
Winda membawaku ke salah satu perumahan yang berada di kawasan Pondok Indah. Di sepanjang jalan masuk, Aku menatap kemewahan rumah-rumah megah yang berjejer dengan rapi.
Aku tahu Alex berasal dari keluarga kaya, tapi Aku tidak menyangka dia juga akan berhasil memperkaya dirinya sendiri tanpa bantuan keluarga.
Meskipun tidak tertulis secara tersurat, tapi Aku tahu perkiraan gaji seorang GH yaitu mencapai tiga digit. Hampir 20 kali lipat di banding gajiku.
Itulah mengapa Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui GH di kantorku adalah Alex, Aku benar-benar tidak menyangkanya.
Aku menatap rumah yang akan menjadi tempat tinggalku sekarang. Rumah itu terdiri dari tiga lantai. Cat rumah di dominasi oleh warna krem dan abu-abu muda. Terkesan mewah dan elegant namun tidak berlebihan. Di kelilingi oleh pagar tinggi berwarna abu-abu yang mana terdapat tanaman merambat di sekelilingnya.
Winda membawaku masuk ke dalam rumah. Rumah itu terdiri dari 3 kamar tidur utama, 7 kamar tidur pembantu, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 1 ruang kerja, 1 ruang fitnes, lift, kolam renang, taman yang luas, parkiran yang cukup menampung 10 mobil dan keamanan CCTV tentunya.
"Untuk kamar Ibu ada di lantai tiga. Pak Yohan memilihnya karena menurut beliau Anda akan menyukainya. Kamar lantai tiga paling banyak mendapat cahaya matahari. Silakan Bu."
Winda menekan lift dan mempersilakanku untuk masuk. Aku masih terbengong-bengong. Ini hanya rumah, kenapa harus ada lift-nya segala?
Lift berhenti di lantai tiga. Winda mendorong koperku dan membuka pintu kamar. Dan... Aku langsung jatuh cinta melihat kamar itu.
Benar kata Alex, Aku pasti akan menyukainya. Kamar itu terdiri dari nuansa baby pink. Dari cat dinding, bedcover sampai gorden bernuansa baby pink. Satu sisi dinding di desain kaca seluruhnya, sehingga membuat matahari akan masuk dengan lebih leluasa. Aku benar-benar jatuh cinta dengan kamar ini.
"Sebenarnya Ibu tidak perlu membawa barang-barang Ibu, karena Pak Yohan sudah menyiapkan semuanya."
"Hah?"
Winda membuka pintu di salah sisi kamar yang ternyata tembus ke ruangan lainnya.
"Silakan Bu."
Aku mengikuti Winda dan Aku semakin takjub melihatnya. Terdapat deretan baju, tas, sepatu, aksesoris, perhiasan yang tertata dengan rapi di ruangan itu.
"Ini adalah barang-barang Ibu. Bila Ibu bosan, Ibu bisa mengatakannya pada Saya. Saya akan menggantinya dengan yang baru."
Aku masih tercengang dan tak bisa berkata-kata.
"Di rumah ini ada beberapa pekerja Bu. Mari Saya akan memperkenalkan Ibu." Winda menelepon. Beberapa saat kemudian ada beberapa orang yang naik ke lantai tiga.
Ada enam pekerja di rumah itu. Dua orang sopir, satu orang tukang kebun, satu orang security dan dua asisten rumah tangga. Mereka tampak baik dan sangat sopan. Setelah berbasa-basi sejenak, mereka kembali pada tugasnya masing-masing.
__ADS_1
"Ibu, ada sesuatu yang Anda butuhkan?"
"Tidak ada."
"Bila Anda menginginkan sesuatu, Anda bisa menghubungi ART atau menghubungi Saya."
"Iya."
"Kalau begitu, Saya pamit undur diri dulu. Saya harus pergi ke perusahaan, Pak Yohan membutuhkan Saya."
"Iya, silakan. Terimakasih banyak atas semuanya Winda..."
"Dengan senang hati Bu." Setelah berpamitan, Winda pergi meninggalkanku sendiri.
Aku menatap segala kemewahan di sekelilingku. Selama beberapa tahun ini hidupku sudah enak. Tabunganku juga gemuk. Tapi Aku tidak pernah merasakan kemewahan seperti ini. Tinggal di rumah yang ada liftnya, mana pernah ada dalam pikiran dan anganku. Aku senang, namun perasaan kembali ke dunia nyata kembali menghantamku.
Apa gunanya tinggal di rumah mewah bila hanya menjadi istri kedua? Istri siri? Istri simpanan? Apa yang perlu dibanggakan? Semua ini menjadi tidak ada gunanya.
Aku duduk di ranjang dan mengelus perutku.
