Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 80 - Mengacuhkanmu


__ADS_3

Tubuhku menegang mendengar suara itu. Kenapa dia sudah pulang? Kenapa harus pulang? Aku tidak peduli bila dia tidak pulang lagi!! Perasaanku sudah tenang selama beberapa hari ini. Kenapa dia harus datang lagi?!


Aku merasa tempat tidur mulai bergerak sedikit. Tak berapa lama kemudian, Alex sudah tidur di sebelahku. Tubuhku membelakanginya. Aku merasakan tangan hangatnya memeluk pinggangku dan menarik tubuhku agar mendekat padanya.


Tubuhku menjadi kaku. Aku sangat tidak suka dengan sentuhan ini. Aku merasa risih dan janggal. Tubuhku tiba-tiba menjadi jijik dengan sentuhan itu.


Gara-gara pria ini Aku hampir kehilangan bayiku. Terlalu memikirkannya membuatku melupakan bayiku. Aku tidak akan memaafkannya. Kali ini Aku tidak akan membiarkan hatiku menjadi lemah.


"Beneran sudah tidur ya?" Alex menciumi tengkukku. Ingin rasanya Aku mendorong tubuhnya jauh-jauh. Tapi Aku masih menahan diri, tetap pura-pura tidur.


"Aku kangen. Bangun dong sayang."


Bohong!! Kamu tidak pernah merindukanku! Kalau Kamu rindu, Kamu tidak akan mengabaikanku selama beberapa hari ini! Ucapan dan tindakanmu benar-benar berbeda! Bodohnya dulu Aku mempercayainya. Sekarang tidak lagi! Keberadaanmu sudah tidak penting lagi bagiku! Bayiku lebih penting darimu!


Sabar, sabar... Aku tidak boleh emosi. Aku harus tetap menenangkan pikiranku. Aku tidak boleh stres lagi. Aku harus menjaga emosiku tetap stabil demi bayi ini. Anggap saja Alex tidak ada. Ada tidaknya pria itu tidak akan berpengaruh pada hidupku.


"Alkha, bagaimana kabarmu? Kamu jadi anak baik kan? Katanya hasil pemeriksaanmu bagus ya. Benar-benar anak baik. Sehat-sehat ya..." Alex mengelus-ngelus perutku dengan lembut. Ingin rasanya Aku mengigit tangannya.


Jangan sentuh anakku!! Apa hakmu menyentuhnya?! Kamu tidak benar-benar peduli padanya! Kenapa sekarang Kamu harus pura-pura peduli?!


Aku mengigit bibirku. Menahan diri untuk tidak menangis. Menahan diri untuk tahan terhadap sentuhannya. Aku benar-benar sudah muak.


Sabar... Sabar... Tidak boleh emosi. Anggap saja sedang disentuh kucing. Dia bukan apa-apa. Dia tidak akan mempengaruhi emosi, pikiran dan hatiku lagi. Aku hanya harus bersabar terhadap sentuhannya yang menjijikkan!!


***


Aku bertahan terhadap sentuhannya. Menunggunya terlelap sebelum melepaskan diri. Hampir satu jam Aku menunggu kesempatan itu datang. Ketika napas halusnya mulai terdengar, pelan-pelan Aku melepaskan tubuhku dari tangannya yang menggurita.


Aku menatap wajah yang terlelap itu. Perasaanku menjadi hampa. Dulu wajah itu adalah wajah yang paling kusayangi, namun sekarang Aku seperti tidak mengenali sosoknya.

__ADS_1


Separuh hidup ku habiskan untuk mencintainya. Menunggunya dengan sabar. Menunggu perasaan ini terbalaskan. Namun perasaan bodoh ini tidak membawaku kemana-mana, kecuali dalam jurang kesedihan.


Sebenarnya semua itu bukan salahnya, tapi salahku yang terlalu bodoh dalam mencinta. Aku kehilangan semuanya. Karier, keluarga, teman. Aku hampir saja kehilangan bayiku! Aku harus menghentikan perasaan bodoh ini dengan segera. Demi bayiku, Aku harus kuat. Bila Aku tidak bisa melepaskan diri darinya, maka Aku akan membuatnya melepasku dengan sukarela.


Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah sofa. Aku membaringkan tubuhku dan mencoba untuk kembali tidur. Setidaknya sofa lebih membuatku tenang saat ini daripada ranjang hangat yang dihuni oleh singa.


***


Aku bangun lebih awal. Aku lihat Alex masih terlelap. Aku menggunakan kesempatan ini untuk mandi dengan segera. Setelah itu Aku langsung turun ke lantai pertama.


Satu ruangan dengan Alex membuatku tidak nyaman. Aku harus sebisa mungkin pergi menjauh dari pria itu, meskipun itu hanya sebatas di dalam rumah.


"Masak apa Mbak?"


"Eh, Nyonya sudah bangun? Nyonya mau makan apa? Saya masakin."


"Seadanya bahan saja Mbak. Coba Aku lihat bahan di kulkas." Aku melihat ada beberapa sayuran, daging ayam, daging sapi, ikan segar dan lain-lain.


"Lho, jangan seperti itu. Nyonya mau makan apa? Saya masakin. Kalau bahannya tidak ada, Saya carikan..."


