing Alkhans? Apa dia masih hidup?"


"Sudah meninggal. Merana karena lama nggak dikunjungi Papa nya..."


"Serius sudah mati?"


"Iya, beberapa tahun yang lalu. Karena memang sudah tua sih."


"Hem... Kasihan juga ya..."


"Gimana? Jadi dikasih nama apa si Adek?"


"Alkha saja deh."


"Alkha?"


"Iya. Alkha \= Alex Khansa."


"Huuummppp... Hihihi... Dari dulu sampai sekarang Kamu sama saja..."


"Sama gimana?"


"Nggak kreatif ngasih nama, hehe..." Alex memelukku dan mengigit pipiku sembari berkata,


"Nggak apa-apa nggak kreatif kasih nama, yang penting kreatif di ranjang. Benarkan?"


"Uhukk."


***


Happy Reading 😁

__ADS_1


__ADS_2