"Adek... Mama bilang kemarin, kalau Papa tidak ada. Tapi ternyata Papa menemukan Kita. Sekarang Kita akan tinggal di sini. Adek yang betah ya. Adek tidak boleh egois. Adek juga sebentar lagi akan punya Kakak dari Mama Diana. Adek tidak boleh sedih kalau Papa nantinya akan jarang bersama Kita. Karena Papa harus menghabiskan waktunya untuk memperhatikan kalian berdua. Jadi jangan menuntut lebih ya sayang..."
***
Siang itu Aku tidak melakukan apa-apa. Aku benar-benar menjadi pengangguran. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Hal itu cukup membuatku bosan.
Aku turun ke lantai satu dan mulai melihat-lihat rumah secara detail. Entah berapa harga rumah ini, Aku tidak bisa memprediksinya.
Aku pergi ke samping rumah dan duduk di tepi kolam. Aku hanya duduk dan melamun. Baru setengah hari Aku di rumah ini, tapi Aku sudah mulai bosan. Apa yang harus kulakukan untuk mengusir kebosanan ini?
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku berharap itu telepon dari keluargaku. Siapa tahu Ayah sudah tidak marah padaku, namun ternyata itu dari nomor asing.
"Halo, assalamu'alaikum?"
"Selamat siang Ibu, Saya Winda. Pak Yohan menyuruh Saya untuk menanyakan kabar Anda. Sedang apa Anda sekarang? Dan apa saja yang dilakukan dalam beberapa puluh menit yang lalu?"
"Hah?"
__ADS_1
"Pak Yohan sedang meeting. Beliau tidak bisa menghubungi Ibu secara langsung. Namun beliau penasaran dengan aktivitas Ibu. Pak Yohan bertanya, apa ada sesuatu yang Ibu inginkan?"
"Tidak. Tidak ada."
"Kalau begitu, bisa Ibu katakan sekarang Ibu sedang apa?"
Dan Aku menceritakan semua aktivitasku selama beberapa jam berada di rumah itu. Setelah lima belas menit bertelepon, Winda terdengar ingin mengakhiri panggilan.
"Baik Ibu, semua aktivitas Ibu sudah Saya catat. Saya akan segera melaporkannya pada beliau. Setiap satu jam Saya akan menelepon Ibu untuk menanyakan pertanyaan yang sama. Ini juga atas perintah beliau, jadi mohon pengertiannya. Oh iya Ibu, bisa tolong kirimkan foto Ibu sekarang? Pak Yohan ingin melihatnya."
Ya ampun, ini benar-benar menyebalkan. Aku memang bosan tadi, tapi mendapat gangguan seperti ini juga tidak membuatku senang. Kenapa Alex penasaran sekali dengan aktivitasku? Apa dia takut Aku kabur? Atau mencuri barang-barangnya? Sampai setiap jam Aku harus selalu di pantau? Benar-benar mengganggu.
Meskipun Aku kesal, Aku tidak menunjukannya. Aku memfoto diriku dan mengirimnya pada nomor Winda.
Selesai melakukannya, Aku mulai menghubungi Ibuku. Memberi kabar pada beliau bahwa Aku sudah berada di Jakarta dan bahagia. Ya, Aku harus bahagia di depan orangtuaku. Aku tidak ingin melihat mereka sedih lagi karena Aku.
Aku masuk ke dalam rumah dan mulai menyantap makanan dengan porsi yang banyak. Setelah kenyang, Aku kembali ke lantai tiga dan mengurung diri di sana.
Seperti janjinya, setiap satu jam sekali Winda meneleponku dengan mengajukan pertanyaan yang sama. Dan Aku dengan rutin juga mengirim gambar yang hampir sama.
Siang menjadi sore, dan sore menjadi malam namun Alex tak kunjung datang. Aku benar-benar kesepian. Aku selalu membaca berita, namun belum ada kabar menggembirakan. Sedikir rumor benar-benar akan menghancurkan, apalagi bila itu perusahaan skala besar. Aku takut Alex dan yang lain tidak mampu menghentikan masalah ini...
Ponselku kembali berdering dan kulihat Winda kembali memanggil.
"Ini belum satu jam Wind..."
"Saya mendapat pesan dari Bapak, kata beliau Ibu tidak perlu menunggu beliau pulang. Ibu diperintahkan untuk beristirahat lebih dulu."
"Jadi dia tidak pulang malam ini?"
"Saya kurang tahu Bu. Saya hanya mendapat perintah untuk menyampaikan pesan itu."
"Baiklah, terima kasih atas kabarnya." Kemudian telepon ditutup.
Aku menghempaskan tubuhku di ranjang. Malam pertama di rumah baru, Aku sendiri. Aku ingin berpikiran positif, mungkin Alex tidak pulang karena urusan pekerjaan yang belum selesai. Tapi setan jahat dihatiku berbisik, mungkin malam ini Alex tidur di rumah Diana?
***
__ADS_1
Happy Reading 🙄