"Pengen makan masakan sendiri Mbak. Sudah lama nggak masak." Setelah berdebat dengan Mbak Asih, akhirnya wanita itu membiarkanku masak dengan syarat dia diijinkan untuk membantuku.


Aku masak sayur sop, dadar jagung, ayam goreng dan sambal terasi. Bau dari sambal terasisangat menggugah seleraku.


"Maaf Nyonya, sebenarnya Saya penasaran sekali. Melihat selera makan Nyonya yang tidak aneh-aneh seperti Nyonya besar yang sering Saya lihat di TV, sebenarnya Nyonya berasal darimana?"


"Memang Nyonya Besar di TV makannya apa Mbak?" Aku ingin tertawa geli mendengar pertanyaan polos seperti itu.


"Yah, biasanya kalau pagi sarapan dengan roti yang di dalamnya dikasih sayur, ikan, keju itu. Atau kalau tidak roti yang diisi telur mata sapi, sosis sama daging tipis yang digoreng. Tapi Nyonya beda, makannya selalu tidak aneh-aneh. Maaf sebelumnya, selera makan Nyonya sama seperti Kami..."

__ADS_1


"Ya karena Kita sama-sama manusia Mbak, makanya selera makannya sama, hehe..." Aku asik berbincang-bincang dengan Mbak Asih sembari memasak. Membicarakan hal-hal ringan. Berdialog seperti ini saja sudah membuatku senang.


"Mbak Asih penasaran Aku darimana? Aku dari kota kecil di Jatim Mbak. Waktu Aku kecil, makan seperti ini saja sudah suatu kemewahan. Dulu Aku makan mie satu bungkus dibagi tiga orang..."


"Tapi sekarang Kamu bisa makan apa saja sepuasmu sayang, cup... cup... cup..." Tiba-tiba sepasang tangan kekar sudah membelit pinggangku dengan ketat. Bau aroma tubuhnya yang khas memenuhi panca inderaku. Tubuhku langsung menegang.


Ingin rasanya Aku melempar sambal ke wajahnya. Memukul tubuhnya dengan ulekan. Napasku berubah menjadi cepat karena emosi. Sentuhannya terasa sangat menjijikan. Ingin Aku menepis tangannya dengan kasar, tapi Aku yakin itu akan menyulut pertengkaran.


Sabar... Sabar... Aku tidak boleh emosi. Aku harus memikirkan bayiku. Aku harus selalu bahagia. Anggap saja yang sedang menempel padaku saat ini adalah seekor kucing. Aku tidak boleh terpengaruh. Anggap saja dia tidak ada.


Alex memeluk tubuhku dari belakang. Mengecupi pipiku. Aku tak bergeming dan mengacuhkannya. Aku tetap menggoreng ayam, menganggap bahwa dia tidak ada.


"Aku pulang tadi malam, Kamu sudah tidur. Aku merindukanmu..." Bohong!! Dusta!! Mulutmu manis sekali. Aku tidak akan mempercayaimu lagi!


"Sini, lihat Aku." Alex membalik tubuhku. Membuatku berhadapan dengannya. Mata Kami bertatapan. Kilatan perbuatannya yang menyakitiku mulai bertebaran. Hal yang paling membuatku sakit hati adalah Aku hampir kehilangan bayiku karena pria ini. Aku tidak akan membiarkan hal itu terulang lagi. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.


"Aku merindukan wajah ini. Berada jauh darimu membuatku gila. Cium Aku. Aku sangat merindukanmu..." Alex merangkum wajahku. Mendekatkan bibir Kami. Sebelum bibir Kami benar-benar saling menyentuh, Aku membuang mukaku. Menepis tangannya yang merangkum wajahku dan berbalik. Aku kembali melanjutkan rutinitas memasakku.


Alex sepertinya tidak puas dengan sikapku. Dia kembali merangkulku dari belakang. Menciumi tulang selangka dan pipiku. Ingin rasanya Aku memukul kepalanya dengan spatula yang ada di tanganku.


"Ngambek? Jangan ngambek-ngambek sayang, nanti cantiknya hilang. Kasihan dong Alkha punya Mama yang nggak cantik lagi." Mendengarnya menyebut nama Alkha membuat darahku kembali mendidih. Aku menenangkan perasaanku agar tidak terlalu emosional dan mencakar wajahnya.


Sabar, demi Alkha Aku harus bisa menahan emosiku. Anggap saja dia seekor burung yang ocehannya tidak perlu kudengarkan.


Dek, hari ini Kita makan enak. Wah, ada sambal terasi. Pasti nanti Kita bakal menghabiskan banyak nasi deh. Kita harus makan yang banyak, agar Kamu selalu sehat. Nanti Kita pikirkan cara agar bisa bertemu Bu Dokter ya Dek. Sementara itu temenin Mama masak dulu ya.


Aku menulikan telingaku. Aku tidak tahu Alex berbicara apa. Aku tidak ingin menanggapinya. Aku hanya fokus membentuk duniaku sendiri bersama bayiku. Dunia yang lebih indah, tanpa ada Alex di dalamnya.


***

__ADS_1


Happy Reading 😑


__ADS_2